
Dokter yang ditugaskan oleh Sigit memeriksa organ dalam pasien. Karena racun dalam tubuhnya cepat menyebar. Membuat kondisi gadis yang sangat dikagumi oleh Sigit itu mengalami kesulitan bernafas. Beberapa perawat di perintahkan untuk mengambil botol infus tambahan dan juga untuk penetralisir racun dalam tubuh Kania.
“Maaf sus, memangnya masih ada ruang perawatan yang lain di lantai ini?” tapi saya nggak melihat keluarga satu pun dari pasien?” tanya Dista.
“Iya benar bu, karena yang di rawat di ruang isolasi adalah keluarga dari dokter yang mengalami kecelakaan siang ini.”
Salah satu perawat menarik tangan rekannya untuk tidak berkata banyak. Padahal dokter sudah berpesan untuk merahasiakan identitas pasien yang berada di ruang isolasi.
“Kalau begitu kami permisi.” Kedua perawat itu meninggalkan teman-teman Dion yang sedang menunggu di luar ruangan.
“Kecelakaan hari ini kan? apa mungkin kalau dia itu Kania?” Dista mencoba bertanya kepada Yoshi. bisa saja Sigit berbohong kepada mereka. “Aku ingin melihatnya!” Dista mencoba berjalan ke ruangan itu, Yoshi pun mengikutinya.
“Tunggu! Gue ikut beb!”
...
Dokter
[Mas Sigit, kondisi pasien kritis. Pernafasannya terganggu, sudah di beri penanganan secara cepat. Tetapi, saya tidak bisa mempercayai beberapa staf di rumah sakit ini. bisakah Anda kemari?]
Dista dan Yoshi menutup mulutnya. Saat di balik pintu mereka berdua mendengar pembicaraan pria ber jas putih dengan seseorang di sambungan telepon. Membuat keduanya semakin yakin jika pasien yang berada di dalam ruangan itu adalah Kania.
“Yoshi, yang di dalam itu Kania.” bisik Dista.
Yoshi meminta Dista untuk diam, karena dokter itu melihat ke arah pintu besar yang terhubung ke ruang Kania di rawat.
Malam itu, suasana lorong rumah sakit begitu mencengangkan. Saat beberapa orang yang berjaga tengah tertidur. Seseorang memasuki ruangan isolasi itu. Ia menatap penuh iba. Tak menyangka jika akhirnya akan berujung seperti ini.
“Seharusnya kamu tidak perlu merasakan hal menyakitkan seperti ini, andainya Ayah mertuamu mau menerima kembali kerja sama yang sempat terputus. Suamimu juga suka ikut campur urusan orang, menjadikan dirimu sebagai korban. Kamu harus menyalahkan mereka setelah kamu sadar!” ucapnya sembari memeriksa laporan kesehatan gadis itu.
__ADS_1
“Ternyata selain kehilangan Ibumu, kamu juga harus kehilangan anakmu!” baguslah! Tak ada lagi yang akan menghalangi Sigit untuk mendapatkan mu kembali.”
Pria itu menuju lobby rumah sakit dan hendak menuju mobilnya terparkir. Namun ternyata sosok serba hitam sudah menunggunya cukup lama di sana.
“Bos, saya sudah menyelesaikan semua tugas dengan baik. bagaimana dengan pembayarannya?”
Pria itu menepuk dahinya. “ Oh iya, saya sampai lupa! kamu jangan pernah datang lagi ke rumah sakit ini, ayo kita tinggalkan tempat ini lebih dulu. kita selesaikan segera.” kedua pria itu memasuki mobil mewahnya. Bersamaan dengan Sigit yang baru saja datang.
“Papa mau kemana malam-malam begini? Bukannya seharusnya di luar kota?” Sigit hendak memeriksa kondisi Kania, namun sebelum menemui dokter yang berjaga Sigit menuju ke ruangan CCTV. Entah apa yang di lakukan Papanya di rumah sakit sedangkan beberapa hari ini Dewa tak kunjung pulang ke rumah sampai Ia harus menghadiri pernikahan Kania.
Tak hanya satu, Sigit melihat banyak kejanggalan yang Ia temukan dalam diri Papanya. Juga sosok asing yang pergi bersamanya. Wajahnya tak asing. Sigit merasa pernah melihatnya, namun Ia lupa.
“Bukankah dia pria yang waktu itu mengintip di depan rumah Dion?” Sigit mengingatnya. Karena pria berpakaian serba hitam itu tersenyum padanya dan sedikit menundukkan kepalanya.
“Nggak salah lagi, pasti dia orang suruhan Papa!”
Sigit segera mengcopy rekaman itu dan menyimpannya. Pria manis itu masih memikirkan apa yang dilakukan Papanya dan apakah ada hubungannya dengan semua kejadian ini. di dalam ruangan itu, Kania mulai membaik setelah diberikan penetralisir untuk membuang racun yang hampir membekukan darahnya. Rona merah telah kembali di wajahnya yang cantik.
“Sayang, kamu bisa mendengar ku?” Sigit merasa antusias. Sampai terdengar langkah kaki mendekati ruangan itu.
“Dokter...” sapa Sigit. Senyumnya yang menunjukan semangatnya berangsur hilang saat melihat sosok yang memasuki ruangan itu mendekat ke arahnya. Menatap dengan tatapan susah ditebak.
Melihat sosok yang dikenalnya terbaring di ranjang itu, paling tidak kondisinya lebih baik dari suaminya yang sedang melawan maut.
“Jadi benar, kalau Lo yang menyembunyikan gadis ini? Sigit, awalnya gue pikir gue mulai bisa percaya Lo. sampai Lo menunjukan sama gue kalau semua yang lo katakan itu bohong.”
“Yoshi, hentikan! Lo nggak tahu kejadian yang sebenarnya, jadi Lo nggak perlu mengutarakan pendapat Lo itu!”
“Terus menurut Lo, apa yang Lo lakukan itu benar? Semua keluarganya mencarinya. Bahkan Ibunya juga meninggal, dia juga harus tahu.”
__ADS_1
Sigit membawa Yoshi keluar ruangan dan mengatakan jika Ia melihat semua orang dalam mobil itu terluka parah. Tetapi sebelum kecelakaan itu terjadi Dion sudah membawa gadis itu dalam keadaan tak sadarkan diri sampai kecelakaan itu tak terelakan.
“Tapi bukan Lo kan yang melakukan hal keji itu?” Yoshi sanksi. Namun semua bisa saja terjadi. Buktinya hanya Kania yang Ia selamatkan.
“Lo Pikir gue sanggup melakukannya?”
“Kenapa Nggak? Bokap Lo aja bisa berbuat keji, kenapa Lo nggak bisa? Apalagi semua orang tahu kalau Lo mencintai gadis itu.” Yoshi keceplosan. Ia meluapkan apa yang seharusnya Ia sembunyikan. Yoshi menghampiri pria itu dan menepuk pundaknya. Ia mengingatkan jika Kania sekarang bukan lagi miliknya.
“Relakan dia Sigit, kembalikan gadis itu kepada keluarganya.”
“Lo tahu Yoshi, mereka semua berhutang nyawa sama gue! kalau Gue mau, mereka semua sudah tewas dalam kecelakaan itu, termasuk teman Lo yang sok jagoan itu!”
Sigit berlalu meninggalkan Yoshi memasuki ruangan itu. paling tidak gadis tomboy itu tahu jika Kania berada di dekatnya selama ini dan dalam keadaan baik-baik saja selama dalam pengawasan pria itu. yang Yoshi takutkan jika Sigit tak membiarkan Kania untuk kembali kepada Dion dan keluarganya.
“Beb! Sedang apa di sana?” suara Iwan menyadarkan gadis tomboy itu yang berdiri di ambang pintu besar ruangan isolasi.
“Nggak apa-apa, Gue cuma butuh udara segar.”
Di suatu tempat yang jauh dari rumah sakit, duo orang pria tengah berbincang santai. Menikmati sebatang rokok dengan kopi hitam di hadapannya. sebuah amplop coklat gendut di letakan di atas meja.
“Hitunglah!” pinta Dewa.
Sembari menghitung pria dengan pakaian serba hitam itu bertanya apakah tak akan menjadi masalah nantinya jika menghancurkan rumah mewah milik gadis itu.
“Tenang saja, wanita itu tidak akan berani berbuat macam-macam. Serahkan saja semua padaku!”
“Tapi Bos, malam kejadian itu Saya bertemu dengan Mas Sigit.”
“Sudah Ku bilang, kamu tenang saja, Tidak akan ada yang tahu tentang kejadian ini. termasuk Sigit.”
__ADS_1
...