
Melihat kekacauan di dalam kafe itu, Dion dan Vicky segera berlari. Ia mendobrak pintu ruangan kerja yang terkunci dari dalam.
Brakk!!
Setelah pintu itu terbuka, kedua pria itu terkejut mendapati kawan baiknya telah pucat dengan kondisi tangannya mengeluarkan banyak darah.
“Bro, Sadar Bro!” Teriak Dion dan Vicky bersamaan. Bayu tak ada di tempat. Hanya ada pria cungkring berpostur tinggi dalam keadaan tak sadarkan diri. Ketiganya membawa kawannya ke rumah sakit.
“Dimana Yoshi, sejak tadi Gue nggak lihat gadis itu,” tanya Dista pada staf di sana. “Jika Bayu datang, minta segera untuk menutup saja kafenya dan datang ke rumah sakit, untuk bergantian menjaga Iwan.” sambung Dista.
“Teh Yoshi, pergi ke Jakarta kemarin bersama seorang laki-laki dewasa Teh.” Dista menanyakan ciri-cirinya. Namun, tak ada satu pun yang mengenali pria itu.
“Wan bangun Wan! sebenarnya apa yang terjadi sama Lo?” Dion menepuk pipi Iwan berulang kali.
Pria itu tak bergeming, karena telah kehilangan banyak darah. Sembari menunggu kawannya sadar, Vicky dan Dista harus pergi mengunjungi adiknya terlebih dahulu, menyisakan Dion di sana seorang diri.
“Salam aja buat Geri, nanti kalau urusan Lo udah selesai baru kalian kembali kemari.” Vicky pun mengiyakan.
Dion masih tak bisa menghubungi Kania. Pikirannya semakin kacau saat ini. Tak ada angin tak ada hujan, mendapat firasat untuk segera pergi ke kota kembang.
Ponsel Iwan berdering, ternyata dari Yoshi. Gadis itu meminta maaf sebesar-besarnya kepada kekasihnya, karena tak tahu lagi harus berbuat apa.
Dion yang membaca pesannya pun naik darah. Ternyata, hal ini yang membuat Iwan menjadi murka dan melukai dirinya sendiri. Tanpa pikir panjang Dion menghubungi gadis tomboy itu dan mengatakan dimana dirinya sekarang.
Dion
[Dimana Lo? Jadi semua ini perbuatan Lo?]
Yoshi
[Bukan! Bokap Gue yang minta untuk melakukan ini semua Dion, tolong bantu Gue!]
Dion
__ADS_1
[Kalau sampai Iwan ada apa-apa, Lo harus bertanggung jawab, Yoshi]
Yoshi tak bisa menjelaskan keadaannya sekarang melalui telepon, terlebih bicara dengan Dion yang tak bisa berpikir rasional.
Sedangkan gadis tomboy itu, kini terpenjara di dalam sebuah kamar besar. Sejak tadi Iwan tak menjawab teleponnya, ternyata pacarnya tengah terkapar tak berdaya di rumah sakit. Dan entah bagaimana Dion tiba-tiba bisa sampai ke Bandung.
Yoshi sudah berterus terang kepada wanita cantik dengan satu putra itu, jika dirinya tak berminat menjadi duri dalam daging rumah tangganya. Ayahnya yang memiliki banyak hutang membuat dirinya terjebak dalam situasi seperti sekarang ini.
Rosi pun bingung harus berbuat apa, Ia sangat ingin membantu gadis itu, namun untuk mengembalikan uang yang diberikan suaminya, dapat dari mana. Selain Sigit, tak ada yang mengetahui suaminya menyimpan semua aset kepemilikannya yang tersimpan atas nama putra bungsu keluarga Virgiawan.
Gadis yang akan dinikahi oleh Dewa Virgiawan adalah Aulia Yoshi, kekasih Iwan. Setelah memeriksa Dias, selain kesehatan gadis itu kurang baik, ternyata Dias juga tak akan bisa memberikan keturunan. Membuat Dewa membatalkan semua kerja samanya bisnisnya dengan orang tua Dias.
“Ternyata sulit juga mencari gadis yang masih suci sekarang ini!” ucap pria menawan itu dengan senyum miris. Sampai Dias menyebutkan nama salah seorang kawan baiknya dulu, Yoshi agar dirinya bisa terbebas dari pernikahan paksa ini. Dias juga mengatakan gadis itu membutuhkan uang untuk membayar hutang-hutang Ayahnya yang digunakan untuk operasi ginjal Ayah Yoshi.
...
Kania berniat memberitahu Sigit perihal kondisi dirinya sebenarnya. Jujur saja, Kania mencintai pria manis itu dan tak ingin Sigit kecewa nantinya. Apa pun keputusan Sigit, Kania siap menanggungnya.
Di sebuah jembatan kayu dengan banyak lampu gantung di atasnya, Sigit dan Kania berhenti di sana. Dengan kepala tertunduk, Kania mengaku kepada Sigit, jika dirinya bukan gadis yang baik seperti yang Sigit kira selama ini.
Pria berkulit putih itu mengangkat dagunya dan menangkup wajahnya, senyumnya tersungging, memberi tanda bahwa Ia sudah siap mendengarnya.
“Kalau Aku bukan wanita baik-baik, apakah kamu masih sudi menerimaku?” Lagi, gadis itu tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Kania teramat malu, dengan aib yang akan Ia bongkar di depan Sigit.
“Katakanlah, Apa pun itu.” Meski dalam hati Sigit, Ia sangat takut untuk menerima kenyataan. Gadis bersurai panjang itu, membawa tangan Sigit ke pipinya. Dengan memejamkan matanya yang sudah sangat basah, Ia harus berusaha merelakan jika Sigit tak mau menerima keadaannya.
“Sayang, kamu membuatku bersedih jika kamu terus diam seperti ini.”
“A.. Aku akan ikhlas seandainya Kamu meninggalkanku Git!”
Hikss..
__ADS_1
“Sigit, Aku sudah tidak suci lagi...”
Glaaarrr...
Bagai tersayat sembilu ulu hati pria tampan yang berdiri di depan Kania. Matanya seketika memerah, tangannya mengepal kuat. Ada rasa sakit di dalam tubuh dan jiwa pria itu.
“Katakan padaku, siapa pria itu?” Serak parau suara Sigit menanyai Kania yang tak sanggup menatap sepasang mata bening di hadapannya.
“Sigit, semua terjadi sebelum Aku mengenalmu, tapi ...”
“Katakan Kania, siapa pria itu?” nada suara Sigit setengah memaksa. Mencengkeram bahu kecil Kania, hingga mengaduh. Rencananya Kania, ingin memberitahukan kemungkinan terburuk jika dirinya tengah mengandung benih pria itu. Namun, setelah mengetahui respon Sigit, Kania urung melakukannya.
“Maafkan Aku Git, Aku tak bisa menyembunyikan hal ini kepadamu, cepat atau lambat, kamu pasti akan mengetahuinya.”
Sigit membawa gadis itu dalam pelukannya. Jujur kekecewaan Sigit teramat besar. Hatinya telah Ia serahkan sepenuhnya kepada Kania. Justru kekecewaanlah yang ia dapat .
“Jangan pergi dariku Kania, Aku mohon! Aku bersedia menerimamu, asalkan kamu mengatakan siapa pria itu? Apakah dia adalah bosmu?”
Kania berbalik hendak meninggalkan Sigit. Namun, Sigit enggan melepaskan pelukannya. Pria itu berpikir, siapa pun bisa melakukan kesalahan tak terkecuali dengan gadis miliknya. Baginya kejujuran Kania sangatlah berharga, yang berani Ia ungkapkan. Sedangkan Sigit merasa, dirinya saja belum mampu membuka identitasnya kepada gadis itu. Bisa saja Kania lebih terkejut daripada dirinya saat ini.
“Jangan takut, Aku bersedia menikahimu Kania, kamu mau kan? Kalau kamu takut, bos mu akan terus mengganggumu, kita tinggalkan Jakarta. Hanya ada kamu dan Aku, bagaimana?”
Gadis itu tak menyangka jika Sigit akan berkata seperti itu. Namun sekali lagi Kania memastikan, apakah pria itu bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
“Bagiku, kamulah hidupku. Jangan minta Aku pergi, begitu juga sebaliknya, jangan pernah meninggalkan Aku!”
Tugas Sigit sekarang hanya satu, memisahkan Kania dengan Dion. Apa pun yang terjadi, akan Ia lakukan.
“Kania, kamu bersedia menikah denganku?”
...
...
__ADS_1