
Mendengar suara gadis bertubuh langsing yang sedikit basah kuyup itu, lantas keduanya menoleh. Dista segera menjauhi pria yang tengah top-less itu dengan wajah yang sama terkejutnya. Di serahkannya kotak obat itu kepada Kania.
“Ah, beruntungnya Lo cepat kembali. Kita berdua tidak berbuat apapun, Dion terluka lekas obati!” kini giliran Kania yang terkejut, melihat luka bekas jahitan sepanjang lima senti di bahu suaminya.
“Sorry Dis, Gue nggak tahu. Bisa kah tolong buatkan teh?” pinta Kania dengan mengambil alih obat itu. dengan senang hati wanita hamil itu menyanggupi dan menjauh dari pasutri absurd itu.
“Memangnya ada siapa sayang? Oh iya, kamu keluar dengan siapa? Aku pikir kamu pergi dengan di Dista,” tanya Dion dengan merengkuh pinggangnya yang kecil. Kania gelagapan, karena Ia tak sempat mengatakan jika Ia keluar dengan Sigit selain bersama Yoshi.
Berusaha mengalihkan pembicaraan, Kania mengajak Dion untuk ke kamar sembari mengobati lukanya. Dengan senang hati pria tampan berlesung pipi itu segera beranjak dari bangkunya.
“Tumben kamu inisiatif, haha... Kamu tahu sayang, Aku kangen banget sama kamu...”
“Idih gombal!”
...
Dengan hati-hati Dista mengantar minuman hangat itu ke ruang tamu. ternyata tamu yang dimaksud Kania adalah Sigit Virgiawan. Untung saja Kania berhasil membawa Dion pergi dari sana. Namun, untuk apa Sigit berani mampir ke rumah rivalnya.
“Om, Sigit silakan diminum teh nya!” Dista dan Agnes pun pergi meninggalkan dua pria yang sepertinya tengah membicarakan hal penting terkait pekerjaan. Sigit melambaikan tangan kepada Dista sebelum wanita hamil itu menghilang dari ruang tamu.
“Pak Chandra, maksud kedatangan saya kemari masih tentang kontrak perusahaan yang sebelumnya pernah diajukan Papa saya, tapi sejauh ini hanya Wijaya Group yang mampu memenuhi standar untuk pembangunan rumah sakit cabang kami.”
Chandra hanya tersenyum melihat perangai pria muda di depannya. Senyumnya khas, mengingatkannya dengan dirinya semasa muda dulu. untuk seusia Sigit, sebagai seorang pengusaha profesional Chandra berusaha mempertimbangkan kembali mengingat kegigihan pemilik rumah sakit itu untuk bekerja sama dengannya.
“Jujur saja, jika Papamu yang kemari saya akan menolak kerja sama ini! Dia sendiri yang dengan mudah mempermainkan kontrak kerja dengan saya,” papar Chandra dengan menyeruput teh nya. “Diminum dulu Nak Sigit!”
Suasana dingin yang menyelimuti kediaman besar Wijaya, justru menghangatkan situasi antara Chandra dengan Sigit. Keduanya tertawa dengan mudah, banyak kesamaan satu sama lain. Sigit pun merasa Dion sangat beruntung memiliki keluarga yang hangat seperti pasangan Chandra dan Agnes.
“Jadi kontrak kerja sama kita bagaimana Pak? apakah disetujui?”
“Jangan panggil Pak, kita di luar kantor. Panggil Om juga tidak masalah, kamu seumuran dengan Dion. hanya saja kalian dua karakter yang berbeda. Saya akan menyetujui, asalkan semua pengajuan diganti semua atas nama Nak Sigit.”
__ADS_1
“Baik Pak, saya akan segera memperbarui kontraknya dan mengirimkannya segera. Berarti boleh kalau saya sering berkunjung kemari di luar bisnis kita?”
“Kenapa tidak? Kita bisa bermain catur, golf, memancing mungkin. Dion mana mau melakukan hal itu dengan Om.” Sigit merasa senang dengan kehangatan pria bersahaja di hadapannya. Membuatnya betah untuk berlama-lama berbincang dengan seorang Chandra Wijaya. Sampai Agnes memanggil keduanya untuk makan malam bersama.
“Wah, kalian berdua sepertinya cocok sekali. Membahas bisnis sampai lupa waktu, Ayo kita semua makan dulu,” canda Agnes membawa pria berkulit putih itu ke ruang makan. Sampai akhirnya dari anak tangga muncul Dion dan Kania, dan mereka pun bertatapan.
“Wah, lihat siapa yang datang?” Dion hendak menghampiri Sigit yang terus tersenyum melihat kekesalan lawannya. Ternyata mudah sekali untuk memancing amarah seorang pewaris tunggal Wijaya Group. Meskipun Sigit harus melihat kedekatan mereka berdua yang membuatnya cemburu.
Dion harus menahan rasa kesalnya melihat semua orang begitu peduli kepada mantan kekasih Kania. ‘Apa yang pria brengsek ini inginkan, sampai nekat menyambangi rumahnya bahkan diterima dengan baik oleh keluarganya.’ batin Dion yang meremas sendok dan garpu di tangannya.
“Om, Tante Sigit pamit dulu. terima kasih untuk jamuannya, saya tidak akan sungkan lagi.” pamit pria itu, membuat Dista dan Kania menahan tawa melihat ekspresi Dion.
“Sudah, pulang sana! Betah banget main di rumah mantan!” lantas ocehan Dion memicu kedua orang tuanya menoleh kepadanya.
“Mantan?”
“Mantan karyawan Om, Tante.” aku Sigit membuatnya sakit hati dengan pengakuannya sendiri. “Oh iya Kania, belanjaan mu masih ada yang tertinggal di mobil. Tunggu sebentar ya!”
“Jadi kalian pergi berdua?”
...
Sigit telah membawa kemenangan untuk perusahaannya. Hal itu di karenakan Dewa terus merongrongnya untuk mengejar perusahaan Chandra Wijaya. Sedangkan Ia sendiri tengah menjalankan bisnis gelapnya di luar Jakarta tanpa sepengetahuan siapa pun.
Yoshi dan Rosi semakin asik dengan obrolannya. Sudah lama Wanita dengan dua putra itu menyimpan sebuah rahasia besar. Entah sampai kapan Ia mampu menyimpannya lebih lama. cepat atau lambat semua orang akan tahu, terlebih suaminya Dewa yang sudah curiga cukup lama.
“Mbak, jangan buat aku penasaran apa Sigit tahu siapa pria itu? maksudku siapa papa biologisnya?” Yoshi sampai menghabiskan banyak air untuk mencerna setiap pernyataan Rosi. Ia merasa kehidupan orang dewasa memang sangat memusingkan. Ia menyesal, menjadi dewasa terlalu cepat.
“Yoshi—Yoshi, jangankan Sigit bocah polos seperti itu. Saya saja juga belum tahu siapa pria itu.”
“Astaga Mbak, apa Sigit anak di luar nikah?”
__ADS_1
“Hus! Ngaco kamu! jadi ceritanya ...”
Beberapa tahun lalu Rosi melahirkan seorang anak laki-laki yang bernama Bagas Virgiawan. Dewa sangat menyayangi anaknya, karena memang mendambakan anak laki-laki begitu besar. Sampai Bagas berusia dua tahun, Ia memiliki kelainan dalam darahnya. Dan Dewa selalu mengupayakan putranya untuk tetap sehat bagaimanapun caranya.
Lambat laun, Dewa meminta Rosi untuk hamil lagi sayangnya Ia mengandung bayi perempuan. Dewa begitu marah dan merubah tabiatnya secara perlahan. sebegitu bencinya Dewa dengan anak perempuan yang katanya hanya bisa merepotkan juga tak berguna.
Hingga Rosi stres saat suaminya memintanya untuk menggugurkan janin yang berusia hampir hampir lima bulan. Padahal tanpa Dewa ketahui, janin perempuan tersebut juga mengalami kelainan genetik. Jika terlahir pun akan memiliki cacat lahir.
Brak!! Yoshi menggebrak meja karena tidak tahan dengan cerita dari Rosi yang dengan sabar terus bercerita. Meskipun sesekali mengusap air matanya yang berjatuhan.
“Kamu ngagetin aja Yoshi!”
“Ya Tuhan, Lalu bagaimana keadaan Mbak saat itu? Habis, kesal Aku dengar ceritanya.” Rosi tertawa kecil, kemudian melanjutkan ceritanya.
Rosi adalah wanita kuat. Dewa selalu menemaninya sampai Ia sembuh setelah sempat kritis dua minggu. Rosi berpikir jika Dewa akan berubah, ternyata Ia salah. Rosi diminta untuk melahirkan bayi laki-laki bagaimanapun caranya. Dengan terus melakukan hubungan tanpa henti.
“Ih Najis! Ya Tuhan, Mahluk apakah Mas Dewa ini... lalu, Mbak Rosi bisa hamil lagi?” tanya Yoshi penasaran.
“Nggak bisa Yoshi, maka dari itu saya sempat putus asa, tetapi tiba-tiba seorang teman memberikan saran untuk proses inseminasi buatan. Karena Mas Dewa memiliki kelainan genetik pada benihnya.”
“Apa lagi itu...?” Yoshi garuk-garuk kepalanya. “Mbak, Aku jadi takut kalau nanti aku hamil, mungkinkah bisa terjadi hal serupa?”
“Berdoa saja Yoshi, semoga tidak akan terjadi apa-apa. Jika Tuhan berkehendak memberikan keturunan yang baik untukmu, maka hal itu yang akan terjadi percayalah!”
“Aamiin, semoga saja. Tapi Mbak, Sigit begitu sempurna tampan, cerdas dan lemah lembut, bukan tidak mungkin Papanya adalah orang yang memiliki semua sifat dan karakter itu kan?”
“Mungkin, petugas lab yang memberikan donor benih itu mengatakan jika Ia adalah pengusaha yang sukses. Hanya saja, karena hal itu rahasia maka identitasnya tak boleh bocor. Saya pun juga penasaran, ingin bertemu dengan pria itu, hanya saja hal itu mustahil.”
“Nggak ada yang mustahil Mbak, tapi Pengusaha sukses? tampan, dan cerdas, yang seperti Sigit? Siapa ya?”
...
__ADS_1