Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 102. Dion Sadar


__ADS_3

Sepanjang perjalanan ke lantai VVIP, Kania terus bertanya tentang siapa pria yang memegang perut wanita hamil itu. Sepertinya mereka saling mengenal meskipun tak akrab. Dista menceritakan jika dulu semua teman-temannya menginap di rumahnya yang berada di Bandung untuk memilih kampus.


Sebenarnya hanya Vicky yang mendapat beasiswa dan Papa Dista yang meminta Vicky untuk melanjutkan kuliah di Bandung, Namun ketiga temannya ikut melanjutkan pendidikan mereka di kampus yang berbeda.


“Termasuk Dias juga?” Kania begitu penasaran.


“Hmm, hanya Yoshi yang tidak melanjutkan pendidikan waktu itu. Gadis itu terus bekerja siang malam demi melunasi hutang-hutang Ayahnya untuk cuci darah dan pengobatan lainnya.


“Kamu, Dion?” Kania merasakan cemburu. Bagaimanapun mereka pernah tinggal bersama untuk waktu yang lama. Dista menjelaskan, jika dulu Dias membawa Christian untuk tinggal di rumahnya dengan alasan untuk menghemat biaya kost tetapi Herman melarangnya, karena pergaulan Dias waktu itu cukup bebas. Dan mereka semua pun tak setuju, karena Dion tak lagi memiliki hubungan dengan gadis itu.


Kania mengangguk, “Tapi Gue masih suka cemburu melihat kedekatan kalian berdua Dis!” Dista tertawa. Andainya Kania tahu apa yang Vicky lakukan jika Dion mendekatinya. “Nggak perlu cemburu, setelah kejadian yang menimpa gue waktu itu, gue kembali ke Jakarta. Mereka bertiga mengurus kafe di Bandung, dan Vicky kuliah sambil jalan mengurus perusahaannya sampai sekarang.


Melihat lorong kamar mereka sepi, wanita hamil itu mendorong kursi roda Kania lebih cepat. Meskipun Ia merasakan engap dalam napas juga perutnya.


“Tuh Lihat, Tante Agnes sepertinya udah masuk ke dalam ruangan Dion deh! Yuk kita ke sana, Oh ya Kania jangan bahas apa paun tentang masa lalu Dion ya. Dia nggak suka mengingatnya, karena Dion sekarang sudah punya kamu, oke!”


“Hmm,” balas Kania singkat.


Di dalam ruangan semua tengah mengelilingi ranjang Dion. Pria yang terbaring beberapa hari itu kini mulai sadar. Meskipun gerakannya masih sangat terbatas. Saat pintu ruangan terbuka, semua fokus teralih kepada dua wanita yang baru saja masuk. Senyum manis pentolan geng itu langsung tersungging.


“Kania, sini sayang!” lirihnya. Sontak membuat semua orang yang berada dalam ruangan menggoda pasangan baru itu. meskipun pernikahan Bos da sekretaris itu sudah lewat beberapa hari, tetapi ini adalah pertama kalinya mereka saling bertemu setelah peristiwa naas itu.


“Ciye... udah sayang-sayangan aja, baru juga melek Lo! ledek Iwan yang membantu membenarkan posisi duduk Dion. Raut Kania tak perlu di pertanyakan lagi. Semerah apa wajahnya menahan malu. Kania mendekat, lalu tatapan Dion beralih kepada mereka semua di sekitarnya.


Benar apa yang menjadi keyakinan Kania, saat Dion bangun semua akan kembali berisik seperti semula. Suaminya tak akan membiarkannya selamat kali ini.

__ADS_1


“Ma, Pa kalian semua haha... bukannya nggak tahu diri, tapi gue mau bicara berdua sama sayangku sebentar, boleh kan?” wajah Dion benar-benar seperti orang bangun tidur. tak ada dosa saat mengatakan hal itu. Andai Dion tahu kedua orang tuanya hampir kehilangan harapan hidup saat melihat dirinya tak sadarkan diri beberapa hari, tapi lihat! Sekarang Ia kembali bertingkah.


“Ayo lah Ma! Bro, kalian pasti paham?” desak Dion. Sembari mengumbar senyum jahilnya kepada semua orang.


“Dasar teman nggak tahu diri! Ketenangan kita berakhir saat Lo mulai siuman.” Iwan meminta semua orang untuk pergi. Menanti pintu ruangan kembali tertutup, Dion meminta Kania untuk mendekat ke arahnya. Tak ada lagi rasa canggung di sana. Dion menghibur Kania dan meminta maaf atas semua kecelakaan yang menimpa mereka.


“Sayang, Aku pikir Aku sudah mati, padahal aku belum unboxing kamu.” Dion mendapat pukulan dari Kania. Bisa-bisanya Ia mengatakan hal itu. Kania berpikir Dion akan marah dan menuntutnya. Justru Kania malah mendengar permintaan maaf dari suaminya yang konyol itu.


“Seharusnya Aku Mas yang meminta maaf, Aku ...” ucapan Kania terputus karena Dion mengusap wajahnya dengan jari-jarinya yang hangat.


“Nggak perlu minta maaf, ini semua bukan kemauan kamu juga aku. Sayang, yang aku sesalkan adalah aku harus kehilangan Ibu mertuaku dan Mang Ujang.” Kania baru pertama kali melihat Dion menangis. Gadis itu berpindah tempat ke sisi ranjang. Memeluk suaminya untuk pertama kali.


“Aku sudah ikhlas Mas, kamu segera sembuh ya! Aku ingin kita berdua menemui Ibu dan Mang Ujang.” Ucap Kania. “Mas, apa kamu juga tahu kalau Aku kehilangan anakmu?” Dion mengeratkan pelukanya.


“Mungkin besok aku akan minta dirawat di rumah, sudah ada kamu kan?”


“Iya. Aku juga sudah tidak betah di rumah sakit.” Kania hendak pergi, tapi baju rumah sakitnya di tahan oleh Dion. Jari telujuknya menunjuk ke arah bibirnya. Kania menggeleng.


“Aku sudah tidak perlu izinmu. Kamu kan udah jadi milikku.” Dion menarik Kania dan memberikan kecupan maut untuk waktu yang lumayan lama.


“Astaga Dion!” pekik Agnes yang tiba-tiba masuk. Membuat keduanya membuang muka.


“Mama kebiasaan!” decih Dion bersembunyi di punggung Kania dan tertawa.


Seorang pria menunjukan kartu namanya kepada resepsionis untuk bertemu dengan manajer hotelnya. Setelah menghubungi sang manajer, pria yang di tunggu pun akhirnya tiba juga. Sigit menawarkan kontrak kerja sama antara perusahaanya dengan hotel tersebut.

__ADS_1


“Wah, apa Anda tidak salah Pak Sigit? Mengajukan proposal ke DeV holding itu sangat susah. Tidak semua bisa mendapatkan penawaran khusus seperti ini.” Manajer hotel merasa terkejut. Tentu saja pihak hotel tak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Bahkan pewarisnya sendiri yang mendatangi mereka.


“Tentu saja tidak Pak, bagaimana? Nanti kirimkan saja surat kontraknya ke email pribadi saya ya!”


“Tentu, tentu Pak. secepatnya kami akan mengirimkannya. Tapi apa yang bisa saya bantu dengan kedatangan Pak Sigit?”


Sigit sudah berhasil mendapatkan kepercayaan dari pihak hotel tanpa banyak berbasa-basi. Sigit meminta rekaman CCTV selama satu minggu sebelum pernikahan Dion di gelar. Dan Sigit mendaptakan copyan rekaman itu dengan jelas tanpa pertanyaan.


Sigit akan mendapatkan diskon tujuh puluh lima persen saat menikah nanti jika menggunakan jasa WO dari hotelnya. Tentu saja Sigit bersedih, mengingat kekasihnya menikah di hotel ini tetapi bukan bersanding dengannya.


“Haha... Bapak bisa aja! doakan saja ya Pak, saya masih fokus mengurus perusahaan.” Keduanya pun berjabat tangan sebelum berpisah. Sigit semakin penasaran dengan siapa sosok itu. bagaimana caranya mereka memasukan obat itu ke dalam makanan Kania.


Audi hitam mewah yang di kendarai Sigit kembali ke rumahnya. Namun Ia tak melihat Yoshi belakangan ini. Saat berhenti di depan pintu kamar Yoshi. Sigit ingin mengetuknya dan mengajaknya bicara di luar. Namun, Sigit ingat Yoshi bukanlah temannya, tetapi istri muda papanya.


‘Ah sudahlah, bukan urusan gue!’


Sigit kembali ke kamar dan membuka laptopnya. Perasaannya semakin tak karuan saat melihat rekaman CCTV dua hari terakhir. Dalam rekaman itu terlihat jelas dua orang housekeeping yang bertugas membersihkan kamar yang akan di gunakan Kania dan Ibunya.


Awalnya tak ada yang mencurigakan, sampai seorang yang bertugas sebagai room service mengantarkan makanan untuk sarapan pagi. Meletakan troli di depan kamar Kania begitu saja saat Ia menerima panggilan di ponselnya.


“Nah!” Sigit menghentikan sejenak. Sosok berpakaian hitam memasukan sesuatu ke dalam minuman itu. yang bisa dipastikan Kania lah mengonsumsinya.


‘tapi siapa dia?’


...

__ADS_1


__ADS_2