Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 66. Bandung Day 1


__ADS_3

Sesampainya di Vila , Richie dan Jo berebut kamar. Mereka berdua tak mau berbagi satu sama lain. Membuat hanya ada satu kamar tersisa. Kapan lagi mereka berdua bisa mengerjai bos nya yang terlampau sabar.


Sigit malu mengatakan hal tersebut kepada Kania. Namun, mau tak mau Sigit harus mengatasinya. Terlebih ucapan Richie yang mengejeknya sejak tadi. Jika Bos nya seperti seorang suami yang takut istri.


“Ehm kamu nggak keberatan kan Yang, berbagi kamar sama Aku?” baru kali ini Sigit merasa begitu tidak percaya diri berbicara dengan seorang gadis terkait hal-hal dewasa. Perasaannya was-was, jantungnya berdesir hebat, tangannya pun mulai berkeringat. terlebih melihat Kania menunjukkan senyumnya.



“Apa boleh buat, karena hanya satu yang tersisa. Biar Aku bersihkan dulu ya!”


Kania pun mencoba untuk menghilangkan kegugupannya, namun segera ditahan oleh Sigit.


“Biar mereka berdua saja yang bereskan, kamu mau jalan-jalan ke Orchid Forest, tempatnya bagus dan tak jauh dari sini, kamu pasti suka.”


“Tapi mereka berdua bagaimana?” menatap kedua pria manis yang memelas wajahnya.


“Itu upah mereka, karena memilih kamar masing-masing. Jadi, biarkan mereka juga yang beres-beres.” tegas Sigit.


Kania menertawakan Jo, yang tak bisa diajak negosiasi oleh gadis itu. Jo masih kesal, saat dirinya harus berjalan kaki karena kehabisan bahan bakar setelah mengikuti kemauan Kania malam itu. Padahal Kania sudah meminta maaf dengan sepenuh hati.


Akhirnya Kania dan Sigit pergi berdua. Namun, di tengah perjalanan ponselnya terus berdering. Nama bos nya tertera di sana. Karena tak ingin di ganggu, Kania mematikan ponselnya.


“Kenapa dimatikan? Memangnya siapa yang meneleponmu? Pria itu lagi?” tanya Sigit.


Gadis itu mengangguk, Ia merasa bersalah kepada Sigit. Dan ingin lebih banyak meluangkan waktunya untuk pria manis itu.


“Ehm, Aku...” ucap keduanya serempak. Kania dan Sigit pun menoleh, lalu tertawa.


“Ladies first,” pinta Sigit.


Kania memutuskan untuk menceritakan masalahnya kepada kekasihnya. Sejauh ini hanya pria di sampingnya yang mengerti dirinya, memperlakukannya dengan baik, dan sangat perhatian.


“Yang, bagaimana menurutmu kalau Aku pindah tempat kerja?” lirih gadis itu.


Sigit pun cukup terkejut, karena kemauannya bisa dirasakan oleh Kania. Pria itu tak bisa membiarkan kekasihnya bersama bosnya yang agresif itu terlalu lama. Dalam hati Sigit bersorak, namun Ia tak boleh menunjukkannya sejelas itu.

__ADS_1


“Kamu yakin? Aku tidak ingin menanyakan apa alasanmu ingin keluar, Aku akan selalu mendukungmu! Kamu mau bekerja di rumah sakit?”


“Hah, benarkah? Tapi Aku tidak punya banyak pengalaman untuk bekerja di sana.”


“Kalau kamu mau, Aku bisa merekomendasikan pacarku dengan mudah, hehe...”


“Terima kasih sayang, paling tidak satu beban hidupku sedikit berkurang sekarang.” Kania menggenggam tangan Sigit erat. Menahan air matanya yang sudah terkumpul di sudut matanya. Kania membuang wajahnya ke jendela, tak ingin Sigit mengetahui jika dirinya sedang menangis.


“Selama kamu nggak meminta Aku untuk menjauhimu, Aku akan memberikan yang terbaik untukmu Kania,” ucapan Sigit baru saja membuat bendungannya pecah. Buliran bening itu mengalir deras yang tak dapat Ia pertahankan lagi.


Sigit menepikan mobilnya. Menangkup wajah mungil itu.


“Gadis cantik nggak boleh sedih, apa pun yang jadi masalahmu, ceritakan padaku, Aku akan membantumu, hmm? Aku membawamu kemari untuk bersenang-senang bukan membuatmu semakin bersedih.”


Sigit urung menceritakan masalahnya terkait ibu tirinya. Baginya semua tak penting saat ini selain hubungannya dengan Kania.


...


“Brengsek!”


“Lempar aja! Rusak beli lagi. Lo pikir Kania tahu kalau Lo lagi marah-marah di mobil Gue?”


“Hapenya dimatiin, Sial!”


Hahaha..


“Akhirnya Lo tahu, gimana rasanya cemburu. Makannya, jangan suka bikin orang lain emosi, kualat kan Lo sama Gue!”


“Pasti Kania lagi ...” Dista jadi membayangkan dirinya saat bersama Geri. Pria yang sebelas dua belas dengan Sigit, manis dan lucu. Jika Suaminya dan Dion memiliki karakter yang sama, yakni keras dan ambisius. Akan mempertahankan apa yang jadi miliknya.


“Heh, malah bayangin mantan lagi, nggak tahu Vicky kalau marah kayak gimana.”


“Tahu tuh, sejak hamil permintaannya aneh-aneh! Kadang Gue sampai punya pikiran kalau Bini Gue menyesal memilih Gue, karena terlalu sibuk sama pekerjaan.”


Dista memilih berpura-pura tidur, karena mulai diberondong pertanyaan yang nggak berdasar.

__ADS_1


Tiba-tiba saja Dion menceritakan masalahnya kepada dua temannya itu. Pentolan geng yang tak bisa menyimpan sebuah rahasia. Terlebih hal besar seperti keinginan kedua orang tuanya.


“Bro, Kania hamil!”


Dista yang pura-pura tidur pun bangkit lagi, dan menatap wajah Dion. Siapa tahu pria itu tengah berbohong.


“Hah! serius Lo Bro? Kok Lo tahu?” Vicky melambatkan laju mobilnya, karena konsentrasi mendengar ucapan Dion.


“Kata dokter, sakit Gue kemarin karena ikut ngerasain gejala kehamilannya.”


“Oh yang waktu Lo telepon Gue malam-malam itu?”


“Ya udah bagus dong, tunggu apa lagi? Nikahin Kania, selesai.”


“Kania nggak akan mau menikah sama Gue, tapi dia setuju untuk memberikan anak itu kepada keluarga Gue.” Lirih pentolan geng itu membuang muka.


“Lo apain anak orang sampai trauma begitu sama Lo Bro?”


Dion menghela napasnya kasar. Ia tak percaya Kania bisa mengatakan hal itu dengan mudah semalam. Bahkan Kania membatasi dirinya. Tak boleh lagi menyentuhnya membuat Dion merasakan sakit kepala.


Dion tak tahu sejak kapan Ia mulai membuka hatinya untuk Kania. Yang pasti, saat Ia merasa cemburu Ia hanya ingin menghabiskan malam-malamnya dengan gadis itu.


“Bro? Jangan terlalu dipikirkan ucapan gadis itu. Dia masih bingung dengan perasaannya, apa yang Kania ucapkan bisa jadi bertolak belakang dengan keinginannya. Lo harus lebih gigih lagi, mengejar cinta Lo!” terang Vicky menghibur Dion.


“Lo yakin?”


“Dulu, Lo kejar cewek Gue bertahun-tahun bisa!” sindir pria dingin yang berada dibalik kemudi.


“Hahaha... Jangan Lo ingat lagi Bro, malu Gue, gagal move on sama si bohay bertahun-tahun.”


Sampai perjalanan itu telah berakhir di kafe yang mereka kelola semasa kuliah yang berlokasi di depan kampus Tel-U Bandung.


Banyak perubahan di sana semakin banyak peminatnya. sampai Vicky, Dista, dan Dion melihat pria cungkirng itu menghancurkan semua barang-barang yang ada di dalam ruangan.”


“Woi, ada apa ini?”

__ADS_1


...


__ADS_2