Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 32. Melayang


__ADS_3

Dias pergi ke luar, dirinya mendapat pesan dari seorang pria. Dias meminta pria itu untuk menjemputnya di depan supermarket setengah jam kemudian.


Mengetahui rumah sepi, Dias buru-buru pergi, tapi ternyata Ujang berada di rumah karena Agnes memilih membawa mobil sendiri. Ujang yang mulai curiga, mencoba untuk berbasa-basi. Dan benar saja, gadis itu merasa sudah menjadi nyonya besar di rumah Keluarga Wijaya. Sifat angkuh gadis itu mulai terkuak di depan Ujang.


Mengenakan dress off shoulders di atas lutut, dipadukan dengan heels tujuh senti membuat semua mata kaum adam tertuju padanya.


Diinn!!


Suara klakson mobil, berhenti di depan Dias berdiri. Sebuah kaca jendela diturunkan. Pria tampan dengan kaca mata hitam, menyapanya.


“C’mon Lady!”


Dias masuk ke dalam mobil, tak berselang lama mobil mewah itu melaju ke tempat langganan mereka. Bangunan dengan banyak lantai untuk memadu kasih.


“Ada apa Lo kemari?”


Pria itu meraih tangan Dias dan menciumnya. Senyum khas seorang play boy, yang membuat Dias muak.


“Hentikan Christian! Katakan apa maumu?”


“Tenang sayang, Aku merindukanmu, you know beb?”


Dias menyentuh perutnya, Ia tak ingin pria di sebelahnya mengetahui jika dirinya tengah hamil anaknya.


“Kenapa Aku nggak bisa mengunjungimu di rumah? Bukannya kamu bilang, ingin segera menikah? Untuk itu Aku datang.”


Hah... gadis itu mengusap paha Christian hingga ke pangkal. Membuat pria itu memejamkan matanya, menyerukan nama Dias dengan suara seksi miliknya.


“You make me On, Darl!”


Haha...


“Tapi sayangnya Gue udah nggak minat dengan drama percintaan Lo itu, dasar pria labil!”


Sesampainya di Lobby, Christian memberikan kuncinya kepada petugas vallet, mereka berdua menuju lift, karena Christian membuka kamar di sana.


“Ayolah, Aku tahu Kamu juga sedang haus. Aku puaskan dahagamu, as a usual.” Kerlingan mata Chris adalah kode keras untuk Dias, take and gift berlaku untuk mereka.


Chris dan Dias, keduanya sudah sampai dalam bilik panas itu. Tanpa ba-bi-bu lagi Chris melayangkan kecupan maut untuk Dias, begitu juga sebaliknya.


Chris tak pernah gagal memuaskan Anggita Dias, hingga janin berusia sembilan minggu, tertanam kuat dalam diri wanita itu.


“Apakah Aku melewatkan sesuatu, Darl? Kamu tampak menawan.”


“Tutup mulutmu Chris, lanjutkan saja kebutuhanmu, Aku hanya bisa sampai pukul tiga sore. Selebihnya, Aku terpenjara.”

__ADS_1


Jari-jari Panjang Christian menelusuri bukit dan lembah indah. Membuat Dias bisa melepaskan tawa yang sudah tertahan cukup lama.


“You’re The Best Christian!”


“Of Course, the One and Only!”


Dias menikmati siang yang panas dengan hasrat yang tinggi. Namun semangat Chris ternyata membuat Dias kesakitan.


“Ugh!”


“Can’t you move slowly, please...?”


“Did I hurt you, Darl?”


Dias mengangguk, perutnya seakan mencengkram kuat. Membuatnya mengaduh karena kesakitan.


“Sorry Christ, Gue nggak tahan!”


Dias melihat terdapat bercak merah pada sprei itu. Membuat Mereka berdua terkejut.


“Darl, Aku pikir kita harus ke rumah sakit secepatnya.”


Tak berselang lama, Dias dan Christian menuju ke rumah sakit. Perut yang terus melilit itu membuat Dias terus mengeluarkan keringat dingin. Pandangannya kabur dan sudah tak mendengar apa yang diucapkan oleh Christian.


Di sebuah rumah sakit besar, Dias di bawa ke ruang intensif untuk mendapatkan pertolongan secepatnya.


“Bukan sus, Saya temannya. Keluarganya berada di luar kota.” terang Chris.


“Pasien mengalami perdarahan, ada luka pada leher rahim, setelah di periksa riwayat pasien pernah keguguran lebih dari satu kali.”


Christian terduduk, memegang kepalanya. Meskipun tak yakin, tapi pria itu bisa menyimpulkan jika yang dikandung Dias adalah anaknya. Entah apa yang membuat gadis itu menyembunyikan kehamilannya hingga terjadi masalah seperti ini. Andainya Dias berkata jujur, Christ juga bersedia untuk menikahinya.


“Lakukan yang terbaik Suster.”


“Silakan tanda tangan di sebelah sini!”


Setelah memberikan tanda tangannya, Chris menunggu di ruang tunggu pasien. Perasaannya cukup khawatir, meskipun dirinya dan Dias tak memiliki hubungan khusus saat ini, tetapi Chris sudah mencintai Dias sejak SMA. Bahkan Dias lebih memilih dirinya daripada kekasihnya yang seperti preman itu.


...


Tiga pasangan kekasih itu, memilih menghabiskan waktu dengan mengunjungi lokasi wisata yang memacu adrenalin. Bermain paralayang untuk ketiga jagoan itu adalah hal kecil, tak ada permainan yang mereka takuti.


“Beb, nanti setelah berada di atas kita kisseu-kisseu ya!” Hahaha... Iwan mencolek dagu si tomboy kekasihnya.


“Awas aja, pipis di celana! Gue dorong juga Lo Beb dari atas, aneh-aneh aja permintaannya.” Omel Yoshi.

__ADS_1


Sedangkan Vicky dan Dista memilih menunggu kedua temannya, Ia tak ingin ambil risiko. Meskipun berulang kali Dista terus merengek, namun Vicky tetap tak mengizinkan.


“Nanti kita main yang lain aja, terlalu ekstrem buat Kamu, astaga! Kan bandel, kalau diberi tahu!” Vicky mencubit gemas pipi Dista yang terus cemberut.


Kania memperhatikan pasangan suami istri itu. Sepertinya pernikahan mereka berdua sangat bahagia, memiliki pasangan yang mampu mengerti kondisi satu sama lain.


“Sepertinya enak ya kalau sudah menikah?” celetuk Kania tanpa sadar.


“Lo mau? Gampang! Lo buatin bayi mungil buat Nyokap Gue, nanti pasti dinikahin.” Dion menarik tangan gadis itu dan membawanya ke tempat pemasangan parasut.


Dion yang sedang menggoda Kania, berharap nanti malam gadis itu mau diajak bekerja sama, untuk malam kedua dan malam-malam berikutnya. Sayangnya, Dion tak pandai merangkai kalimatnya dengan benar, membuat Kania salah paham dan berakhir keributan.


“Hey, Nanti malam jangan tidur dulu ya, tunggu sampai Gue datang!” pinta Dion.


“Hah! Nggak, Gue nggak mau.”


“Kenapa? Apa punya Gue kurang memuaskan Lo semalam?” sahut Dion.


Pufftt...


Petugas paralayang yang tak sengaja mendengar obrolan mereka berdua menyemburkan tawa. Saking tak kuatnya menahan sejak kedatangan mereka berdua tadi. Mereka berpikir Dion dan Kania adalah pasangan aneh.


“Dion, hentikan ucapan Lo! Ck, payah nih, sebenarnya Lo punya yang namanya privasi nggak sih?”


Dion menyentil kening Kania, hingga mengaduh.


“Jawab dulu, memangnya ada yang kurang dari diri Gue?”


Kania menggeleng, Ia tersipu. Dion yang menatapnya pun ikut tersenyum.


...


“Ya siap, Tiga... Dua... Satu...” aba-aba dari petugas yang meminta mereka untuk bersiap.



"Waaahh..."


Kania dan Dion terbang melayang, menikmati pemandangan di atas langit yang luas. terpaan semilir angin menyapu wajah cantik Kania, memukau Dion yang terus menatapnya. Jantung Kania berdesir, ada rasa takut di sana. Bukan karena takut jatuh ke bawah, tetapi Karena Dion yang terlalu berterus terang untuk meminta “lagi” melakukan olahraga malam.


“Kania, jawab Gue! Nanti malam, Lo bersedia kan? Gue serius!”


Kania menoleh ke samping, saat yang bersamaan Dion mengecup singkat bibir itu.


“Yes! Diam, berarti setuju.”

__ADS_1


...


__ADS_2