Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 35. Panik


__ADS_3

Yoshi berteriak mendapati Kania tak sadarkan diri di bawah guyuran shower. Dirinya panik, melihat wajah Kania sudah pucat pasi dengan bibir yang membiru. Banyak bekas merah di beberapa bagian tubuhnya.


“Keterlaluan Dion!” umpat gadis tomboy itu.


Yoshi mematikan kran shower dan keluar untuk memanggil Dista. Meminta rekannya untuk membawa pakaian ganti dan mengenakan pada tubuh gadis kecil itu.


“Kalian berdua tunggu di luar dulu!” titah Yoshi kepada dua pria itu. “Beb Lo pesan mobil buruan, kita bawa Kania ke rumah sakit sekarang!” Iwan mengangguk dan menghubungi pihak hotel untuk menyediakan mobil. Suasana menjadi hiruk pikuk di depan kamar Kania. Yoshi menjadi sangat marah dan mereka bertiga menenangkannya.


“Sabar Yoshi, Apa yang terjadi dengan Kania? Dion bagaimana?” Vicky penasaran, padahal semalam Ia memeriksanya tak terjadi keributan ataupun semacamnya.


“Bocah brengsek itu nggak ada di kamar, Ayo Dis! Kita pindahin Kania ke tempat tidur!” Dista dan Yoshi masuk ke kamar mandi. Dista Sungguh terkejut bukan main, melihat kondisi Kania saat ini.


“Aduh Yoshi, Perut Gue kram.” Dista meringis memegang perutnya.


“Eh jangan kalau begitu, kasihan bayi Lo Beb nanti! Sini, Gue coba angkat sendiri ya, Kania kecil pasti gampang.” Enteng Yoshi.


Kretekkk...


Yoshi mengaduh, memegang pinggangnya yang nyaris patah.


“Aduh Beb, pinggang Gue kumat! Kacau, Gue jadi lemah begini.” Sesal gadis tomboy itu.


Kedua wanita itu sudah berusaha mengangkatnya, namun tak berhasil. Mengingat kondisi Dista yang tengah berbadan dua, tak diizinkan mengangkat sesuatu yang berat. Begitu juga dengan Yoshi, cidera punggung dan pinggangnya beberapa tahun lalu paska pertandingan taekwondo juga masih menyisakan ngilu.


“Gue panggil Vicky saja ya! Lo pakaikan handuk saja dulu!” ujar Dista yang sudah berkeringat.


“Lo yakin?” Yoshi memastikan.

__ADS_1


“Iya, sudah tenang saja. Kasian Kania, kita tidak tahu sudah berapa jam gadis itu kedinginan begitu.”


Dista memanggil suaminya untuk membantu memindahkan Kania ke tempat tidur.


“Udah Yang, sekarang Kamu keluar dulu!” Vicky pun menunggu kedatangan Iwan di luar, sesekali menghubungi Dion, namun tak ada jawaban. Ia juga mencari rumah sakit yang terdekat melalui internet, namun semuanya membutuhkan waktu yang panjang untuk menjangkaunya.


Setelah gadis itu di pindahkan ke kamar, Kedua wanita itu mengeringkan tubuh Kania. ada perasan sedih, dan khawatir. Tak berhenti mulut Yoshi mengumpat kepada Dion. Jika bertemu dengan pria itu, Yoshi bersiap untuk menghajarnya di depan banyak orang.


Di dalam mobil, terlihat raut khawatir di wajah mereka. Terlebih wanita hamil yang sedang sensitif perasaannya. Tak berhenti menangis, melihat kondisi Kania. Tubuh gadis itu begitu dingin dan pucat.


“Sayang, udah dong! Kasihan dedeknya, kalau kamu terus begini. Kania pasti sembuh, udah ya!” Vicky tak habis pikir dengan kelakuan Dion. hal apa yang memicunya melakukan perbuatan konyol seperti ini. Jika semalam Ia memastikan lagi seperti yang dikatakan Dista, pasti tak akan terjadi hal buruk ini.


Belum lama ini Kania terluka karena keluarganya, dan luka itu pun belum benar-benar sembuh. Kini peristiwa itu terulang kembali, dan parahnya Dion lah pelakunya.


“Yang, kalau memang tidak ada yang peduli dengan Kania, biarkan saja dia tinggal bersama kita di rumah, ya?” isak Dista.


“Sayang..., Kania sudah Dua puluh tahun. Dirinya sudah dewasa dan bisa menjaga diri, punya tanggung jawab dan kehidupan sendiri, Aku tahu kamu peduli, apalagi kondisimu sedang seperti ini. Kania pasti baik-baik saja.” Iwan dan Yoshi pun mengangguk.


Vicky sendiri bingung menghadapi mood wanita hamil yang terus berubah. Semua orang ingin dibawa tinggal serumah, termasuk adik bungsu Vicky yang senang sekali bergosip. Membuat hiburan untuk Dista, namun Vicky harus melarangnya.


Iwan menghubungi Dion, ponselnya tersambung namun tak ada yang mengangkat. Berulang kali mencoba, tetap saja tak ada respon.


“Gimana Beb? Belum ada jawaban?” Yoshi pun penasaran.


Iwan mengedikan bahu. Pria yang Benar-benar tak bisa dipercaya. Yoshi membalurkan minyak kayu putih di hidung Kania. supaya pernapasannya tetap lancar. Entah kenapa dalam setiap kondisi panik, jarak rumah sakit terasa begitu jauh.


“Setelah Kania mendapat perawatan, besok kita kembali ke Jakarta!” ujar Vicky dan semua pun sependapat.

__ADS_1


Di rumah sakit yang paling dekat, Kania segera dibawa menggunakan brankar. Hari dimana mereka seharusnya bersenang-senang malah menjadi sebuah musibah seperti ini.


Vicky mendapat telepon dari kantornya, Jika besok harus menghadiri meeting penting. Sedangkan dirinya tak bisa meninggalkan Dista sendirian di tempat jauh.


“Bro, Duh gimana ya Gue ngomongnya!” Vicky mondar-mandir, membuat Dista memintanya untuk duduk, karena dirinya semakin pusing melihat Vicky seperti setrikaan.


“Kenapa Lo? Nggak tahan? Haha...”


Keduanya tertawa, dalam situasi seperti ini mereka berdua harus tetap waras dan bisa mengendalikan keadaan. Vicky berencana untuk memindahkan perawatan Kania di Jakarta seandainya nanti malam kondisinya membaik.


“Besok Gue ada meeting penting, Gue nggak mungkin pulang ke Jakarta sendirian sedangkan Dista dan kalian masih disini ... gimana Kalau kita bawa Kania langsung pulang ke Jakarta?” tukas Pria dingin itu. Tiba-tiba Iwan berdiri, dan menempelkan punggung tangannya ke kening Vicky.


“Lo waras kan? itu anak orang kalau mampus di perjalanan gimana? masih belum sadar mau diajak terbang ke Jakarta, mikir Bro!” Iwan mendengus kesal. Kadang orang cerdas juga bisa ngawur juga saat dalam kondisi sulit, seperti sahabatnya saat ini.


Mereka semua berharap Kania bisa pulih lebih cepat juga masalah yang mereka hadapi hari ini segera berakhir.



“Keluarga pasien Kania...?”


Suara perawat mengakhiri obrolan kedua pria itu. Dan meminta mereka untuk melihat keadaan pasien secara bergantian. Kania sudah sadar, namun sayangnya gadis itu tak mau banyak bicara untuk saat ini.


Dokter mengatakan pasien mengalami shock, dan nyaris terkena hipotermia, penurunan suhu tubuh secara drastis karena terlalu lama berada di tempat bersuhu dingin. Yoshi dan Dista masuk lebih dulu, mereka memberikan pelukan hangat pada gadis itu.


“Kania sayang, syukurlah Lo udah sadar. Lo nggak lupa sama kita-kita ini kan?” canda Yoshi. Kania tersenyum simpul. Menggenggam tangan gadis tomboy itu, dan sekali lagi Kania menitikkan air mata. Perlahan Yoshi mengajaknya berkomunikasi, berusaha untuk membuat gadis itu nyaman dan merasa dilindungi. Kemungkinan Yoshi akan membantu Dista untuk merawat Kania sementara waktu. pekerjaannya di Bandung masih bisa di handel oleh beberapa karyawannya.


“Serius Lo Yoshi?” teriak Dista kegirangan. Di rumah kini Ia tak akan lagi merasa kesepian, meskipun hanya untuk sementara waktu.

__ADS_1


“Kalau begitu kita bisa kembali malam ini kan?”


...


__ADS_2