
Mungkin malam ini keberuntungan seorang Pria yang menjaga dirinya begitu lama, juga dengan gadis polos yang tak pernah mengenal cinta. Dion berusaha sekuat hati untuk menyalurkan hasratnya yang nyaris gagal. Berulang kali pria itu melawan batinnya, saat yang Ia tatap adalah sekretaris dekil kesayangan papanya.
Dion telah melakukan sedikit pemanasan untuk mencairkan suasana, namun Kania terus menolak, dengan alasan takut.
“Hentikan Dion, Aku belum siap untuk itu!” Kania gugup, karena berada dalam jarak sedekat ini. Embusan napas keduanya menyentuh kulit, membuat Dion tak tahan.
“Jangan lupa tugasmu, Lo di bayar untuk memberi keturunan keluarga Gue! Dan Lo beruntung, Gue mau sama Lo!” balas Dion tak kalah sengit.
Pria itu melanjutkan pekerjaannya sebelum berubah pikiran, karena semakin malam, pikiran Dion hanya fokus pada satu orang saja.
“Tapi kan dengan pernikahan, bukan bermain-main seperti ini!” Kania mendorong pahatan sempurna milik Pentolan geng itu, semakin mencoba, senyuman Dion justru melemahkan gadis itu.
“Kita lihat saja, siapa yang akan memenangkan pertandingan, Jangan banyak bicara, Gue jadi susah konsentrasi. Lebih cepat lebih baik, mengerti!”
Gadis itu terus memberontak, saat Dion mulai membuat teritorial pada gadis itu, tak hanya di satu tempat. Nyaris di berbagai titik, Dion menandainya dengan tanda merah.
“Emh...”
“Hey, hentikan! Jangan bersuara seperti itu, nanti Gue makin tak terkendali!”
Tak ada nuansa romantis pada mereka berdua, hingga akhirnya ketakutan Dion terjadi.
Saat pandangannya berkabut, gadis yang berada dalam kungkungannya memberikan senyum khas yang menyentuh hati Pria ber lesung pipi itu. Kedua tangannya melingkar di lehernya, dan Dion mendapati wajah gadis pujaannya.
“ Ayo, lakukan! Bukannya Kamu menungguku?” sapa gadis itu.
“Kamu serius?” lirih Dion, dalam bayangan pria itu, gadis berparas ayu itu adalah cinta pertamanya. Distanika Fadila.
Tanpa menunggu lama, Dion dapat melakukannya dengan mudah dan penuh perasaan. Hanya ada rasa cinta di sana. Mereka berpeluh, menghabiskan waktu dengan sangat panasnya. Dion tak mendengarkan jeritan Kania. Hanya ada cinta pertama di sana, yang Dion bayangkan selama ini. Mata dan telinga pria itu tertutup.
Hingga keduanya melepaskan ketegangan yang ada.
“Haahh...”
Dion mengecup kening gadis itu, karena dirinya mendapatkan sesuatu yang sangat berharga untuk pertama kalinya.
“Thanks sayang...”
__ADS_1
Menghabiskan Dua jam berperang, Dion terlelap setelah membersihkan dirinya.
Lain hal dengan Dion, Kania terisak, merasakan nyeri dan remuk redam di seluruh tubuhnya. Ia tak menyangka Dion benar-benar mengambil harta satu-satunya yang Ia miliki. Sekeras apapun mencoba, Ia tak dapat mempertahankannya.
Jika Itu adalah sebuah pernikahan seperti yang di janjikan Agnes, dirinya tak akan merasa menyesal ini. Terlebih Dion akan menikah dengan Dias kurang dari tujuh hari.
‘Tuhan, cobaan apa lagi yang datang kepadaku... bukan hal seperti ini yang Aku mau.’
Lambat laun gadis itu pun tertidur, dengan pria itu yang merengkuhnya dari belakang. Menyandarkan kepalanya di pundak Kania.
“Jangan pergi ya! Tetap seperti ini!” gumam Dion dengan mata terpejam.
...
Pukul Delapan, terdengar suara ketukan pintu di kamar milik Kania dan Dion.
Pria yang masih merasakan kantuk itu, akhirnya turun dari ranjang hanya dengan celana pendek miliknya. Rambutnya yang berantakan akibat ulah Kania yang menyalurkan kekesalannya.
Tok... Tok... Tok...
Sekali lagi ketukan itu terdengar, membuat Dion ingin memaki siapa orang yang berani mengganggu dirinya.
“Heh!!”
“Kejutan...!!”
Dengan tangan terbuka Dista ingin memeluk Kania, nyatanya yang di depannya adalah Dion Wijaya. Dengan penampilan seperti tarzan kota yang tampan membuat Dista dan Dion jadi salah tingkah.
“Kok Dion sih!” Dista menurunkan lagi tangannya dan mengerucutkan bibirnya.
“Dista!! Sorry, sorry...”wajah Dion merah, melihat sang pujaan hati di depan mata. Padahal Ia baru saja berfantasi tentangnya, dan dirinya benar-benar hadir di tengah dirinya dan Kania saat ini.
‘Kalau Vicky tahu isi otak Gue semalam, bisa di hajar nih!’
“Dion... Pakai baju yang benar dong!” sungut Dista yang memilih menunggu di luar.
Dion masuk ke kamar dan mengenakan kaosnya, sedangkan wanita muda itu berbalik badan, melihat pemandangan yang tak semestinya.
__ADS_1
Kania keluar dari kamar mandi dengan keadaan sedikit lebih baik. Mendapati pintu kamarnya terbuka, Ia hendak menutupnya, namun Kania melihat Dista di sana.
“Dista... Kamu benar-benar datang? Tapi udah membaik kan?” Kania dengan antusias memeluk wanita berisi itu.
“Iya dong, Kalian bersenang-senang sedangkan aku bosan berbaring di rumah sakit. Ya udah, Aku minta Vicky buat menyusul kalian kemari.” Jawab Dista. Melihat Kania keluar dari kamar yang sama dengan Dion, Dista menggodanya.
“Wah, sepertinya ada yang Gue lewatkan nih!” Dista memainkan rambut Kania yang basah, dengan senyum penuh curiga.”
“Ehem...” Dion menginterupsi obrolan wanita beda status itu. Dan mengajak mereka ke bawah untuk sarapan.
“Wah, kamu hebat Dion! Hihi...” goda Dista. Senyuman wanita itu mengingatkan Dion tentang peristiwa semalam, membuatnya menghindari istri sahabatnya beberapa waktu.
Di Restoran, Sudah ada Vicky, Iwan dan Yoshi. Hanya dengan saling tatap saja mereka dapat tertawa dengan sepuasnya. Pentolan geng yang perkasa, dengan rambut basah menjadi bahan olok-olokan.
“Wah... Wah... Padahal Gue sengaja pilih kamar di tengah biar bisa tahu, berapa Gol yang bisa dicetak jagoan neon ini!” tukas Vicky.
Hahaha.. Vicky dan Iwan saling tos, telah berhasil menggoda Dion.
“Aah, brengsek! Sok tahu Lo!” kesal Dion. pria itu sesekali mencuri pandang kepada dua wanita itu.
‘Ternyata benar, rasanya nikmat. Namun tetap saja rasanya lain, jika bukan dengan seseorang yang diharapkan. Dion bahkan lupa diri, berapa kali Ia mencobanya sampai Ia berhasil menembus pertahanan itu.
Kania dan Dion sekarang bagaikan minyak dan air, meskipun dalam tempat yang sama, keduanya saling mengacuhkan.
Yoshi melihat Kania tampak lain, tak seceria sebelumnya. Pasti telah terjadi sesuatu semalam.
“Dis, sepertinya Lo perlu menasehati calon Nyonya Wijaya nih, apa yang harus di lakukan selanjutnya,” Dista memeluk keduanya.
“Kania, Lo harus minta dinikahi Dion secepatnya! Jangan mau kalah sama Dias!” terang Dista.
“Gue yakin, anak Dias bukan dari cowok Lo kok! Setahu Gue Dias masih berhubungan sama Cowoknya yang dulu.” Imbuh Yoshi.
Bukannya menjawab, Kania malah menangis di depan kedua teman barunya. Dion yang menyaksikannya pun datang dan memberikan tisu untuk Kania. Pria itu tahu, jika dirinya keterlaluan semalam. Meskipun belum pernah menjalin hubungan serius, nyatanya Dion bisa menghibur seorang gadis. Dengan menggenggam tangan Kania dan mengatakan kepada gadis itu.
“Jangan takut, ada Gue di sini!”
Kania menatap Dion dengan penuh kesedihan. Memberanikan bertanya tentang sebuah kepastian.
__ADS_1
“Apa yang akan Lo lakukan? Lo bahkan tak kehilangan apa pun, sedangkan Gue?”
...