
Seketika dunia berhenti sejenak. Chandra Wijaya, sosok lembut, bijaksana dan bersahaja. Seumur hidupnya tak pernah berbuat kasar terhadap siapa pun. Pekerjanya, staf di perusahaannya, juga orang lain.
Kania mengusap pipi itu, tiba-tiba saja air matanya jatuh begitu saja. Bahkan baru kali ini, Kania berani mengatakan apa yang Dion rasakan di depan Bos besarnya. Untuk tidak selalu menyalahkan semua kesalahan putranya.
Setelah hidup bersama beberapa bulan dengan pentolan geng itu, Kania menyadari Dion hanya butuh kasih sayang, dan perhatian yang tak pernah di dapatkannya. Menurutnya cara Chandra sangatlah salah, dengan memberikan hukuman itu di depan umum.
“Pa, tidak seharusnya Papa melakukan itu. seharusnya Papa menyadari kesalahan anda, apa yang memicu Mas Dion berbuat demikian.”
Lantas Kania menggandeng lengan suaminya untuk meninggalkan pelataran itu. diikuti Agnes dan yang lainnya. Tak berselang lama Chandra menghela napas, lalu meminta yang lain untuk masuk dan meminta maaf atas peristiwa tak mengenakan yang terpaksa mereka saksikan.
“Maaf Pak, kita berdua pamit undur diri, karena masih ada pekerjaan.” ucap Richie buru-buru. Ia barus saja melihat Sigit dipukul di depan matanya. Perasaannya sungguh tak enak.
“Baiklah, Om sampaikan terima kasih. sering-seringlah kemari untuk menemui Sigit, ya!”
“Baik Pak, Mas Sigit kita berdua mau kembali ke kafe. jaga diri baik-baik ya!” pesan Jo, karena Richie sudah berkaca-kaca saat masuk ke mobil.
Di dalam rumah, Agnes berusaha untuk menekan emosinya. Sigit tidak bersalah, Dion pun juga. Agnes hanya perlu berbicara empat mata dengan suaminya. Meminta penjelasan apa yang sesungguhnya telah terjadi, hingga membuat keputusan sepenting itu tanpa melibatkan dirinya.
“Ma, kita perlu bicara.”
“Of course, Mama sudah menunggu Papa sejak kemarin. Nak Sigit, lukamu segera di obati ya! istirahatlah di kamar.” perintah Agnes.
Setelah punggung pria manis itu tak terlihat, Agnes pergi ke dapur untuk mengambil sebotol air minum dari dalam lemari pendingin. Chandra tersenyum, istirnya sangat pengertian. Ia berpikir bukan Dion yang akan marah, melainkan dirinya.
Saat Chandra meminta minum, Agnes mengulurkannya. Byuurr!!
“Agnes! Apa yang kamu lakukan?” bentak Chandra.
“Apa yang Mama lakukan kata Papa? Ya, Mama memberikan air yang Papa minta, Sekarang Mama tanya, Apa yang Papa lakukan?”
“Bukan memberi, tapi Kamu menyiramnya!” kelakuanmu sama seperti Dion, seharusnya kamu dengarkan dulu apa yang ingin Papa katakan!”
Keduanya bertengkar hebat di dalam kamarnya. Ia tak mengira Agnes yang tenang akan mudah terprovokasi oleh Dion. bahkan hasil tes DNA yang Chandra berikan ke Agnes di robek menjadi potongan-potongan kecil.
Kesabaran Chandra sungguh habis. Ia lelah selama beberapa hari ini. di tambah lagi dengan syarat dari Sigit untuk menikahi Rosi yang sungguh tak masuk akal. Ketika sampai rumah, bukan sambutan atau pelukan hangat istrinya melainkan amukan dari ibu dan anak itu.
“Bahkan papa rela menampar Dion di depan banyak orang!”
__ADS_1
“Anakmu itu yang sangat keterlaluan!”
“Oh Anakku? Haha...” Agnes tertawa dan berdiri dan mengelilingi Chandra.
“Setelah menemukan anak baru, kamu bisa bilang Dion hanya anakku? Jangan lupa, Dion menjadi seperti itu juga karena sikap Papa selama ini.”
...
“Mas, kamu kenapa sih selalu seperti ini? Kania minta tolong sekali saja, untuk tidak membesarkan amarah Mas sama orang lain...”
“Terutama Sigit begitu?” sela Dion.
“Bukan begitu, ck!” Kania berpikir cara apalagi yang harus Ia gunakan untuk bisa merubah tabiatnya. Ia tersenyum malu, namun harus Ia coba.
Kania tidak tahu, jika Dion memukul Sigit bukan tanpa alasan. Gunawan mendapatkan kabar dari petugas lapas, jika Chandra mengurus gugatan perceraian Ibu Sigit dengan Dewa. Dan akan melangsungkan pernikahan di bawah tangan setelah akta cerai itu keluar.
Mengetahui hal itu, Gunawan segera menghubungi Dion. Padahal Chandra sudah berusaha menutupinya sampai pernikahan itu terjadi, baru akan mengatakannya. Dion tak bisa membiarkan hal itu terjadi sampai Papanya menjelaskan sendiri apa alasannya, siapa Sigit sebenarnya sebelum pernikahan itu terjadi.
Kania mendekati Dion yang masih marah. Dadanya bergemuruh, amarahnya masih berkecamuk di kepalanya. Jika kalian bisa melihatnya, akan ada asap yang keluar dari atas kepalanya. Lengan kecil Kania membawa tubuh Dion ke dalam pelukannya.
“Kamu mau ngapain?” tatap Dion, melihat kelakuan aneh gadis itu.
Aroma tubuh gadis itu membuatnya tenang. Meski sesekali Dion tertawa, karena caranya sangat lucu. Ia tak pernah merasakan pengalaman di peluk oleh orang tersayang selama hidupnya. Pentolan geng yang garang, merasakan debaran jantung Kania. Gadis yang sering Ia ejek sesuka hatinya.
“Kamu mau minta jatah lagi, hem?” tebaknya ngawur.
“haha.. Nggak dulu Mas, kamu sudah nggak marah lagi kan? sekarang lepasin Aku!”
Bukannya menuruti permintaan Kania, Dion justru mengusapkan wajahnya di sana. Apa jadinya jika tidak ada gadis ini. Mungkin dirinya sudah hancur. Dion berencana memberitahu Kania tentang persoalan beratnya saat ini. tak menutup kemungkinan jika tebakan Kania benar, jika mereka dirinya dan Sigit adalah bersaudara.
Dion mengira Papanya telah berselingkuh dari Mamanya. Yang entah di mulai sejak kapan, karena sepertinya Papanya juga tidak pernah mengetahui akan hal itu. Dion berencana akan bertanya kepada Yoshi.
“Sayang, seandainya benar mantanmu itu adalah saudaraku apakah kamu masih akan mencintainya dan meninggalkan Aku?” Dion tak ingin lepas dari Kania saat ini, meski gadis itu sudah merasa kegelian.
“Tapi lepasin Aku dulu, sesak nih!” protesnya. Karena tangan Dion sudah berjalan ke mana-mana.
“Astaga, tinggal jawab aja susah banget kayaknya!”
__ADS_1
“Nggak tahu ya, kalau Mas terus seperti itu ya...,”
“Heh! Awas ya, berani dekat-dekat sama dia, nggak ada ampun buat kamu!” amarah Dion pun mereda dan merasa lebih baik. sampai hal memalukan itu terjadi.
Krukk...krukk... perut Dion berbunyi. Akibat marah-marah Ia mulai merasakan lapar. Kania mengajak Dion untuk makan, Dan ketika sampai di bawah Ia melihat rumahnya begitu sepi. Sampai Ia melihat Agnes keluar dari kamar dan berpapasan dengan Dion di susul dengan Chandra yang basah kuyup.
“Ayo Mas,” bisik Kania.
Melihat Papanya tampak klimis Dion ingin tertawa. “Perasaan hujannya kemarin, kenapa basahnya sekarang ya? pasti habis di siram Mama ya kan? hahaha...”
“SShhtt!! Buruan katakan!”
“Iya, tapi nanti malam jangan lupa ya sama kesepakatan kita!”
Dion pria dengan gengsi tinggi, kini mengulurkan tangan kepada Papanya dan meminta maaf atas perbuatannya tadi. Juga kepada Mamanya atas perbuatannya selama ini. Agnes justru menitikkan air mata melihat Dion berubah terlebih setelah mendengar ucapan Chandra tentang perilaku Dion.
“Mama juga ya Nak, terima kasih masih mau menganggap Mama sebagai orang tuamu.” Keduanya berpelukan. Namun Chandra berlalu menghindari mereka. Agnes berpikir jika suaminya masih marah, akibat siraman air dingin itu.
“Kenapa kalian hanya diam saja, sini peluk Papa!” dengan berbalut handuk di kepalanya, Chandra memeluk Agnes dan Kania juga Dion. Chandra berjanji akan menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya tanpa ditutup-tutupi tentang siapa Sigit sebenarnya.
Dari lantai dua, pria berkulit putih yang sedang dibicarakan muncul. Ia ikut senang, melihat kerukunan keluarga mereka. Meskipun Ia masih ragu dengan keputusan Chandra, yang menyetujui syarat yang Ia ajukan.
Mungkinkah Om Chandra mau merelakan keutuhan keluarganya hanya demi anak menyedihkan seperti dia. lantas Ia hendak beranjak pergi.
Namun, langkahnya terhenti saat Agnes mengumumkan berita penting. Berulang kali wanita itu memeluk Kania dengan erat. Dan berlari menuju kamar untuk menunjukan sesuatu.
“Sayang, anak gadis Mama terima kasih ya!”
Dion dan Kania pun bingung, Mamanya sepertinya stres menghadapi kebosanan di rumah. mengakibatkannya mood nya gampang berubah.
“Ada apa sih Ma? Katakan!” Dion menodong Agnes, apa yang ada di tangannya.
“Nih, baca sendiri!”
Beberapa menit kemudian, Dion menatap Kania dengan tatapan tak percaya. Kemudian beralih kepada kedua orang tuanya. Memastikan jika yang Ia baca bukanlah kebohongan.
“Ini Beneran Ma? Kalian nggak sedang balas dendam sama Dion kan?”
__ADS_1
...