
Di kafe estetik yang terletak di samping bangunan rumah sakit besar milik Dewa Virgiawan, Pria tampan berkulit putih tampak cemas. Melihat ponselnya berulang kali di depan meja kerjanya. Rosi pun hanya tertawa melihat kelakuan putranya.
Richie dan Joe menghitung kertas lembaran merah yang terbungkus amplop coklat, pemberian Rosi. Tak henti-hentinya dua pemuda manis itu mengucapkan banyak terima kasih dengan kebesaran hati keluarga Sigit.
“Tan, Ini nggak kebanyakan?” seloroh Jo, yang merasa terlalu dimanjakan oleh wanita kaya itu. Richie menyenggol lengan Jo yang polos-polos bego.
“Sebagai permintaan maaf Tante, karena Sigit terlambat memberikan bonus kalian tepat waktu. Tante senang, kalian bertiga bisa menghandle tempat ini dengan baik.” Rosi menikmati minuman racikan buatan Richie dan cake manis di temani oleh Jo dan Richie.
“Richie, apa setiap hari kerjaan Sigit hanya menatap ponselnya seperti itu?” Tante jadi penasaran seperti apa sosok gadis idaman teman kalian itu.”
“Richie belum pernah bertemu langsung Tan, tapi Jo pernah bertemu sekali. Gimana Jo?”
Hwahaha...
Jo tertawa cukup lebar, membuat Richie dan Rosi terkejut karena Jo yang ekspresif akan menunjukkan apa yang Ia rasakan. Sekali lagi Jo tertawa, membuat Richie mencubit pipinya.
“Di tanya Tante Rosi, jangan kayak orang bego Lo!”
Jo menunjukkan dua jempolnya ke hadapan Rosi dan mendeskripsikan Kania dengan sangat detail. Sampai Richie mampu membayangkannya karena penjelasan Jo sangat bagus.
“Cantik, itu nomor satu yang akan kalian lontarkan saat pertama melihatnya. Kedua menarik, lucu, santun dan sederhana. Hanya saja, gadis itu sedikit aneh. Tapi mungkin hal itu sih yang membuat Mas Sigit begitu tertarik pada Mbak Kania.”
“Ow, namanya Kania...” Rosi dan Richie serempak sembari manggut-manggut. Sigit yang mendengar nama gadisnya jadi bahan pembicaraan ikut bergabung ke meja itu.
“Ma, kenapa ya Kania belum membalas pesan dari Sigit? Padahal sudah satu jam yang lalu.”
Sigit kembali menekan nomor gadis itu, namun tetap saja tak diangkat. Jo hanya tertawa melihat kelakuan teman sekaligus bosnya yang tengah kasmaran.
“Sabar Mas, namanya juga sekretaris pasti sibuk sama bosnya.” Ucapan jo memicu rasa cemburu yang besar di hati Sigit. Padahal Jo hanya asal menjawab.
“Benarkah begitu Jo? Tahu dari mana kamu?”
“Maaf Mas, Jo Cuma bercanda. Lagi sibuk dengan pekerjaannya kan benar Mas. Jangan marah begitu dong, besok ajak saja pergi keluar! Ya kan Tante...?”
__ADS_1
Usul Jo diterima dengan baik oleh Sigit, Pria 21 tahun itu berselancar ke dunia maya untuk mencari destinasi wisata romantis untuk mereka berdua. terlebih besok adalah akhir pekan, Kania libur dua hari.
“Jangan jauh-jauh kalau mengajak anak gadis orang Git, ke Bandung aja yang dekat! Villa Mama sekalian di tengok, ajak Jo sama Richie buat bersih-bersih.”
Hahaha...
Sigit menertawakan kedua temannya yang hampir bersorak namun tak jadi, karena mendengar kalimat terakhir mamanya.
“Ya nggak apa-apa kan, bersih-bersih sembari liburan?” Rosi mengacak rambut keduanya. Setelah kepergian putra sulungnya, hiburan Rosi sekarang hanya fokus dengan Sigit dan juga kedua temannya. apalagi yang akan dilakukan wanita kaya itu. Jika suaminya tak pernah berada di rumah, bahkan santer terdengar gadis yang akan dinikahi suaminya sudah berada di Jakarta.
...
Faris Al khalifi, mendatangi rumahnya yang tak terawat. Banyak daun-daun kering di teras rumahnya. Lampu bohlamp masih terang benderang, sesekali berkedip karena kehabisan daya. Lantai kotor akibat debu menghiasi keramik warna biru laut itu.
Pria dengan tubuh tak terurus itu bertanya-tanya kemana perginya sang Ibu yang tak ada kabarnya sama sekali. Nomor ponselnya tak aktif, adiknya pun tak bisa Ia temui. Dirinya bahkan dalam pengejaran aparat kepolisian karena merusak dan membuat keonaran di rumah pengusaha besar Chandra Wijaya, juga telah menyerang putra semata wayangnya.
“Pak, Kalian nggak pernah lihat ibu atau adik Gue pulang ke rumah?” tanya Faris tak sopan. Pria dengan kumis dan janggut yang dipenuhi jenggot tipis itu membuat warganya pangling.
“Oh, Lo anaknya Bu Asri? Udah hampir seminggu Ibu Lo nggak pulang. satu lagi, banyak juga yang nanyain keberadaan Lo! lebih baik selesaikan urusan Lo sebelum kembali kemari! warga jadi nggak tenang.”
“Sial! Giliran Gue susah begini, cewek Gue nggak bisa dihubungi lagi. Nyokap Gue kemana coba, pakai acara minggat segala dari rumah.”
Brakk!!
Faris menendang bangunan yang terbuat dari potongan-potongan kayu bercat merah dan putih itu. Dalam hatinya mengumpat, Jika Ia bertemu dengan adiknya Ia akan menyiksanya dan tak memberinya ampun. Gara-gara kepergiannya, hidupnya menjadi susah seperti sekarang ini.
…
Dion menuruni tangga, diikuti oleh Kania. Pria berlesung pipi itu sengaja mengganti piamanya dengan warna senada dengan yang dikenakan Kania. Gadis itu terus tertawa di belakangnya. Melihat seorang jagoan mengenakan warna baby pink seperti dirinya.
“Wah-wah, coba lihat!” suara Agnes meminta perhatian Suaminya dan para pekerjanya yang terpaksa bangun pada jam istirahatnya.
Suuiiitt suiittt…
__ADS_1
Ujang bersiul melihat wajah Dion tampak segar akhir-akhir ini. Anak majikannya itu jarang keluar rumah semenjak dirinya mudah sakit beberapa hari kemarin. Ujang melihat keduanya seperti sepasang pengantin baru yang masih malu-malu.
“Mbak Kania sama Mas Dion itu cocok lho kalau bersama. Ayo Mas, ditemani makan seblaknya buatan Ujang, di jamin pedas dan segar…” mereka semua memperlakukan Kania dengan sangat manis. Sesekali gadis itu menahan mual, dan semuanya bersiap dengan kantung plastik di tangan mereka.
Setelah menikmati separuh mangkuk, Kania merasa puas dan hendak pergi tidur. Ujang dan yang lain tampak kecewa, karena Kania tak menghabiskannya.
“Kok udah?”
“Hmm, udah! udah kenyang Bu! Eh tante…” Kania menengadahkan tangannya kepada Dion, meminta ponselnya. Dion menatap Kania dan mengacak rambutnya lalu beranjak dari meja makan. Kania terus mengikutinya, hingga pria itu masuk ke kamar dan duduk di meja kerjanya.
“Ayo Masuk! Katanya mau ambil hape nya?” pinta Dion.
Kania ragu, ‘Bagiamana ini! Pasti Sigit sudah menunggu.’ Bahkan sekarang sudah pukul sepuluh malam.
“Mas Dion, Please! Kania cuma mau minta hape aja kok!”
“Ya Ayo masuk! ambil sendiri nih Gue simpan di laci.”
Kania mondar-mandir di depan kamar Dion. Jika dirinya meminjam nomor Ujang, pasti Sigit berpikiran macam-macam. Gadis itu tak mau membuat Sigit berpikiran lebih tentangnya, mengingat pacarnya baru saja sembuh dari sakit.
“Mas…!”
“Iya sayang! Masuk, di dengar Mama Lo nggak malu?” hahaha…
Dion penasaran, pria itu membuka laci meja kerjanya dan menyalakan power ponsel Kania. Terpampang wallpaper cantik foto sekretarisnya. Membuat Dion tersenyum kecil melihat gadis dengan rambut di kepang dua. Dion membuka ponselnya, Ia melihat foto pertama yang Ia ambil dari Kania saat mereka pertama bertemu.
“Hahaha… jorok banget asli bocah ini waktu itu. Untungnya makin kesini, udah nggak pernah slebor seperti sebelumnya.” Kania mengendap masuk, saat melihat Dion lengah gadis itu bersiap mengambil ancang-ancang untuk mengambil ponselnya dan segera berlari keluar.
Kania sudah mengganjal pintu kamar Dion sebelumnya, supaya tidak tertutup. Kania mengambil napas jauh-jauh sebelum menghitung satu sampai sepuluh. Rasanya begitu mendebarkan, Kania berdoa dan mulai berjalan berjingkat.
Saat sudah berada di belakang Dion, tangan Kania terulur dan mendapatkan ponselnya dalam genggaman. Jantung Kania sudah berdebar tak normal, keringat dingin membasahi piamanya. Saat berbalik, Kania menatap dirinya dalam pantulan cermin besar di lemari milik Dion, di mana Dion juga tengah menatapnya dengan senyuman menggoda.
“Cih! Pintar juga, tapi Kamu tetap nggak selamat malam ini, sorry Sigit!”
__ADS_1
“Tante…!!” teriak Kania.