Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 83. Mengulur Waktu


__ADS_3

Niat hati ingin merasakan liburan, tetapi tetap saja harus sibuk mengurus misinya membantu si cungkring untuk bertemu Yoshi. Beruntungnya ada si paling rajin bangun pagi dan istrinya yang sudah siap-siap dengan sarapan di sana. Sedangkan yang lain masih enak-enak bergulung selimut.


“Yang, jangan lupa di minum susunya. Aku pulang agak terlambat ya! banyak teman di sini, jadi jangan rewel! Jangan dekat-dekat sama Bayu, apalagi sama Dion!” pesan Vicky panjang lebar.


“Heh! Nggak bosen-bosen bawa nama Gue!”


“Pret! Lo kan senang kalau nggak ada Gue yang jagain Bini Gue! Jangan lupa Bro, setengah jam setelah Gue berangkat Lo stand by ya!”


“Kalian pada sibuk ngomongin apaan sih? dari semalam kalian bertiga itu mencurigakan tahu nggak!” Dista penasaran. Biasanya wanita itu tak pernah ketinggalan berita, tapi kali ini urusan laki-laki. Dista, Kania dan Isya tak boleh tahu. Yang ada semua rencananya akan gagal total.


“Udah ya sayang, kamu fokus sama Abang aja! antar sampai depan dong! Malas dilihatin mereka kalau mau minta morning kiss kamu!”


“Halah, paling rasanya juga begitu! sambar Dion.


“Siapa yang semalam gagal french kiss, hahaha...”


Vicky dan Dista pergi meninggalkan Dion dan Bayu di meja makan. Sembari membagi tugas dengan serius.


“Bro, Gue besok harus balik! Jadi jangan bikin Gue kerja dua kali hari ini!”


“Eh, mana bisa? Makannya lakukan yang benar, Lo nggak lihat si Iwan udah kayak orang kesambet! Tiap malam murung, diam aja.”


“Kenapa nggak kita carikan pacar aja buat Iwan, gampang kan?”


“Ya itu mah Lo! gampang jatuh cinta, gampang bubar, haha... udah Bro serius Gue telepon Yoshi dulu!”


Dion memeriksa kamar di mana kania masih tertidur, wajah bantal gadis itu membuat Dion ingin mengganggunya. Sayangnya baru Dion akan mengecup pipi putih yang semakin berisi itu, teleponnya tersambung.


Yoshi


[Ad apa Dion? Gila ya pagi-pagi begini iseng telepon Gue!]


Dion


[Yoshi, Gue ke rumah Lo dan kata bokap Lo ke Bali, Gue mau kirim hadiah pernikahan Lo buruan kasih alamatnya!]


Yoshi berulang kali menolak untuk memberitahu. Karena dirinya tak ingin menjadi bulan-bulanan Dion. terlebih Dion adalah yang paling dekat dengan Iwan. Pasti segala cara akan dilakukan pentolan geng itu untuk membalas dendam. Yoshi sangat mengenal Dion dengan baik.


Dion

__ADS_1


[Heh! Kok diam aja! kurirnya udah mau berangkat Yoshi, hadiahnya dikirim langsung dari Bali, buruan!]


Yoshi pun menyebutkan nama hotel tempat mereka menginap. Setelah cukup berbasa-basi, Dion mengakhiri panggilannya, dan meminta Iwan untuk bersiap tanpa harus banyak bertanya. Dion dan Bayu mengajak Iwan jalan hanya bertiga tanpa kaum hawa yang merepotkan.


“Bro, bangun Bro! temenin Gue ketemu klien hotel Legian”. Yang ternyata tak jauh dari penginapan mereka. Vicky cukup jeli menghitung semuanya. Meski tempat yang Ia sewa sangat mahal, tapi sesuai dengan ekspektasinya.


Iwan keberatan. Pria cungkring itu menolak. Katanya berlibur malah diajak menemui klien. Setelah dipaksa Bayu, akhirnya Iwan bersedia.


“Brengsek! Lo niat ketemu Klien apa jalan-jalan sih bro? masa jalan kaki?” Iwan terus mengomel sepanjang jalan. karena memang lokasinya tak jauh kata Vicky.


“Sial! Gue juga nggak tahu kalau ternyata lumayan juga kalau jalan kaki!”


“Ah! Harusnya Gue nggak pernah percaya sama Lo berdua. Lo nggak kasihan sama cewek-cewek di penginapan? Siapa tahu nanti di bawa bule-bule Bali.” Iwan menakut-nakuti mereka, karena jengkel telah dibuat berkeringat sepanjang perjalanan.


“Nanti pulangnya naik taksi lah!” balas Dion “Tapi Lo akan berterima kasih sama kita nanti, sabar bro!”


“Dih najis, jangan harap!” Iwan melihat tulisan nama hotel yang di maksud Dion. ternyata sudah ada di depan mata. Namun, perasaannya menjadi berdebar memicu adrenalin. Seakan ada yang menantinya di sana.


Dion dan Iwan bernapas lega, pendingin ruangan tengah membasuh keringatnya.


“Sumpah, baru kali ini enak banget kena angin AC!”Dion dan Bayu mengibaskan kemejanya di damping Iwan yang berdecih.


Dion meminta Bayu dan Iwan pergi ke lantai dilantai kamar Yoshi berada. Sedangkan Dion meminta resepsionis untuk memanggil Yoshi untuk turun ke lobby, karena ada tamu untuknya. Dion berpikir jika Bayu bisa diandalkan.


Seorang gadis berambut coklat keluar dari kamar dan hendak menuju lift untuk ke lobby. Namun suara seseorang menghentikannya.


“Yoshi, mau kemana?” Sigit berjalan menghampiri Ibu tirinya. Iwan yang baru saja keluar dari lift, nyaris berpapasan dengan mereka.


“Yo-shi!” bisiknya,


“Mana ada Yoshi? ucap Bayu tak sadar. Keduanya pun menoleh ke sumber suara. Beruntungnya pintu lift belum tertutup. Iwan menarik leher Bayu dengan kuat.


“Heh! Kira-kira dong Bro!” Bayu mengusap lehernya yang terasa tercekik. Sayangnya, saat mereka kembali ke lantai itu, Iwan justru kehilangan mereka berdua. Yoshi dan Sigit.


“Bro! Gue nggak salah lihat kan? tadi Yoshi kan Bro?” Iwan berjalan menyusuri lantai itu menatap ke kiri dan ke kanan. Saat Bayu sedang memperhatikan sekeliling, Iwan mendengar obrolan dua orang yang mengarah ke ujung tangga menuju ke rooftop.


Iwan mengikutinya. Sigit dan Yoshi, mereka berdua sedang membicarakan sesuatu. Iwan hanya berjarak dua meter dari mereka. Bayu menghubungi Dion, karena kehilangan Iwan.


“Ah, si kampret ini benar-benar! Tunggu, Gue kesana!”

__ADS_1


...


Iwan bersembunyi saat Sigit menuruni tangga. Dan setelah tak tampak lagi punggungnya Iwan segera menghampiri gadis yang Ia pacari selama lima tahun. Perlahan langkahnya, hatinya berdegup kencang. Rupanya ini rencana teman-temannya. pantas saja sikap mereka bertiga sangat aneh.


Sebuah tangan menepuk di pundak gadis tomboy itu dengan lembut, membuatnya terkejut dan berbalik.


“Kok balik lagi Sigit!”


...


Kedua pasang mata itu bertatapan tak percaya. Seketika tenaga gadis itu lenyap tak bersisa menatap kehadiran pria cungkring pelipur lara nya. Gadis itu melebarkan tangannya dan memeluk pria jangkung itu.


“Heh! Kenapa Lo baru sampai disini? Kenapa Lo baru temui Gue sekarang? Bukannya semua sudah terlambat! Dasar bego!” suara Yoshi diiringi isak tangisnya. Iwan pun haya diam, mengeratkan pelukannya tanpa mengatakan sepatah katapun.


“Iwan, Gue kangen sama Lo! bilang sesuatu!” Yoshi tak melepaskan pelukannya. Bayu menyusuri lantai sepanjang lorong sampai ke tangga menuju rooftop, Bayu melihat sepasang kekasih itu. dan memintanya untuk pergi dari sana.


“Heh! Nanti aja kalian ngobrolnya, sekarang kalian ikut Gue, buruan!”


Bayu adalah anak yang baik. hampir tak pernah berbuat kenakalan semacam ini seperti ketiga temannya. Sejak pertama ikut misi Vicky dan Dion, hatinya diliputi rasa cemas. Ia khawatir akan menggagalkan rencana mereka.


“Bayu, Lo juga di sini?”


“Ini pasti-...!”


“Udah jangan banyak omong, cepetan ayo!” Iwan menarik tangan Yoshi dengan semangat, begitu juga Bayu. Jantungnya terus berdebar. Pria kalem itu terus berdoa untuk dilancarkan urusannya hari ini. kalau tidak bisa habis di rujak pentolan gengnya.


Mereka bertiga terus tertawa, tak biasanya mereka terlibat dalam situasi menegangkan seperti ini. ditambah Yoshi lupa memberi tahu kedua temannya, jika mereka ke Bali tak hanya berdua. namun Yoshi belum ada kesempatan untuk memberitahunya.


Saat menuruni tangga menuju kamar yang di maksud. Bayu dengan gugup membuka pintu kamar dengan kartu akses yang diberikan Dion.


Tiitt! Pintu terbuka.


“Ayo masuk!”


Saking semangatnya mereka bertiga bahkan sampai tak menyadari, jika seorang pria tengah berdiri dengan melipat tangannya di dada.


“Kalian semua sedang apa?”


...

__ADS_1


__ADS_2