
Di Jakarta, Iwan kembali ke rumahnya. Vicky pun tak bisa memaksa. Padahal mereka semua ingin sedikit menghiburnya. Bagi Iwan, bantuan dari sahabat dekatnya sudah sangat berarti. Namun sekali lagi, urusan takdir sudah di luar kendali tangan manusia.
Iwan menyalahkan keadaan dirinya sendiri. padahal orang tua Iwan juga orang yang mampu. Tetapi semenjak Ia melihat kerja kerasnya Vicky, Ia pun mulai menggantungkan hidupnya dari usahanya sendiri. Bahkan turut membantu mengobati biaya pengobatan Ayahnya Yoshi.
Penyesalan, sekali lagi menghantui mereka semua. Lima tahun bukan waktu yang sebentar untuk merajut cinta. Sayangnya, keadaan berkata lain. materi mengalahkan rasa cintanya yang besar. Orang tua Iwan menanyakan, kenapa pulang sendirian. Dan dimana Yoshi, biasanya setiap kembali ke rumah gadis itu tak pernah absen. Hingga kedua orang tua Iwan sudah siap untuk melamar bocah tomboy yang pekerja keras itu.
“Jangan tanya apa-apa dulu Ma, Iwan jetlag.” guraunya.
“eh, ada-ada saja Kamu Wan, masa Bandung ke Jakarta jetlag, bilang aja lagi berantem sama pacarmu ya!”
Iwan tersenyum miris, lalu izin masuk ke kamar.
Sebuah kebahagiaan berada di atas luka orang lain. Pengusaha tampan yang semakin menawan di pernikahan keduanya, bersanding dengan gadis muda yang dirundung kesedihan. Yoshi sudah bertekad untuk menghancurkan acara akad nikahnya, tetapi Dewa memberi tahu jika Ayahnya akan mendapatkan pengobatan terbaik untuk kesembuhannya. Siapa yang tak ingin melihat orang tuanya terbebas dari penyakit?
Yoshi menangis dalam diam. Tak dimakan Ayah mati, dimakan Ibu mati. Yoshi terpaksa merelakan jalinan cintanya dengan pria cungkring yang humoris itu. andai saja bisa ditukar dengan nyawanya, Yoshi memilih mati daripada harus melihat Iwan menderita.
“Ma, Apa Sigit benar-benar tidak hadir di sini?” Rosi pun mengatakan jika ponselnya rusak. Mungkin sudah ada ribuan pesan dan panggilan tak terjawab, namun Dewa sedang sibuk dengan acaranya tak mungkin Rosi meninggalkannya. Lagi pula Sigit pergi dengan teman-teman dan kekasihnya, jadi Rosi tak perlu mengkhawatirkan putranya itu.
“Sigit belum pulang, Apa Sigit menghubungi Papa? Karena ponsel mama mati.” Rosi melihat Yoshi yang tampak muram. Tak ada rasa bahagia sama sekali. Senyumnya pun sangat jelas dipaksakan.
“Kalian berdua sekarang istirahat, biar Papa yang menghubungi Sigit. Selesai acara ini Papa ada meeting ke Bali. Oh ya Ma, tolong bantu siapkan perlengkapan untuk keberangkatan kami ya, nggak lama kok cuma Empat hari.” Sambil mengusap rambut Rosi, Dewa pun berlalu.
“Nah Yoshi, sekarang kamu sudah menjadi bagian keluarga kami, kamu sudah dewasa dan saya cuma perlu mengajarimu sekali untuk melayani suami. Setelah itu pelajari semuanya sendiri. kamu tahu, mengatakan hal ini sangat sakit, Yoshi.”
“Maaf Tante, saya...”
__ADS_1
“Tante...? Kamu memanggil saya tante, saya ini madumu.” ketus Rosi. Entah kenapa melihat Dewa semakin dekat dengan Yoshi rasa cemburu itu menguat dan mulai membenci gadis itu. ‘Rencana Tuhan macam apa ini?’
“Mbak Rosi, Saya minta maaf.”
“Sudah-sudah, kita pulang sekarang.”
Perhatian Dewa memang tidak berkurang kepada Rosi, tetapi pemandangan yang baru saja terlihat jelas dimatanya menjadi momok ketakutan bagi ibu dua anak itu. Namun, kekuatan Rosi sekarang hanyalah Sigit, dan dirinya belum mendapatkan kabar sama sekali dari Sigit ataupun Jo.
Setibanya di rumah Virgiawan, Yoshi memasuki kamar yang cukup besar dari yang sebelumnya. sudah dihias sebegitu cantik. hingga Yoshi pun tak pernah membayangkan hal itu sebelumnya. Rosi masuk ke dalamnya.
“Bersiaplah, Saya akan mengajakmu berbelanja kebutuhanmu. Saya juga butuh ponsel baru untuk mengganti yang sudah rusak. Cih, sama seperti nasib saya, yang harus digantikan dengan yang muda ketika saya sudah menua.” Rosi pun berlalu.
‘Apa-apaan Mamanya Sigit, dia pikir Gue bahagia dapat suaminya? Gue mikirin nasib Iwan bagaimana sekarang, apa gue juga boleh pergi ke rumah Vikcy untuk tanya bagaimana kabar Iwan?’ Yoshi mematut dirinya di cermin.
“Tidak buruk, ternyata uang memang bisa merubah seseorang. Upik abu miskin kayak Gue bisa jadi cinderella seperti ini. Sayang Gue nggak bisa mengambil foto Gue sendiri.” Yoshi bersiap dengan pakaian seadanya dan pergi ke pusat perbelanjaan.
Di rumah Sakit, Sigit dibantu Richie dan Jo untuk menemui Kania yang masih terbaring di ruangannya. Sigit benar-benar tak tega melihat gadis yang Ia sayangi masih belum sadar juga. Pria manis itu mencoba bertanya kepada dokter saat sedang memeriksa kondisi terkini gadis cantik itu.
“Dokter apa pasien masih belum sadar juga? tapi lukanya tidak serius kan?”
Dokter tersenyum dan menjelaskan perlahan jika tak ada yang perlu di khawatirkan. “Semua organ vitalnya tak ada masalah. Hanya saja fisik pasien masih lemah dan membutuhkan proses pemulihan sedikit lebih lama di tambah pasien sedang hamil. Suaminya juga baru saja keluar,” terang dokter.
Hati Sigit semakin kecewa, saat dokter mengatakan jika Kania tengah berbadan dua dan mengatakan jika Dion adalah suaminya. Jo dan Richie pun kaget, hingga saling meremas tangan satu sama lain.
“Hah! Lo dengar Jo, mereka berdua suami istri?” Richie tak percaya.
__ADS_1
“Pantas saja, kalau waktu itu Mas Sigit malam-malam keliling mencari pedagang es dawet, terus waktu sama Gue Mbak Kania juga rewel banget cari Alpukat sama Lemon, gila nggak tuh.”
“Oh, yang Lo sampai nggak masuk kerja itu ya?” Jo mengangguk.
Sigit menangis dalam kursi rodanya. Tangisannya benar-benar menyayat hati yang belum pernah sama sekali Sigit tunjukkan kepada orang-orang di sekitarnya. Tangan Sigit meremas tangan putih milik Kania. Ia letakan di pipinya.
“Kania, kamu sudah berjanji nggak akan pernah meninggalkan Aku kan? Aku tahu, mungkin bukan inginmu, tapi Aku tetap bersedia mendampingimu. Ayo bangun!”
Ari mata sigit menetes pada tangan putih itu. Terdengar pula isakan Sigit yang menggetarkan hati kedua pria manis di depan pintu ruangan. Kania pun merespon Sigit dengan menggerakan jarinya. Tentu saja pria itu terkejut, jari Kania bergerak menyentuh pipinya yang basah.
“Sayang! kamu sudah bangun?” Sigit berusaha bangkit dari kursi roda, Namun di tahan oleh Jo.
“Jangan! Mas Sigit belum benar-benar sembuh. Sebentar lagi kita harus pulang Mas, kalau mau pamit buruan keburu bosnya datang nanti.” Jo seperti ketakutan karena mengira Sigit telah mencuri pasangan orang lain.
“Kepalaku pusing, kamu nggak apa-apa kan Yang?” tanya Kania.
Sigit terdiam cukup lama menatap wajah pucat Kania. apa yang harus Ia lakukan sekarang. Apakah benar-benar akan meninggalkannya di sini dengan pria itu? sedangkan Kania pernah berpesan, untuk tak membiarkan dirinya bersama Dion.
“Sayang, Kita akan kembali ke Jakarta. Kamu mau ikut denganku?” Sigit mengeratkan genggamannya, Kania pun tersenyum.
“Kenapa kamu menangis? Aku sudah kembali. Tadi Aku sempat tersesat, semuanya serba gelap dan menahanku di sana. Sampai kamu memanggilku dan Aku bisa menemukan jalan pulang.”
Dari arah pintu suara berat itu masuk mengejutkan Jo dan Richie. Melihat Kania sudah sadar Dion menyambanginya dan mengecup kening gadis itu, tepat di depan mata Sigit.
“Syukurlah, akhirnya kamu sadar. Gue takut kehilangan Lo Kania, apalagi ada anak kita di sini.”
__ADS_1
...