Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 54. Dion Tersiksa


__ADS_3

Sigit mengatakan jika dirinya turun dari kendaraan dan berjalan kaki menuju kantor Kania. Sigit mengatakan sejujurnya. Namun, yang Ia maksud adalah kendaraan pribadi hanya saja Kania tak perlu tahu untuk saat ini.


“Oh, Kalau begitu kamu pulang hati-hati ya! Kamu nggak perlu repot-repot untuk datang ke kantor setiap waktu, kita bisa bertemu di tempat yang bisa kita sepakati saja, Oke!” Kania melambaikan tangannya kepada pria manis itu. Tubuh Sigit gemetar, karena efek mengulang obat yang Ia konsumsi adalah menggigil yang terus menyerang, terlebih dirinya kurang tidur akhir-akhir ini.


Sesampainya di rumah sakit, Sigit segera menuju ruangannya untuk beristirahat sebentar. Ia menatap foto dirinya bersama mendiang Kakaknya di salah satu puncak gunung di Jawa Tengah waktu itu. Kakak beradik itu kompak melakukan banyak kegiatan bersama, hal itulah yang membuat Sigit seperti kehilangan jiwanya.


‘Bang, Bagaimana kabarmu di sana? Dasar bodoh! Sekarang gara-gara kepergianmu Aku nyaris mengikuti jejakmu! Tapi sekarang tidak lagi, tunggu saja Aku di sana jika sudah waktunya!’ Sigit berbicara dengan foto itu sebelum akhirnya dirinya terlelap.


...


Kania memasuki ruang kantornya. Namun, tak mendapati Dion berada di kursinya. Gadis itu dapat bernapas lega. Ia segera menuju ke pantry untuk memindahkan minuman dingin kesukaannya. Aroma buah dalam minuman itu menguar ke seluruh ruangan. Dion yang baru saja membuka pintu, spontan mengernyitkan hidungnya.


“Ugh, bau durian ya?” Dion mendatangi Kania dan mengendus sekretarisnya. Gadis itu tengah menikmati minuman tradisional itu sendirian.


“Ma-maaf Pak, Kania boleh minum ini sebentar kan? lagi pingin banget Pak, please!” tatapan Kania memohon kepada Dion. Pria itu menutup hidungnya dan meminta OB untuk menyemprotkan pewangi ruangan.


“Hueek...” kepala Dion langsung pusing, merasa tak tahan dengan aroma buah itu. Dion duduk dan bersandar di kursi besarnya dengan memijit pelipisnya.


“Kania, buruan makannya Gue nggak tahan sama baunya! Hueekk!!”


Gadis bertubuh ramping itu menghampiri Dion. Akibat Kania menikmati es dawet di dalam ruangan, bos nya menjadi teler dan lemas. Sangat lain dengan pagi tadi saat berada di depan kantor yang bersemangat ribut dengan Sigit.


“Pak, Anda nggak apa-apa?” Kania mendekatkan diri, namun lagi-lagi aroma durian menguar dari gadis itu. Membuat Dion tak tahan dan berlari ke toilet. Tangannya mengusir aroma yang berkutat di wajahnya.


“Kania Lo bau durian, jauh-jauh sana!”


Di toilet Dion mengeluarkan rasa tidak nyamannya. Ia juga belum sarapan, rencananya akan makan pagi berdua dengan gadis itu. Namun, apa yang terjadi semua di luar rencananya. Lagi-lagi pria yang bernama Sigit itu datang menggagalkan rencananya.


Dion memasuki ruangan, dan menghubungi OB untuk memesan makanan untuknya. Dion ingin menawari sekretarisnya, tetapi egonya yang tinggi kembali lagi. Mengingat Kania dan Sigit saling melindungi satu sama lain membuatnya jengah. Kania membuka tas nya dan berusaha membantu pria tampan itu.


“Pak pakai ini, sepertinya Anda masuk angin. Sama seperti saya kemarin.” Kania mengulurkan botol plastik beraroma eucalyptus. Dion menatap Kania, karena gadis itu hanya diam saja.

__ADS_1


“Ya sudah lakukan, tunggu apa lagi? itu kan salah satu tugasmu!” ketus Dion, sembari mengendurkan dasinya dan membuka beberapa anak kancing bajunya.


“Tapi Pak...,” Kania hendak protes, merasa malu karena Ia akan kembali menyentuh pria itu. kali ini tatapan Dion tak bisa dibantah.


“Lakukan saja, jangan banyak bicara Lo bau durian Kania bikin Gue enek!” kesal Dion.


Kania merasa canggung berdiri di dekat pria tampan itu. Padahal mereka sudah pernah berbagi kenikmatan dan rasa hangat sebelumnya, tetapi itu semua karena paksaan dari bosnya. Tangan Kania gemetar saat secara sadar menyentuh pahatan indah sempurna milik Dion yang hangat.


“Ehm..” Dion memejamkan mata, begitu juga dengan Kania. gerakan halus itu membuat Dion menggeram. Harusnya Kania sedikit bertenaga bukan malah seperti sedang menggodanya. Dion perlahan membuka matanya, menatap gadis itu yang masih memejamkan matanya. Tatapan Dion kini tertuju pada perut gadis itu yang masih rata. Ingin sekali Ia merabanya.


“Dipakai dong tenaganya! Ini namanya bukan mengoles Kania, tapi mengelus! Lo lagi berusaha godain Gue!” ketus Dion. Tangan Dion menuntun tangan Kania untuk berpindah ke bagian pundaknya. Hampir setengah jam Kania dikerjai oleh Dion. pijatan gadis itu membuat Dion merasa nyaman dan nyaris tertidur.


Cklek!


Lagi- lagi OB baru itu melakukan kesalahan. Ia tak mengetuk pintu saat memasuki ruangan bosnya. Terlebih pemuda itu melihat kejadian yang di luar nalar. Kania, seorang sekretaris muda, sedang menggoda bos baru di ruangannya. Berita itu mendadak viral akibat bibir lemes pemuda yang berprofesi sebagai OB itu.


“Anak baru ya? Lain kali kalau mau masuk ruangan siapapun itu, budayakan ketuk pintu. Minimal salam, ngerti!” tegur Dion. Kania segera menarik tangannya dari tubuh bos nya dan kembali ke tempat duduknya. Rasa malunya sudah sampai ke ubun-ubun. Terlebih sampai di mata karyawan yang lain.


“Nunggu apa lagi? Mau di usir?” Dion berdiri merapikan kemejanya. Mood pria itu memburuk, sepertinya setelah melihat Sigit dan Kania berduaan. Ditambah ulah OB nya yang perlu di training ulang tentang tata krama di kantor.


“Kamu sudah boleh keluar.” Perintah Kania lembut, dan OB itu pun berlalu. Dalam hati pemuda itu menggerutu, kenapa Mbak Kania mau sama bos galak seperti itu. Sampai berita itu tersiar ke seluruh divisi di kantor itu.


“Malam ini ikut Gue, ada pekerjaan penting buat Lo!” Dion menatap Kania dengan wajah datarnya sebelum berlalu tanpa menjelaskan apa pun lagi. Kania menjadi takut, jika tiba-tiba Dion memintanya untuk melakukan hal itu lagi. Kania bergidik, membayangkan kembali bagaimana Dion dalam bayangannya.


“Nggak boleh, pokoknya Gue harus menolaknya titik!”


...


Pukul Empat Kania sudah bersiap Teng Go! Gadis itu berniat melarikan diri dari Dion. Selama pekerjaannya sudah beres, Ia ingin segera meninggalkan kantornya. Kania tak menunggu Dion lagi hanya sekedar berpamitan. Setelah pintu lift terbuka gadis itu mengambil langkah seribu.


“Gue harus sampai di rumah segera, it’s a must!” heels Kania Ia ketuk-ketukan di lantai, menggigit kuku-kuku jarinya, membuat beberapa staf yang berada dalam satu lift penasaran. Wajah Kania yang gugup seperti seorang pencuri yang tertangkap basah.

__ADS_1


“Kenapa Lo? buru-buru amat?” tatapan mereka mulai berubah kepada gadis itu.


“Nggak apa-apa, Gue ada urusan makannya buru-buru.”


“Oh kirain mau service Pak Bos,” ledek mereka, sesekali memperhatikan Kania dan menertawainya.


...


Dion


[Iya Ma, sebentar lagi juga pulang kok! Dion pusing kelamaan di ruangan. Baunya itu lho bikin enek di perut.]


Agnes


[Kenapa? Bau duren? Kok bisa sih?]


Dion


[Ehm itu ... Ma, udah dulu ya! Dion otewe berangkat sekarang.]


Dion melihat Kania seperti sedang di kejar penjahat. Sesekali melihat ke belakang, dan langkah kakinya pun sangat cepat, padahal Ia mengenakan heelsnya. Biasanya gadis itu selalu mengganti pakaiannya sebelum pulang.


‘bagaimana Gue boncengin gadis jorok itu nanti!’


Tak kehabisan akal, Dion melepas jaketnya dan segera menghampiri gadis itu yang sudah hampir sampai di ujung gerbang.


Brrroom.... Ckiiittt...!


“Mau kemana Lo? kabur ya?”


...

__ADS_1


__ADS_2