
Pagi-pagi sekali Kania datang ke rumah sakit bersama Dion. Namun di sana sudah ada Sigit bersama Gunawan. Kondisi Faris perlahan berangsur membaik sehingga bisa dimintai keterangan dengan jelas. Meskipun tubuhnya masih lemah, Ia mampu memberikan penjelasan secara detail tentang rencana kejahatannya kepada keluarga Dion.
Sayangnya Faris tak melihat jika di ambang pintu ruangannya, sosok manis yang penuh semangat telah berdiri dengan kaki bergetar, dan mendengar semua pengakuannya. Tangannya mengepal erat juga telinganya tak salah mendengar dengan setiap penuturan pria yang terbaring di ranjang putih itu.
“Dasar brengsek, jadi Lo penyebab semua ini terjadi? tega Lo Faris! Lo juga kan yang membuat ibu tewas terbunuh, katakan!” suara Kania mengejutkan ketiga pria yang berada di sana.
Dengan menarik kerah pakaian Faris, Kania menanyakan siapa yang menyuruhnya. Akan tetapi reaksi Faris menunjukan sebuah kelegaan, ternyata adiknya yang Ia khawatirkan masih hidup dan dalam keadaan baik-baik saja bersama dengan pria yang pernah berduel dengannya. Dion berusaha melepaskan genggaman tangan istrinya yang sejak kapan berubah menjadi sangat kuat.
“Hentikan Kania, dia baru saja melewati masa sulit. Bahkan nyawanya mungkin dalam bahaya sekarang.” Gunawan membetulkan posisi Faris yang tercekik oleh kekuatan Kania.
“Lebih bagus kalau dia mati saja kemarin dan gue nggak perlu mendengar omong kosong semua ini! pria nggak berguna seperti dia, sampai kapanpun nggak akan pernah berubah!”
“Kania, gue minta maaf gue nggak tahu tentang hal itu. Soal Ibu, dan semua yang sudah gue lakukan ke Lo selama ini. Lo berhak membenci gue sebanyak apa pun yang Lo mau, Gue nggak ingin Lo terluka gue sangat menyesali hal itu Kania,” pesan Faris membuat gadis itu meninggalkan ruang perawatan yang dijaga ketat oleh beberapa petugas di luar ruangan.
Kania berjalan menyusuri lorong rumah sakit sembari berpikir tentang ucapan Dion waktu itu. Hatinya teramat sakit melihat kenyataan yang ada. Saat diminta untuk menyiapkan hati sebelum mengetahui siapa pelaku penyebab kecelakaannya, dan ternyata tak lain dan tak bukan adalah saudaranya sendiri.
Akibat berpikir terlalu keras, tiba-tiba saja pandangannya kabur dan tubuhnya berkeringat dingin. Kakinya tak sanggup melangkah lebih jauh lagi, saat sebuah tangan merengkuh di pinggangnya.
“Kamu nggak apa-apa?” suara lirih itu menyadarkan Kania yang berusaha berkedip menetralkan penglihatannya.
“Ehm, Sigit? Nggak, aku hanya tiba-tiba saja merasa pusing.”
__ADS_1
Lengan kokoh Sigit menopang tubuh ramping Kania yang sedang sempoyongan, sampai entah datang dari mana sebuah tenaga yang besar berhasil menepis tangan itu.
“Nggak usah cari kesempatan! Lebih baik Lo cari tahu dimana keberadaan Papa mu itu!” sela Dion yang berusaha memisahkan istrinya dalam pelukan pria lain. Sigit selalu berhasil membuat pentolan geng itu naik darah, tiap dirinya berhasil mencuri kesempatan bersama Kania.
“Siapa Anda, menyuruh-nyuruh saya? Saya lebih senang berada di dekat kekasih saya daripada harus bersama Pria itu, dan saya bukan pria yang mudah di perintah apalagi oleh pria sok jagoan seperti Anda!”
“Cih! Kekasih dari mana? Mantan, kalian berdua sudah tak ada hubungan lagi jangan lupakan itu! Kita lihat saja nanti, seberapa jauh keterlibatanmu dalam semua kejadian ini. Gue pastikan nggak akan membiarkan Lo lolos begitu saja!”
Dion menabrakan bahunya kepada Sigit hingga sedikit goyah. Sekali lagi hanya senyum kecil yang tersungging di bibirnya. ‘semakin Lo cemburu, semakin merasa tertantang gue buat membuat Kania kembali.’
Melihat reaksi Kania tepat seperti dugaannya sebelumnya membuat Dion merasa bersalah, tetapi kenyataan tetap tak bisa di sembunyikan. Di dalam mobil Dion khawatir karena Kania terus diam saja sembari memijit pelipisnya.
“Sayang, kamu sakit?” Dion menempelkan punggung tangannya dan merasakan dingin di sana. Kania menggeleng, dan mengatakan mungkin karena belum sempat sarapan. Siapa yang tidak terkejut tiba-tiba mendengar pengakuan kejahatan sekeji itu.
“Ayo, selama sama kamu aku mau, tapi jangan di tempat yang ber-AC ya aku mual.” jawaban Kania tentu saja membuat Dion tak bisa menahan gurat merah di wajahnya. Dion ingat kejadian Kania membuka jendela mobilnya seperti sedang menaiki angkutan umum. Saat Ia menyadari gadis itu tengah menunjukan tanda-tanda hamil muda.
Setelah mengantarkan Kania pulang, Dion dan Gunawan akan pergi ke Bandung untuk menyelediki sesuatu hal seperti yang dikatakan Faris beberapa jam yang lalu. Sayangnya Dion harus menginap selama beberapa hari di luar kota dan harus berjauhan dengan wanitanya yang mulai ketergantungan dengannya.
“Mas, perginya lama?” rengek Kania saat menyiapkan pakaian yang akan dibawa Dion selama beberapa hari. Lantas pria itu menghentikan aktivitas Kania dan menautkan bibirnya untuk mengobati kegundahan hatinya selama beberapa hari nanti.
Bukannya membalas bibir hangat itu, gadis di depannya justru menangis karena akan ditinggal pergi. Isakannya cukup membuat heboh seisi rumah, hingga membuat semua orang mendatangi kamar mereka berdua.
__ADS_1
“Dion, apa-apaan kamu! tuh kan, lagi-lagi kamu buat menantu Mama sedih, benar-benar nggak bisa dipercaya kamu ya!” Agnes memeluk gadis dengan surai panjang itu. bukannya menjelaskan Dion terus meliat jam di tangannya. Dengan terus berdecak, karena Mamanya selalu salah paham dengannya.
“Ma, Dion nggak berbuat apa-apa. Nanti saja Dion jelaskan lewat telepon kalau sudah sampai Bandung, sudah terlambat ini!” gusarnya. Perlahan Dion membuka kemejanya di depan Mamanya dan menyerahkannya kepada Kania.
“Oh dasar bocah kurang asem, bisa-bisanya berbuat begitu di depan Mama!”
“Salah sendiri, kan Mama dilarang masuk area ini Mama lupa?” omel Dion. sembari memberikan pakaian bekas tubuhnya kepada Kania. memintanya untuk tidur dengan pakaian yang ada aroma tubuhnya.
“Sementara tidur sama baju Mas ini ya, Biar nggak kangen-kangen banget, hehe...” Dion mengecup kepala gadis itu dan berpamitan dengan yang lain yang tengah menyaksikan drama lebay pentolan geng itu. tak henti-hentinya mereka menyebikkan bibirnya, ternyata Dion bisa romantis juga.
Teleponnya terus berdering, beberapa pesan masuk juga belum terbaca oleh Dion. Di rumahnya kini ada dua orang wanita dalam tanggung jawabnya. Setelah berpamitan dengan Kania dan kedua orang tuanya, Dion berpamitan kepada wanita dengan perut bulat itu.
“Baik-baik di rumah ya sampai Gue balik, kalau perlu apa-apa ada Kania sama orang tua Gue, jadi jangan sungkan...” tak sengaja tangannya mengelus perut bulat itu.
“Iya, hati-hati ya!” balas Dista. Membuat Agnes dan Chandra berpandangan merasa tingkah putra mereka lebih bisa diandalkan dan bertanggung jawab. Lantas Dion pun meninggalkan kediaman besar itu dan segera memasuki mobil yang sudah terparkir di halaman rumahnya.
“Sorry bang lama, nyonya besar rewel haha...” ledeknya.
“Lo nyindir Gue? mentang-mentang keponakan Gue juga ada di rumah Lo.” sambil mengemudi Gunawan menyerahkan ponselnya kepada Dion yang masih membenarkan posisi duduknya. Gunawan memprotes dirinya karena sejak tadi panggilan dan pesannya diabaikan. Ada berita penting yang telah terlewat, untuk itu Gunawan segera menuju kediaman Wijaya untuk menjemput pentolan geng itu.
“Kita terlambat Bro, seorang pria ditemukan tewas di lokasi yang akan kita tuju...”
__ADS_1
“Serius Lo Bang? Hah, siapa pria ini?”
...