Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Ending


__ADS_3

Dua minggu kemudian


“Yang, kamu sudah siap?” tanya Dion dengan mencium tangan Kania. perasaan laki-laki tampan itu penuh kekhawatiran.


“Siap Mas, doain Kania ya semoga lancar operasinya,” balas istrinya.


Agnes yang membantu Dion untuk menyiapkan keperluan yang di bawa ke rumah sakit menjadi ikut tegang. Kania di jadwalkan operasi caesar malam nanti. Pemeriksaan terakhir mengatakan jika salah satu anak kembarnya mengalami sungsang. Mau tak mau prosedur operasi harus dilaksanakan.


Kania sendiri sudah banyak belajar melalui internet. Apa saja yang perlu diperhatikan. Dion tak henti-hentinya berdoa demi keselamatan Kania dan juga anak kembarnya.


“Sudah Mas, jangan panik begitu. nanti Kania ikut cemas lihat Mas seperti itu.”


“Gimana nggak panik Yang, kalau sampai terjadi ap....” Dion dicubit mamanya. selalu saja begitu, mengatakan hal yang belum tentu terjadi. Hingga Dion meringis kesakitan


“Kan, itu kamu tahu bagaimana perjuangan wanita yang akan melahirkan, ya kan! makannya nggak usah macam-macam,” timpal Agnes.


Dion tak melepaskan Kania dari pagi sampai siang. Pria itu butuh ditenangkan. Agnes bahkan sampai menyerah. Sampai Kania mengajak Dion memasuki kamar anaknya, sebentar lagi kamar itu tak akan sunyi lagi.


“Kamu nggak makan dulu? nanti lapar lagi?”


“Kania puasa Mas, sudah ah! Ayo kita ke rumah sakit. lebih cepat lebih baik bukan?”


Sepanjang perjalanan ke rumah sakit. Tangan Dion tak berhenti mengusap punggung tangan Kania. dikecupnya berulang kali tangan putih dan lembut itu. Hingga Ia lupa hanya mengenakan kaos dan celana training saja.


Kania gugup, cemas, dan khawatir. Namun semuanya dapat Ia sembunyikan. Ia terus merapalkan doa untu diberikan kemudahan dan keselamatan. Sampai mereka berdua tak sadar mobil itu telah sampai di halaman parkir rumah sakit.


“Sudah siap?”


“Sudah Mas, jangan nangis ya kalau nanti...”


Dion menutup mulut Kania dengan jarinya untuk tidak mengatakan hal buruk apapun. Karena menurutnya setiap ucapan adalah doa.


“Jangan bilang seperti itu Yang, Mas nggak siap.”


“Eh, memangnya Kania bilang apa? Kan Cuma bilang jangan nangis ya Mas, kalau Kania masuk ke dalam ruang operasi.”


Agnes dan Chandra mendorong Kania yang duduk di kursi roda. Sedangkan Dion mengurus semua administrasinya. Kamar perawatan untuk Kania juga sudah dipersiapkan. Saat sedang menandatangani dokumen penting Kania dan kedua orang tua Dion melintas. Kania melambaikan tangan, Dion pun berkaca-kaca, bibirnya bergetar. Ia takut tak akan bisa bertemu lagi dengan istrinya.


...


Pukul 19.00 Kania memasuki ruang operasi. Ruangan dnegan suhu rendah membuatnya menggigil. Tubuhnya yang berat kini terbaring di meja operasi dengan satu dokter spesialis kandungan dan juga beberapa asisten dokter.

__ADS_1


Kania terus merapalkan doa. Punggung mulus itu diberi injeksi anestesi lokal. Kania diminta untuk banyak berdoa selama proses bedah berjalan. Dion yang melihat kedua orang tuanya tak ada semakin panik. Pria itu mondar-mandir di depan ruang operasi, namun Ia tak ingin masuk.


Baru kali ini Ia benar-benar merasakan rasa takut yang luar biasa. Ia mengirimkan pesan kepada teman-temannya yang sudah melewati tahap ini.


Dion


[Bro, hari ini Kania melahirkan. Dia harus di operasi karena masalah medis. Gue minta doanya ya!]


Vicky


[Serius Bro? Pasti kita doakan. Jangan lupa kirim alamat rumah sakitnya ya! Lo juga jangan panik, banyak-banyak berdoa saja.]


Dion


[Gue takut!]


Vicky


[Gue tahu, Gue pernah di posisi Lo! sekarang Lo tungguin Kania, yang dia butuhkan Cuma Lo. oke! setelah anak Gue tidur, Gue akan temani Lo di sana!]


Dion


[Yoi, gue tunggu. Hati-hati!]


Dion merasa lega, setelah mendengar tangisan kedua anaknya. Kakinya lemas. Bahkan Dion terduduk di ruang tunggu. Ia masih menunggu kabar Kania. sampai satu jam berlalu Kania tak juga keluar dari ruangan operasi itu. Dion semakin khawatir.


“Sus, dimana pasien yang baru saja melahirkan?”


Wanita yang mengenakan pakaian serba putih itu melihat Dion dengan tatapan heran. Mungkin saja Dion tak diberi tahu jika istrinya telah dipindahkan ke ruang perawatan hampir satu jam yang lalu.


“Hah? kenapa saya tidak diberitahu Sus?”


“Mohon maaf ya Pak, karena di sini bukan ruang tunggu.”


Rasa khawatir Dion berubah menjadi kesal saat mengetahui jika dirinya menunggu satu jam selama sia-sia. Kania sudah dipindahkan ke ruang perawatan satu jam yang lalu bersama dua anak laki-lakinya di ruang VVIP.


Dion segera memasuki ruangan di lantai Lima rumah sakit besar itu. Di sana hanya dia saja orang yang paling akhir menemui Kania dan juga anaknya. Chandra, Agnes, Sigit dan juga Vicky sudah berada di ruangan itu.


“Dion, kamu kemana aja sih! Mama sampai pusing cariin kamu!” omel Agnes.


“Dasar bocah bego, Gue aja yang di telepon langsung tahu harus kemana. Lo ngapain aja sih?” oceh Vicky.

__ADS_1


Tak mungkin Dion menceritakan pengalamannya yang memalukan itu. segera Ia mencuci tangan dan menghampiri Kania. menyingkirkan Mama dan Papanya yang tertawa melihat kelakuan konyolnya. Di kecupnya dahi, pipi dan bibir Kania di depan banyak orang. Sampai yang melihat pun merasa malu.


“ehm, nggak heran kalau itu Dion.” ucap Agnes.


“Kamu kemana aja sih Mas? operasinya Cuma empat puluh menit kok, tapi Mas Dion baru kemari sekarang?”


“Nanti saja Mas ceritakan kalau sudah tidak ada orang, yang ada Mas nanti diledekin sama mereka. mana yang lahir lebih dulu?” tanya suaminya.


Dion melihat dua box bayi dengan setelan lengkap serba biru. Bayi laki-laki yang putih kemerahan dan memiliki wajah serupa. Satu tampak tidur pulas dan yang satu lagi terus gelisah dengan menggerakkan bibir mungilnya.



“Bro, lihat nih! Gue juga punya mainan baru sekarang, ada dua lagi.” unjuknya kepada sahabatnya. Vicky hanya tertawa turut bahagia melihat kebahagiaan Dion.


“Udah Lo kasih nama belum?” tanya Vicky, menggendong bayi yang tampak tenang dalam gendongannya.


“Udah Gue siapin. Nanti aja pas acara syukuran kalian ke rumah ya!”


“Sip! Mana yang mau jadi calon mantu gue! biar nggak macem-macem sama Gue!” imbuh pria dingin itu.


Haha...


Semuanya tertawa melihat kekonyolan Dion dan Vicky saat bersama. Dion dan Vicky keduanya menggendong bayi laki-laki yang baru saja lahir ke dunia. Gambarnya pun mereka abadikan, sebagai sebuah kenang-kenangan.


Dion dan Kania merasa kehidupan rumah tangga mereka lengkaplah sudah dengan kehadiran anak kembarnya. Begitu juga dengan Chandra dan Agnes, yang memutuskan untuk merawat kedua cucunya di sisa usianya. sedangkan Sigit masih butuh waktu untuk menemukan sosok wanita idaman seperti mantan kekasihnya Kania.


Berita kelahiran anak kembar Dion Wijaya telah mejadi berita besar dalam dunia pengusaha. Ucapan selamat tak berhenti berdatangan. Begitu juga hampers dan hadiah-hadiah besar ke rumahnya. Mengingat Chandra Wijaya adalah pengusaha ternama yang menduduki peringkat pertama dengan reputasi terbaik.


“Zayn, jangan ganggu saudaramu sayang! biarkan Gio tidur!” ucap Kania gemas. Saat minum susu pun, Zayn selalu menang sendiri dan membuat saudaranya menunggu terlalu lama sampai Gio menangis.


Setiap malam Kania dan Dion terus melihat interaksi kedua anak kembarnya, Zayn dan Gio. Dion merasa kewalahan saat menggendong Zayn yang sangat aktif. lain halnya dengan bayi kalem dan manis seperti Gio


“Mas sudah bisa membayangkan seperti apa Zayn nanti saat dewasa...”


“Haha... iya kan, dia duplikat kamu Mas...”


Dion memasang foto dirinya bersama Vicky saat menggendong kedua anak kembar mereka. Seperti keinginan Dion dan keluarga Wijaya sebelumnya tentang perjodohan anak-anak mereka. Kini si kembar telah lahir, menambah kebahagiaan tersendiri untuk Dion dan Kania.


Dion dan Kania telah resmi menyandang gelar sebagai orang tua. Keduanya berjanji akan membesarkan Zayn dan juga Gio bersama-sama menjadi anak yang berbakti dan penuh kasih sayang. Memberikan semua yang terbaik untuk anak-anaknya, hingga waktu yang mereka tentukan telah tiba.


“Jangan tumbuh besar terlalu cepat ya Nak, biarkan kami membesarkan kalian dengan seluruh waktu kami, sampai kalian merasa menjadi anak yang paling berbahagia.”

__ADS_1


Tamat.


__ADS_2