Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 36. Awal Penderitaan


__ADS_3

Setelah berdiskusi panjang lebar dengan pihak rumah sakit, akhirnya Kania diizinkan mendapatkan perawatan di rumah sakit lain yang ditunjuk. Mengingat hipotermia membutuhkan perawatan intensif, juga untuk mengurangi rasa trauma yang dialami gadis itu.


Vicky sebagai wali, menyanggupi semua persyaratannya, agar mereka semua dapat kembali ke Jakarta.


“Kalian bertiga kembali aja ke Hotel, untuk prepare check out, Gue sendiri yang akan menjaga Kania disini.” Pinta Yoshi. “Beb, jangan sampai ada yang ketinggalan barang-barang Gue, kalau masih mau jadi calon suami Gue!” ucap Yoshi enteng.


Vicky menertawakan nasib Iwan, sejak dulu tak pernah berubah, selalu menjadi bulan-bulanan si tomboy, namun hubungan keduanya awet hingga sekarang.


Sedangkan Iwan hanya bisa garuk-garuk kepala, setiap kali Yoshi mengancamnya dengan kalimat seperti itu.


“Tenang Beb, semua pasti beres!” dan mereka berpisah meninggalkan Yoshi di depan ruangan Kania dirawat.



Setelah ketiganya berlalu, ponsel Kania berdering. Yoshi yang mengamankan benda pipih itu, dan membaca nama yang tertera di layar.


“Sigit.” Seperti nama yang familier. Yoshi menatap Kania, karena gadis itu meminta ponselnya. Yoshi yang tak ingin mengganggu hendak pergi, tetapi Kania melarangnya.


“Disini saja Yoshi! Nggak lama kok.” Gadis tomboy itu pun menurut, tetapi ada satu hal yang membuat kekasih Iwan itu penasaran. Sejak kapan Kania dan Sigit begitu akrab, bahkan sampai memiliki nomor ponselnya.



Senyum Kania tak dapat ditutupi, ada pancaran bahagia di wajahnya yang mungil. Yoshi pun turut senang, karena Kania sudah kembali berinteraksi secara normal.


‘Mungkinkah ada hubungannya dengan pria manis itu?’ Yoshi bertanya-tanya.


Meskipun durasi telepon itu tidak lama, dan bahasa yang mereka gunakan terlalu formal, ada kemungkinan keduanya memiliki ketertarikan satu sama lain.


‘Wah, kacau kalau gara-gara bocah itu Dion cemburu!’ Yoshi mengusap wajahnya takut jika tebakannya benar.


“Kania sebaiknya kamu istirahat saja, nanti malam kita akan kembali ke Jakarta.”


“Serius Yoshi?” Mata Kania berbinar, seakan sudah merindukan tempat tidurnya di rumah yang di sewanya.


“Serius! Lo, Gue dan Iwan akan tinggal di rumah Vicky sampai Lo benar-benar sembuh.”


Kania bernapas lega. Paling tidak, Ia tak akan melihat pria brengsek itu sementara waktu.


...


“Ugh... Jam berapa ini? Gue tidur lama banget perasaan!” Pria itu bangun dengan banyak peluh di tubuhnya.


Dion sadar, setelah beberapa jam tertidur pulas efek obat yang di minumnya.

__ADS_1


‘Kenapa Gue ada di rumah?’


Dion membuka ponselnya, banyak sekali panggilan tak terjawab dari Iwan, Vicky juga Yoshi.


“Cih! Kenapa sayang Gue nggak ada di log panggilan juga, pasti langsung Gue telepon balik!” gumam Dion.


Tak berselang lama Chandra dan Agnes masuk ke kamar. Memeriksa kondisi pentolan geng itu.


“Sudah sadar?” Chandra duduk di ranjang, dan berusaha untuk menunjukkan perhatiannya.


“Iya, sayangnya Dion masih diberi nyawa cadangan satu lagi, jadi masih tetap hidup. Katakan, ada apa lagi?”


“Jangan begitu Dion, bicara sama Papa Kamu!”


“Bagus kalau kamu masih hidup, karena kamu perlu bertanggung jawab dengan nasib seorang gadis. Sudah cukup bertingkah layaknya bocah. Semuanya sudah Mama kamu persiapkan.”


Ujang yang berada di depan kamar hanya bisa menyaksikan drama keluarga itu. Ingin sekali Ujang bertanya tentang keberadaan Kania, namun Ia merasa tak pantas diri untuk terlibat terlalu dalam pada masalah Anak Majikannya.


“Apa yang sudah kamu lakukan dengan gadis itu?” tatapan Chandra penuh curiga.


Dion menjadi ingat dengan Kania, yang Ia tinggalkan begitu saja setelah menyalurkan hasratnya malam itu yang begitu liar dan tak terkendali.


“Bukan apa-apa? Hanya menikmati beberapa malam saja dengannya...”


“Jadi benar kan, Kalau kamu yang menghamili Dias! Sampai Ia masuk rumah sakit sekarang, karena keguguran. Pernikahanmu lusa akan diadakan, jadi persiapkan baik-baik!”


Dion menatap kedua orang tuanya tak percaya. Bukan Dias yang Ia maksud. Dion ingin meralat ucapannya, namun terlambat, Papanya sudah meninggalkan kamarnya.


“Ma, Bukan Dias yang Dion sentuh!” elak Dion. Ingin sekali menjelaskan, namun susah baginya untuk menceritakan keadaan yang sebenarnya.


“Mama kecewa Nak sama Kamu! Mama pikir kamu pergi dengan Kania, ternyata malah bersenang-senang dengan gadis nakal itu.” Setelah mengatakan hal itu, Agnes pun berlalu, karena Dion juga tak memberikan pembelaan dirinya.


Dengan tenaga yang baru saja pulih, Dion keluar dari rumah, Ia menemukan Ujang duduk di tangga.


“Mang, temani Dion sebentar ke rumah sakit.”


Ujang pun menurut, melihat kondisi Dion yang masih belum sembuh itu, tak bisa mengemudi sendirian.


“Mas, gawat!”


Dion dan Ujang bertatapan, “Ada berita apa Mang? Ke mana Dias? Nyokap bilang Dia masuk rumah sakit.”


Ujang menceritakan semua yang terjadi di rumah.

__ADS_1


“Bu Agnes sudah tahu, kalau selama Ini Mas Dion tinggal di rumah sewa. Teh Dias yang meminta sopir untuk mengikuti Ujang. Beruntungnya saat itu Mas Dion sama Mbak Kania tidak ada di rumah, jadi aman.”


“Brengsek! Terus?”


“Sebelum Mas Dion kembali, Bos mendapat telepon dari rumah sakit, mengatakan bahwa calon menantunya, maksud Ujang Teh Dias, mengalami keguguran dan Teh Dias bilang, Kalau Mas Dion nggak menginginkan anak itu. Jadi ... Ya seperti itu lah yang Ujang dengar.”


Kini Dion benar-benar di salah pahami oleh kedua orang tuanya. Ini semua karena ulah Dias, juga kesalahan dirinya yang memutuskan untuk kembali ke Jakarta.


Dion menghubungi Iwan, dan panggilan itu pun tersambung.


Dion


[Bro, Di mana Lo? Di mana yang lain? ]


Iwan


[Masih hidup Lo! Gue kira Lo udah mampus. Ada apa?]


Dion


[Gue mau bicara sama Kania, bisa Lo sambungin?]


Iwan


[Nggak bisa, Gue nggak sama bocah itu. Kalau Lo gentle, telepon sendiri ke nomornya, Lo punya kan?]


Iwan tak memberitahukan kondisi Kania kepada Dion, jika pria itu tahu mereka akan kembali ke Jakarta, pasti Dion akan datang dan kembali mengusiknya.


Dion


[Kania baik-baik saja Kan? Kapan kalian akan kembali?]


Iwan


[Belum tahu Bro, Sepertinya Bininya Vicky masih betah disini! Lo serius udah balik Ke Jakarta? Payah Lo!]


Dion memutuskan sambungan teleponnya. Tak mungkin Ia kembali ke Kota itu sementara orang tuanya sudah menyiapkan pernikahannya.


Dalam ruangan Dias di rawat, Dion melihat dari luar, Jika Dias bersama pria yang sangat di benci olehnya. Tak kehabisan akal, Pentolan geng itu mengambil Video dan beberapa foto untuk bukti dirinya.


Ia mendengar pengakuan secara langsung dari Dias, jika janin yang baru saja gugur itu, adalah anak Christian.


‘Lo beneran mau main-main sama Gue Dias, Lihat aja, Lo akan memilih untuk masuk penjara dari pada menjadi istri Gue! Dan Lo Kania Lo nggak akan bisa lari dari Gue atau ke pelukan pria lain!’

__ADS_1


...


__ADS_2