Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 135. Detik Terakhir


__ADS_3

Dalam sebuah ruang perawatan, seorang gadis yang tengah menyisir rambutnya di depan cermin. Kadang Ia menangis, kadang juga tertawa. Wajahnya mulai tirus, matanya pun mulai cekung. Tampak menyedihkan.


Seorang pria datang dengan membawa seikat bunga. Menatapnya dari balik jendela, ada rasa sesak dalam hatinya. Gadis manis pujaannya berubah menjadi gadis depresi yang butuh perhatian. Namun dibalik itu semua, gadis itu masih menyimpan sejuta rahasia.


“Masuk!”


Langkah Christian pun berhenti tepat di sisinya. “Apa kabar?” tangan Christian mengusap surai indah itu yang mulai rontok. Gadis itu menatapnya dengan raut bahagia, Ia berharap bisa keluar dari tempat itu secepatnya.


“Ayo Chris!”


Pria yang di sebut namanya hanya diam saja. Tangan yang sudah diulurkan Dias tak digubris. Tiba-tiba Christian memeluknya.


“Dias, Ayo kita bercerai!”


Gadis yang sedang bahagia itu meredupkan senyumnya. Menoleh ke arah Christian. Ia sungguh tak percaya kata itu keluar dari bibir seorang pria yang sangat mencintainya.


“Apa katamu? Cerai?”


Dias melepaskan pelukannya. menatap pria yang berdiri di depannya. Selama ini Dias hanya memanfaatkan perhatian dan kebaikan pria itu. tepat seperti apa yang dikatakan Gunawan. Jika dalam diri Dias hanya ada sebuah ambisi dan dendam yang harus terpuaskan dahaganya.


Berita kejahatan Dias sudah di tayangkan di saluran televisi dan portal berita online. Membuat keluarga besar Christian murka dan harus menanggung malu. Terlebih kondisi Dias yang sudah tak bisa memberikan Christian keturunan.


Haha....


“Kalau Gue nggak mau gimana?”


“Apa yang harus Aku lakukan supaya kamu mau menandatangani surat cerai ini?” tanya Christian balik.


Senyum itu. senyum yang menakutkan, kembali hadir dalam raut manis Anggita Dias. Take and gift adalah moto gadis itu.


“Apa Lo bisa melakukannya, kalau Gue setuju untuk tanda tangan?”Tanpa berpikir Chris pun mengangguk.


“Bawa gue keluar dari tempat penampungan orang gila ini, Chris! Gue masih cukup waras untuk berada di tempat mengerikan ini.”


Christian berpikir cukup keras. Jika ia menyetujui permintaan Dias, akan banyak kejahatan lagi yang akan Ia lakukan. Namun, jika tidak, keluarga Christian akan menghancurkan keluarga gadis itu.

__ADS_1


Posisi Christian terdesak. Akhirnya Ia menyetujui untuk membawa gadis itu keluar. Setelah Dias menandatangani surat perceraiannya.


Sesuai janjinya, Chris membayar perawat yang berjaga di sana dengan sejumlah uang yang cukup besar. Membantu Dias untuk keluar dengan mudah dengan mencari pengganti untuk mengisi ruangan Dias yang kosong.


“Sekarang kamu kemana?”


“Carikan Gue tempat tinggal di Bandung.”


“Apalagi yang Lo rencanakan Dias? Hentikan semua perbuatanmu! Tidak cukupkah rumah sakit itu untuk merenungkan semua kesalahanmu? hah?”


“Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa Chris, berhenti bicara seolah Lo yang paling tahu situasi gue?”


Christian mendapatkan tempat kost Dias semasa kuliah. di mana tempat itu berjarak sangat dekat dengan Kafe milik Dion. Chris pun memberikan Dias sejumlah uang sebelum pergi meninggalkan gadis itu.


“Perceraian kita dalam proses, semoga kamu bisa hidup lebih baik Dias. Maaf, Aku harus pergi!” pamit Christian.


“Pergilah, carilah kebahagiaanmu sendiri!”


Mobil mewah itu melaju kencang setelah meninggalkan Dias di depan sebuah bangunan besar. Dias merasa miris karena telah memperlakukan pria sebaik Christian dengan penuh kebohongan. akhirnya pria itu menyerah dan Dias tidak menyesal pernah memilih pria itu.


“Lebih baik Lo pergi Chris, Lo nggak akan pernah bahagia sama Gue. apalagi dengan kondisi gue saat ini.”


...


Di luar ruangan tampak gadis tomboy berambut coklat tengah menunggu Gunawan. Dalam hatinya berdoa, dosa kah Ia jika menginginkan kematian pria yang berstatus suaminya? Supaya Ia bisa kembali bersama Iwan.


Apa yang Ia dapatkan dari pernikahan paksa ini? Rosi menyarankan untuk menunggu hingga Ayahnya sembuh dalam pengobatan supaya pengorbanan Yoshi selama ini tidak sia-sia. karena Rosi pun sudah menyukai gadis muda berambut coklat itu.


“Bang, apakah ada berita baik untuk Mas Dewa?” tanya Yoshi.


“Belum ada, justru keadaannya semakin memburuk. Padahal hukuman berat sudah menantinya, kenapa Lo khawatir dengan pria psikopat itu?” ejek Gunawan.


“Wah, itu berita bagus dong! Kalau semakin memburuk. Bisakah kita membuat perayaan sekarang?”


Hahaha...

__ADS_1


“Bocah stres! Temannya Vicky dan Dion nggak ada yang waras ya.”


Yoshi manggut-manggut sembari tersenyum. Lantas Gunawan memberitahunya tentang gadis yang bernama Dias. Yoshi pun tertarik untuk mendengar kisah si mawar hitam.


“Lo tahu Yoshi, gadis yang mencelakai Dista?”


“Kenapa Bang? Apa Dia sudah di penjara?”


“Ternyata gadis itu juga korban dari suami Lo. tubuhnya over dosis obat terlarang dan sering berhalusinasi. Lo nggak mau menjenguknya? Dia ada di rumah sakit jiwa di Jakarta.” jelas Gunawan.


“Idih, Ogah! Amit-amit deh Bang kalau ingat perbuatan dia dulu.”


“Kalau boleh tahu, kenapa Lo bisa sampai tersesat menikahi pria itu?”


Yoshi pun awalnya tak tahu menahu, dari mana Ayahnya memiliki kenalan seorang pengusaha. Yoshi baru tahu dari Sigit, jika seharusnya yang menjadi istri kedua Papanya adalah Dias. Karena Dias sudah tidak gadis lagi dan memiliki riwayat berhubungan dengan banyak pria, Dewa menolaknya. Lantas, Dias pun menunjuk Yoshi sebagai gantinya.


Mereka berdua bicara panjang lebar, sampai akhirnya berpisah saat jam makan siang. Yoshi akan mengunjungi Kafe tempat dirinya dulu bekerja sebelum kembali ke Jakarta. sedangkan Gunawan akan kembali ke kantor.


“Bang, titip Mbak Rosi ya!”


“Haha, Lo pikir Gue baby sitter! Hati-hati di jalan!” seru Gunawan.


Mereka berdua berpisah. Gunawan menuju kantornya sedangkan Yoshi menuju jalan besar menunggu taksi. Dari arah berlawanan seseorang dengan pakaian perawat memasuki lorong yang panjang. Dengan gerobak medis untuk yang digunakan untuk mengantar makanan melintas begitu saja melewati Gunawan dan Yoshi.


Meski tampak bingung, sosok itu tampak berhati-hati untuk tidak tertangkap sebelum melancarkan aksinya. Sampai Ia menemukan sebuah ruangan yang penuh dengan penjagaan ketat.


“sepertinya ini ruangannya.”


Melihat jam di tangannya, Ia menunggu hingga dua penjaga yang sedang bertugas pergi untuk makan siang. Tak berselang lama hanya tersisa satu petugas yang berjaga. Sosok misterius berpakaian perawat itu memasuki ruangan steril. Dan melangkah menuju pasien yang tengah koma.


Dengan pisau lipat, Ia memotong saluran ventilator nya. dan menyumpal mulut pasien dengan sarung tangan karet yang Ia kenakan. Kemudian menyiramkan alkohol di lantai dan menyalakan pemantik di sana. Api kecil telah timbul, sebelum mulai menjalar di sekelilingnya.


Perawat itu keluar ruangan dengan langkah hati-hati, agar tak dicurigai oleh petugas yang masih berjaga. Setibanya di sudut lorong Ia membuang pakaiannya dan segera pergi dari sana. Dan buru-buru pergi dari lingkungan rumah sakit itu.


Jantungnya berdebar, bergelut dengan waktu. justru membuatnya tertawa, hidupnya seakan bangkit lagi. melakukan tindakan berbahaya sudah menjadi makanan sehari-hari. Sampai saat di pintu keluar, ternyata pintu gerbang sudah di tutup oleh beberapa orang Polisi di sana.

__ADS_1


“Berhenti! Atau akan ku tembak jika melawan!”


...


__ADS_2