Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 21. Menangkap "Tikus"


__ADS_3

Di dalam ruangan Dista di rawat, Vicky sudah menunggu kedatangan kedua orang temannya. Raut tampan pria itu tak se khawatir sebelumnya. Hanya Dion dan Kania yang bisa Vicky percaya sampai saat ini. Meski pria itu tahu, bahwa sahabatnya masih menyimpan perasaan kepada istrinya. Sekarang sudah tidak lagi, Vicky percaya jika Kania bisa meluluhkan hati jagoan tampan itu.


“Bro, sorry Gue harus minta bantuan Lo sama Kania buat jagain Dista.” Kania mendekat ke arah wanita cantik yang terbaring lemah di atas ranjang.


“Dista belum sadar, Bro?”


“Belum, mungkin beberapa jam lagi sampai bius nya habis. Kalian bisa menikmati waktu kalian di sini tanpa ketahuan siapapun, tapi jangan berisik!” goda Vicky. Sembari mencium kening istrinya yang masih tidur.


“Haha... Brengsek Lo!” Dion mendekati pria itu. “Oh, iya Bro Lo nggak kasih tahu siapapun kan selain keluarga Lo tentang peristiwa ini?”


Vicky menoleh ke arah Dion, tak mengerti tentang apa yang sahabatnya bicarakan.


“Maksud Gue, bisa aja kecelakaan ini sudah ada yang merencanakan, dan Lo nggak akan mengira siapa pelakunya.”


Vicky terdiam, Ia berpikir selama ini tak ada gangguan lagi dalam kehidupan mereka. Terakhir kali adalah saat acara pernikahan mereka. Dista yang tak sadarkan diri, karena minuman yang di berikan oleh seorang wanita kenalan Vano.


“Maksud Lo mantan Lo yang brengsek itu?”


Dion belum mengatakan apapun tentang keberadaan Dias saat ini kepada Vicky, bisa saja pria itu menghabisi Dias tanpa pertimbangan. Mengingat bagaimana Dias berencana menyingkirkan Dista berulang kali namun gagal.


“Menurut Lo siapa yang paling nggak suka sama si Bohay kalau bukan Dias? Sudah sana, buruan jemput nyokap Lo adik Lo, lalu Geri?”


“Gue cuma kasih tahu Nyokap kalau Dista masuk rumah sakit, Geri nggak perlu tahu! Biar dia fokus sama kuliahnya, sengaja Gue kirim yang jauh biar nggak gangguin Dista terus menerus.”


“Haha keterlaluan Lo bro!” Dion menepuk punggung pria dingin itu.


“Kania, Gue titip Dista sebentar, awasin Dion! Dia suka celamitan sama istri orang sejak SMA!” Kania tertawa kecil, menatap Si empunya nama.


Setelah melontarkan candaan, Vicky meninggalkan ruangan VVIP itu. Dion segera menghampiri Kania, dan mengatakan jika dirinya membutuhkan bantuan, bisa menghubunginya kapan saja. Sejak di dalam mobil Dion memperhatikan gadis itu tampak lain, seperti sedang menyembunyikan sesuatu.


“Apa ada yang Lo sembunyikan dari Gue?”


Kania ingin menghindari obrolan itu, Ia tak ingin terlihat menyedihkan di depan Dion dan tiba-tiba sebuah panggilan masuk menyelamatkannya. Ternyata dari istri Bosnya, Agnes. Tak ingin obrolannya di dengar oleh Dion, Kania pergi menuju balkon dan menutup pintunya.


Kania


[Iya Tante, Kania sedang berada di rumah sa- ... saudara, ya Kania di rumah Saudara. Ada apa?]


Agnes


[Kania, besok malam kamu ke rumah ya! kalau bisa Dion di suruh pulang juga! ada hal penting yang akan kami sampaikan. Soal kemarin, Tante minta maaf! Jadi kamu tidak perlu merasa khawatir tentang perubahan sikap Tante ke kamu!]

__ADS_1


[Apa Dion ada sama kamu?]


Kania


[Ehm, tadi bersama saya, tapi sekarang sudah pulang!]


Agnes


[Tolong bilang sama Dion, untuk segera pulang. Minta anak itu untuk tidak mengabaikan Dias, kasihan gadis malang itu sendirian dan membutuhkan perhatian Dion disini.]


Nyyuttt...


Sakit, ya rasanya sakit saat mendengar pesan itu dari istri bosnya yang tidak dapat Ia tolak. Gadis itu menarik napas dalam sebelum menjawabnya dengan penuh kehati-hatian.


Kania


[Baik Tante, Nanti Kania sampaikan.]


Obrolan itu berakhir, namun rasa sesaknya belum juga pergi dari hatinya. Saat ia berbalik ke dalam ruangan, rupanya Dion telah berada di hadapannya melipat tangan di dada. Kania terkejut, hingga lupa mengelap sudut matanya yang basah.


“Ngapain Lo di sini? Ngagetin Gue aja!”


Dion menarik tangan Kania dan menyandarkannya di dinding. Pria itu tidak terima selalu diabaikan. Meskipun Dion masih belum menerima perjodohannya dengan Kania, tetapi paling tidak Dion memiliki teman untuk bercerita, meski dengan cara yang tidak pada umumnya.


‘Mampus Gue! mana tatapannya tajam banget lagi! Gue tahu Dion pasti marah, kalau Gue cerita yang sebenarnya.’


“Lo diminta pulang sama Nyokap Lo!”


“Lanjut!”


“Di-Dias sendirian di rumah Lo, dan Lo diminta buat nemanin dia dirumah!”


“Terus?”


...


Kania menatap Dion, jaraknya semakin dekat. Manik mata pria itu sungguh cantik, bahkan Kania mendadak lupa dengan jawaban yang akan dia berikan.


“Apa lagi?” jawab Kania gugup. Gadis itu mendorong perlahan bahu kokoh milik Dion yang terbalut sempurna oleh kemeja slim fitnya.


“Terus Lo suruh Gue balik ke rumah nemanin gadis sialan itu, sementara Lo di sini sendirian jagain pasien ...hah?”

__ADS_1


Dug!!


Dion memukul dinding, tepat di samping kepala gadis itu, membuat Kania memejamkan matanya.


“Ta-tapi memang itu perintah dari Bu Agnes!”


“Ck! Kalau Lo minta Gue di sini sama Lo, Gue akan tetap di sini! Tapi kalau Lo minta Gue balik, ya Gue akan balik. Jangan munafik Kania, Gue bisa melihat semuanya dari tatapan Lo itu.”


“Lo makan yang banyak, karena Gue nggak akan membiarkan Lo meninggalkan Dista sendirian disini tanpa pengawasan. Nanti malam Gue kemari, dan Lo jangan kemana-mana!” pesan Dion panjang lebar sebelum pergi meninggalkan gadis itu.


Kania mencuci wajahnya, dan membunuh waktu dengan membaca buku. Setelah beberapa jam, Dista tersadar, kepalanya teramat pusing. Namun Ia dapat melihat seorang gadis tengah tertidur di sofa dengan begitu manisnya.


Dista mencoba bangkit dan meninggikan badannya, namun seluruh tubuhnya terasa pegal dan nyeri. Sebenarnya Ia tak ingin membangunkan Kania yang tengah tertidur, tetapi Dista sangat haus. Dia tak mendapati Vicky di sana.


“Kania, bangun!”


Berulang kali Dista memanggil namanya, namun gadis itu tak bergeming. Akhirnya Dista memanggil perawat melalui tombol darurat yang berada di sana.


“Maaf ya Sus, teman saya ketiduran. Mungkin dia kelelahan.” Perawat yang mendengarnya tersenyum dan menyampaikan, jika sebentar lagi adalah waktunya minum obat.


Mendengar suara tawa banyak orang, Kania terbangun. Ia mendapati Dista tengah di bantu perawat untuk minum obat. Gadis itu merasa tidak enak. Bukannya menjaga pasien, justru dirinya yang dijaga pasien.


“Sorry Dis, Aku ketiduran.”


...


Dion kembali ke rumah. Di sana Agnes, Dias dan Chandra sedang makan malam. Pria itu kembali ke kamar dan membersihkan diri. Ia meletakan barang pesanannya di tempat yang tersembunyi. Melihat Mamanya yang berubah sikapnya kepada Kania, pasti ini ada hubungannya dengan gadis itu.


Dion menuju meja makan tanpa membicarakan sepatah kata pun. Seolah tak terjadi apa-apa, Dias menjadikan dirinya sosok yang manis dan layak diterima. Chandra hanya melihat Dion seorang diri, dan Kania tak tampak batang hidungnya, membuat Chandra bertanya kemana sekretaris kecilnya itu.


“Dion, Kania di mana?”


“Ada Pa, di rumahnya. Dia berencana masuk ke kantor besok, jadi Dion mengijinkannya pulang.”


Chandra tersenyum, melihat putranya mulai berubah semenjak surat pernyataan itu dibuat. Agnes belum memberitahu suaminya jika Kania adalah gadis yang memiliki masalah dengan kesuburan, dan soal rencananya tentang pernikahan Dion dengan Dias, besok malam akan Agnes umumkan di hadapan semua orang.


“Jangan lama-Lama Dion, Papa ingin kamu segera melanjutkan perusahaan. Supaya kamu nggak ketinggalan sama teman-teman kamu yang lain. Apalagi Papa dengar dari Mama kamu, kalau sebentar lagi Vicky akan memiliki anak, benarkah?”


Semua menatap Dion, menunggu jawaban dari pria tampan itu, terlebih Dias.


“Iya Pa, namun sayangnya ... Dista kehilangan bayinya karena kecelakaan.” tukas Dion.

__ADS_1


Prank!!!


...


__ADS_2