Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 112. Harus Bagaimana?


__ADS_3

Tepat tengah malam, saat di mana semua orang di kediaman besar itu telah larut bersama mimpinya. Chandra, Agnes, Dista dan juga seluruh pekerja di rumah itu. Namun, tidak dengan sepasang anak Adam ini. Mereka berdua tengah sibuk memadu kasih.


Siapa sangka sosok yang terkenal jagoan, nyatanya Dion memiliki sisi lain dari dalam dirinya. Kebiasaannya menggoda wanita hanya manis di bibir saja. Gadis pertama yang Ia sentuh dia lah gadis jorok pilihan mamanya. Jika bukan karena kepepet, untuk menyingkirkan Dias dari rumah, mungkin pewaris tunggal Chandra Wijaya tak akan pernah melakukan hal nekat itu.


Rasa cinta itu tumbuh dengan sendirinya. Jika jatuh cinta dimulai dengan cara yang sah, akan lebih bebas tersalurkan kapan saja. Tuhan telah memberikan kesempatan itu kepada Dion Wijaya. Sekali lagi rasa gugupnya tak dapat Ia sembunyikan. Di sisi lain, Kania sudah mempersiapkan diri. Meskipun berulang kali gadis itu nyaris pingsan, saat kulit mereka bersentuhan.


“Hihii...” gadis itu terus tergelak saat Dion memberikan kecupan demi kecupan di sepanjang leher jenjangnya. “Bukannya kamu sudah tidur, hmm? Aku tak ingin mengganggumu tadi jadi aku putuskan untuk mengerjakan laporan.”


“Hihii...”


“Hentikan Kania, kamu membuat konsentrasiku buyar!”


“Sudah, sudah, Aku tidak kuat. Itu geli, kamu tahu!”


“Ya sudah, sekarang gantian!” goda Dion. wajah nakalnya membuat Kania salah tingkah. Meski penerangan dalam kamar mereka samar-samar.


Bukannya terdiam. Tawa itu malah semakin menjadi. Ditambah kedua kaki Kania yang terus meronta akibat sengatan listrik berdaya tinggi. Bukan Dion namanya jika Ia tak dapat menaklukan gadis kecil yang kini sangat menarik di matanya.


Sekarang Ia sulit mengontrol hasratnya yang sudah berada di puncak. Dion juga telah melupakan cinta pertamanya, meskipun terkadang bayangan itu selalu terlintas. Kini malam-malam pria itu tak lagi kesepian. Ada Kania, penghangat ranjangnya.


“Ini sudah tengah malam, tapi Aku ingin segera membuatmu hamil! Jadi jangan banyak bersuara, cukup teriakan saja namaku saat kamu akan keluar.”


“Jangan bicara terlalu frontal begitu, aku malu!”


Pergulatan malam itu tak terelakan lagi. Pria tampan dan garang itu berubah menjadi sosok lembut dan penuh cinta. setiap sentuhannya membuat sang sekretaris menyerah tanpa syarat. Suara mendayu Kania memacu Dion untuk menuntaskan tugas dinasnya malam ini.


“Mas, a—aku sudah...,”

__ADS_1


“Tahan sayang! tunggu sebentar lagi, oke!”


Dengan cepat Dion segera mengosongkan tangkinya. Penyejuk ruangan dalam kamar pun seakan kehilangan fungsinya. Saat suhu dalam kamar berubah hangat. Membuat peluh sebesar biji-biji jagung berjatuhan.


“Sayang, kenapa wajahmu begitu? capek ya, hm? Besok nggak perlu ke kantor, biar aku saja sampai kondisimu membaik,” pesan suaminya. Dengan mendaratkan bibirnya di kening Kania.


“Tapi aku kangen pekerjaanku Mas, Kalau nggak kerja nanti bagaimana Aku bisa punya uang?”


“Astaga! Bisa-bisanya bilang begitu. Kirain kangen apaan. Memangnya yang kemarin sudah habis? bukannya kamu sangat pelit dengan dirimu sendiri?” haha...


Kania merasa malu. Kenapa Dion mengungkit masalah uang itu, bahkan Kania hanya menggunakan sedikit saja. seakan merasa telah menjual harga dirinya. padahal Dion tak bermaksud seperti itu. tiba-tiba saja Kania merasa moodnya memburuk dan tidur begitu saja memunggungi suaminya.


Pagi-pagi sekali di meja makan sudah tersedia sarapan pagi. Meskipun hanya menu sederhana, nyatanya membuat keluarga itu merasa senang.


“Ini buat Gue?” tanya Dion, saat secangkir kopi sudah tersaji di meja.


“Haha, Nggak asin kan? thanks ya!”


“Wah, senangnya pagi-pagi dapat kopi hitam dari wanita cantik!” goda Chandra. melihat hanya putra semata wayangnya yang sudah siap pergi ke kantor. Agnes menanyakan keberadaan Kania. setelah berbuat kekacauan semalam, gadis itu belum juga muncul ke bawah untuk sarapan bersama.


Sebagai seorang tamu, tak mungkin Ia hanya berpangku tangan saja. meskipun keluarga mereka sudah dekat. Dista juga sudah mulai terbiasa dengan didikan suaminya sejak Ia menikah. Terbiasa melakukan hal kecil dan kegiatan rumah tangga lainnya.


“Kania dimana Nak?”


“Biarkan saja Ma, dia masih tidur. semalam menunggu Dion pulang hingga larut.”


Agnes dan Chandra pun tak ingin banyak bicara. Terlebih di meja makan. Akhirnya yang mengantar Dion berangkat kerja adalah istri dari sahabatnya.

__ADS_1


“Kenapa menatap Gue seperti itu? jangan sampai Gue lempar sendal ya, Dion! sudah sana berangkat! Gue mau jalan-jalan pagi sampai gerbang depan.” Dista berjalan mendahului Dion yang bersiap dengan motor besar kesayangannya.


“Habisnya, Lo yang perhatian seperti ini bikin Gue ... Ah sudahlah! Hati-hati, jaga kandungannya! Lo di rumah Gue, jadi tanggung jawab Gue, mengerti!”


“Iya, bawel!”


Setelah motor besar itu berlalu. Kania baru bangkit dari tempat tidur. Ia kelelahan, benar-benar tak tersisa sedikitpun tenaganya. Jika digambarkan, seluruh tulangnya remuk redam. Sampai Ia melihat sepucuk surat yang tergeletak di atas nakas.


“Apa ini?”


“Jangan marah Sayang! Mas hanya bercanda, pergilah bersenang-senang selagi ada teman di rumah. mungkin hari ini akan sangat sibuk, jadi akan pulang terlambat. Miss you Kania,” Mas Dion.


“Cih! Memangnya dia lupa fungsi ponselnya, mana pakai panggil nama sendiri dengan sebutan Mas lagi!” gerutu Kania yang tersenyum miring.


Namun, saat Ia ingin menyimpan surat itu, Ternyata suaminya telah menyelipkan beberapa kartu tanpa limit. Gadis ayu itu sangat terkejut. Berulang kali Ia mengusap matanya, barangkali Ia salah melihat. Setelah Ia pastikan tidak salah, Kania melihat jam di kamarnya.


“Jam Delapan! Hah, bagaimana bisa?”


Dengan cepat Kania turun untuk melihat suaminya apakah sudah berangkat atau belum, tetapi yang Kania lihat justru membuat Kania tertegun. Agnes sedang berada di dapur, dan asyik bercengkrama. Kania berpikir jika itu adalah bibi pengurus rumah.


“Sayang, kopi buatan kamu enak lho! Dari mana kamu belajar? Tante aja yang nggak doyan kopi jadi ketagihan. Apa lagi bocah nakal itu!”


“Tante bisa aja,...”


“Besok kamu buatkan lagi ya, baru kali ini Lho Tante lihat Dion semangat ke kantor, pasti karena ada kamu di sini, iya kan? Bekal nya juga di bawa, biasanya mana mau begitu....”


Deg!

__ADS_1


...


__ADS_2