
Diantara lalu lalang kendaraan, bagi yang tidak tahu, mereka akan mengira Sigit dan Kania adalah sepasang kekasih. Kania menikmati minuman yang khusus dibuat oleh Sigit.
Srruuupp...
“Kamu suka?”
Kania memiringkan es Kopi dalam gelas plastik itu. Tertulis nama dan pesan di sana.
“Kania, semoga harimu selalu menyenangkan jadilah udara untukku!”
Kania tersipu, Sigit begitu romantis. Membuat kulit putih Kania berubah semerah tomat. Sigit memasangkan helm kepada gadis di depannya. Menyibakkan rambutnya yang hitam supaya tidak rusak.
“Aku hanya punya motor ini, kamu tidak malu kan, jalan denganku?”
“Ah, tentu saja tidak! Ayo!”
Kania membonceng Sigit, dalam kaca spion terlihat senyum pria itu sangat manis. Debarannya tak terkontrol, tapi Sigit dapat menguasainya dengan baik.
Dion memakai jaket dan helm nya. Tebakan Dion benar, jika Kania menghindarinya karena pria yang Ia kenal di Malang kemarin.
‘Sama seperti nasib Gue, malang.’
Dion kembali ke rumah, Ia berusaha melenyapkan amarahnya dengan langsung membersihkan diri.
Mendapat pesan dari Vicky jika Iwan dan Yoshi telah kembali ke Bandung sore tadi.
‘Sial, kenapa mereka pulang saat Gue lagi sibuk!’ batin Dion.
Dion membawa satu kunci cadangan, tak ada gunanya lagi sekarang. Ia pergi menggunakan mobilnya ke rumah yang Ia sewa bersama Kania.
“Oke Jagoan, hidup Lo akan benar-benar baru mulai sekarang! No party, No lady, only You!”
Dion mengambil barang-barangnya di rumah itu. Tak menyisakan satu pun barang pribadinya.
“Lo udah kehilangan kesempatan terakhir bersama Gue Kania, Nggak akan Gue biarkan Lo masuk dalam kehidupan Gue.”
...
Sigit membawa Kania ke Ancol, dari pintu masuk kawasan itu, angin menerpa wajah keduanya.
“Kamu on-time banget, Sama kayak Aku. Tapi sorry ya, tadi ada sedikit masalah di kantor.”
“Cuma kebetulan saja, Aku sudah memperhitungkan jarak kafe ke kantor kamu, Oh iya Kamu sakit apa? Jadi selama kita berkirim pesan kemarin, kamu sedang dirawat?”
Seakan diingatkan kembali peristiwa malam itu, saat Dion menikmati setiap inci tubuhnya malam itu. Kania tak sanggup menatap Sigit yang terus memperhatikannya.
__ADS_1
“Hey, kenapa kamu menangis? Sorry kalau Aku salah bertanya.” Pria manis itu mengusap air mata di wajah cantik gadis itu.
Begitu halus dan lembut, Sigit pun tersenyum. Pria itu bingung, bagaimana cara menenangkan gadis yang sedang menangis.
“Bang, kemari!”
Pria itu memanggil dua orang pria yang membawa gitar. Sigit memintanya untuk menyanyikan lagu yang pas untuk gadis itu.
“Kau gadisku yang manis... Coba lihatlah Aku di sini, di sini Ada aku yang sayang padamu...”
Entah kenapa Sigit tersenyum mendengar pengamen itu memilih lagu yang pas dengan suasana hatinya.
Kania tertawa, “coba kamu yang main gitar, Aku mau dengar langsung suara hatimu!” goda gadis itu.
“Aku tak tahu, apa yang kurasakan saat bertemu, saat pertama kali, lihat dirimu, melihatmu...” sebuah potongan lirik yang terucap begitu saja.
Suara yang sangat indah, seindah parasnya yang menyentuh hati. Membuat Kania merasa nyaman saat di dekatnya. Bukan dengan pria itu, pria bak preman stasiun yang menghancurkan hati Kania berulang kali.
Semakin Kania menggandrungi Sigit, semakin pula Kania mengingat Dion. Namun gadis itu berusaha mengenyahkannya. Ia tak ada lagi hubungan dengannya. Bahkan sekarang jarak antara dirinya dan Bos barunya semakin jauh.
“Kania...,”
“Hmm,”
“Kamu lebih percaya yang mana? Sebuah kebetulan adalah Jodoh atau Cinta pada pandangan pertama?”
Keduanya berhenti, kaki mereka terguyur gulungan ombak yang mendekat. Kania ingin menjawabnya, namun rambutnya mengganggu pandangannya. Sigit yang jauh lebih tinggi merapikan rambut gadis itu.
“Sebuah kebetulan adalah jodoh, tapi ada banyak hal yang membuatku tak ingin berandai-andai, Sigit.”
“Kalau begitu Ayo pulang!”
“Heh, kamu belum menjawab giliranmu, dasar curang!” Sigit berlari dikejar gadis itu. Mereka tertawa begitu lepas, Sigit juga Kania. Hingga pakaian mereka nyaris basah kuyup.
“Aku akan katakan nanti, di pertemuan kita berikutnya, kapan kamu libur?”
“Weekend, tapi nggak menutup kemungkinan Bos selalu butuh bantuan saat ada meeting dadakan.
“Sigit, ayo kita makan! Aku lapar...!”
Kania benar-benar gadis yang menyenangkan tak ada jaim-jaimnya.
“Biar Aku aja yang bayar!” Kania menyerahkan sejumlah uang pada kasir, Sigit pun tak terima.
“Aku tidak mau merepotkan siapapun, termasuk kamu Git! Aku takut punya hutang budi, Kania menatap Sigit dengan perasaan miris. Ia merasa trauma dengan pria sebelumnya.
__ADS_1
“Kalau kamu merasa begitu, berarti Aku harus membayar hutangku ke kamu,” Sigit mengacak rambut gadis itu.
‘lagi-lagi membahas hutang, Kania ingat jika dirinya memiliki banyak hutang dengan Dion.
“Kamu mau kita ke mana lagi?” tanya Kania.
“Aku harus mengantarmu pulang, karena sudah pukul sembilan. Besok kalau kamu izinkan Aku akan main ke rumahmu.”
“Ouh Sigit, You’re a pretty Boy and I like You,” ucapan Kania membuat Sigit berbunga-bunga. Sepertinya perasaan cinta itu tumbuh sangat cepat tanpa mereka berdua sadari.
Sesampainya di depan rumah, Sigit segera pamit karena pria itu sudah mengetahui tempat tinggal Kania juga waktu sudah malam.
“Aku pulang dulu, Kamu tinggal sendirian di rumah?” hati-hati ya! Jangan lupa kunci pintu dan jendela!” Sigit pun berlalu.
Hubungan Kania terjalin semakin baik, begitu juga sebaliknya dengan Dion dan Kania. Bagaikan minyak dengan air dalam satu wadah.
Saat memasuki rumah, Ia melihat penerangan rumah menyala. Gadis itu menjadi was-was, khawatir akan ada pencuri yang masuk. Ia mulai memeriksa seluruh ruangan.
Tak ada yang berubah, hanya saja. Pintu Kamar Dion tertutup, dan Ia mencoba melihatnya. Kamarnya gelap. Kania tak dapat melihat apapun.
Klik...
Lampu di kamar menyala. Dion bersandar pada dinding. Dekat jendela.
“Wah... Hebat! Secepat itu Lo berpindah ke pelukan pria lain! Lo masih butuh uang rupanya!”
“Di-Dion!! Ngapain Lo ke sini?”
“Tenang aja, Gue akan pindah dari sini, nggak sudi Gue berbagi sama pria lain! Gue kira Lo beda, ternyata Lo sama aja, bisa dibeli murah sama tukang kopi itu!”
Kania membatu, sebegitu mudahnya mulut Dion melontarkan kata-kata kasar padanya. Baru tadi siang, pria itu mencoba berbaikan padanya. Namun hatinya begitu mudah berubah. Gadis itu mengepalkan tangannya, tak sanggup lagi Ia menahan rasa sakit hatinya.
“Oh, jadi itu pikiran Lo tentang Gue? Bagus lah! Sekarang Lo pergi dari sini! Gue memang nggak layak dicintai, terlebih pria brengsek seperti Lo!”
Dion menatapnya penuh emosi dan membisikan kalimat pedas untuk Kania yang sudah berlinang air mata.
“Memang nggak akan ada yang pernah bisa gantiin posisi Dista di hati Gue, selamanya!
Kania ingin pergi, tapi Dion menahannya. Keduanya sama-sama menahan rasa sakit, merasa ter khianati menjadikannya saling menyakiti. Bahkan sebelum pergi Dion masih sempat menekankan kalimat kejam lainnya.
“Lo tahu persamaan Lo dengan Dias? Sama-sama murah!”
Brakk!!
...
__ADS_1