
Gadis yang masih shock itu dibantu oleh Agnes juga asisten rumah tangganya. Agnes memberi segelas air kepada gadis bertubuh ramping itu, wajahnya yang pucat membuat mama dari Dion menjadi khawatir.
“Nak, lebih baik kamu istirahat dulu ya! Tante sejak tadi menghubungi Dion, tetapi belum diangkat sampai sekarang.” Agnes meminta asisten rumah tangganya untuk menyiapkan sebuah kamar untuk karyawan kepercayaannya yang masih sangat muda.
Agnes
[Pa, Kania ada di rumah tetapi keadaannya tidak sehat, Mama hubungi dokter keluarga ya, nggak tega Mama melihat kondisi gadis itu.]
Chandra
[Dimana Dion? bukankah seharusnya dia membawanya ke dokter? Dasar anak yang susah diatur, sebentar lagi Papa pulang Ma.]
Agnes
[Iya Pa, hati-hati di jalan! dan jangan sering marah-marah, tidak baik untuk kesehatan Papa.]
...
Dokter memeriksa keadaan gadis muda yang terbaring lemah. Tidak ditemukan penyakit serius dalam dirinya, hanya saja pola makan Kania yang membuat tubuhnya mudah lelah juga perasaan khawatir yang berlebihan.
“Obatnya harap diberikan tepat waktu, juga sering mengonsumsi makanan bergizi.” Setelah meyampaikan hal tersebut kepada Agnes, pria berjas putih itu diantar hingga depan pintu.
Saat mamanya sedang merawat Kania, Dion malah asyik menghabiskan waktu dengan Dista. Seakan lupa diri, pria bertubuh atletis itu memperlakukan Dista selayaknya kekasihnya. Kesempatan yang tak pernah Dion dapatkan sebelumnya.
“Papa lama banget nih, seharusnya sudah tiba beberapa menit yang lalu.” Dista melihat jam di tangannya. Peluh yang hampir menetes segera Dion usap dengan sapu tangan miliknya.
“Kamu capek, Dis? tunggu di sini sebentar ya, gue beliin minum dulu.” Dion pun meninggalkan gadis itu dengan senyum yang masih tersungging di bibirnya. Mungkin ini rasanya jika mereka berdua menjalin hubungan. Namun sekali lagi kenyataan tidak bisa disembunyikan, jika gadis pujaannya tengah menjadi milik pria lain.
__ADS_1
Setelah menghabiskan waktu seharian dengan Dista dan keluarganya, Dion berpamitan pulang. Ia tak ingin disangka pria tidak tahu diri karena menggoda wanita bersuami. Suasana hatinya sedang baik, hingga ia menyapa seluruh para pekerja di rumahnya.
“Baru pulang Mas Dion?” sapa Ujang, melihat anak majikanny yang tampan tak seperti biasanya.
“Yoi Mang, kok sepi? Mama kemana?” Dion membuka pintu lemari pendingin, menuangkan segelas air dan menenggaknya hingga habis.
Ujang memberitahu jika majikannya berada di ruang tamu, sedang merawat seseorang. Agnes juga berpesan jika melihat anaknya telah kembali, untuk segera menemui mereka. Tanpa perasaan apapun, Dion menuju lantai dua, dimana kamar tamu itu berada.
Terdengar samar pembicaraan dari arah luar, Dion pun masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.
“Ma,” ucapan Dion terhenti. Saat melihat gadis yang bersandar di head board ranjang besar. Semua orang yang berada di sana menoleh ke sumber suara. Chandra yang duduk di sofa segera bangkit dan menghampiri putranya yang masih bingung.
“Hei, ngapain lo kemari? Bukannya gue suruh lo pulang?”
Plak!!
“Dasar anak tidak tahu diuntung! Kamu tahu apa kesalahanmu?”
Dion yang masih megusap pipinya, hanya menatap nyalang pria di hadapannya. Senyum kecut tersungging di bibirnya, hanya karena sekretaris jorok, dekil dan pandai bersandiwara ini papanya tega menamparnya.
“Bela saja terus itu bocah kemarin sore! Jangan-jangan itu hanya akal-akalan Papa kan? bisa bermain tanpa ketahuan Mama!” Dion menunjuk wajah Kania yang nampak pucat, dan sekali lagi Dion mendapatkan tamparan dari papanya.
Dion hendak meninggalkan kamar tamu. Namun, papanya memberi peringatan jika selangkah saja ia melangkahkan kaki maka untuk selamanya tak perlu kembali lagi ke rumah. Kania yang sadar dengan kehadirannya di rumah itu merasa bersalah. Ia meminta sepasang suami istri itu untuk menghentikan pertikaian itu.
“Pak Chandra, Ibu Agnes, jika kedatangan Kania kemari ternyata membuat kekacauan di rumah ini, saya meminta maaf. Hari ini Kania juga baru mengetahui jika pria yang datang ke kantor untuk bekerja adalah putra dari Pak Chandra,” sesal Kania.
Dion berdecih, sambil bertepuk tangan dengan akting gadis yang dua tahun lebih muda darinya. Agnes semakin kesal dengan tingkah putranya yang manja. Beranjak dari ranjang an meminta Dion untuk meminta maaf pada gadis itu.
__ADS_1
“Lihat baik-baik gadis ini! salah apa dia sama kamu? sampai kamu tinggalkan di rumah sakit untuk pulang sendiri dengan taksi, jangan jadi pria tak bertanggung jawab!” omel Agnes. Dion menatap gadis itu lekat-lekat dan melalui tatapannya, Dion memberi isyarat bahwa penderitaannya akan dimulai dari sekarang.
“Papa dan Mama sepakat untuk menikahkan kalian berdua secepatnya. Kamu mencintainya atau tidak, Mama tidak peduli! Mama hanya ingin kamu menjadi pria yang bisa bertanggung jawab!”
“Tapi Bu,” potong Kania, yang ternyata mendapat tangan dari Agnes untuk tidak membantahnya.
Chandra menepuk pundak Dion, yang tentu saja ditepis dengan mudahnya. Kepala keluarga itu puas dengan keputusan istirnya. Bocah badung yang tidak pernah kapok ini memang harus segera di eksekusi dengan membuat keputusan final. Chandra ingin melihat bagaimana tingkah Dion selanjutnya. Apakah akan menuruti perkataan mamanya atau akan melakukan hal nekat lainnya.
“Lanjutkan saja permainan kalian, Dion lebih baik keluar dari rumah dari pada harus hidup seatap dengan gadis jorok pilihan Mama,” tantang Dion yang ditujukan kepada kedua orang tuanya. Kania yang mendengar hal itu hanya bisa menahan sakit hatinya.
Kondisi keluarga Kania yang membuat dirinya menjadi egois, ingin ia pergi sejauh mungkin meninggalkan ibu juga kakaknya. Agnes yang mendengar kisah pilu itu memutuskan untuk membantunya, namun dengan syarat Kania harus bisa merubah tabiat Dion yang semakin menjadi-jadi.
‘Mamanya aja nggak bisa mengatur anaknya, apalagi gue yang sejak awal sudah dianggap menggelikan oleh bocah tengil itu. Tuhan, kenapa cobaan buat Kania random banget.’ Gadis itu bermonolog, sesekali ia menertawakan nasib dirinya.
“Kania, kamu setuju kan sama usul Tante? Bocah itu menjadi sepeti itu karena belum pernah membawa gadis pulang ke rumah, Tante saja nggak tahu mana pacar Dion.” Mendengar ucapan Agnes, Kania menjadi penasaran dengan kisah cinta pria badung itu.
“Masa sih Bu? Tadi Dion terburu-buru pergi setelah mendapat telepon dari seseorang, mungkin saja itu pacarnya.” Kania membayangkan seperti apa gadis idaman Dion, hingga pria itu bisa memberi penilaian buruk kepada dirinya.
“Pasti sangat cantik,” lirih Kania yang di dengar oleh Agnes.
Agnes menunjukan sebuah foto yang tidak sengaja ditemukan asisten rumah tangganya saat membersihkan ranjang Dion.
“Dulu, Tante tidak tahu ada hubungan apa antara mereka berdua, tapi Anak nakal itu tidak pernah mengenalkannya kepada kami. Sampai setelah Tante tahu ternyata gadis itu adalah kekasih sahabatnya, tapi tenang saja Dista dan Vicky sudah menikah, dan Kamu juga nggak kalah cantik dari Dista.” hibur Agnes.
Kania yang menatap foto itu pun merasa rendah diri, ternyata perkiraannya benar. Jika selera Dion cukup tinggi. Apalagi mengingat saat pertama mereka bertemu, sungguh hal yang sangat konyol jika membandingkan diri dengan gadis cantik dan tampak sempurna itu.
“Gue kayak pungguk merindukan bulan, hah! mungkin dengan cara ini gue bisa melarikan diri dari kehidupan gue yang menyedihkan.” Sembari memperhatikan selembar cek pemberian istri dari Bosnya.
__ADS_1