Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 110. Pria Berbahaya


__ADS_3

Hujan kembali mengguyur Jakarta, suasana malam ini membuat hawa dingin begitu mencekam. Kania mengingat sore hari saat menerjang hujan bersama pria yang ia juluki preman stasiun itu. Sesekali tersenyum mengingat tingkah konyolnya. Namun, saat sendiri seperti ini Ia merindukannya.


Kania khawatir, karena sudah satu jam lebih mereka belum kembali. Ia tak ikut mengantar Vicky ke bandara karena memang ingin beristirahat di rumah. Setelah main hujan sore tadi, Kania mulai terserang flu, dengan terus bersin-bersin karena kedinginan.


Bersandar pada headbord ranjang Kania terus menunggu Dion kembali. Dengan terus membolak balik lembar halaman novel favoritnya, pikiran Kania mendadak kemana-mana. Sampai notif pesan masuk dari ponselnya menyadarkannya. “Yoshi?”


Yoshi


[Kania besok kita mal yuk! Tapi cuma kita berdua, bisa?]


Kania


[Hah? kenapa tiba-tiba? Kebetulan besok Dion udah mulai masuk kantor, beritahu saja di mana kita bisa bertemu?]


Yoshi


[Gue tunggu di Grand Indonesia ya, jam satu siang jangan lupa!]


Kania


[Oke, besok kita berkabar lagi.]


Selepas berbalas pesan, terdengar suara pintu kamar terbuka. Kania dengan cepat memejamkan matanya. Ternyata Dion baru saja pulang, Ia berpikir Kania sudah tidur karena penerangannya sudah dimatikan. Selepas membersihkan diri pria itu mengambil bantal dan selimut dari dalam kamarnya dan keluar kamar.


‘Mas Dion, mau kemana?’ batin Kania, pikirannya semakin yakin, jika Dion memang belum bisa berubah.


...


Di sebuah Kafe, Christian tengah mengerjakan pekerjaannya. dengan pastry dan secangkir kopi buatan Richie. Jo yang sedang sibuk melakukan pembukuan membuka laci di meja kerja milik Sigit, dan Ia menemukan secarik laporan pemeriksaan kesehatan seorang gadis tempo hari.

__ADS_1


“Chie...,” panggil Jo.


“Jo, panggil nama Gue yang lengkap bisa? Richie... ngajak ribut Lo mentang-mentang nggak ada bos disini!” mereka berdua biasa berdebat perkara kecil seperti itu, membuat Sigit selalu merasa senang karena tak pernah merasa kesepian.


“Iya bawel, Lo masih ingat nggak sama gadis yang waktu itu?” sembari membawa secarik kertas itu dan menunjukkannya. Jo dan Richie tengah mengobrol berdua. awalnya Chris tengah fokus, namun lama kelamaan telinganya mendadak terganggu, lantaran dua barista itu berulang kali menyebut nama Dias.


“Mas, kalau boleh tahu siapa nama lengkap wanita itu?” Chris menghentikan pekerjaannya dan mendekati meja Jo dan Richie.


“Oh, memangnya kenapa Mas? Mas kenal? Apakah saya mengganggu Anda? Saya minta maaf untuk itu,” tukas Jo sembari melipat kertasnya. Namun Chris penasaran, karena sampai saat Ini Dias juga tak terbuka terkait masalah dirinya yang tak kunjung hamil. Ingin sekali Chris merebut kertas itu, tetapi Ia merasa tak sopan.


“Saya hanya memastikan jika itu bukan nama kerabat saya.” Richie yang terus melarang Jo untuk memberitahukan perihal rahasia itu, justru membuat Jo menyerahkan secarik kertas itu kepada Christian. Ia berpikir jika tak saling mengenal, maka tak akan terjadi masalah.


“Ini Mas, baca saja sendiri!”


Setelah menerima kertas itu, perlahan jantung Chris mendadak berdegup kencang. Aliran darahnya mengalir cepat membuat seluruh tubuhnya bergetar. Saat melihat nama yang tertera di barisan paling atas, Chris jatuh terduduk.


“Mas! Mas Anda tidak apa-apa?” Jo reflek memegang tubuh Chris. Tangannya meremas kertas itu meski tak seluruhnya. Chris menyingkirkan tangan Jo dan berterima kasih, setelah membayar pesanannya Chris menitipkan barang-barangnya kepada kedua karyawan Sigit di kafe.


“Eh...” Chris berlalu, sebelum Jo menyelesaikan ucapannya.


Chris telah tiba di depan ruang perawatan Dias. Ia terlambat karena Di sana Ia melihat Gunawan telah bersama beberapa anggotanya telah menyisir rumah sakit itu untuk mencari keberadaan tahanannya. Chris dengan napas terengah menghampiri pria Tiga puluh tahunan itu.


“Pak, ada apa ini?”


Gunawan menoleh, melihat wajah Chris yang berkeringat dan sepertinya tak mengetahui apa yang sedang terjadi.


“Wanitamu hilang, katakan di mana kamu sembunyikan?”


Chris membeku, “hilang? Padahal saya meninggalkannya baru satu jam yang lalu untuk ke kafe depan saja. Perawat mengatakan jika Ia belum sadar, jadi saya pikir tak masalah jika masih dalam lingkup rumah sakit.” jelas Chris meremas kertas di tangannya semakin jadi.

__ADS_1


“Berarti wanita itu sudah pergi satu jam yang lalu. Periksa ruangan CCTV sekarang, jangan sampai kita kehilangannya lagi!”


...


Suara gaduh membangunkan tidur panjang seorang wanita. Kepalanya terasa pusing. Sayup sayup matanya mulai melihat segala sesuatu di sekelilingnya.


“Ruangan apa ini? Huh!” Tangan dan kakinya mati rasa tak dapat di gerakan. Bukan, ternyata kedua tangannya terikat di sisi ranjang, begitu juga kakinya. Berusaha keras untuk bangkit, namun tenaganya tak cukup mampu.


Melihat sosok pria dengan kemeja putih tengah memunggunginya. Saat pria itu berbalik, di tangannya terdapat ampul yang berisi cairan dan juga alat suntik.


“Siapa kamu?” teriak Dias tanpa daya.


Langkah pantofel itu semakin dekat dengan ranjangnya terbaring. Tampak wajahnya tersenyum meski hanya dari sorot matanya saja. Meskipun masker menutup setengah wajahnya membuat Dias tak sulit untuk mengenalinya.


“Apa maumu? Lepaskan ikatanku, dasar psiko!”


Hahaha...


“Harusnya kamu berterima kasih, karena saya sudah menyelamatkanmu dari jeratan hukum. Bahkan orang tua dan pria bodoh mu itu tidak bisa membantumu! Hutangmu semakin banyak kepadaku!”


Tatapan itu sungguh menusuk, seakan hendak melahap mentah-mentah wanita yang terbaring tak berdaya itu. kulit putihnya berubah menjadi kemerahan, akibat terus meronta meskipun usahanya sia-sia, karena ikatan itu cukup kuat mengikatnya.


“Rasanya sayang, jika melewatkan makan malam ini. meskipun kamu tak bisa memberikan keturunan, pasti rasanya tetap enak untuk dinikmati.” Jemarinya menyusuri wajah manis mantan kekasih Dion itu.


“Hentikan! Apa yang kamu lakukan?” isakan Dias tak di dengar oleh pria itu. saat perlahan jarum suntik telah menembus kulitnya yang halus. Dias memejamkan matanya, saat pria itu mendorong injeksi itu hingga cairan itu habis tak tersisa.


“Rasa sakitnya hanya sementara, kamu akan menikmatinya nanti. Ini hukuman untuk wanita yang tidak tahu di untung!”


“Maafin Gue Om... tolong hentikan!!”

__ADS_1


...


__ADS_2