Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 143. Tiga Bulan


__ADS_3

“Lihat Nes, siapa yang datang! jagoanmu yang kolokan,” papar Chandra.


Agnes pun tak pernah gagal dibuat tertawa dengan tingkah konyol anaknya yang sebentar lagi menjadi seorang papa.


Dion dan Kania keluar dari dalam mobil bersama Iwan dan Yoshi. Lantas Chandra yang tengah berlutut pun segera berdiri. Merasa canggung akibat ulah pentolan geng tampan itu. Dengan senyum sumringahnya, Dion menyaksikan kedua orang tuanya telah kembali rukun seperti sebelumnya. sebuah pemandangan yang membahagiakan untuk keluarganya.


Namun, hingga beberapa saat Chandra tak menemukan seseorang. Anak laki-laki yang baru saja ditemukannya. Setelah mereka semua masuk ke dalam rumah, Chandra menanyai Yoshi tentang keberadaan Sigit.


“Yoshi, Bukankah seharusnya hari ini bocah manis itu kembali ke Jakarta?”


“Itu Om, Sigit titip pesan jika dirinya akan kembali dari liburan beberapa waktu ke depan. Sigit masih merindukan Mamanya,” papar Yoshi.


“Tapi sigit pasti kembali kan?”


“Tenang saja Om, Sigit tak akan pernah mengecewakan keluarganya.”


Mendengar ucapan Yoshi, Chandra pun mengangguk setuju. Lantas mereka semua pun masuk ke rumah. Hati Agnes bahagia bukan kepalang, setelah mendapat hadiah istimewa dari Dion. Berupa berita kehamilan Kania yang ternyata langsung double, Agnes juga mendapat bingkisan dari suaminya tercinta.


Kediaman besarnya yang dulu sepi, kini selalu ramai dan terasa hangat. Dampak kehadiran Kania sangat besar bagi masa depan Dion dan keluarga Wijaya. Belum lagi dengan kehadiran Sigit, yang Agnes sendiri tak perlu repot-repot untuk melahirkan dan merawat anak laki-lakinya yang lain.


“Lho, kenapa hanya kalian?” tanya Agnes.


Sambil menghitung, hanya ada Iwan dan Yoshi saja. Agnes menari gadis ayu dengan perut buncitnya.


“Vicky sama Dista kemana? Bukannya kalian pergi bersama-sama?”


“Tadi langsung pulang Ma, kelamaan di bandara katanya pusing melihat banyak orang lalu lalang. Apa perlu Dion panggil mereka kemari?” rayunya.


Seketika Agnes sadar dengan tingkah bulus anaknya, yang tak akan pernah membuang kesempatan sedikitpun untuk bertemu cinta pertamanya. Agnes merebut ponsel Dion dengan cepat, Ia sendiri yang akan menghubungi gadis bermata bulat itu.


Telepon itu tersambung, namun tak juga diangkat. Membuat Agnes bertanya-tanya.


“Mungkin mereka tidur kali ya, karena kecapekan.” Netra Agnes melihat layar itu. sampai Iwan, Yoshi bahkan Dion tak kuat menahan tawa.


Dion

__ADS_1


[Ha-...]


Vicky


[Eh Kampret, Lo nggak ada bosan-bosannya hubungin bini Gue, ada apa lagi?] omel Vicky dari line seberang.


Tiba-tiba semuanya tertawa melihat wajah Agnes yang melongo tak percaya. Terlebih Dion sampai memegang perutnya. Ia sudah khatam, kalau yang mengangkat pasti Vicky dan akan marah-marah melihat nama si penelepon.


Dion


[Vicky, ini Tante Agnes Nak! Kenapa kamu marah-marah begitu? pasti karena Dion ya?]


Vicky


[Eh, Tante... Maaf Tante, habis kebiasaan Dion terus teleponin Dista. Alasannya mau ngobrol sama Vicky padahal modus itu, Oh ya Tante ada apa?]


Dion


[Owalah, Kalian berdua kemari ya, menginap di sini! Pokoknya kalian berdua datang kemari, Om dan Tante tunggu, Oke Vicky! Tante nggak menerima alasan, hati-hati di jalan ya!]


Sambungan itu pun segera diputus oleh Agnes. Suara Vicky mengejutkan calon Oma yang cantik itu. seketika Agnes menghampiri Dion dan menarik telinganya. Sudah dikasih tahu untuk tidak mengganggu istri orang, apalagi ini istri sahabat baiknya.


Iwan dan Yoshi masih saja terus tertawa. Tak ada yang bisa menghentikan kelakuan Dion kecuali Vicky. bahkan Kania pun hanya geleng-geleng kepala.


Apa jadinya jika kedua anaknya seperti Vicky dan Dion yang sering ribut seperti itu. Ia mengusap perutnya, semoga kelakuan buruk suaminya tidak menurun kepada anaknya, entah nantinya terlahir laki-laki atau perempuan, Kania akan sangat bersabar menanti kehadirannya.


“Bi, Tolong buatkan minuman segar buat teman-teman Dion ya. Nanti saya yang akan membawanya ke atas.” perintah Agnes.


Chandra menyayangkan sekali, jika di rumahnya saat ini sedang banyak orang yang ingin merayakan kembalinya Yoshi dan Iwan. Namun, Sigit bersama ibunya dan Chandra akan memiliki banyak waktu di kemudian hari.


Di lantai dua, Yoshi dan Iwan bagaikan ikan sapu-sapu yang menempel di kaca akuarium. Lengket dan tak terpisahkan, membuat Dion ingin sekali mengejeknya. Bagaimana wajah Iwan saat menangis dan terduduk di lantai bandara, sungguh memalukan.


“Heh Cungkring, bantu-bantu Gue sini! Ini kan acara Lo, enak aja Lo malah ongkang-ongkang kaki.” Dion menarik tangan teman sebangkunya dulu, untuk membantunya menyiapkan panggangan, suatu hal yang tak direncanakan mereka bisa berkumpul bersama minus kehadiran sang ketua kelas.


“Bro, Lo coba telepon Vicky buat beli daging selama belum sampai sini, buruan!” perintah Dion.

__ADS_1


“Kenapa nggak Lo sendiri yang bilang? Takut di tempeleng kan Lo! makannya jangan celamitan! Udah mau punya anak juga, rakus Lo!”


Empat puluh lima menit berlalu, Vicky dan Dista datang dengan banyak belanjaan. Padahal Agnes tak meminta pasangan itu untuk repot-repot. Agnes sudah bisa menduga jika ini kelakuan anaknya. Semenjak wanita hamil itu datang, wajah Agnes bagai musafir di padang gurun. Mengusap perut itu terus menerus.


“Ma, jangan terus di usap,nanti bayinya keluar Lho!” goda Chandra.


“Oh ya sayang, kata Dion anak kamu sudah di pesan ya sama dia?” Agnes menculik wanita dengan perut besar itu, dan memisahkannya dari suaminya yang bucin akut. Kania, Agnes dan Dista bersama di ruang keluarga.


Dista hanya tertawa, Namun Kania yang membenarkan. Sejak melihat wajah janin tujuh bulan itu mulut Dion tak berhenti mengoceh membahas perjodohan anak mereka nanti. Bahkan Dista juga menunjukan hasil usg empat dimensi kepada Chandra dan Agnes.


“Wah benar Pa, cantik ya! Dis, Tante dan Om juga setuju buat calon cucu kita nanti. Benar Lho ya! Tante sudah anggap kalian anak sendiri.”


Dista bingung harus menjawab apa, sedang anak Kania saja belum jelas jenis kelaminnya. Akhirnya istri Vicky hanya mengiyakan saja perkataan orang tua. Sedangkan Kania tak merasakan mual atau muntah selama kehamilan ini, sungguh di luar dugaan. Justru dirinya semakin bersemangat, apalagi mencium aroma asam suaminya.


“Tante Dista mau ke atas bantu-bantu yang lain, nggak apa-apa kan?”


“Lho, memangnya kamu masih kuat naik tangga? Ayo sayang kamu juga!” ajak Agnes kepada kedua wanita hamil itu.


Sedangkan obrolan para lelaki tak jauh-jauh dari urusan ranjang. Membuat Iwan semakin panas dingin. Tiba-tiba candaan mereka terdengar oleh Agnes, dan mengusulkan untuk menikahkan Iwan sama Yoshi.


“Ehem, senangnya kalian kalau lagi berkumpul seperti ini.”


“Iya Tante, sayang si anak baik selalu nggak bisa hadir karena rumahnya paling jauh,” balas Iwan.


“Ya resiko Wan, dapat jodohnya orang jauh dan teman kamu mau tinggal di sana ya nggak masalah. Kalau Dion mau keluar dari rumah, nanti Mama sama Papa sama siapa? di rumah sebesar ini, Kania juga tidak keberatan ya kan Nak?”


Yoshi bukannya tak menginginkan untuk segera bersama dengan Iwan, akan tetapi masih mengikuti adat setempat jika pusara suaminya belum kering, maka tak baik jika langsung menikah lagi. Agnes pun memahami.


“Ya sudah, lebih baik kalian rencanakan saja dulu. Tiga bulan cukup lah untuk membuat acara pernikahan yang istimewa. Tak perlu meriah, asalkan kalian berdua bisa terus bersama dan bahagia dengan pilihan kalian masing-masing bukankah itu lebih bagus toh?”


Agnes mengusap kepala Yoshi, menguatkan gadis muda itu yang sudah menyandang sebagai janda kembang dari seorang konglomerat sukses.


“Wah ide bagus tuh dari Nyokap Lo, Emaknya aja pintar masa anaknya bego kek Lo Bro!” timpal Iwan membalas ejekan Dion. ketika semua sedang asik sendiri, Yoshi tiba-tiba menanyakan tentang tanggal dan bulan berapa sekarang. Raut wajahnya sedang berpikir keras, sepertinya Ia melupakan sesuatu yang penting.


“Eh Beb, sekarang tanggal berapa?”

__ADS_1


“Kenapa? Emangnya Lo karyawan nunggu gajian?”


...


__ADS_2