
Agnes menjatuhkan gelas yang berada di tangannya. Reaksi mamanya cukup mengejutkan Dion, karena setahu pria tampan itu, Mamanya bahkan belum pernah bertemu dengan Dista. Ekspektasi Dion, adalah Dias yang seharusnya gugup dan ketakutan. Namun kenyataannya tak ada rasa bersalah sedikitpun tergambar di wajahnya.
“Yang benar kamu Dion? padahal Mama sudah sayang Lho sama Dista, baru saja ketemu kemarin!”
‘Aduh! Keceplosan, semoga Dion tidak menyadarinya.’ Batin Agnes. Tangannya meremas napkin (serbet) diatas meja untuk tak menunjukkan kegugupannya. Chandra pun merasa terkejut, baru saja mereka berdua turut bahagia dengan berita sahabat putranya, namun kini malah mendengar berita yang tidak menyenangkan.
Dion tak melanjutkan lagi obrolannya terkait Dista. Ia hanya ingin memicu sikap Dias yang harus segera di bongkar di hadapan kedua orang tuanya sebelum terlambat.
“Dion, Mama ingin menjenguk gadis itu, besok temani Mama ya Nak!”
“Hem! Kenapa? Mama baru tahu ya, kalau cewek yang Dion taksir selama ini namanya Dista bukan Dias!” Dion melanjutkan makan malamnya dengan senyum simpul di wajahnya, yang tak akan pernah habis jika membicarakan gadis itu.
Agnes memperhatikan wajah putra semata wayangnya, kenapa tidak sejak dulu Dion terbuka kepada dirinya, mungkin Agnes bisa membantunya. Wanita itu mulai menyadari jika dulu, mereka kurang memberikan perhatian kepada Dion, sehingga putranya menjadi tertutup seperti sekarang.
“Dias, kamu kenapa Nak? Kenapa tidak dilanjutkan makannya?” tanya Agnes, yang melihat Dias menyudahi menyantap makanannya.
“Sudah kenyang Tante, Dias mau ke kamar dulu!”
Kedua orang tua Dion tidak sadar jika sejak tadi Dias sudah menahan amarahnya. Hanya Dion yang tahu kelemahan gadis itu. setelah Dias meninggalkan meja makan, pria itu berpamitan untuk pergi ke rumah Iwan. Tak lupa Ia membungkus semua makanan yang ada di meja. Termasuk lauk dan sayur yang sedang dinikmati Papanya.
“Ini... Ini... dan Sorry Pa, Dion juga butuh Ini untuk bekal di jalan!” Potongan daging ayam yang berada di piring Papanya pun lenyap juga. Agnes melihat kekonyolan Dion yang tak ada ada habisnya.
“Dion! apa-apaan kamu? jangan keterlaluan ya!” bentak Agnes, “Memangnya Iwan kekurangan makanan sampai kamu merampok di rumahmu sendiri untuk diberikan sama temanmu!”
__ADS_1
Dion hanya tertawa melihat ekspresi kesal dari Mamanya, sedangkan papanya hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan bocah badung itu. Chandra merasa jika bersama Kania, Dion akan berubah menjadi lebih baik.
“Harus benar-benar ada yang bisa mengendalikan Dion, Ma! Lama-lama bisa stroke Papa kalau melihat dia begitu terus setiap hari.” Agnes tertawa, namun dirinya memilih untuk tidak menanggapi perkataan Chandra yang memilih masuk ke kamar setelah putranya pergi keluar.
Dengan mengendarai motor besar dan ransel di punggungnya, Dion menuju rumah sakit. Tak lupa membeli buah-buahan untuk kedua wanita yang berbeda status itu.
‘Hahaha... seru kali ya punya dua istri, atur jadwal bergantian.’ Batin Dion. Di tengah kemacetan ibukota, pria itu melancarkan khayalannya sebelum lampu menyala hijau. Sayang, belum pernah icipin bibirnya si bohay, haha...’
Dion terus tertawa menikmati harinya bisa keluar dari rumah dengan hawa panas itu. Terlebih Ia bisa bersama Dista lebih lama juga Kania. Entah kenapa, melihat gadis itu murung akhir-akhir ini membuat dirinya merasa kasihan.
Gadis bertubuh kecil, bisa dihajar dengan begitu brutalnya oleh seorang pria. Dion berjanji, jika bertemu lagi dengan pria brengsek itu, akan Ia patahkan tulang-belulangnya hingga tak bisa berbuat kasar lagi.
Setibanya di ruangan VVIP tempat Dista di rawat, keduanya terdengar tengah tertawa bersama. Membuat pria itu sungkan untuk mengganggu mereka. Terdengar suara pintu terbuka, kedua wanita itu mengalihkan pandangan.
“Lumayan, berkat Kania Gue nggak merasa bosan disini. Apalagi nggak ada Vicky.” melihat Dion datang ekspresi Kania berubah sumringah, meskipun malu-malu.
Dion membuka tas nya yang berisi banyak makanan, membuat kedua perut wanita itu berdemo. Merasa seperti sedang bermimpi, Dion menikmati malamnya bersama dua wanita cantik dalam ruangan itu.
“Lo pasti belum makan kan?” tanya Dion, sambil menyajikannya untuk gadis itu. Saat Kania sedang menikmati makanannya, gadis itu justru melihat Dion menghampiri Dista.
“Lo juga pasti belum makan, Gue bantu ya!” tawar Dion. Dista sudah membuka mulutnya, menunggu suapan itu masuk. Tiba-tiba Kania bangkit, mengganggu acara Dion.
“Sini ... sini ... Gue aja!” Kania mengambil alih, Gue bisa tahan lapar kok! Tapi wanita hamil tidak boleh dibiarkan kelaparan. Kania menggeser tubuh besar itu yang menghalanginya, membuat Dista tertawa.
__ADS_1
“Kalian berdua jangan sering ribut, nanti pacaran Lo!” goda Dista. “Oh iya, kamu beli dimana makanannya? Banyak banget?”
Hahaha...
“Gue bawa dari rumah, di minta nyokap buat calon mantu katanya!” setiap kalimat Dion yang tak pernah disaring membuat hati Kania berbunga, entah serius atau tidak, gadis bertubuh ramping itu tak menampik jika Ia merindukan pria tengil itu.
Malam semakin larut, namun Dista masih belum juga terlelap. Mengingat Vicky belum juga kembali, membuat wanita itu khawatir. Dion terus memperhatikannya tak bersuara, sampai akhirnya mulutnya gatal karena tak tahan mengacuhkan wanita itu. Sedangkan Kania, gadis itu sengaja berpura-pura tidur, untuk melihat langsung perasaan Dion yang sebenarnya.
“Kenapa belum tidur?”
“Hah?” sambil menghela napas panjang, Dista menatap Dion. “Gue nggak bisa tidur, perut Gue nggak nyaman, juga Vicky belum kembali.” sembari mengusap perutnya yang sesekali bergejolak. “Tadi Kania cerita kalau dia mau cari kost-kostan. Kalau belum dapat tempat yang nyaman, sementara waktu bisa tinggal sama Gue di rumah, Gue juga butuh teman.” ucap Dista. Dion pun berpindah tempat duduk.
“Jangan Dis! Gue nggak mau merepotkan kalian. Biar nanti bocah itu Gue yang urus. Oh iya bagaimana ceritanya Lo sampai bisa jatuh?” Dista menceritakan kejadian yang cukup cepat itu, hingga tak sanggup untuk melanjutkannya karena merasa takut.
Meskipun Dion dan Dista berucap lirih, namun Kania mendengarkan semuanya. Dion tak ingin jika Kania berada di rumah Dista, semakin memudahkan Dias untuk melancarkan aksinya. Mendengar berita Dista keguguran saja ekspresinya sangat tenang, sama seperi apa yang Dias harapkan. Kalau Dias tahu kondisi Dista yang sebenarnya, pasti Dias akan kembali lagi.
“Kalau Bisa Lo jangan di rumah sendirian, harus ada yang jagain Lo di rumah selagi Vicky ke kantor. Oh iya, Lo ingat sama Dias?”
“Haha... Lo bercanda Dion! siapa yang bisa lupa dengan pacar Lo yang sadisnya kebangetan itu. Lo nggak ingat waktu Gue di dorong depan kelas terus di jambak sampai sakit kepala Gue! belum lagi malam penculikan itu, aah... kan! Lo bikin Gue mengingat semuanya.” sesal Dista.
‘Kania terkejut bukan main, Dista yang lembut begitu saja, bisa diserang secara terang-terangan oleh Dias. Apalagi dirinya yang tak memiliki tenaga sama sekali. Gadis seperti apa Dias ini, dari luar sangat manis, ternyata ... pantas saja Dion begitu muak melihat gadis itu di sekelilingnya.’
“Sorry ya, semua salah Gue! Gue takut terjadi apa-apa sama Lo juga kehamilan Lo!” Dion duduk tepat di sisi ranjang Dista dan ingin mengusap perut gadis itu. Di saat yang bersamaan tepat suara pintu terbuka.
__ADS_1
“Ehem...”