Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Extra Bab 3. Tujuh Bulanan (Mitoni)


__ADS_3

Siapa yang tidak akan berbahagia menyambut kehadiran mahluk kecil titipan Tuhan. Begitu juga dengan kediaman besar keluarga Wijaya. Hari ini Dion dan Kania beserta Agnes dan Chandra akan menggelar acara tujuh bulanan pada kehamilan anak pertama mereka.


Dibantu Event Organizer rekomendasi sahabat baiknya, Dion dan Kania hanya tinggal menikmati beresnya saja. Eh, siapa bilang? Kania dan juga Dion harus melewati beragam prosesi mulai dari sungkeman.


Dalam balutan kebaya rose gold dan kain jarik. Kania tampak cantik dan mempesona. Pipi chubby nya membuat Dion ingin selalu mengecupnya lagi dan lagi. belum lagi tahi lalat di bawah bibir Kania, seperti sihir yang bisa memikat pentolan geng tampan itu menjadi tergila-gila.


Dion mengenakan beskap senada dengan Kania, lalu bersimpuh memohon maaf kepada kedua orang tuanya. Yang telah berjasa kepada Dion dan Kania hingga bisa menjadi dewasa dan sebahagia ini. Sigit, Rosi pun turut hadir pada acara yang di gelar besar itu.


“Mama, Papa—Dion dan Kania ingin meminta maaf atas kesalahan dan kekurangan kami berdua sebagai anak yang membuat goresan luka pada hati kalian. Untuk itu restui kami, untuk menjadi kedua orang tua yang baik untuk anak-anak kami nantinya.” Papar Dion dengan berlinang air mata.


“Dan juga Mama, Papa—Kania ingin berterima kasih, telah diberikan kesempatan untuk berbakti menjadi putra-dan putri Mama, Papa terimalah bakti kami di masa depan,” imbuh Kania Dinara yang terbata-bata, mengingat sosok Ibu kandungnya yang telah tiada.


Agnes dan Chandra terus mengusap air matanya yang jatuh bercucuran. Tak menyangka Dion dan Kania akan berkata dengan lemah lembut, tulus dari hati yang terdalam. Chandra sosok bersahaja itu mencium puncak kepala kedua anaknya. Mengusap punggungnya dan mendoakan keselamatan rumah tangga anaknya.


Sigit dan Rosi pun turut menghapus air matanya. “Sigit, kamu cari calon dari Jawa saja ya, Mama juga ingin kamu melewati prosesi seperti itu,” ungkap Rosi. Sigit pun mengangguk.


“Doakan Sigit ya Ma, dapat calon istri yang baik seperti Kania.”


“Pasti Nak!”



...


Setelah berderai air mata karena mengharu biru, kini Kania hanya mengenakan kain jarik sebatas dada. Dengan ronce-an bunga melati yang melingkar menutup punggungnya juga sebagai bandana, menahan surai hitam miliknya tidak tergerai menutupi wajah cantiknya saat tersiram air.


Lagi-lagi Dion tak tahan melihat kecantikan Kania yang tampak bersinar. Wangi melati membuat hasrat calon Papa itu melambung tinggi.


“Yang, kamu cantik banget...” ucap suami Kania. tentu saja mendapat protes dari Agnes, yang tak tahan dengan tingkah konyolnya.



Air yang berasal dari tujuh sumber yang berbeda, ditambah dengan bunga tujuh rupa bertujuan untuk meruwat atau kalau kata orang jaman dahulu untuk buang kesialan. Sesepuh yang memimpin acara meminta Tujuh orang bapak dan Ibu untuk memandikan Kania, bertujuan untuk melindungi sang ibu dan calon anaknya dari marabahaya.


Setelah itu ada acara pecah telur. Dion diminta untuk menempelkan sebutir telur ayam kampung ke dahi dan perut Kania yang sudah sangat besar. Kemudian oleh calon Papa yang tampan itu memecahkannya ke lantai, hal ini dilakukan untuk memperlancar persalinan Kania.


“Mas, jangan keras-keras banting telurnya, kan amis semua nanti lantainya.” Bisik Kania.

__ADS_1


“Hehe, kamu kayak nggak tahu tenaga suamimu aja sayang. Ini pelan Lho! Itu kan Cuma telur ayam, lain lagi sama telur punya Mas, haha...”


“Ish, kamu ini...”


Kania merasakan perutnya terus berkedut. Apalagi setelah acara siraman tadi. Sepertinya anaknya merasakan kedinginan. Dion melihat Kania gelisah, perutnya bergejolak seperti tidak nyaman.


“Hm, sepertinya anak kamu lagi salto, sayang. tahu aja di rumah lagi ada acara mau ngintip.”


“Hus! Sembarangan kamu Dion. belum waktunya lahir cucu Mama.” Omel Agnes. Kania tertawa, karena Dion jarang sekali bisa serius. Dan saat serius, wajahnya sangat tidak cocok untuknya.


Kali ini Dion harus memutus janur yang diikatkan diperut Kania. dengan tenaga yang dimiliki Dion Wijaya semua tampak mudah. Namun lain lagi saat Dion diminta untuk mengukir gambar tokoh pewayangan dalam buah kelapa gading yang masih muda.


“Astaga Mas, gambar apa itu?” Kania menahan tawa selama prosesi. Begitu juga para tamu dari kolega Chandra.


“Shht, Kania jangan tertawa kamu. kadang ada hal yang nggak bisa Mas lakukan,” balas Dion membela diri.


Sejak tadi sepasang calon orang tua itu asyik sendiri. membuat MC meminta Dion untuk meninggalkan istrinya sejenak. Kedua mata Dion ditutup dengan sebuah kain. Lalu Dion diarahkan ke sebuah tempat yang berisi banyak buah kelapa yang sudah bergambar jenis kelamin dari calon anaknya. Dion terus tertawa dalam hati. Karena perasaan dan jiwanya sudah sehati. Jika Ia akan memilih buah kelapa yang tepat.


“Ayo Mas Dion, mari kita lihat jenis kelaminnya ya!” sang master of ceremony menghitung mundur dan Dion segera mengangkat buah kelapa itu dengan mantap lalu memecahkannya.


“Wah selamat ya Mas, anaknya nanti laki-laki lho!”


“Mau kemana Lo Bro, acaranya kan belum selesai!” tanya Sigit.


“Gue lapar, tahu nih. Nggak biasanya.” wajah Dion memelas dan sedikit pucat. Tiba-tiba saja perutnya berbunyi.


Kruyukk..kruyukk...


“Wah ayam siapa itu?” goda sang MC yang menjemputnya ketika hendak melarikan diri. Agnes geleng-geleng kepala, karena Kania memberitahunya. Jika selama kehamilan si kembar Dion dan Kania akan merusakan perubahan diri yang sama.


“Mas Dion lapar itu Ma, tapi dia gengsi untuk minta tolong.”


“Oalah, Mas mu itu ada-ada saja Kania, sebentar Mama minta Bibi buat ambilkan kue. Acaranya masih lama Lho, ada-ada saja Dion ini...”


Sejenak acara diistirahatkan, untuk persiapan prosesi berikutnya. Sementara Itu Dion diberikan sepiring penuh nasi lengkap dengan isinya. Kania pun turut menelan ludahnya. Melihat Dion makan dengan lahapnya.


“Mas...” lirih Kania.

__ADS_1


“Hm,” jawabnya singkat. Dion tahu jika Kania juga lapar. Ia hanya ingin menggodanya. Menunggu Kania untuk terus memanggil dirinya dengan mesra. Meskipun sejak tadi Agnes turut menyaksikan polah anak dan menantunya yang bikin gregetan.


“Mas, Mau dong...” pinta Kania. Dion menghentikan kegiatan makannya. Menoleh ke kanan dan ke kiri.


“Jangan sekarang ya Yang, nanti malam saja. malu kalau sampai di dengar Mama sama yang lain.” Ia pun segera melanjutkan lagi makannya, sampai Agnes duduk di depannya. Menatapnya tak percaya.


“Eh Dion Wijaya, istri kamu itu lapar bukannya mau minta jatah ronda. Malah enak-enakan makan sendirian!” Kania pun mendapat suapan nasi dari Agnes, piring suaminya kini sudah berpindah tangan.


“Makannya jangan iseng!” imbuh Agnes.


...


Setelah satu jam beristirahat, Kania diminta untuk mengganti kain jarik sebanyak tujuh kali. Yang mana dari kain pertama sampai ke enam, semua para tamu mengatakan jika yang Kania kenakan tidak cocok. Dalam hati wanita hamil itu, Ia lelah dengan acara prosesi ini. anaknya terus menendang tak karuan.


‘Sabar ya sayang, sebentar lagi kita bisa rebahan...’ desah Kania merasa lelah dan juga mengantuk. Saat Kania mulai mengenakan kain jarik ke Tujuh atau yang terakhir, semua para tamu serempak mengatakan jika Kania sangat cocok mengenakan kain itu.


“Alhamdulillah...”


Kania kini dapat berlega hati saat memasuki prosesi terakhir. Yaitu jualan dawet dan juga rujakan (makan rujak). Agnes mengambil keduanya. Karena cucunya kembar, Ia juga ingin Kania dan dirinya melewati tahap berjualan es dawet dan rujak.


Dion memayungi Kania, dengan berbalut kebaya lengkap dengan kendi (botol air dari tanah liat yang dibakar) dalam gendongan. Kania melayani para tamu yang membeli es dawet darinya. Dengan kreweng atau pecahan genting sebagai mata uangnya.


“Yang, kamu cocok deh kek penjual es beneran. Menghayati sekali peranmu jadi orang susah,” ejek Dion. Kalau tak ingat tempat Agnes dan Kania akan memberi pelajaran pada pria itu. bisa-bisanya mengatakan hal itu dalam acara serius seperti ini.


“Yang, Aku beli dong!” suara seseorang menyadarkan wanita cantik berkebaya merah. Kania pun mendongak, saat melihat pria gagah dengan beskap putih menatap manis ke arahnya.


“Ih Sigit, ada-ada saja kamu!” Kania terus tersenyum melihat saudara Dion. kemudian mereka jadi ingat dengan masa lalu, saat Kania mengidam es dawet yang membuat Dion sampai mabuk durian nyaris tak sadarkan diri.


“Heh, jangan mulai deh... Lo buruan nikah gih, biar bisa ngerasain posisi Gue di sini!” Dion tahu jika Sigit sedang mengejeknya yang merasa tidak betah dalam balutan beskap yang sulit membuatnya bergerak bebas.


“Sabar Mas, tinggal satu lagi kok.” Hibur istrinya.


Kania mengulek sambal rujak dengan sangat ahli. Dion dan Sigit terus memperhatikannya. Tatapan kedua pria itu lekat, tak berkedip sama sekali. Wajah Kania yang cantik sangat menggoda, ditambah bentuk tubuhnya yang berisi semakin seksi.



Terlebih gerakan tangannya yang sangat bertenaga dan lihai menari di atas cobek besar berisi banyak bumbu, cabai dan gula merah. Pikiran Dion menjadi terbang ke mana-mana. Membayangkan sosok Kania di atas ranjang. Mulutnya menganga lebar, sampai sebuah sambal menempel di bibir bawahnya.

__ADS_1


“Icipin Mas, gimana rasanya?”


...


__ADS_2