Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 51. Cari Es Dawet


__ADS_3

Dion meninggalkan mobilnya terparkir di depan pintu gerbang Monas. Padahal jelas-jelas ada tanda larangan dilarang parkir di sana. Pria itu hanya mengenakan kemeja yang sudah tak berdasi, dengan lengan yang disingsingkan.


Sedang asyik duduk sendirian, terdengar suara seorang pemuda menawarkan dagangannya padanya.


“Sendirian aja Mas?”


Dion menoleh, melihat bocah diperkirakan usia 16 tahun itu mengaduk segelas kecil kopi hitam untuknya.


“Heh, bocah! Ini buat Gue? Kan Gue nggak pesan!” protes Dion.


Bocah itu tertawa, dan duduk bersama pentolan geng itu. Ia membayangkan jika suatu saat dia akan mengenakan kemeja rapi dengan penampilan yang sama gantengnya dengan pria yang Ia berikan kopi gratis.


“Itu buat Mas, saya kasih gratis. Tapi Saya boleh duduk di sini kan?” Bocah berkulit kecokelatan akibat perang dengan matahari setiap harinya membuat Dion tertarik untuk mengobrol dengannya.


“Wah sombong Lo! Haha..., duduk aja nggak ada yang larang. Oh ya tong! Siapa nama Lo?”


“Yusuf Mas, tapi panggilan di tongkrongan Ucup.”


Dion meneguk kopi hitam itu perlahan, mengecap penuh perasaan. Rasanya sungguh nikmat kopi buatan bocah ingusan ini. Beban yang mengimpit pikirannya perlahan memudar.


“Cup, Lo udah pernah pacaran?” tanya Dion iseng. Melihat Ucup malu-malu Dion tertawa. Lalu mendengarkan kisah Ucup sampai selesai. Dion tak kuasa menahan sakit perutnya karena tingkah bocah itu. Ia mengingat masa SMA nya, menyukai seorang gadis saja bingung menyatakan perasaannya, padahal peluang sama-sama besar, juga kesempatan terbuka lebar.


“Cup, cara mengutarakan perasaan ke cewek yang benar itu gimana?”


Obrolan keduanya cukup menarik, sampai Dion tidak sadar jika Vicky dan Dista sudah datang. Dion tampak sedang mendengarkan petuah sesepuh. Wajah tampan dengan rahang tegas itu serius mendengarkan trik dari Ucup. Sesekali Dion manggut-manggut dan tertawa.


“Bro! Gabut Lo kira-kira dong mana jauh banget lagi ngajak ketemu di luar.” Sapa Vicky, mengalihkan atensi Dion.


Merasa puas setelah ngobrol santai dengan Ucup, Dion memberikan tiga lembar nominal seratus ribuan. Ucup pun tak menyangka, jika niat tulusnya berbuah rejeki. Berulang kali Ucup mengucapkan terima kasih kepada Dion, dan pria itu memintanya untuk sekolah yang rajin supaya cita-citanya menjadi bos besar tercapai.


“Mas, Ucup hanya bisa mendoakan semoga cewek yang ditaksir, lebih memilih Mas, daripada tukang kopi kayak Ucup.” Bocah itu pun melambaikan tangan kepada ketiganya dan berlalu dengan sepeda kayuhnya.


“Hahaha... Sorry-sorry tadi Gue lama banget nunggu kalian, dan bocah itu samperin Gue,” terang Dion. “Oh ya Bro, Lo kan yang sebentar lagi jadi orang tua, apa yang Lo rasain saat tahu Dista hamil?”


Mereka bertiga berjalan menyusuri trotoar, hingga bertemu dengan lokasi pedagang kaki lima. Dengan alas lesehan, mereka menghangatkan badan di sana.


Sembari menunggu pesanan mereka datang, Vicky membagi momennya dengan pentolan geng yang sepertinya sedang di mabuk cinta dengan sekretarisnya.

__ADS_1


“Gue dulu ... Ngerasa aja kalau ada yang aneh sama doi sih, yang lebih lengket sama Gue, dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, lalu suka pesan makanan-makanan aneh tengah malam yang susah di temui di sini!


“Terus!”


Dion bersemangat mendengar cerita Vicky. Ia membayangkan berada di posisi itu.


“Yang suka kegerahan kalau malam, Lo tahu Bro di rumah AC udah paling kencang, dan Dista masih berkeringat! Gue sampai masuk angin, perut Gue kembung!”


Haha... Dion puas sekali menertawakan penderitaan kawannya. Sedangkan Dista tak terima menjadi bahan guyonan mereka berdua.


“Ya kamu harus tanggung juga risikonya dong Yang! Kan kamu yang bikin Aku jadi kayak begini.” Balas Dista.


“Iya, kan cuma cerita Yang, sama Dion, jangan marah dong, nanti anak aku gampang ngambek, hehe...”


Sembari mengingat hal-hal lucu lainnya untuk pertama kali. Dista membuka internet, lalu menunjukkan kepada Dion.


“Ini ciri-ciri wanita hamil, Lo lihat ada yang aneh nggak sama Kania? Lebih baik buruan nikahin deh, sebelum terlambat!”


Dion membaca dengan seksama, tetapi dirinya tak mengerti karena tak serumah dengan gadis itu.


Keduanya menatap Dion serius. Kania berani terang-terangan berbuat seperti itu di depan Dion.


“Tadi Kania mual muntah, apalagi kalau Gue deketin! Katanya Gue bikin mual, kan ngeselin.”


“Nah! Bisa jadi itu Bro! Cuma dulu gejala awalnya kayak kena asam lambung begitu, badannya hangat, lemas, gampang ngantuk terus sensitif gitu sama wewangian, Dista aja suka bau keringat Gue, aneh kan!”


Vicky mengacak surai hitam milik Dista. Dion pun perlahan belajar dari kedua temannya itu. Meskipun sebenarnya teramat susah untuk menahan emosi.


“Tiga bulan udah cukup kelihatan ya, makin seksi,” goda Dion sambil melirik Dista yang mengusap perutnya.


“Hmm, nanti kalau Lo udah nikahin Kania juga bakal tahu perubahannya. Pesan Gue, sebelum Kania makin dekat dengan Sigit, Lo harus sat-set.”


“Katanya kalau wanita hamil benci lihat suaminya, nanti anaknya mirip, kayak fotokopi diperkecil begitu.” sambung Dista.


“Ah, Lo! Gue kan jadi penasaran sama hasil karya Gue, haha...”


“Ish, Bego Lo! Anak Gue pasti cantik kayak doi.”

__ADS_1


Hahaha...


“Semoga aja anak Lo nggak mirip Geri! Lo berdua kan jengkel sama adek Lo kan?”


...


Kania dan Sigit menghabiskan waktu berdua. Gadis itu merasa heran, meskipun rasa mual dan tak nyaman pada perutnya terus muncul, tetapi tak separah saat ada Dion di sana. Sigit pun juga menggunakan parfum pria yang maskulin namun tetap lembut di indera penciuman Kania.


“Kania, kita ke apotek? Aku nggak tega lihat kamu sendirian di rumah dengan kondisi lemah seperti itu.”


Sigit menyentuh kening Kania yang terasa hangat. Hidung mancung Kania memerah. Sesekali gadis itu berlari ke kamar mandi. Melihat Sigit begitu perhatian, gadis bertubuh ramping itu tak mau mengecewakannya.


“Hm, Aku ambil jaket dulu ya! Maaf Sigit, kalau Aku malah ngerepotin kamu.”


“Jangan bilang begitu, Aku suka melakukannya!”


Pukul Delapan, Sigit dan Kania pergi ke apotik yang lumayan jauh dari rumahnya. Sepanjang perjalanan Kania membayangkan makanan manis yang jarang di jual di Jakarta.


“Sigit, nanti mampir beli es dawet abang-abang gerobak ya!” pinta Kania.


Ckiittt...


Sigit mengerem motornya mendadak. Bukan pria itu tak mendengar ucapan Kania, tetapi malam-malam begini mana ada abang-abang yang masih berkeliling, terlebih es dawet yang tidak mudah ditemukan di sepanjang jalanan Kota Jakarta.


Sigit merasa teman gadisnya ini sedikit aneh. Namun, Sigit tak berpikiran macam-macam. Hubungan mereka berdua kini semakin dekat, perhatian Sigit pun tak main-main. Kania pun menyadarinya, hanya saja gadis yang berprofesi sebagai sekretaris Dion itu merasa tak pantas untuk dicintai oleh pria manis di depannya.


“Aduh! Ada apa Git?” Kania menengok ke arah pria tinggi itu.


“Hm, Gimana kalau beli dawetnya besok aja, lagian abang-abang keliling sudah nggak ada jam segini.”



Raut gadis itu murung, terus menerus memainkan bibirnya, seakan membayangkan manisnya gula merah bercampur santan.


“Tapi Aku mau sekarang,”


...

__ADS_1


__ADS_2