
Mendengar suara bariton milik Dion, Kania terkejut bukan main. Suara motor besarnya yang halus tak kentara. Membuat gadis bersurai panjang itu tak percaya, sejak kapan Dion sudah berada di belakangnya.
“A-anu Pak! Sekarang kan sudah waktunya pulang jadi Saya juga harus pulang, hehe...” wajah kikuknya membuat Dion mengernyit tak percaya.
“Ah bohong! Ya sudah, Gue hitung lembur nanti! Ini pakai dulu disana, kita sudah ditunggu!” perintah Dion sambil menunjuk bawahannya.
“Ditunggu si-siapa?”
“Ck! Naik dulu bisa kan? Apa perlu Gue naikkin Lo ke atas?”
Merasa ucapannya ambigu, Dion berdeham segera meralat ucapannya, karena Kania menatapnya curiga.
“Ehm... Maksud Gue, Lo naik di atas motor ini Cantik, bukan Gue!” Dion tertawa geli dengan gombalannya sendiri. Pria tampan berlesung pipi itu tak pernah merayu gadis lain selain yang paling spesial.
Kania ragu. Padahal beberapa hari ini Kania sudah terbiasa tanpa Dion di sisinya. Bos nya pun tak mau meninggalkannya sendiri.
“Satu...,”
“Ck!” Gadis itu berdecak sebal, menatap Dion, lalu mengambil jaket dan melingkarkannya di pinggangnya. Baginya menunggangi motor Dion adalah yang paling menyiksa, belum lagi saat Dion melaju dengan kecepatan tinggi.
“Gitu dong, nurut kalau dibilangin sama pacar...!”
“Idih... Siapa juga yang mau jadi pacar Lo!” lirih Kania. Namun, Dion mendengarnya.
“Iya deh, nggak mau juga nggak apa-apa, dari pada nanti minta turun di jalan.” Balas Bosnya mencoba mengalah.
Dion dan Kania telah tiba di sebuah hotel mewah. Kania merasa takut, ternyata dugaannya benar, jika Dion akan mengerjainya lagi. Gadis itu tak mau turun, padahal Dion sudah memintanya.
Tanpa basa-basi lagi, Dion menggendong gadis itu turun dari atas motor dan menangkup kedua pipinya yang lembut.
“Lo kenapa sih, hah? Biasanya Lo nurut-nurut aja, apa karena teman baru Lo itu?”
“Jangan lupa Pak, dia punya nama, namanya Sigit.”
“Terserah! Gue nggak peduli, Gue cuma mau milik Gue, itu aja!” Dion berucap sambil berlalu. Menarik tangan Kania, untuk ikut bersamanya.
Kania menatap resepsionis. ‘Kenapa Dion tak pergi ke sana terlebih dulu. Apa yang akan dia lakukan? Atau Dion sudah merencanakan hal ini jauh-jauh hari.’ Batin Kania. ‘Tunggu! Kenapa Gue jadi berpikir ke arah sana? Apa yang Gue pikirkan?’
“Lo pasti lagi mikirin Gue yang nggak-nggak kan, ngaku Lo!” tebak Dion.
Ting!
Mereka berdua memasuki lift, keduanya hanya diam saja. Namun tiba-tiba Dion jadi ingin makan-makanan manis.
__ADS_1
Kania menatap Dion, bisa-bisanya dirinya pernah menyimpan perasaan pada pria yang sekarang menjadi bosnya. Menangisinya karena pria itu diminta menikahi mantan pacarnya.
“Ayo!” Dion menyadarkan lamunan sekretarisnya. Agnes melihat kedatangan sepasang anak muda yang cukup serasi.
“Di sini Nak!”
Kania merasa tak enak hati saat berpikiran yang bukan-bukan sebelumnya. Ternyata sosok Agnes dan Chandra sudah menunggu mereka.
“Pak Chandra, Bu Agnes!” Kania menyalami mereka berdua.
“Kenapa kalian lama sekali?”
“Macet Ma, kayak nggak tahu Jakarta aja!”
“Oh, kirain mampir di bawah dulu, hihi...” goda Agnes.
“Maunya sih gitu, haha...”
Chandra menatap Ibu dan Anak laki-lakinya, memang keduanya sangat mirip tingkahnya.
Saat memesan makanan, Dion banyak memasukkan makanan manis di sana, dari main course sampai dessert. Sampai semua makanan yang di pesan datang.
“Wah... Siapa yang pesan ini semua?” Agnes membulatkan mulutnya, tak hanya satu atau dua macam, tapi banyak. Kania pun menggeleng, meskipun dalam hati, gadis itu juga ingin menikmati makanan manis itu.
“Dion Ma! Nggak tahu, tiba- tiba mau makan itu semua, nanti bantu habiskan ya!”
“Mama sama Papa nggak bisa makan itu semua, jadi nanti kalian berdua yang harus habiskan, Mama nggak mau tahu! Ada-ada aja alasan kamu Dion, kayak orang ngidam aja.”
Tatapan Agnes kini berpindah kepada Kania. Gadis itu tampak biasa aja, atau karena memang tidak tahu apa yang sedang dirasakannya.
“Pak, Kania boleh nyobain yang itu kan?” tunjuknya pada salah satu makanan manis yang Dion pesan.
“Yang itu, itu, itu, semua punya Gue.” Ucap Dion menyebalkan sambil menunjuk semua makanan yang ada di meja.
“Kalau yang ini Lo boleh kok nyobain lagi!” tunjuknya pada dirinya sendiri. Wajah Kania semerah tomat, apalagi ada Bos besar dan istrinya di sana. Kalau tidak, Kania sudah mengumpatnya.
‘Pengen Gue ikat itu bibirnya! Kalau ngomong nggak disaring dulu!’
Chandra melihat kelakuan anaknya merasa jengkel, karena terus menggoda karyawan kepercayaannya. Meskipun kasihan melihatnya, tetapi ekspresi Kania memang lucu yang membuat Chandra tersenyum simpul.
“Dion! Pasti kamu sering mengganggu Kania ya di kantor? Di depan kami saja Kamu nggak malu bilang begitu!”
Dion hanya meringis, lalu memberikan apa yang Kania mau.
__ADS_1
“Makan yang banyak, biar sehat!” sambil mengacak rambut Kania, sebelum Dion merasa mual karena perutnya tak nyaman.
“Sorry, Dion tinggal dulu!”
Ketiganya melihat Dion setengah berlari mencari toilet.
“Dion katanya sakit ya? Kamu tahu hal itu Kania?”
Gadis itu meletakan alat makannya, dan mengosongkan mulutnya sebelum menjawab pertanyaan Agnes.
“Tadi pagi di kantor masih baik-baik saja Bu, tapi setelah mencium aroma durian yang Kania makan, Pak Dion langsung lemas, mual kayak orang mabuk begitu.”
Agnes mengangguk dan paham. Istri Chandra Wijaya meraih tangan gadis itu, dan berpesan padanya, “Tante dan Om, minta tolong sama kamu Kania, titip Dion ya selama di kantor, karena kami cuma punya Dion satu-satunya, syukur-syukur nggak Cuma di kantor aja, kamu juga mau mengurusnya di rumah.” Chandra paham arah tujuan Agnes. Chandra pun menambahkan pesan untuk gadis itu.
“Tapi kami tidak akan memaksa jika kamu keberatan, Agnes hanyalah seorang Ibu yang khawatir dengan putranya. Semuanya terserah sama kamu, sekarang lanjutkan lagi makannya!”
“Oh, Iya Pak!”
‘Bagaimana ini...?’
Saat Kania merasa bingung harus menjawab apa kepada pria yang telah banyak berjasa padanya dan keluarganya, ponsel Kania berdering.
Rupanya segala kegelisahan Kania segera terjawab, saat Sigit meneleponnya. Agnes mengizinkan Kania untuk menjawab panggilan itu.
“Kania tinggal dulu Pak, Bu!” menjauh dari bising-bising, Kania menuju balkon restoran itu, di sana Kania mengangkat panggilan dari Sigit.
Kania
[Halo, iya Sigit... ]
Sigit
[Maaf Mbak, saya Jo... Mas Sigit sekarang di rawat di rumah sakit Permata Medika, karena pingsan dan belum sadar sampai sekarang, Mbak bisa kemari?]
Kania terkejut, apa dirinya tidak salah dengar? Sigit pingsan dan belum sadar sampai sekarang. Kania segera menyanggupi untuk ke rumah sakit sekarang, tanpa memikirkan hal lain lagi.
Kania
[Saya segera ke sana, tolong kirim nama ruangan Sigit di rawat ya!]
Kania kembali ke mejanya, dengan raut khawatir, Kania berpamitan untuk pergi ke rumah sakit.
“Pak Chandra, Bu Agnes, Kania mohon maaf, harus segera pergi ke rumah sakit....” Gadis itu menyandang tasnya dan menyalami orang tua Dion.
__ADS_1
“Siapa yang sakit Kania? Ibumu...?”
...