Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 52. Merebut Perhatian Kania


__ADS_3

Sigit menghentikan motor maticnya dan menenangkan gadis itu. Memberi pengertian jika sekarang sudah malam. Meskipun begitu, Sigit tetap mengajak Kania berkeliling mencari pedagang es itu. Hampir dua jam mereka mengitari Jakarta namun tak juga mereka temukan.


“Besok Aku bawakan ke kantor gimana?” usul pria manis itu.


“Eh, nggak perlu Git. Maaf ya, kita pulang saja.” Kania melihat Sigit yang sudah tampak kelelahan menemaninya berkeliling. Gadis itu memutuskan untuk pulang.


“Kamu yakin?” Sigit berusaha meyakinkan, karena Kania sepertinya tampak kecewa dan Sigit menyesal untuk hal itu.


Kania mengangguk, Sigit meraih tangan Kania dan memasukkan tangan gadis itu ke dalam saku hoodie cokelatnya.


“Bagaimana, jadi lebih hangat kan?” Senyum keduanya tersimpul di sudut bibirnya. Saling memendam perasaan satu sama lain. Meskipun baru saja kenal, Sigit memperlakukan Kania dengan sangat baik. Hingga mampu meluluhkan hati Kania yang tak lagi memikirkan pria brengsek itu.


“Sudah malam, Aku nggak perlu mampir. Obatnya jangan lupa diminum tepat waktu ya!” Sigit pun segera meninggalkan Kania, karena ponsel Sigit terus berdering sejak mereka berhenti untuk membeli obat.


...


“Dari mana Kamu Sigit? Sudah jam berapa sekarang, Kamu tidak melakukan banyak kegiatan di luar kan?” berondongan pertanyaan dari wanita yang melahirkannya. Sigit yang hendak memasuki kamarnya mengurungkannya.


“Nggak Ma, ada urusan sebentar di luar.” Balas pria manis itu.


“Jangan lupa, Obat dari dokter terus diminum ya! Mama mau lihat kamu kembali sehat Nak! Kamu harus berpikiran positif, supaya lekas sembuh total.” sambil menyerahkan botol obat yang baru.


“Mama menemukan ini di halaman belakang, kamu buang ke mana obat-obat itu Git?” selidik Rosi.


“Bosan Ma, hidup Sigit setiap hari hanya obat, obat dan obat! Tak bisakah kalian membiarkan Sigit hidup sebagaimana mestinya?”


Pria manis itu masuk ke kamarnya dengan hati dongkol. Hanya dengan bertemu Kania semangatnya kembali muncul. Sigit pergi untuk mencuci wajahnya. Namun Ia mendapati hidungnya mimisan.

__ADS_1


“Untung saja sudah sampai di rumah, Kania nggak boleh tahu tentang ini.” Sigit menyeka wajahnya dan menghentikan mimisannya. Beberapa hari ini Sigit merasa bahagia, meskipun mengeluarkan tenaga ekstra, tetapi setimpal dengan apa yang Ia dapatkan. Ia menjadi lebih dekat dengan gadis cantik dan sederhana itu, yang mampu membuat Sigit merasa nyaman.


Sigit mengirim pesan, jika dirinya telah sampai di rumah dengan selamat. Tak ada balasan chat dari gadis itu, Sigit mengira Kania sudah tidur. Putra bungsu Dewa Virgiawan, menghubungi stafnya, untuk mencari tahu tempat penjual es dawet yang mereka tahu. Jika ada yang mengetahuinya Sigit akan mendatanginya esok pagi.


Dokter mengatakan Sigit bisa segera sembuh, asal dirinya selalu merasa bahagia, obat-obatan hanya sebagai pendukung, namun menjadi tak berguna jika perasaan Sigit terus memburuk bisa menghancurkan semangat hidupnya. Rasa sakit setelah kepergiaan kakaknya membuat Sigit begitu terpukul dan merasa tak berguna lagi untuk hidup.


“Kania, Kamu penyelamat hidupku saat Aku berada diambang kematian. Aku akan memberikan semua yang terbaik untukmu!” Sigit mengecup foto gadis itu yang Ia ambil saat pergi ke pantai malam itu.


...


Lain Sigit, lain juga dengan Dion. Tengah malam pria berlesung pipi itu baru sampai rumah. Mendengar cerita Vicky dan juga Ucup, Dion menjadi bersemangat. Pria jagoan itu berjanji akan berubah menjadi sosok yang lebih bertanggung jawab untuk Kania.


Di kamar mandi Dion mendapatkan ide, merencanakan kejutan manis untuk Kania seperti sebelumnya saat mereka berdua tinggal bersama. Ucup mengatakan, untuk mencari tahu hal-hal yang disukai gadis itu, jangan melakukan hal yang tak disukainya.


Semalaman Dion belajar melalui internet. Bukannya mempelajari bisnis perusahaannya, Dion membuka artikel tentang wanita, cinta dan kehamilan. Berita yang sangat menggemparan untuk kawan-kawannya adalah Dion mau belajar.


“Ma! .. Mama...! bangun Ma!”


Dion mengetuk pintu kamar orang tuanya tengah malam. Tak bisa lembut, membuat kedua orang tuanya terbangun dengan rasa panik karena terkejut. Agnes keluar dengan wajah penasaran. Ada hal apa sampai tengah malam begini Dion membangunkannya. Wanita itu tak marah, karena ini adalah pertama kalinya Dion membutuhkannya. Menjadi Ibu yang benar-benar dibutuhkan putranya.


“Ada apa Dion?” Bocah badung itu tersenyum lebar melihat Mamanya tidak protes saat diganggu. Anak tunggal pasangan Chandra dan Agnes membawa mamanya untuk duduk di ruang keluarga supaya tak mengganggu Papanya. Padahal Chandra sedang menguping pembicaraan Ibu dan anak itu.


“Ma, Dion belum bisa tidur kalau Mama belum menjawab pertanyaan Dion.”


“Cepat katakan, ini sudah jam satu Nak! Asal pertanyaanmu nggak aneh-aneh Mama rasa bisa menjawabnya,” tutur Agnes sesekali menguap. Wanita itu menuju ke dapur untuk mengambil air minum dan Dion dengan sabar menunggu mamanya hingga duduk kembali bersamanya.


“Ma, Dulu Mama ngerasain mual dan muntah nggak sih pas hamil Dion?”

__ADS_1


Brrrr...


Agnes menyemburkan air yang baru saja diminumnya ke arah Dion. Bocah badung itu menutup matanya, karena mamanya tak kira-kira saat sedang terkejut.


“Mama jorok!” omel Dion, dengan menyeka wajahnya.


Plak!


Agnes memukul lengan putranya yang aneh-aneh saja. membangunkannya tengah malam hanya untuk mengetahui hal itu. untung saja Agnes tak tersedak.


“Dion, ada-ada saja kamu ya!” wanita itu mengulangi lagi minum segelas airnya. Lalu melihat wajah Dion yang begitu penasaran membuatnya tak tega. Agnes pun menceritakan sedikit pengalamannya kepada bocah itu.


“Kenapa tiba-tiba membuat pertanyaan random begini sih Nak? Ya sudah kalau memang penasaran, Mama akan ceritakan sedikit.”


Dion dengan antusias mendengarkannya. Agnes menceritakannya untuk mendapatkan seorang anak Agnes membutuhkan usaha ekstra dan waktu yang lama. Sampai akhirnya Dion berada dalam rahim Agnes. Wanita itu tak merasakan kendala apapun, karena begitu menginginkan buah hati yang lama sudah di tunggunya.


Chandra memenuhi semua kebutuhan Agnes, memberikan banyak waktu dan perhatiannya untuk Mama Dion. Membuat Agnes begitu bahagia dengan kehamilannya.


“Pusing, mual dan muntah yang berat tapi nggak Mama jadikan kendala, karena kamu begitu ditunggu kehadirannya ... Ee, pas udah besar bikin sakit kepala.” Dion mengulum senyum, sebegitu menyebalkannya dirinya? sampai Mamanya bisa berkata seperti itu.


“Terus, pas pusing, mabuk begitu diobati pakai apa? Memangnya pakai duit nggak bisa? Biasanya perempuan kan suka sama duit?” ledek Dion. Agnes menjewer putranya.


“Uuh, kalau ngomong seenaknya aja kamu! mana ada gadis yang mau sama kamu, kalau diperlakukan begitu!”


Dion merenungi perkataan Agnes. Suasana mendadak hening tatapan Agnes tertuju kepada putranya yang tengah berpikir. Agnes memicingkan matanya menatapnya curiga.


“Nak, katakan siapa gadis itu?”

__ADS_1


...


__ADS_2