
Hari pertama di kantor tanpa Bos Chandra, Kania sudah dihadang oleh sekumpulan staf wanita yang tertarik dengan Bos barunya itu. Mencoba peruntungan dengan menitipkan makanan manis juga barang-barang kepada sekretarisnya. Berharap Kania dapat membantu salah satu dari mereka untuk dekat dengan Dion.
“Heh, apa-apaan ini? Kalian bawa aja sendiri, kasih ke meja Bos dan satu lagi jangan lupa kasih nama, nanti dikira Gue lagi yang kasih kado begitu, cih!” kesal Kania.
“Mana bisa, secara Lo yang satu ruangan sama Pak Dion, yang punya akses khusus ... Jadi lewat Lo aja ya!”
Sekretaris Dion memutar bola matanya. Merasa bingung, apa yang mereka lihat dari Dion, selain brengsek nggak ada kelebihan lainnya di mata Kania.
Setelah mereka mengikuti apa yang gadis itu sarankan. Dengan berlomba-lomba menuliskan nama dan divisi pada hadiah yang mereka kirimkan lalu meminta Kania membawanya.
“Ah, Lo emang the best, nanti kita kirimin kopi ke meja Lo deh, Oke cantik!” teman-teman Kania melambaikan tangan kepada gadis muda itu dengan raut sumringah.
Kania membawa banyak barang di tangannya hingga kesulitan menekan tombol lift. Sampai seseorang di sebelahnya membantunya.
“Terima kasih, Pak!”
“Hmm,!”
Kania menelan salivanya. Padahal Ia tak ingin bicara dengan pria itu. Namun, karena sudah dibantu Kania harus tetap berterima kasih bukan?
Krikk... Krikk...
Hawa dalam lift itu menjadi panas, karena pria yang baru masu ke dalam lift bersamanya adalah Dion. Kania merasa khawatir, karena Ia datang terlambat.
“Pak maaf saya ter- ...”
Pintu Lift terbuka dan Dion berlalu meninggalkan Kania yang tak selesai mengatakan permintaan maafnya.
“Ish, gila ya Dion kalau marah kayak cewek, mana wajahnya jutek banget lagi.”
Memasuki ruangan, Ia jadi tak bisa meletakkan pemberian staf di meja Dion, karena Bos barunya itu sudah mulai bekerja.
Kania bingung, gugup, salah tingkah dan gelisah dihadapan pria itu.
“Kamu kenapa? Belum makan? Sarapan dulu sana! Jangan lupa kopi Saya harus Kamu yang buat!”
Huuhh...
Kania dapat berlega hati karena Dion mau bicara dengannya meski hanya soal pekerjaan.
“Ehm, Pak Dion ini ada ...,”
__ADS_1
“Letakkan saja di sana! Kalau nggak penting jangan taruh di meja Saya!”
Kania kembali menelan ludahnya, meremas blousnya. Ia sungguh tak bisa membayangkan, Dion benar-benar galak, mengacuhkan dirinya yang memotong ucapannya.
“... Oke Pak, Siang ini kita bisa bertemu di Pacific Place pukul Dua...” Dion menutup sambungan teleponnya.
Kania menatapnya kagum, menopang dagunya menatap pria tampan dengan rahang tegas, dengan banyak luka di wajahnya.
“Kerja Kania, Kamu dibayar bukan untuk bengong kayak botol kecap! Jam Dua ikut saya, siapkan kontrak baru buat Dewa Virgiawan.” Dion melanjutkan lagi pekerjaannya.
“Si.. Siap Pak!”
Kania berpikir, namanya seperti familier di telinganya. ‘Dewa Virgiawan, kan pemilik rumah sakit besar itu... Ah masa iya, Sigit sama Dewa itu bapak dan anak.’
Suara ketukan pintu menyadarkan lamunan Kania. Seorang wanita dengan kaki jenjang dan setelan formalnya memasuki ruangan. Wajahnya yang ayu membuat Kania sadar, jika Dion benar-benar membalas dendam padanya.
“Kamu baru datang! Kenapa nggak bilang, maaf ya, kalau Gue sering ngerepotin Kamu!”
“Nggak apa-apa, Vicky udah kasih ijin kok!”
Tamu spesial yang ditunggu Dion adalah Dista. Kania tak habis pikir, apa saja bisa Dion lakukan, demi memenuhi hasrat balas dendamnya. Hati Kania sakit, melihat pemandangan di depannya. Wanita hamil itu sangat modis, dengan blouse putih dipasangkan dengan rok plisket di atas lutut. Rambutnya sengaja di curly, wajah ayunya membuat Bos tengilnya tak berpaling menatap wanita itu.
“Ehm, Kania pergi buatkan minum dulu ya Pak!”
“Boleh, Kalau bisa yang lama ya!” ucapan Dion membuat Kania kesal dan pergi dari hadapan mereka.
Kini tinggal mereka berdua. Dan keduanya tertawa hingga perut mereka kesakitan.
“Hahaha.... Jahat Lo Dion, suka ngerjain anak orang!”
“Hah, memangnya Dia aja yang bisa mainin perasaan Gue! Oh iya, Obatin luka Gue dong Dist... Biar cepat sembuh.”
“Modus Lo!”
Tetap saja Dista mengobati wajah Dion dengan sangat dekat. tepat saat Kania masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu.
“Gue nggak keberatan, dipanggil Papa sama Anakmu! Bokap sama Nyokap pasti senang, kalau anak kalian lahir. Bawa ke rumah ya Dis!”
“Tapi Suami Gue yang keberatan...” mereka berdua tertawa. Kania melihat bosnya menatap Dista dengan sangat lembut, sama seperti saat Sigit menatapnya tadi malam. Tetapi melihat Dion menatap wanita lain, hatinya tidak terima.
Dista tidak tahan, karena Dion terus menggodanya, ujung hidung mereka nyaris bersentuhan. Tangan Dista yang sedang mengoleskan krim di wajah yang memar itu pun turut gemetar. Karena Dion terus mengikis jarak.
__ADS_1
“Iih Dion, jangan begitu ah! Ada Kania di sini!” lirih Dista, wajahnya tak kuat menahan tawa, begitu juga dengan Dion.
“Kenapa? Kania sudah punya pacar, buat apa dia tertarik sama urusan orang lain, nggak akan Gue biarkan siapa pun mengganggu urusan kita, tenang aja!” balas Dion tegas.
Kania yang membawa dua gelas minuman segar itu, segera meletakkannya di atas meja dan pamit keluar ruangan. Kania memegang perutnya. Dan pergi ke pantry mencari OB untuk membelikannya jajanan pasar yang manis.
“Eh tumben, Gue suka yang manis-manis... Bodo ah, Gue belum sarapan, malah melihat hal begituan. Idih..”
“Lo sengaja ya...” Dista segera menjauh dari Dion setelah Kania pergi. Menurut Dista, semua hanya sandiwara pria itu. Padahal sesungguhnya Dion juga sedang menikmati perannya. Ia bisa mengatakan apa yang Ia simpan selama ini dalam hatinya, meskipun wanita di hadapannya hanya menganggap sebagai sebuah candaan.
“Hahaha... kalau Iya, kenapa? Oh iya Dis, kerja aja di sini! Kalau Lo nggak di terima di kantor suami Lo!”
“Jangan bikin Gue diceramahi Vicky deh, gara-gara terus minta kerja di kantornya!”
“Kalau kalian satu kantor, yang ada kalian nggak fokus, malah... Ngerjain Lo yang ada.”
Dista tertawa kecil sembari menutup mulutnya karena melihat Dion cemburu.
“Memangnya salah, kan Gue istrinya.” Balas Dista.
Dion menatap Dista curiga, gadis yang terkenal pemalu itu, ternyata memiliki sisi agresif, tetapi hanya di tunjukkan pada suaminya saja.
“Gue curiga... Sejak kapan Lo jadi suka begitu? Pasti diajarin Si Vicky ya? Ngaku nggak Lo?” selidik Dion.
Senyuman wanita itu membuat Dion mengelus dada, untuk tetap kuat menahannya.
“Sejak menikah lah! Pertanyaan Lo aneh tahu nggak sih, Kayaknya saraf Lo udah kena deh! Udah ah Ayo, Gue udah lapar nih!”
Dion menggandeng wanita hamil itu sampai depan lift, dan setelah pintu terbuka, mereka berdua berpapasan dengan Kania.
“Pak, jangan lupa jam Dua nanti ada ...”
“Saya ada perlu sebentar, siapkan saja berkasnya!”
Dion dan Dista memasuki lift, keduanya tampak mesra, Dion merapikan rambut Dista di depan Kania. Bahkan sampai pintu lift tertutup, Kania tak beranjak dari posisinya.
Mata gadis itu berair. Dadanya sesak, kekuatan yang sudah dipupuknya lenyap sudah, saat lagi-lagi melihat tatapan lembut itu.
“Iya Sigit, makan siang? Tapi Aku sedang banyak pekerjaan. Maaf ya!” Kania menutup panggilannya, merasa tak enak dengan pria manis itu karena sudah menolaknya.
‘Maaf Sigit, tapi Aku sedang nggak baik-baik saja hari ini....’
__ADS_1