
Pria maskulin yang sedang menikmati makan siang, harus berlari menuju ruangan pasien yang dalam pengawasan. Ya, Gunawan mendapat laporan jika ruangan Dewa terbakar dan pasien mengalami gagal napas karena ventilator tidak berfungsi dan mulut pasien di sumpal.
Gunawan tak mengira jika masih ada yang berniat melukai pengusaha itu. Dalam benaknya, siapa? seingatnya sudah tidak ada. Gunawan meminta anak buahnya untuk segera memindahkan pasien dan melakukan penutupan akses keluar masuk bagi siapapun.
Setibanya di lorong, Ia menemukan baju perawat dan sebuah ... sepatu wanita. Tak salah lagi, jika pelakunya adalah orang yang sama. Orang yang sama telah menyakiti keponakannya, orang yang sedang dibicarakan pagi tadi bersama Yoshi. Siapa lagi jika bukan Anggita Dias.
“Angkat tangan!”
“Kalau Gue nggak mau, Lo mau apa?” gadis itu berbalik.
Para polisi yang berjaga segera menuju arah Gunawan berada. Bukannya takut, Dias malah melangkah menuju ke arahnya. Gunawan terkejut, melihat perubahan Dias yang sudah sangat memprihatinkan.
Sampai Ia lengah jika gadis itu menyimpan senjata tajam di sakunya. Gunawan dapat menghindar, tetapi saat Dias hendak mencoba peruntungannya lagi untuk menikam perwira tampan itu, suara letusan senjata api terdengar.
Dor!!
Dias terkejut, begitu juga dengan Gunawan yang berpikir adalah letusan peringatan untuk gadis itu. ternyata bukan. Peluru itu telah melesak, mengenai pergelangan kaki gadis itu.
“Hentikan! Tak ada perintah untuk menggunakan senjata.”
Meski berjalan pincang Dias mencoba menusukan pisau itu ke perut Gunawan, akan tetapi setelah pria itu berhasil membuang pisau itu, Dias justru merebut pistol dari tangannya. Memposisikan senjata api itu tepat mengarah ke kepalanya sendiri.
“Lihat Gue! Jangan harap seorang Anggita Dias sudi untuk membusuk di penjara, dan buat Lo Om, sampaikan salam Gue untuk Revano. Gue pernah sangat mencintainya, sampai Gue tahu kalau dia ternyata adalah kakak dari cewek yang paling Gue benci seumur hidup.”
Setelah mengatakan kalimat itu, sebuah letusan terdengar lagi dengan tergeletak nya gadis itu di depan mata Gunawan, juga anggota polisi yang lainnya. Darah segar menodai pakaian dan wajah tampan Gunawan.
“Segera bawa blankar kemari!”
“Siap pak!”
Gunawan tak menyangka jika gadis manis yang pernah menjalin hubungan dengan Vano, nekat mengakhiri hidupnya dengan cara tragis seperti ini. setelah jasad gadis itu di pindahkan ke ruang jenasah, Gunawan kembali ke ruang perawatan Dewa.
“Pak, kita juga telah kehilangan pasien. Asap dalam ruangan telah merusak paru-parunya, tubuhnya masih utuh, hanya ruangannya saja yang terbakar sebagian.”
“Hem, segera pindahkan ke ruang jenasah, bersama dengan gadis itu. segera hubungi anggota keluarganya!”
...
__ADS_1
Sigit belum terbiasa tinggal di rumah besar itu. Ia berencana pulang ke rumahnya untuk mengambil sesuatu yang penting terkait isi kontrak dengan perusahaan Chandra.
“Mau kemana Sigit?” tanya Agnes. Kali ini wanita sosialita yang tengah insyaf itu berubah menjadi posesif terhadap anak-anaknya. Lebih tepatnya anak dari Chandra.
“Mau ke Kafe Tante, Sigit harus kembali bekerja.”
“Kok Tante sih, biasakan panggil Mama ya! pelan-pelan saja, nanti juga biasa. Mama Agnes juga nggak akan pernah melarang kamu bertemu dengan siapa pun, ingat itu! jadi tak perlu sungkan.”
Sigit tersenyum, dan segera pamit. Sampai kapan pun Mama Sigit hanyalah Rosi, meskipun Agnes berusaha menjadi ibu yang baik untuknya. Setelah kepergian Sigit, Agnes mengajak Kania untuk ke dokter spesialis kandungan, yang merupakan kawan lama Agnes tempo hari. Ia ingin melihat sendiri melalui USG (Ultrasonografi).
Kania pun juga penasaran dengan berita kehamilannya sebelum Ia melihatnya sendiri. Janin pertama yang di kandungnya pertama kali harus gugur karena racun dalam tubuhnya. Sampai sekarang Kania masih belum mengetahui jika pelakunya adalah Dewa Virgiawan yang berniat merusak keluarga Chandra Wijaya.
“Sudah siap Nak?”
“Sudah Ma! Ayo!”
Agnes meremas tangan Kania. wanita yang sebentar lagi akan di panggil nenek itu merasa gugup. Agnes sudah sering merasakannya, meskipun berulang kali juga Ia diberi harapan palsu.
“Kania, semoga saja musibah yang menimpa keluarga kita segera berakhir ya, dengan hadirnya calon cucu Mama.”
Setibanya di rumah sakit, Agnes memotong antrean. Ia meminta kepada teman dekatnya untuk kali ini saja. memuaskan rasa penasarannya. Padahal sejak tadi, para calon ibu sudah mengantre sejak pagi.
“Mama, harus antre dong! Kasihan yang sudah menunggu.” Mohon Kania.
Tiba-tiba saja Agnes menghubungi sopirnya untuk membelikan sesuatu. Kania merasa tak enak, karena dirinya didahulukan oleh teman Agnes yang berprofesi sebagai dokter kandungan itu. Setelah sepuluh menit berlalu, Agnes membagikan susu ibu hamil untuk mereka yang antreannya tengah di serobot olehnya.
“Mama...”
“Hehe, mohon maaf ya ibu-ibu semuanya... sebagai permintaan maaf, supaya di terima pemberian kami yang tidak seberapa.”ucap Agnes.
Semuanya pun berterima kasih, meskipun ada beberapa yang masih merasa protes karena telah datang lebih awal untuk mengambil nomor antrean.
“Wah Mama hebat, tapi tetap saja mereka kasihan lho...”
“Sudah ayo masuk! Nanti mereka juga kesalnya hilang sendiri.”
Di dalam, Agnes sudah tidak sabar dan segera meminta temannya untuk memeriksa Kania. hatinya seakan meledak.
__ADS_1
“Buruan Rin!” pinta Agnes.
“Sabar Nes, oh iya omong-omong bukannya calon menantumu yang kemarin bukan yang ini ya?” sembari menjelaskan cerita singkat, tatapan Agnes tak lekat dari layar monitor besar di hadapannya.
“Oh, begitu... jadi Kania ini suda resmi jadi istrinya Dion? nih Nes, coba lihat!”
Perut Kania ditekan dengan transducer setelah di olesi gel yang terasa dingin di kulit. Kania pun turut menyaksikan layar berwarna hitam putih.
“Wah... ada dua janin dalam satu kantung. Apa keluarga Chandra ada yang memiliki keturunan kembar?”
“Apa Rin? Kembar?”
...
Sedang meeting penting, Dion menyalakan mode senyap pada ponselnya. Ia tak ingin konsentrasinya terganggu. Sehingga membuat penelpon di seberang sana uring-uringan karena hendak menyampaikan berita yang sangat bahagia.
“Mungkin Mas Dion sedang meeting, biasanya ponselnya di silent.” Papar Kania.
“Cie, yang sudah saling perhatian.” Goda Agnes.
Dokter yang memeriksa Kania pun tertawa. “Ya jelas perhatian dong Nes, kalau nggak mana bisa sampai muncul calon cucumu, dua lagi. sekali lagi selamat ya Kania, Agnes.”
Agnes pun memeluk teman lamanya dan berterima kasih. kelak Ia akan sering merepotkannya kedepannya. Karena janin Kania masih kecil, dalam hasil cetak usg itu tampak seperti dua buah biji yang tak lebih besar dari kacang hijau.
“Lucu ya, kecilnya begini... eh gedenya kayak Dion, pusing banget rasanya!” curhat Agnes.
“Ih Mama, jangan bilang begitu dong kan Kania takut gedeinnya.”
Keduanya tertawa dan meninggalkan rumah sakit.
Setelah meeting itu selesai, Dion melihat banyak panggilan tak terjawab dari Mamanya. Ia mengira terjadi sesuatu. Karena sudah tak ada yang di kerjakan lagi, Dion segera pulang ke rumah untuk makan siang.
“Bi, Mama kemana? Kok sepi?”
“I-itu Mas, anu... Nyonya di rumah sakit sekarang.”
...
__ADS_1