Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 17. Rahasia Kania


__ADS_3

Di Rumah sakit, Chandra menghubungi Dion yang masih di rumah untuk menemani Kania, karena Papanya harus menghadiri meeting dadakan di kantor. Agnes yang sedang duduk di ruang tunggu pun masuk ke dalam untuk menenangkan gadis itu.


“Tunggu sebentar ya Kania, Dion sebentar lagi datang,” hibur Agnes. “sudah berapa minggu usia kandunganmu?”


‘Hah! kandungan? Siapa yang hamil? Disentuh pria aja belum. Anak Tante tuh main seruput sana-sini, bikin emosi aja!’


“Kania nggak hamil tante, Kania hanya di minta kemari sama Mas Dion untuk ....”


“Mas? Dion? haha... jangan bilang kamu disuruh anak saya untuk memanggil dia Mas ya!” Agnes tak berhenti tertawa melihat kekonyolan putranya dan gadis muda di hadapannya ini. tetapi menurut Agnes, hal itu malah jauh lebih baik, keduanya tampak akur. Lalu yang jadi masalah sekarang , jika bukan tes kehamilan seperti apa kata Dion lalu pemeriksaan untuk ...”



“Ma, sorry Dion telat!”


“Udah, Lo boleh show off luka-luka kamu ke dokter di sini untuk diperiksa, nanti tinggal dibuatkan surat pengaduan ke kantor polisi. Gue tunggu di luar!”


Agnes mengejar putranya, wanita itu masih belum mengerti dengan apa yang terjadi di hadapannya. Di ruang tunggu, Dion menunjukan foto-foto bekas penganiayaan di tubuh Kania, yang diambil tadi pagi oleh Dista.


“Dion! kamu semalam menginap di rumah Vicky?”


“Kenapa memangnya? Salah?”


Agnes menjewer telinga putranya yang susah diberi tahu, untuk tidak sering menginap di rumah teman yang sudah berkeluarga.


“Tapi Ma Dion sama Kania juga, nggak mungkin dong Dion sekamar sama Dista! Bisa babak belur di hajar Vicky!”


“Eh, kamu tidur sama Kania?” Agnes menatap curiga, melihat gerak-gerik Dion kalau dia melarikan diri berarti tebakan Mamanya benar. Sayangnya Dion mengelaknya, raut wajah Agnes berubah lesu. Keduanya bertatapan tanpa mengatakan apapun, kemudian tertawa bersamaan.


“Ma ... Ma! Anaknya badung salah, anaknya baik salah, maunya Dion itu harus jadi kayak apa?”


“Nak, permintaan kami nggak banyak kok, Kamu urus pekerjaan Papa di perusahaan, supaya Papa dan Mama bisa mengurus cucu di rumah, Loh enak kan?”


Hahaha...


Dion tertawa begitu nyaring, hingga Kania yang sedang di periksa ikut tersenyum mendengarnya. Wajah gadis itu tak se tegang sebelumnya, hingga membuat perawat bertanya.


“Yang di luar calon suaminya ya Mbak?”


“Hah, bu-bukan sus! Dia anak Bos saya!”


“Tadi Mas nya yang di luar bilang, untuk hati-hati memeriksa calon istri saya, begitu katanya.”


Demi apa, Kania seperti kejatuhan uang dalam karung yang begitu berat, membuat senyumnya tak berhenti mengembang ketika mendengar ucapan suster barusan. Jantungnya pun berdenyut tak normal, seakan ingin keluar dari sarangnya.


“Nah, sudah selesai. Hasilnya paling cepat bisa selesai 20 hari dari tanggal pemeriksaan.” Kania segera turun dari tempat tidur itu dan menemui Agnes serta Dion. Namun entah kenapa, Kania menjadi ragu untuk pemeriksaan ini. dengan kata lain setelah hasilnya keluar, Faris tidak akan bisa lagi mengelak dari segala tuduhan, karena dirinya memiliki bukti yang kuat.

__ADS_1


“Tante, Kania sudah selesai.”


Dion melihat gadis itu tampak lain, seperti sedang menghindarinya. Karena ada urusan jam Tiga nanti, Dion meminta mamanya dan Kania untuk menunggu beberapa saat di rumah sakit.


“Ma, Dion ada urusan sebentar, kalian berdua tunggu di sini sebentar ya! Kalau nggak keberatan main poli anak dan kandungan sana! Cek kesuburan, hehe... Kalo Dion kan siap kapan saja!”


“Oh dasar anaknya Chandra! pekik Agnes. Melihat kelakuan putranya ia semakin yakin jika Dion sepertinya sudah menaruh rasa kepada Kania. Tiba-tiba ide dari Dion seakan memberi kesempatan bagi Agnes untuk memeriksa kondisi Kania.


“Ayo Kania, Tante ingin lihat kalau kamu juga sehat, bisa menghasilkan banyak anak untuk Dion, juga cucu untuk Om dan Tante.”


Hati Agnes seakan melambung tinggi, jika dirinya akan menunjukan anak Dion nantinya kepada teman-teman sosialitanya. Suaminya juga pasti akan lebih banyak waktu di rumah, dari pada bermain golf di luar atau memancing.


Setengah jam kemudian


Raut wajah Agnes berubah seratus delapan puluh derajat. Dari yang awalnya sangat mendukung pernikahan keduanya, kini mulai ragu. Kania mencoba mengajak istri Bosnya itu untuk berbicara. Namun, baru saja hendak menyentuh tangannya, Agnes mendepaknya.


Plak!


Kania terkejut, bukan karena sakit fisiknya. Tapi karena penolakan yang datang secara tiba-tiba dari wanita cantik itu.


"Kania, tolong jangan sentuh atau mengajak saya bicara dulu! Saya masih belum siap dengan hasil yang saya dengar dari ruangan dokter tadi tentang kesehatanmu." Agnes memegang kepalanya yang terasa pusing.


Ia menghubungi Dion, namun tak ada jawaban. Agnes pun memilih naik taksi Online daripada harus menunggu Dion yang masih tidak tahu kapan akan kembali.


“Untung saya mendengarkan apa kata putra saya, kalau tidak pasti saya sudah kecolongan. Ternyata benar apa kata Dion, kalau Dia memang tidak cocok untuk kamu Kania.” Agnes terus berkeluh kesah tentang hasil kesehatan Kania. Sedangkan gadis itu belum mengetahuinya.


“Siang dokter, saya pasien yang baru saja melakukan pemeriksaan.”


“Oh, Anda yang bersama Mamanya ya! ini ....” dokter menyerahkan selembar kertas juga resep untuk di tebus.


“Lho, apa ini dok? Bukannya tadi sudah di berikan?” Kania mengeluarkan selembar kertas juga berisi resep.


“Mohon maaf ya Mbak Kania, staf kami melakukan kesalahan dengan salah memberikan diagnosa. Yang ini milik Anda, kedua pasien memiliki nama yang sama, namun usia anda jauh lebih muda. Kesehatan alat reproduksi anda semua sehat dan tidak ada masalah. Anda sedang berada dalam masa subur, dan ini Vitamin untuk di konsumsi karena anda memiliki tekanan darah yang rendah.”


Kania bersyukur, jika memang tidak ada masalah dalam dirinya. Ia tak perlu memberitahukan hal ini kepada Agnes. Wanita itu sudah beranggapan yang tidak-tidak, bahkan Agnes tidak memberitahukan hasil pemeriksaannya kepadanya.


Kania berjalan lemas hingga menuju lobby. Lebih baik Ia segera pulang ke rumah. Tak ingin merepotkan lebih lama lagi di rumah itu. saat hendak menyebrang, gadis yang tidak fokus itu ...


“Diinn ... !!”


Brugg!!


Seorang pria bergegas berlari menubruk gadis iu hingga berguling di sisi jalan. lengan kokohnya mampu melindungi gadis bertubuh kecil dalam dekapannya.


“Aduuh!!”

__ADS_1


“Heh! Gadis jorok, Lo mau mati ya!”


Kania menatap pria yang berada di bawahnya, bukannya berdiri gadis itu sedang menyadarkan pikirannya.


“Lo Mas Dion kan? Kapan datang?”


“Pertanyaan Lo nggak penting, aduh cewek! Bangun dulu dari tubuh Gue! kalau Lo mau bisa minta nanti malam di kamar, jangan di sini!”


“Oh sorry!” Kania beranjak dari tubuh Dion, dan membantu pria itu untuk bangkit. Selembar kertas yang di bawa Kania kini berpindah tangan kepada Dion. Pria itu membaca hasilnya. Senyum mesumnya langsung menghiasi wajah tampan pria badung itu yang kemudian menyimpan kertasnya di dalam sakunya.


“Mama Mana? Bukannya tadi sama Lo?”


“Bu Agnes, sudah pulang naik taksi.” Jawab Kania tak bertenaga.


“Dan Lo ditinggal sendirian di sini? Astaga nyokap Gue, nggak bisa dipercaya!”


Dion menggandeng gadis itu ke mobilnya, urusannya sudah selesai dan Dion sudah mendapatkan apa yang ia dapat.


“Heh bocah jorok! Lo masih setuju kan sama ucapan Gue kemarin malam? Kita jalanin selama sebulan Oke, setelah itu Lo yang putuskan!”


Kania tertunduk lesu saat suasana sedang canggung tiba-tiba hal yang tak diinginkan pun terjadi.


Kruuyuuukkk ... krruuyuukkk ...


Hahaha...


Dion menatap gadis itu dengan wajahnya yang ingin melempar ejekan. Bagaimana mungkin seorang gadis bertubuh kecil tapi mudah sekali lapar.


“Lo kayak si bohay Gue deh yang lagi hamil, dia jadi gampang lapar. Biasanya Gue suka mampir bawain dia makanan manis, kayak es krim coklat, terus ... Mau makan apa Lo?”


Kania mengamati Dion, seakan tak percaya pria keras seperti dia sangat menyayangi wanita, tapi sayang cintanya tidak berbalas.



“Kalau gue jadi Dista pasti senang banget, karena banyak cowok yang perhatian sama dia! bahkan Lo sampai segitunya sama Dia!”


“Cih! Tahu apa Lo tentang si bohay! Dia gadis polos dan menyenangkan yang pernah Gue kenal! Sayangnya kita nggak berjodoh!”


“Lo mau banget punya anak banyak?” tanya Kania


“Ya iyalah! Siapa yang nggak mau apalagi dari ... heh? Maksud Lo apa ngomong begitu? Lo nggak bermaksud kasih kode buat Gue kan?”


Kania tertawa dengan ucapan pria itu. Gadis itu membayangkan, seandainya saja dia tidak kembali ke ruang pemeriksaan tadi, pasti Kania akan mengira jika dirinya di vonis tidak bisa memiliki keturunan alias mandul, dan pasti dirinya akan mudah sekali untuk di usir dari rumah besar itu.


“Dion, Kalau Gue di vonis nggak bisa memberikan keturunan, terus Gue di usir dari keluarga Lo! lalu apa yang akan Lo lakukan?”

__ADS_1


Dion yang sudah siap dengan jawabannya, malah mendengar suara isakan dari gadis yang berada di sebelahnya.


...


__ADS_2