Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 56. Diantara Dua Hati


__ADS_3

Dengan penyesalan yang besar, Kania mengatakan jika yang di rawat di rumah sakit adalah ibunya. Padahal Kania sendiri belum bertemu lagi dengan wanita yang telah melahirkannya dua puluh tahun yang lalu.


Chandra dan Agnes mengizinkan Kania untuk merawat Ibunya. Namun, rasa bersalah Kania semakin besar. Melihat kedua orang tua Dion sangat tulus mendoakannya.


Saat sedang menunggu lift terbuka, Kania berpapasan dengan Dion. Sungguh tak tega melihat pria tampan juga garang itu tampak lesu. Menghampirinya dengan wajahnya yang pucat.


“Mau ke mana?” lirihnya. Tangan Dion meraih lengan gadis itu. Tatapannya seakan meminta Kania untuk tetap tinggal. Seperti sebuah firasat, jika Kania akan meninggalkannya.


“Maaf Pak, Saya ada urusan darurat. Lain kali akan Saya penuhi undangan dari keluarga Pak Dion,” tutur Kania.


Pria itu kesal karena gadis itu bicara terlalu formal padanya. Padahal sudah di luar jam kerja, membuat jarak mereka bertambah jauh. Dion tak ingin berdebat, karena tenaganya telah raib beberapa saat yang lalu.


“Oke, Gue pegang janji Lo! Tapi Gue antar ya! Jangan menolak Kania ini sudah malam.” Gadis itu melepas tangan Dion dari lengannya meninggalkan pria itu sendirian di depan pintu lift yang terbuka.


“Pak Dion perbanyak istirahat, jaga kesehatan ya! Kania pergi dulu.” pamit gadis itu sebelum pintu lift tertutup, memisahkan mereka berdua.


Kania menatap Dion dengan emosi yang sulit dimengerti. Dion pun tak bisa menahan kepergian gadis itu. Di dalam taksi, Kania menangis. Entah dirinya berada dalam persimpangan.


Sopir taksi yang Ia tumpangi memberikan sekotak tisu. Dan menghibur gadis muda yang menjadi penumpangnya. Setibanya di rumah sakit, Ia merasa kembali pada beberapa waktu sebelumnya.


‘Rumah sakit ini? Mengingatkan, bagaimana Dion melukai perasaannya, juga tempat Sigit bekerja pun juga di sini tempatnya.’


“Mbak Kania ya?” sapa seorang pria dengan kemeja putih. Gadis itu membersihkan wajahnya, menghapus buliran bening disudut matanya.


“Iya betul, Kamu yang menghubungi Saya tadi?”


“Iya betul Mbak, Saya Jo temannya Mas Sigit.”


Kemudian Jo menceritakan runtutan kejadian bagaimana Sigit bisa sampai tak sadarkan diri. Sampai akhirnya orang tuanya minta tolong pada Jo untuk menghubungi seseorang yang sering ditemui putranya akhir-akhir ini.


“Makanya Saya beranikan diri menghubungi Mbak Kania,” terang Jo. Kania mengangguk dan berterima kasih pada pria yang seumuran dengannya.


Di dalam ruangan itu, ada seorang pria berpakaian necis, Kania seperti pernah bertemu dengannya. Namun Ia lupa, saking banyaknya klien yang harus diajak meeting.


“Jo toilet nya dimana?” Kania merasa perutnya tak nyaman, akibat bau-bauan di rumah sakit. Padahal beberapa jam yang lalu dirinya baik-baik saja.


“Kenapa nggak di dalam ruangan Mas Sigit saja nanti?” usul Jo, sambil menunjukkan arah kepada gadis cantik itu.


“Hueekkk!”


Kania segera pergi ke toilet, bertepatan dengan Dewa keluar dari ruangan Sigit. Jo panik melihat Kania, sampai pemilik rumah sakit itu menyadarkan lamunan Jo.

__ADS_1


“Sepertinya tadi kamu sedang ngobrol sama seseorang Jo?” Dewa menatap sekeliling, tak melihat seorang pun di lorong ruangan panjang dominan warna putih.


“Ada Pak, sedang ke toilet. Pacarnya Mas Sigit baru saja datang.” ungkap Jo.


Mendengar hal itu, Dewa merasa lega, jika putra bungsunya sudah bisa menjalin hubungan dengan seseorang yang dianggapnya spesial.


“Ya sudah, sampaikan salam saja untuk gadis itu, sayang sekali Saya nggak bisa berkenalan langsung dengannya karena ada pekerjaan. Titip Sigit ya!” Sambil menepuk pundak Jo, tanda berterima kasih.


Kania pun muncul dengan wajah yang lebih segar setelah mencuci wajahnya.


“Masuk Mbak, Mas Sigit baru saja sadar.” Jo berpamitan setelah meninggalkan mereka berdua.


“Hai Git! Bagaimana keadaanmu?” sapa Kania, duduk disebelah pria tampan yang terbaring lemah.


Senyum Sigit langsung tergambar jelas saat melihat kehadiran gadis itu. Bagai mendapat kekuatan, Sigit berusaha bangkit untuk meninggikan posisinya. Namun, ternyata Sigit masih kesulitan.


“Eh, kamu mau duduk? Aku bantu ya!”


Kania berdiri membantu Sigit meninggikan ranjang juga menyusun bantal untuk teman prianya. Tanpa sadar jarak mereka sangat dekat. Sigit dapat menatap wajah gadis cantik itu tepat di depan wajahnya.


Masih mengenakan heels setinggi lima senti, lantai ruangan Sigit di rawat membuat Kania kehilangan keseimbangan, dan jatuh tepat di sisi pria tampan itu. Meskipun terpasang selang infus di tangannya, gerakan refleks Sigit menyelamatkan Kania dari kerasnya lantai rumah sakit.


Kania segera berdiri. Namun, sekali lagi kakinya tergelincir. Membuat gadis itu berpegangan kuat pada Sigit.


Napas keduanya memburu, tatapan mereka bertabrakan. Bohong jika keduanya tak mendengar debaran jantung yang cukup keras satu sama lain.


“Ehm... Si-Sigit, Maafkan Aku. Sepatuku licin, jadi Aku tergelincir.” Lirih Kania di depan Sigit.


Pria itu tersenyum dan tak berniat melepaskan gadis itu yang melingkarkan tangannya di leher Sigit.


“Nggak apa-apa Kania, jujur Aku menyukainya...” Sigit mengangkat dagu Kania, dan melihat wajah cantiknya bersemu merah.


“Heh, jangan bilang begitu! Aku malu Git!”


“Lebih tepatnya, Aku menyukaimu Kania.”


Gadis itu beranjak dari tubuh pasien, saat seorang perawat masuk untuk memberikan obat.


“Saatnya minum obat ya Mas Sigit! Tadi Pak De - ...”


“Iya Sus, letakkan saja obatnya di sana, sudah ada gadis cantik ini yang akan membantu Saya di sini!” Sigit memotong kalimat perawat itu. Supaya Kania tak mendengarnya. Mendapat kode, Perawat itu segera meninggalkan ruangan. Untungnya Kania tak membahasnya lagi.

__ADS_1


“Kania...”


“Hm?”


Gadis itu menoleh. Rambutnya yang tergerai mengenai wajah tampan Sigit, membuat aroma strawbery bermain di hidung mancungnya.


“Apa kamu butuh sesuatu? Coba ceritakan, kenapa kamu sampai bisa pingsan?”


Kania mengambil obat dari perawat dan menyiapkan untuk Sigit. Dengan segelas air putih di tangannya.


“Ayo diminum dulu obatnya?”


Gadis itu mengulurkan tangannya namun dicekal oleh Sigit dan membawanya lebih dekat ke arahnya.


“Aku butuh kamu, di sisiku! Apakah sudah ada seseorang yang memilikimu Kania?” ungkap Sigit to the point. Ia tak ingin kalah cepat dari pria yang bernama Dion. Mengingat hubungan mereka adalah bos dan sekretaris.


Ada rasa iri dalam hati Sigit Virgiawan, bisa terus bersama-sama gadis itu selama delapan jam sehari di kali lima hari dalam seminggu.


Gadis itu berdeham, mencoba mencairkan suasana. Tangannya terasa kebas, memegang segelas air putih.


“Diminum dulu obatnya, biar lekas sembuh. Katanya mau mengajakku jalan-jalan?” goda Kania.


Entah di saat seperti ini pikiran Kania malah tertuju pada Dion. Sedang apa pria itu? Apakah masih merasakan sakitnya?”


Kania izin ke toilet yang berada dalam ruangan itu. Tanpa sadar Kania menanyakan kabar Dion.


Kania


[Pak, bagaimana keadaanya? Apakah sudah membaik?]


Dion


[Gue kangen Lo Kania, kemarilah!]


Kania


[Bohong! Sekarang Pak Dion istirahat aja ya selamat malam!]


Mendapat balasan secepat itu, Kania tersenyum. Kania tidak sadar dengan apa yang Ia lakukan. Bagaimana jadinya jika kedua pria tampan dan kaya raya itu menggantungkan hidupnya pada gadis sederhana dengan banyak beban hidup seperti dirinya.


‘Kangen Gue katanya... Entahlah, apapun omong kosong pria brengsek itu selalu bisa membuat perasaan Gue membaik.’

__ADS_1


__ADS_2