
Saat Kania tak masuk ke kantor, Dion berusaha membersihkan nama gadis itu. Ia tak ingin Kania menjadi stres. Mengingat sekretaris kesayangannya kini telah mengandung benihnya. Dion akan memberikan kenyamanan untuk Kania supaya dirinya tak membutuhkan kasih sayang dari pria lain.
OB baru yang pernah memergoki Kania sedang membalurkan minyak kayu putih saat Dion mabuk dengan aroma durian. Rupanya diam-diam telah menyebarkan berita memalukan itu. Dion terpaksa memecatnya, supaya hal serupa tak terjadi lagi. Dan menjadi peringatan bagi karyawan yang lain.
“Saya minta maaf Pak, saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi.” mohon pemuda 19 tahun itu.
“Bagus, kalau kamu tidak akan mengulanginya di perusahaan lain, tapi saya sudah tidak membutuhkan karyawan yang tidak bisa dipercaya. Kamu tidak punya integritas dan kejujuran, kalau dibiarkan akan berbahaya bagi perusahaan. Kamu boleh pergi.”
Dion melanjutkan pekerjaannya. Baru kali ini Dion langsung mengurusi hal-hal kecil seperti ini. yang seharusnya merupakan pekerjaan staf nya. Dion membuat surat tugas untuk Kania selama seminggu, yang telah Ia tanda tangani dan diserahkan ke hrd.
Setelah kasus pemecatan OB dan pemberian surat peringatan kepada penyebar rumor di kantor. Suasana di kantor pusat berubah menjadi menyeramkan. Terlebih saat melihat Dion berjalan melintasi area mereka.
Banyak yang tak bergeming dan memilih melanjutkan pekerjaannya. Seluruh ruangan menjadi tegang. Namun, setelah diumumkan Dion akan tugas ke luar kota selama seminggu, semua staf bersorak sorai merayakannya.
“Dion, kamu sudah pulang? baru jam berapa ini?”
“Halah, kayak Papa nggak pernah pulang cepat aja! Oh iya besok Dion pergi selama beberapa hari, jangan kangen! Oke!” pesan Dion.
Pentolan geng itu menaiki tangga menuju kamarnya. Berganti pakaian dan menuju ke rumah Iwan. Sudah beberapa hari ini nomor temannya tak aktif. untuk itu Dion berencana menculiknya dan membawanya ke rumah.
“Iwan ke mana Tante? Dihubungi kok nggak bisa?”
“Ah masa? Coba kamu telepon lagi. Iwan sudah keluar rumah dari jam satu siang, mungkin sebentar lagi pulang Nak Dion. ada apa sih sama Iwan? Tante tanya, tapi nggak pernah di jawab.”
“Haha... biasa masalah anak muda, Tante nggak perlu khawatir. Masih ada Dion sama Vicky di sini kalau Iwan memutuskan untuk pulang.”
Setelah berbincang panjang lebar dengan Mama Iwan, sebuah mobil datang. Seorang pria tinggi, kurus dengan kaca mata hitamnya. Membuat Dion terpingkal-pingkal melihat kelakuan konyol sahabat baiknya.
“Heh, udah sehat Lo!” Dion dan Iwan berpelukan. Mereka berdua akhirnya bisa ngobrol berdua. memang tak bisa disembunyikan gurat kesedihan dari bocah konyol seperti Iwan. Namun Dion dan teman-temannya akan berusaha membantunya keluar dari masa sulitnya.
“Ke Bali Bro! si Vicky ada meeting di sana sekalian kita berlibur, gimana?”
“Siapa aja yang ikut? Nanti Lo balik duluan lagi kayak kemarin, brengsek Lo!” gerutu Iwan, trauma dengan kelakuan Dion sebelumnya.
Dion tertawa saat mengingat peristiwa itu. Semua berawal dari munculnya Sigit dalam kehidupan percintaan dirinya dan Kania. Membuat hubungannya dengan gadis jorok itu menjadi berantakan.
__ADS_1
“Nggak akan! Kenapa, kapok Lo? Haha... yang pasti yang udah pada laku, kita mah apa atuh? Haha...” Iwan pun tertawa melihat wajah Dion yang putus asa seperti dirinya.
“Okelah, kapan berangkat. Jangan bilang kerjaan si bohay nih yang ngajakin baby moon?”
“Ya, maklum lah wanita hamil kalau nggak diturutin anaknya ileran. Lo tidur di rumah Gue ya! Gue udah izin sama Nyokap Lo tadi,” imbuh Dion. kedua pria itu akhirnya pergi ke sebuah kafe, mereka menghabiskan waktu berdua. Dengan sebatang rokok dan secangkir kopi, Iwan dan Dion saling terbuka dengan masalahnya masing-masing.
...
Yoshi merasakan perasaan khawatir. Tinggal di rumah besar itu namun tak seorangpun yang bisa Ia ajak bicara. Rosi dan Sigit selalu berada di kamar saat Ia berada di luar. Begitu juga sebaliknya, saat Yoshi berada di kamar, Sigit dan Rosi asyik berbincang membahas tentang gadis pujaan hatinya.
“Kamu ya! mentang-mentang sudah punya pacar udah bisa kacangin Mama! Liburan ke Bandung nggak pulang-pulang.”
Hah! Sigit menghela napas. mencoba menutupi kesedihannya di depan Rosi. Senyumnya selalu tersungging di wajahnya yang tampan.
“Sigit lupa waktu Ma kalau sama dia, rasanya Sigit nggak mau pulang, kalau udah sama dia, hehe...”
“ehm, kamu ya! benar-benar sudah dewasa, memangnya kamu serius sama dia?”
Sigit terdiam. Awalnya pria manis itu menggebu-gebu untuk memiliki gadis itu. Namun, setalah tahu Kania hamil, Sigit mulai ragu. Bukan meragukan cintanya, tetapi Dion pasti akan lebih sering mengganggu hubungan mereka.
...
“Lo mau minggat Bro? banyak banget barang bawaan Lo?” tanya Iwan di kamar Dion.
“Berdua sama Nyonya.” Dion tertawa saat melihat wajah Iwan merasa tertipu. Ternyata hanya dirinya yang seorang diri. Dion akan mengajak Kania. Pantas saja Dion susah payah membawanya pulang kerumahnya.
“Brengsek Lo, Gue dijadiin kambing congek di sana. Gue balik lah! Nggak asyik Lo!”
Iwan keluar dari kamar Dion dan berpapasan dengan sosok cantik berkepang dua. Keduanya terkejut saat hampir bertabrakan.
“Iwan? Ngapain Lo disini?”
“Kania? Lo juga ngapain disini?”
Mereka berdua tertawa, ada-ada saja ulah Dion yang bisa membawa mereka semua ke rumahnya.
__ADS_1
“Oh, Lo juga ikut ke Bali sama anak-anak ya?” boleh ngobrol sebentar?” pinta Kania.
Mereka berdua berdiri di balkon. Kania meminta maaf karena tak bisa menepati janjinya. Hubungan kedua temannya itu terpaksa kandas. Mungkin memang bukan jodohnya, sehingga jalinan cinta Iwan dan Yoshi yang sudah dipupuk lama harus berakhir.
“Santai aja, Nggak usah terlalu dipikir Kania, semua bukan kesalahan Lo! Semua salah Gue, yang terlalu menganggap enteng sebuah hubungan.” Dion menyaksikan mereka berdua. Kedua tangannya dilipat di dada. Ternyata Kania bisa juga menghibur Iwan.
“Gimana hubungan Lo sama Dion?”
“Hubungan yang mana?” Kania merasa ambigu, atau memang dirinya yang susah konsentrasi karena efek obatnya.
“Hubungan “itu”, masa Lo lupa?”
“Ih Iwan ngeres, bodo ah! Nggak mau jawab pokoknya.” Kania berlalu meninggalkan pria cungkring itu sendirian. Padahal maksud Iwan status mereka berdua, bukan hubungan panas yang pernah mereka lakukan.
“Dasar! nggak cowoknya nggak ceweknya, sama-sama aneh! Gue sumpahin kalian berjodoh.”
Hahaha...
Dion mendengar percakapan random keduanya, sebelum memutuskan untuk tidur. Rencana mengajak Iwan berhasil, Kania pun juga mau setelah dibujuk oleh Chandra dan Agnes.
Di dalam kabin pesawat, Hanya Iwan yang duduk sendiri. Pandangannya menatap ke jendela. Kumpulan kapas berwarna putih sangat indah. Namun tak berwarna. Sama seperti kehidupannya. Melihat teman-temannya berpasang-pasangan, Ia mulai merindukan gadis tomboy berambut coklat yang biasa Ia bawa ke mana-mana.
Sampai pesawat itu mendarat sempurna di bandara Ngurah Rai, Bali.
“Gue pesan resort nih, kamarnya Cuma ada dua yang ada pintunya. Yang dua lagi nggak ada.” Vicky mengatakan hal itu dengan tak berhenti tertawa. Melihat ekspresi Dion yang menahan kesal, menjadi hiburan untuk yang lain.
“Haha... Brengsek Lo! Sengaja banget emang mau show off!”
“Yang, Aku pilih kamar yang ini ya!” Dista memilih kamar yang menghadap kolam renang. Dan mulai membawa masuk barang bawaannya. Semuanya menertawakan pasangan absurd itu.
“Tapi Yang, kamar itu kan nggak ada pintunya...” protes Vicky. “Nanti Kalau Dion masuk gimana?”
__ADS_1
“Hahaha... Rasain, emang enak senjata makan tuan!”