
Kania melihat senyum Sigit terus terpasang di wajahnya. Meskipun terlihat pucat, tak mengurangi kadar ketampanan pria berkulit putih itu. Seperti sepasang kekasih, hanya lontaran kata-kata manis yang terucap dari Sigit kepada Kania begitu juga sebaliknya.
Kania berjalan ke arah pria itu. Namun langkahnya harus tertahan karena kepalanya terus berputar. Dengan heels lima senti miliknya, Kania takut dirinya akan jatuh. Ia segera berpegangan pada ranjang Sigit.
“Kania, kamu nggak apa-apa?” teriak Sigit khawatir. Pria itu nyaris turun dari ranjang untuk membantu Kania. Tetapi gadis bertubuh ramping itu melarangnya.
“Jangan Sigit, kamu kan juga belum sembuh! Kepalaku hanya sedikit berputar.” Kania memijit kepalanya. Melihat hal itu, sikap jantan Sigit bangkit. Ia membawa Kania lebih dekat dengannya, dan memberikan pijatan lembut pada pelipisnya.
“Kalau kamu tekan saraf-saraf ini, pusingmu akan sedikit berkurang. Tergantung penyebab dari sakit kepalanya Kania, apakah itu migrain, stres, dehidrasi atau sakit kepala biasa.” Sigit melakukannya dengan lembut dan Kania tersenyum menikmatinya. Keduanya bertatapan cukup lama.
“Wah pinter juga anak siapa sih kamu...” goda Kania, “tapi dirinya sendiri sakit, huu...”
“Aku sakit karena mikirin kamu, pasti kamu bilang kalau Aku gombal!” ucap Sigit mencubit hidung mancung Kania. “Kamu belum jawab pertanyaanku, Aku ingin kamu di sisiku jadi wanita spesial di hatiku, apa kamu bersedia Kania?”
“Ehm, Aku...,” Kania terbata-bata.
“Apa kamu nggak yakin saat bersamaku?”
Kania dengan cepat menolak pernyataan Sigit, dengan tidak membenarkan ucapannya. Ia takut Sigit salah paham karena Kania sulit menjabarkan permasalahan dirinya.
“Bukan itu Git, jangan salah paham dulu!” Kania menarik napas dalam. “Sigit, Aku belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. Saat ini kehidupanku sangat sulit, A-aku hanya mencoba untuk hidup realistis. Mana ada pria yang mau dengan gadis sepertiku?” Kania menjadi emosional. Tiba-tiba saja Ia menangis.
“Kamu salah besar dengan mengatakan hal itu, Kamu gadis yang baik dan layak untuk dicintai, jangan menangis dong! Nggak ada penjual balon di sini.” Sigit membawa Kania dalam pelukannya, mengusap surai panjang itu. Hati Sigit pun turut merasakan sakit.
Siapa yang bisa menolak pesona Sigit Virgiawan, tentunya hanya gadis bodoh yang ada di muka bumi ini. Kania pun tak dapat membohongi perasaanya. Jika sosok lembut seperti Sigit inilah yang Kania cari. Tetapi Kania tak dapat menjanjikan apa pun untuk pria itu. Kania tahu batasan dirinya terlebih dengan kondisinya sekarang.
“Sigit, Aku tahu kamu sedang menggodaku! Jangan lakukan hal itu lagi Oke! Aku takut nanti terbawa perasaan.”
Sigit mengatupkan tangannya ke pipi gadis itu dengan gemas. Mengerucutkan bibir pink cherry milik Kania. Hati Sigit menghangat saat bersama gadis yang usianya lebih muda darinya.
“Tapi Aku serius Kania, jadilah milikku kita bisa menjalin hubungan ini perlahan, kamu mau kan?”
__ADS_1
Kania tak mengatakan apapun. Hanya kedua manik mata mereka yang berbicara. Namun Kania berpikir tak ada salahnya untuk mencoba menjalin hubungan dengan Sigit.
“Baiklah, Aku setuju untuk mencobanya.” Lantas Kania melirik jam tangannya. Sudah waktunya untuk pulang. Tetapi Kania bingung, siapa yang akan menjaga Sigit nanti. Pria tampan di depannya melihat kecemasan di wajah kekasihnya.
“Jangan khawatirkan Aku, Jo akan datang sebentar lagi. Biarkan dia yang mengantarmu ya! Aku tak bisa membiarkanmu pulang sendirian malam-malam begini!”
“Jadian?” tanya Sigit memastikan.
Haha... Kania tersipu malu, saat Sigit menggodanya. Sigit seperti mendapat kehidupan kedua, saat gadis itu mengatakan bersedia menerima dirinya. Sigit mengacak rambut Kania dan mengecup puncak kepalanya.
“Hati-hati ya Sayang! kabari Aku begitu sampai rumah, ingat Aku menunggu kabarmu!” pesan Sigit panjang lebar.
“Iya, Aku pulang ya, lekas sembuh Sigit!”
“Hmm...”
Mereka berpisah dengan saling melambaikan tangan. Jo sudah menunggu Kania di lobby rumah sakit. Pria itu yang akan mengantar Kania pulang. Jo dan Kania tak banyak bicara, Ia hanya meminta Jo untuk mencarikan jeruk lemon dan alpukat di supermarket.
“Nggak apa-apa Jo, Perutku mual! rasanya nggak karuan.”
Jo mengangguk dan mencari di beberapa supermarket namun semua kosong. Jo menjadi ingat dengan momen es dawet yang Bos nya inginkan. Jangan-jangan Kania juga yang memintanya. Jo mengelap keringatnya.
“Ya sudah, kita pulang saja Jo sudah malam juga.”
Hampir dua jam Jo dan Kania baru sampai rumah. Sigit pun terus menghubungi Jo, kenapa dirinya tak sampai di rumah sakit tepat waktu. Setelah memastikan Kania sampai di rumahnya Jo pun kembali. pria itu tak memeriksa tangki bahan bakarnya yang ternyata menipis.
“Astaga! Mana habis lagi!”
Jo terpaksa mendorong motornya sampai ke pom pengisian bahan bakar. Sepanjang perjalanan menuntun motornya Jo mengeluh. Jika punya pacar merepotkan seperti ini lebih baik dirinya menjomblo saja. Pengorbanan Bos nya kepada gadis itu bukan main, jarak kiloan meter Ia tempuh. Belum lagi permintaannya yang aneh-aneh, membuat Jo geleng-geleng kepala seperti pria tidak waras.
“Ah Sial!”
__ADS_1
...
Agnes menjaga Dion di kamarnya. Pria itu terbaring lemah, semua makanan yang ia makan harus Ia keluarkan semua. Bahkan Dion mendapatkan selang infus di tangannya. Chandra dan Agnes semakin khawatir, karena penyakit Dion bukanlah sejenis gangguan pencernaan atau sejenisnya.
“Dokter, sebenarnya Dion sakit apa? Sudah beberapa hari ini putraku sering sakit kepala dan mual nggak jelas.” Papar Agnes yang terus berada di samping Dion. Bahkan dokter tidak merespakan obat untuk penyakit. Hanya memberinya beberapa vitamin saja.
“Pak Chandra, Bu Agnes mungkin anda tidak akan percaya dengan apa yang akan saya katakan, tapi beberapa suami akan mengalaminya jika istrinya tengah hamil. Istilahnya kehamilan simpatik, dalam bahasa medis Syndrom Couvade.”
“Apa itu dokter, seperti ngidam begitu?” tanya Agnes penasaran. Karena Chandra tak pernah mengalaminya.
“Jadi sang suami yang akan merasakan gejala kehamilan istrinya, mulai dari pusing, mual, muntah, sensitif terhadap aroma tertentu dan masih banyak lagi.” terang dokter. “Beruntung sekali istrinya, mendapatkan suami seperti Mas Dion.”
Chandra dan Agnes menatap Dion bersamaan. Sedangkan Dion pun hanya bisa tesenyum dengan menahan rasa tidak nyaman. Agnes mendatangi Dion dan menanyai bocah badung itu. sepertinya ada yang Dion rahasiakan. Kecurigaan Agnes mulai dari tingkah aneh Dion beberapa hari kemarin.
Chandra mengantar dokter sampai di halaman rumah. Dengan menanyakan beberapa macam pertanyaan tentang kehamilan simpatik seperti yang dokter bicarakan.
“dokter, apakah itu berbahaya?”
“Jangan khawatir Pak, hal itu adalah wajar bagi wanita hamil. hanya di tiga sampai empat bulan pertama saja, semua tergantung pada kondisi tubuhnya.” dokter pun undur diri.
Mendengar hal itu Chandra kembali ke kamar Dion dan melihat Agnes sedang menggoda putranya, karena sekarang Dion tidak bisa berbuat semaunya. Agnes menebak, jika gadis yang Ia maksud adalah Kania.
“Haha... serius kamu Dion?”
“Iya, Ma! Senang kan sekarang! Lihat Dion kayak begini.”
Dalam hati Dion pun turut senang, meskipun dirinya sendiri belum yakin jika belum melihat dengan mata kepalanya sendiri.
“Dion apa benar ucapanmu?”
...
__ADS_1