
Sepulang dari rumah sakit menjenguk teman baiknya, Dion dan Kania mampir ke sebuah studio foto. Mereka berdua mencetak hasil foto yang dikirimkan oleh Vicky. Foto keluarga kecil yang bahagia. Di dalam gambar estetik itu ada Dion, Kania, Angel dan si kembar yang masih di dalam perutnya.
Bayi cantik berkulit putih kemerahan, sedang tertidur pulas dalam pelukannya. Wajahnya perpaduan kedua orang tuanya. Membuat Kania membayangkan anak-anaknya nanti. Sesekali tersenyum kecil, jika satu mirip dirinya dan satu lagi mirip suaminya. Tiga bulan saja perutnya sudah sebesar ini, bagaimana nanti saat dirinya akan melahirkan, pikir Kania.
Setelah menunggu beberapa saat, keduanya merasa kagum karena hasilnya sangat memuaskan. Ditambah pigura cantik berukuran 30x40cm pilihan Kania untuk diletakkan di dinding kamarnya. Namun ada satu pertanyaan yang mengganjal pada diri Kania yang membuat Dion ingin tertawa.
“Kenapa wajah Vicky tiba-tiba berubah saat Ibunya datang? bukannya mereka harusnya senang ya?” tanya Kania yang terus mengusap perutnya.
“Oh, sejak tadi kamu penasaran dengan hal itu? Kamu ini gimana sih?” Dion mengacak rambut Kania karena sepertinya salah paham. Bukan tidak senang karena ibunya, tetapi karena adiknya datang dan selalu memberi perhatian lebih kepada Dista.
“Kamu nggak lihat cowok kulit putih yang baru datang saat kita mau pamit pulang?” tanya Dion.
“Lihat sih, tapi nggak ngeh aja karena dia langsung menuju ke tempat Dista berbaring. Memangnya dia siapa?”
“Anggap saja cowok yang baru datang itu adalah Sigit, Vicky adalah Mas dan Dista adalah kamu.” jelas Dion singkat. sembari menunggu respon Kania.
Tiba-tiba saja Kania langsung memukul lengan Dion karena terkejut. Ia tak menyangka jika itu adalah adik kandungnya Vicky. Kania tersenyum dan tiba-tiba tertawa. Mengingat momen canggung begitu, pasti sangatlah tidak mudah.
Sigit dan Dion adalah saudara sedarah, namun beda ibu saja sering ribut. Sedangkan kasus Vicky, mereka adalah saudara kandung. Apakah tidak akan sering ribut? Meskipun begitu Vicky lebih pandai mengelola emosi tidak seperti pria yang berada di sisinya.
“Jadi cowok itu adiknya Vicky juga?”
“Iya, adik kelas kita dulu dan mantan kekasih Dista.”
“Lalu apakah bocah itu sudah punya pacar?”
“Bocah, bocah, namanya Geri sayang. Sepertinya belum.”
Kania menatap Dion dan berusaha membuatnya kesal dengan menyindirnya. Ternyata suaminya tak sehebat yang Ia ceritakan.
“Hm, katanya hebat masa kalah sama adik kelas? Haha...”
“Jangankan kamu, kita semua juga terkejut. Dari mana mereka berdua bisa kenal. Kesalahan Geri Cuma satu, sama seperti Mas dulu nggak berani mengenalkannya kepada orang tua. Jadi ya nasib kita berdua itu sama.” Dion menatap Kania yang terus tertawa.
__ADS_1
“Beda lah, Dia sudah mantan berarti sudah sempat memiliki. Kalau Mas kan belum sama sekali.”
“Sudah jangan bahas mantan, Mas jadi ikut emosi kalau ingat itu.” sela Dion membela diri.
...
Keesokan Paginya Kania dan Dion pergi ke sebuah butik langganan Agnes di mal ternama. Mereka berdua sedang mencari gaun dan jas untuk menghadiri acara pernikahan si cungkring dan si tomboy. Mengingat tak ada yang pas dengan bentuk tubuh Kania. Mereka merancang sendiri ukuran yang pas dan nyaman.
Sebuah gaun off shoulder berwarna hitam polos, dengan bahan satin kombinasi tutu yang akan membuat tampilan istri Dion Wijaya anggun dan menjadi pusat perhatian.
Kini Kania menjadi wanita modern. Modis, cantik, terawat dan menggoda dengan tubuh semakin padat berisi. Tak ada lagi embel-embel jorok dalam nama belakangnya seperti saat awal Kania bertemu dengan Dion.
“Jangan lupa dibuat sedikit lebih longgar supaya perutnya tidak tertekan.” pesan Dion yang menjadi lebih bawel. Untuk tuksedo, atau setelan jas lengkap acara resmi Dion sudah menyelaraskan dengan gaun Kania karena bertema internasional dan lokasinya pernikahan itu diadakan di outdoor.
“Jangan pakai high heels, nanti kamu kecapekan Yang!” imbuh Dion saat melihat Kania sedang memilih sepatu berwarna senada dengan gaunnya.
“Kok kamu ngomong begitu? Aku nggak mau kalian kenapa-napa sayang, apa kita batalin saja? kamu nggak ingat sepulang kita dari Lombok kemarin kamu kecapekan sampai tidur berjam-jam...” ucap Dion panjang lebar membuat karyawan butik itu menahan tawanya. Mengingat pria tampan itu adalah CEO perusahaan besar dan mamanya adalah pelanggan prioritas di butik itu.
Kania meminta maaf dan mengelus dada Dion untuk tidak marah-marah lagi. memintanya untuk menenangkan diri. Sementara dirinya sedang dalam tahap pengukuran.
“Hm, sabar Mas. Iya Kania minta maaf, masa iya gara-gara masalah ini kamu mau buat teman baik kamu kecewa karena nggak jadi datang.”
Dion menatap Kania. diam tak bergeming lalu netranya melihat sebuah fitting room yang kosong. Lantas pria itu meminta air mineral untuk istrinya kepada karyawan butik itu. setelah wanita itu pergi Dion menarik Kania untuk masuk ke ruangan yang cukup besar untuk mereka berdua.
Tanpa ba-bi-bu lagi dilahapnya bibir ranum itu yang mengatainya bawel. Kania tak merasakan kekhawatiran dalam diri Dion. apalagi nanti mereka akan melakukan penerbangan jauh. Bibir kenyal itu habis dilahap hingga lipstik pink cherry itu memudar.
“Hentikan Mas! kamu kalau marah suka nggak ingat tempat, bikin Kania was-was aja.”
“Coba saja kamu ngatain Mas bawel lagi, bukan Cuma bibir kamu yang habis.”
Kania melarikan diri keluar dari ruangan bertirai itu. meskipun sudah berstatus miliknya, Kania masih saja gugup dan malu.
__ADS_1
Setelah selesai dengan satu kegiatan lagi Kania merasa kelelahan. Tenaga yang harus dikeluarkan Kania menjadi ekstra. Dirinya menjadi mudah marah, sedih dan lapar. Nyeri punggung dan pinggang pun kerap membuatnya serba salah.
Kania duduk dengan miring ke kanan menghadap suaminya yang sedang mengemudi. Punggungnya pegal. Ia ingin terus menatap wajah suaminya yang tampan dan selalu bisa membuatnya berdebar setiap saat. Padahal Kania hanya ingin mengatakan jika Ia merindukan keluarganya.
“Mas, tiba-tiba Kania ingin menjenguk Faris di penjara.” Lirih Kania. Ia takut jika Dion akan marah. Tak disangka justru sebaliknya. Dion dengan senang hati bersedia mengantarnya.
Pria dengan rahang tegas itu pun berjanji kepada Kania, jika setelah kakaknya bebas Dion akan memberikan pekerjaan yang layak di kantornya. Selama Faris berjanji mau berubah, Dion pun juga akan mencarikan tempat tinggal untuk saudara iparnya.
Ucapan Dion yang serius tak perlu Kania ragukan lagi. Namun Faris harus menunggu Dua tahun lagi untuk bebas. Padahal Dion dan keluarganya sepakat ingin menjamin mantan berandalan kampung itu, tetapi dilarang oleh Kania. Biarlah Ia mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya.
“Kapan kamu mau ke sana?” tanya Dion dengan tetap fokus menatap jalanan.
“Memangnya boleh?” sambung Kania lagi.
Melihat Dion mengangguk Kania pun justru menangis. Seburuk apapun Faris Ia adalah keluarga Kania satu-satunya yang tersisa. Jika ipar brengseknya berani macam-macam, Dion tak akan lagi memasukannya ke penjara. Tetapi langsung mengirimkannya ke neraka jalur ekspres.
“Kamu saja bisa memaafkan Mas yang punya banyak kesalahan, juga saudaramu yang begitu tak tahu diri. Masa Mas nggak bisa mengambil sedikit contoh dari kamu, hm?”
“Kalau lagi sok manis begini pasti lagi ada maunya ya kan?” goda Kania.
“Enak aja, nggak Yang! kamu sekarang curigaan terus deh sama Mas. Tapi kalau dikasih izin masuk ya apa boleh buat. Kan kamu juga suka iya kan?”
...
Perjalanan sore ini Dion dan Kania lalui dengan perasaan berbunga-bunga. Susah, senang, marah telah mereka lalui berdua, meskipun perjalanan kehidupan mereka berdua masih panjang. Namun kesetiaan Dion tak perlu diragukan lagi.
Kegagalannya dalam percintaan membuatnya sadar diri. Dion harus mencintai dan mensyukuri apa yang Ia punya. Karena apa yang menjadi milikmu itulah kebahagiaanmu yang sesungguhnya. Kania pun juga merasa bersyukur dengan pilihannya. Mungkin salah satunya berasal dari doa mendiang ibunya.
Tuhan mengirim Kania untuk masuk ke Wijaya Group tentunya bukan tanpa sebab. Gadis cantik itu harus meluruskan jalan seorang pentolan geng tampan yang susah diatur, urakan dan melupakan kewajibannya. Yang sekarang sudah resmi menjadi suaminya.
Kini mereka berdua hanya tinggal menunggu kelahiran buah cinta mereka. Anak kembar yang belum lahir yang salah satunya sudah di jodohkan dengan bayi perempuan cantik milik sahabatnya. Apakah keinginan Dion dan keluarga Wijaya dapat terwujud?
...
__ADS_1