
Sehari setelah dinyatakan meninggal dunia, Asri dan Ujang di makam kan. Ujang yang belum berkeluarga juga putra sulung Asri juga tak bisa ditemukan membuat prosesi pemakaman berlangsung cepat. Hanya satu yang Chandra dan Agnes sesalkan. Kania juga Dion tak dapat melihat ibunya untuk terakhir kalinya.
Agnes menitipkan Dion kepada teman-temannya untuk berjaga di rumah sakit. karena kondisi Dion belum sadar hingga sekarang. Informasi dari petugas juga belum menemukan titik terang keberadaan Kania. hingga rombongan pelayat meninggalkan perisitirahatan terakhir kedua korban kecelakaan itu.
“Bu,” lirihnya.
Dengan sebotol air mawar dan bunga tujuh rupa di tangannya, Ia semaikan di atas gundukan tanah merah yang masih basah. Papan bertuliskan nama ibunya membuat hatinya seketika hancur. Perlahan tiap momen mengerikan terlintas di benaknya. Bagaimana si sulung memperlakukan Asri dengan buruk dan tidak tahu di untung. Setiap goresan luka fisik dan batin yang Asri terima.
“Gue minta maaf belum becus jadi anak buat Lo, tapi gue nggak akan biarkan orang yang membuat Lo tewas hidup tenang begitu saja.” Faris pun pergi meninggalkan pemakaman itu.
...
Uhuk...uhuk...
Udara di dalam ruangan itu membuat seorang pasien terbatuk dan mulai tersadar dari tidur panjangnya. Seluruh tubuhnya merasakan nyeri dan lelah. Sampai Ia melihat seorang pria meringkuk di sisinya.
Respon tangan Kania membangunkan pria itu. akibat berjaga semalaman akhirnya Ia tumbang mendekati fajar tiba.
“Kania, kamu sudah sadar?” respon Sigit begitu bahagia melihat gadis itu menatapnya. Merasa pernafasannya mulai membaik, gadis itu meminta Sigit membuka ventilatornya agar Ia bisa berbicara dengan leluasa.
“Kamu yakin mau di lepas selangnya?” gadis itu mengangguk. Sigit memeluk gadis cantik itu. rasa rindunya benar-benar membuncah di dada. Kania pun semakin merasa bersalah, bahan Ia sampai tak mempedulian kondisinya saat ini.
“Sigit, apa yang terjadi padaku? Kenapa Aku berada di sini? Kamu lihat Mas Dion?”
“Cih! Bahkan sekarang kamu sudah memiliki panggilan sayang untuknya.” Sigit duduk di sisi ranjang dan menangkup wajah mungil gadis itu.
“Kania, kenapa kamu tega melakukan hal ini padaku, hah?”
“Sigit, Aku merasa berdosa jika meletakan semua kesalahan kepadamu karena- ...”
“Karena kamu mengandung anaknya, begitu? Apa kamu pikir, aku tidak bisa menerimanya, Kania? coba jawab aku,” desak Sigit.
__ADS_1
Gadis itu terdiam dan menundukkan pandangannya. Tapi Kania tak ingin membahas hal itu dulu. ada hal yang jauh lebih penting yang harus Ia ketahui.
“Sigit, kamu belum menjawab pertanyaanku bagaimana aku bisa sampai di sini dan dimana orang-orang?”
Pria itu dengan susah payah menyusun kalimatnya dan menyampaikannya dengan hati-hati. Mengingat kondisinya baru saja pulih. Sigit sudah menekan tombol darurat untuk memanggil dokter khusus yang menangani Kania.
“Aku mita maaf, tapi aku harus menyampaikan hal ini cepat atau lambat. Kania, mobil yang kalian tumpangi mengalami kecelakaan. Lalu...”
“Saudara Sigit kami menerima laporan bahwa anda membuat laporan palsu. Karena telah menyembunyikan korban kecelakaan dari keluarganya, untuk itu anda harus ikut kami ke kantor polisi untuk membuat pernyataan!” dua orang petugas melangkah mendekat ke arah kekasih Kania dan menangkapnya.
“Sigit, ada apa ini?” Kania bingung dan tak melepaskan genggaman tangan pria itu.
“Nanti aku akan jelaskan padamu Kania, tunggu Aku ya! pastikan dirimu lekas pulih.” Sigit mengecup kening gadis itu yang terdapat plester di sana.
Sigit terus menoleh ke belakang, melihat gadis itu menatapnya dengan rasa kehilangan. Tak ada yang bisa menjelaskan kepada gadis itu sampai sepasang suami istri memasuki kamarnya dengan histeris.
“Ya Allah Kania, syukurlah kamu masih hidup Nak!” Agnes dan Chandra memeluknya bergantian. Gadis itu semakin tak mengerti. Sampai kania mendengar dari mertuanya, jika Ibu kandungnya telah meninggal dunia dalam peristiwa kemarin.
Tekanan darah Kania kembali turun membuat gadis itu kehilangan kesadaran.
“Apakah kalian keluarga pasien?” tanya dokter. Smebari menyuntikan obat melalu botol infusnya.
“Benar dok, Kania menantu saya.”
Deg!
Pria ber jas putih itu merasa terkejut, ternyata Sigit telah menyembuhkan istri orang. Meskipun alasan Sigit cukup logis, tetapi sebagai tenaga kesehatan pria itu wajib memberitahukan secara jelas kondisi Kania.
“Mohon maaf, bisa kita bicara di luar? ada yang harus saya sampaikan mengenai kondisi yang dialami pasien.” Agnes dan Chandra mendengarkan dengan seksama tanpa ada yang terlewatkan. Dokter mengatakan jika kondisi Kania sudah kritis sebelum kecelakaan itu terjadi.
“Ada racun dalam tubuh pasien yang sedikit terlambat ditangani, membuat pasien harus kehilangan janin dalam kandungannya.” Imbuh dokter. Agnes pun tak kuasa menutup mulutnya dan menghambur ke dalam pelukan suaminya.
__ADS_1
“Pa, cucu kita Pa!”
“Bagaimana bisa ada racun dokter? Mereka meninggalkan acara saat Kania mengalami sakit luar biasa, mungkinkah karena itu? Lalu beberapa saat kemdian baru kecelakaan itu terjadi.”
“Bisa jadi dalam makanan yang dikonsumsi beberapa jam terakhir, kalian bisa memeriksanya. Seseorang membawanya kemari lebih dulu karena memang melihat ada yang janggal dengan kondisi pasien. Dan memastikan kondisinya berangsur membaik.” jelas dokter.
Mendengar berita Sigit di gelandang ke kantor polisi, Dewa yang baru kembali ke rumah langsung menuju ke kantor polisi bersama pengacaranya.
“Itu semua salah paham pak! bagaimana mungkin putra saya berbuat hal seperti itu kepada gadis itu. Apa salah jika seorang pria menyelamatkan nyawa kekasihnya yang nyaris tewas dalam kecelakaan itu?” Dewa mendebat semua pernyataan yang menyudutkan anaknya.
“Tetapi laporan terakhir yang saudara Sigit berikan tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Laporan itu segera datang dan kami wajib menyelidikinya.” Dewa menatap kedua petugas itu dengan senyum yang tak mudah ditebak.
Diperiksa beberapa jam di kantor polisi tak membuat Sigit takut. Karena apa yang Ia lakukan semata-mata hanyalah melindungi nyawa kekasihnya. Sigit tak sanggup kehilangannya. Meskipun saat ini Ia melihatnya dari kejauhan, paling tidak Sigit masih bisa melihat fisik gadis itu di suatu tempat.
Sigit tak segera pulang ke rumah. Ia kembali ke rumah sakit. menemui dokter dan meminta laporan perkembangan Kania. selanjutnya Ia menenangkan diri di kafenya. Jo dan Richie yang tak tega melihat pria tampan itu hidupnya tak pernah mulus.
“Mas, tenangkan dulu pikirannya. Dari pada minum obat lebih baik minum kopi buatan Richie, bagiamana?” goda teman baik Sigit.
Senyum Sigit masih seperti biasanya. melihat Kania sadar semangatnya pun hidup kembali. pria itu memeriksa laci meja kerjanya. di sana ia membuka selembar kertas laporan kesehatan milik seseorang.
“Dias,” lirih Sigit. Bola matanya berputar seakan mengingat nama yang sering terdengar di telinganya.
“Jo, Richie, kalian tahu siapa Dias?” kedua barista itu melihat selembar kertas yang di pegang oleh Sigit. “Oh itu milik gadis manis yang pingsan waktu itu Mas, ingat nggak? yang jatuh di depan kafe terus kita ajak masuk...”
...
Ctarrr...
Ctarrr...
Berulang kali suara cambuk itu menyayat kulit lembut itu hingga membuat lukanya menganga mengalirkan darah segar.
__ADS_1
“Ampun Mas! Ampun, bukan itu maksudku!”
...