
Siapa yang tidak pernah melakukan kenakalan semasa remaja, pasti akan sangat merugi. Tak terkecuali seperti pemuda berusia sembilan belas tahun ini. Sebagai mahasiswa cerdas dan tenang, Chandra dan kedua teman kuliahnya mencoba untuk berpartisipasi dalam donor bank sper-ma.
Mereka saling bertaruh untuk mendapatkan pengakuan siapa yang memiliki kualitas bibit unggul diantara mereka. Pemenangnya akan mendapatkan hadiah dari yang kalah apapun itu. Setelah melakukan tes pemeriksaan kesehatan hanya dua dari mereka yang dinyatakan berhasil.
Mereka tahu, jika sebotol air keramat mereka dihargai sangat mahal. Chandra dan kawannya pun berhasil mengantongi uang dua belas juta rupiah yang mereka gunakan untuk biaya kuliah mereka dan bersenang-senang.
Sesuai perjanjian hasil benih milik para mahasiswa itu disimpan dan di bekukan sampai maksimal jangka waktu lima tahun. Tujuan dari bank sper-ma ini adalah untuk membantu pasangan suami istri dalam mencari keturunan melalui inseminasi buatan.
“See! topcer kan punya Gue? jangan lupa Lo berdua bayarin kamar kost Gue dua bulan kedepan, haha....” kelakar Chandra.
Setelah lulus kuliah pun Chandra memutuskan untuk langsung menikahi kekasihnya yang merupakan adik tingkatnya, Agnes.
Beberapa tahun pun berlalu.
Rosi dan Yoshi masih berusaha mencari tahu dimana petugas lab yang membantunya waktu itu. Ia hanya ingin berterima kasih. berkat bantuannya Ia memiliki putra yang sangat berharga selama hidupnya. Jika harus ditukar dengan nyawnya, pastinya Rosi bersedia apapun demi Sigit Virgiawan.
“Mbak yakin ini rumahnya?”
“Sepertinya benar yang ini, turun Yoshi!”
“Mbak, kenapa berhenti? Katanya mau tahu siapa Papanya Sigit yang sebenarnya? Selagi masih ada saksi hidupnya lho, kan? Sigit aja hampir seperempat abad masa Mbak nggak penasaran? Aku aja nih dari kemarin bayangin, siapa bapak-bapak itu, uuuhh pasti baik hati, lembut, nggak sombong, ...”
“Heh! Yaudah ayo, jangan jelek-jelekin Mas Dewa nanti orangnya datang baru tahu rasa kamu!”
__ADS_1
Ketukan pintu dari Yoshi yang cukup kuat mengejutkan seorang pria paruh baya yang tengah menyulam. Sembari menaikan kaca matanya Ia berjalan ke arah pintu. Meskipun berumur lima puluh tahunan, namun pria itu masih bugar.
Melihat yang datang adalah orang asing, pria itu kembali masuk. Membuat Yoshi bingung dan menggedor pintunya lebih kuat.
“Lho Mbak, gimana ini kok malah masuk lagi?”
“Yoshi, jangan begitu nanti orangnya malah kabur. Sini biar Mbak saja! kamu ini...”
Akhirnya Rosi memanggil nama pria itu dan menampakan wajahnya di jendela. Melambaikan tangannya dan tersenyum saat pria itu menoleh ke arah Rosi. Lantas tak berselang lama, pintu itu pun terbuka untuk mereka.
“Mas, masih ingat sama saya kan?” ujar Rosi.
Sembari mengingat, pria itu meminta Yoshi dan Rosi untuk duduk. Tanpa ditanya tujuan kedatangannya, pria itu pun sudah jelas mengetahui. Ia tak bisa memberitahukan identitas pendonor benih itu.
“Ini anakmu? Anak itu?” dengan mendekatkan layar ponselnya dan menggeser foto-foto itu, hatinya menghangat. ikut merasakan bahagia “Iya, dia persis sama mahasiswa itu... tunggu sebentar!”
“Mbak, katanya mahasiswa, katanya pengusaha sukses, yang benar yang mana?”
“Yoshi, ah susah jelasin sama kamu nanti saja kalau kita sudah tahu siapa pria itu kamu bisa tanyakan langsung sama dia, oke! semoga saja ada berita bagus buat Sigit,” papar Rosi.
Pria itu muncul dengan sebuah buku catatan besar. Data pendonor yang sengaja Ia salin kembali di rumah. Ia tak ingin menyimpan rahasia di sisa usianya. sebuah amplop coklat juga berada di atasnya.
“Kamu beruntung, pria itu adalah orang yang baik.” Pria itu berdiri menghindari Rosi dan Yoshi yang sedang mendengarkan ceritanya. Dengan menyimpulkan tangan ke belakang sedikit membagikan kisah pendonor itu.
__ADS_1
“Kalau kamu ingin mengetahuinya, silakan! Tapi jangan sampai keluarga yang Ia miliki hancur berantakan. Cukup hanya kita dan Tuhan saja yang tahu sisanya kembalikan kepada takdir. Dia juga memiliki seorang anak laki-laki dan usianya tidak jauh dari putramu.”
Yoshi tertegun. Sepertinya bukan pertanda yang baik sampai Ia memilih untuk memutuskan untuk mencari angin keluar ruangan. Di saat yang bersamaan, pria itu sengaja menunggu Yoshi pergi. Ia mneyerahkan amplop coklat itu. Ternyata adalah sejumlah uang pemberian dari hasil donor benih itu.
“Ini, tolong kamu kembalikan kepadanya! Saya hanya menjalankan pekerjaan,”
“Tapi Mas, apakah pria itu akan mau menerima anak saya nanti?”
“Bukankah kamu hanya ingin tahu saja? kamu tidak ingin menyerahkan anakmu kan?”
...
Sigit pergi meninggalkan kantor polisi tanpa berpamitan kepada Kania juga Dion. Ia ingin tahu apa yang dilakukan papanya selama ini. Bahkan dokter kepercayaannya juga sepertinya tengah dalam situasi tak menguntungkan.
Sesampainya di rumah sakit Ia menuju ruangan dokter dan memintanya untuk bicara di kafenya. Karena Papanya tak akan pernah menyentuh tempat satu-satunya milik Sigit itu.
“Apa maksud dokter mengatakan akan mengundurkan diri dari sini?”
“Sshhtt... apakah aman berbicara di sini? Karena ini semua menyangkut kehidupan keluargamu Mas Sigit! Saya tidak ingin terlibat lebih jauh lagi.”
Sigit semakin yakin jika dokternya menyembunyikan banyak hal darinya. Apakah Ia juga akan mengakui hal itu juga. meskipun Dewa telah meninggalkan rumah sakit namun dokter kepercayaan Sigit merasa was-was. Bahwa tak dapat dipungkiri jika telah bertahun-tahun mengabdi di rumah sakit yang memberinya kehidupan yang layak.
“Apakah tidak ada lagi yang ingin kamu sampaikan? Kalau tidak berikan saya penawar untuk racun yang saya kirimkan tadi! Bukankah itu obatmu dokter?”
__ADS_1
...