
Di Jakarta, Agnes dan Chandra meminta bantuan bawahannya untuk mencari keberadaan Asri, ibu Kania. selama beberapa hari wanita empat puluh tahunan itu menghilang. Apalagi setelah mendengar berita Faris menjadi target pencarian polisi karena melakukan penyerangan di rumah bos Kania.
Dengan bantuan beberapa intel, Asri akhirnya dapat ditemukan. Dirinya ternyata berada di panti sosial dan sedang mendapatkan bimbingan. Tentu saja Agnes dan Chandra merasa terkejut menemukan Ibu kandung Kania di sana. Tanpa kesulitan, Asri akhirnya dibawa kembali pulang oleh kedua orang tua Dion.
“Bu, saya atasan Kania sebelumnya. yang sekarang telah digantikan oleh putra saya, Dion.”
Asri merasa terkejut, baru kali ini Ia melihat keluarga kaya yang sangat baik dan benar-benar peduli pada anak gadisnya. Asri terharu, tak menyangka jika orang yang selalu Kania ceritakan berada dihadapannya sekarang.
Asri bersimpuh, mencoba untuk berterima kasih. tak tahu apa lagi yang bisa Ia sampaikan. Asri menceritakan bagaimana dirinya bisa berada di tempat itu. supaya anaknya tidak mendapatkan malu. Agnes memintanya kembali untuk duduk dan memulai menceritakan kisah pilunya.
Asri terpaksa pergi dari rumah karena Faris terus merongrongnya. Meminta sejumlah uang, bahkan hampir menghancurkan seisi rumahnya demi mencari sertifikat rumah itu yang hendak dijual. Wanita dengan dua anak itu babak belur menerima kekerasan di sekujur tubuhnya. Dan surat penting satu-satunya yang Ia miliki kini telah berpindah tangan.
“Lalu, siapa yang membantu Bu Asri keluar dari rumah itu?” Agnes menyiapkan tisu. Tangannya gemetar mendengarkan cerita yang diluar nalar. Bagaimana seorang putra tega menghajar ibu kandungnya. Ia jadi sangat bersyukur memiliki Dion.
“Tetangga yang melihat saya terkapar di depan pintu, Bu Agnes. Lalu saya dibawa ke puskesmas dan dirawat beberapa hari di sana.”
Setelah keluar dari balai pengobatan itu, Asri berjalan menyusuri jalan pintas yang menuju ke terminal. Namun Ia melihat Faris sedang berfoya-foya dengan para tuna susila di sebuah kafe remang-remang. Asri yang masih dalam masa pemulihan menghampiri putranya.
Naasnya, dua buah mobil patroli telah mengincar tempat lokalisasi itu. dan menjaring mereka semua yang berada di sana. Faris dapat melarikan diri, namun tidak untuk wanita itu. Hingga sampai sekarang, kedua anaknya tidak ada yang mengetahui keberadaannya.
Asri terisak, Ia sangat malu. Bahkan Semua bantuan dari bos Kania selama ini juga habis dimakan Faris. Kania bahkan tak merasakan sedikitpun.
“Astaga Bu Asri, saya sampai nggak bisa berkata apa-apa lagi. Maaf ya, tapi kelakuan putra Anda sudah sangat keterlaluan. Kania sampai sedih mencari keberadaan Anda. Untuk itu kami mencari Bu Asri.”
__ADS_1
“Bu, Putra Anda dalam pencarian polisi setelah menyerang putra kami, Dion. dengan membawa belasan preman ke rumah. Jadi saya tidak bisa memaafkannya. Sekarang Kania dan Dion sedang ada urusan pekerjaan di luar Jakarta, Bu Asri bisa tinggal disini sampai Kania kembali.”
Asri tak kuasa menahan malu. Sekali lagi putranya mencoreng harga dirinya yang sudah lama sirna. Karena tak memiliki pilihan, Asri pun setuju. Agnes sempat berpikir jika Ibu Kania terpaksa menjadi wanita malam karena terciduk petugas sosial. Untungnya pikirannya salah, sudah dua kali Agnes berpikiran negatif kepada keluarga Kania.
‘Ampun pikiranku kenapa sih ini, untungnya aja nggak benar. Bisa dimarahin Papa sama Dion kala sampai tahu, Mama punya pikiran jahat begini.’
“Saya sudah lelah Pak Chandra, saya pun merelakan jika putra saya di jebloskan ke penjara. Saya tidak ingin Kania yang akan mendapat imbasnya nanti, karena kelakuan Abangnya.” Chandra pun mengangguk setuju. Sayangnya sampai sekarang keberadaan Faris belum juga diketahui.
...
Sigit dan Yoshi berpisah. Kamar mereka berjarak cukup jauh, karena Sigit yang memutuskan untuk tak terlalu ikut campur urusan orang tuanya. Dewa pun menghargai jika putranya ternyata sudah dewasa dan mulai menjalani kehidupan normal lagi seperti sebelumnya.
“Lo nggak apa-apa kan Gue tinggal sendiri?” sambil melihat jam di tangannya, Sigit pamit. “Lo pikir Gue bocah, yang takut ditinggal sendirian!” Sigit tersenyum kecil sambil lalu. kekasih Kania tak kembali ke kamar. Ia malah kembali ke pantai, menyusuri pesisir di malam hari yang tampak menenangkan. Pria itu kembali kesepian tanpa kekasihnya.
“Apa Gue saking kangennya, sampai semua gadis di Bali mirip Kania?” ucapnya. ‘rambutnya yang indah, wajah mungilnya, bibirnya yang merona, senyum manisnya juga.’ Sigit mengacak wajahnya. Seorang gadis manis dengan midi dress bahu terbuka berwarna putih. Rambutnya yang hitam legam terurai berterbangan bersama angin malam.
Semakin malam pikiran Sigit menjadi tak karuan. Pria itu kembali ke hotelnya dan terus berusaha mencari kabar tentang pacarnya.
‘Kania, Kamu benar-benar marah?’ Sigit menatap layar ponsel itu.
...
Di sisi lain, Dion mengejar gadis yang terus berjalan meninggalkannya. Bahkan Kania tak mengenakan jaket juga alas kaki. Gadis itu bermain air laut di hari yang sudah malam.
__ADS_1
“Hey jangan jauh-jauh! Kamu malu ya gara-gara kejadian tadi?” sampai Dion mendapatkan gadis itu dan memeluknya dari belakang.
“Mau lari kemana lagi kamu! Kania, kamu belum menjawab pertanyaanku, Aku serius. Kembali dari sini Aku akan melamar mu. Sekarang kita kembali ke penginapan, nggak baik kamu kena angin malam terlalu lama.”
“Aku rindu sama Ibuku, Mas! sudah beberapa hari ini Aku memikirkannya.”
“Jangan khawatir, Ibumu sudah ada di rumahku, Mama tadi sudah memberi kabar. Sekarang pikirkan Aku saja ya! bagaimana kalau kita berbagi tulang?” Dion memasang senyumnya yang menggoda.
“Maksudnya?”
“Kamu jadi tulang rusukku, Aku jadi tulang punggungmu!” Kania tertawa mendengar gombalan receh dari Dion.
“Ih modus, dasar cowok perayu! Nggak cocok, tahu nggak!”
“Iya Gue tahu, Gue cocoknya jadi pendamping hidupmu, Kania.” mereka berdua berjalan bergandengan kembali ke penginapan. Hati gadis itu menjadi hangat, mendengar keluarga Dion benar-benar peduli dengannya. sekarang tak ada yang perlu di khawatirkan lagi. Hanya pria manis berkulit putih yang terus menganggu pikirannya. ‘Sigit...’
Di dalam ruangan besar itu semua temannya tengah bersantai di depan televisi. Merebahkan diri beralaskan kasur lantai. Vicky memberikan akses ke kamar yang Ia maksud.
“Bro, ini Gue serahkan akses kamarnya ke Lo ya! besok Gue harus berangkat pagi, hubungin Bayu aja kalau ada apa-apa, kalau Gue nggak ada balasan, oke!” Dion mengangguk. Sedangkan Iwan menatap dua temannya dengan wajah bingung.
“Kalian berdua lagi main apa sih? Gue nggak diajak?”
“Justru Lo nanti yang main!” sambung Dion.
__ADS_1
“Main?”
...