
Berada dalam situasi tak menguntungkan, pria manis kenalan Kania, berusaha mencairkan suasana yang tegang, Sigit mengajak Kania mengobrol tentang aktivitasnya. Dion pun merasa kegerahan, ingin meninju pria itu sekarang juga kalau bisa.
“Kamu sibuk apa Kania?”
“Hmm, Aku -...?”
“Hatsyii!!!”
Suara bersin Dion mengejutkan semua seisi mobil. Hingga semua orang menoleh ke kursi belakang. Menatap ketiga orang di sana. Wajah Dion tampak konyol dengan mengusap hidungnya.
“Aku bekerja di-....”
“Uhuukk... uhuukkk...”
Lagi - lagi Dion terbatuk. Kania tak melanjutkan ucapannya. Sepertinya Dion sakit, Kania menoleh kearah Dion tetapi mengingat tingkahnya yang menyebalkan gadis itu pun mengabaikannya.
“Teman Kamu sepertinya sedang sakit.” merasa tak nyaman, Sigit mengeluarkan ponselnya. Dan meminta Kania untuk berbagi kontak. Siapa tahu setelah kembali ke Jakarta mereka dapat bertemu kembali dan melanjutkan pertemanan.
“Berapa nomor ponselmu Kania?”
“081 ...” Gadis manis itu membagikan nomornya. Tak ada salahnya menambah teman. Apalagi sama-sama berasal dari Jakarta. Dion semakin kesal, rupanya Kania tetap mengabaikannya. Mana sekarang malah berbagi nomor ponsel. Bisa jadi mereka akan berhubungan lebih lanjut setelah dari sini. ‘Nggak, Nggak bisa dibiarkan!’ batin Dion.
“Heh! Jangan membagi nomor ponsel sembarangan! Siapa tahu dia hanya modus.” Dion melirik Kania yang mengambil ponsel Sigit dan mengetikkan nomornya dengan cepat.
“Ini! Kamu bisa menghubungiku kapan saja.” Kania menyerahkan ponselnya kembali kepada pria itu dan tak mempedulikan ucapan Dion. Sigit tersenyum lebar, sebelum meninggalkan Kania dan teman-temannya. meskipun sejak dalam perjalanan Sigit merasa jika pria yang duduk di sebelah Kania menatapnya tidak suka.
“Terima kasih tumpangannya! Sampai ketemu di Jakarta.” Sigit pun berlalu.
Setibanya di kamar, Kania ternyata sedang asyik online dengan teman barunya. Dion sudah berusaha menahannya sejak tadi sore, hingga kesabarannya mungkin tak bersisa malam ini. Dion mengambil ponsel gadis itu dan membaca semua chat Kania dengan Sigit.
__ADS_1
“Kembalikan Dion! Lo nggak boleh melakukan itu!”
Dion mengangkat ponsel Kania tinggi-tinggi, dan gadis itu berusaha menjangkaunya, namun tak sampai. Saat merasa dekat, Dion merengkuh Kania dan melampiaskan kekesalannya pada gadis itu.
“Gue pernah bilang kan? jangan pernah berhubungan dengan pria lain! kedua Lo berbohong soal siapa pria yang bersama Lo tadi, ketiga Lo mengabaikan Gue Kania, Gue nggak bisa terima.”
“Jangan Lo pikir, Lo anaknya Bos Gue, terus bisa berbuat semau Lo sendiri Dion! dengarkan, untuk yang pertama dan terakhir. Gue nggak sudi disentuh lagi sama Pria brengsek seperti Lo, Paham!” maki Kania, yang berniat pergi namun di tahan oleh Dion.
Tubuh kecil gadis itu di hempaskan secara kasar, bahkan Dion dengan sengaja merobek pakaian Kania yang sedang dikenakannya, dan melemparkannya ke sembarang arah. Tenaga Dion yang cukup besar menindih tubuh gadis itu yang sudah menangis dan memohon kepadanya.
“Lo nggak akan pernah bisa keluar dari bayang-bayang Gue! dan membiarkan pria lain menyentuh Lo secara bebas, Gue nggak akan pernah membiarkan hal itu terjadi!!!”
Dion meluapkan emosinya, bukan lagi wajah kekasih impiannya yang Ia nikmati. Tetapi benar-benar Kania. Seorang Kania Dinara, gadis jorok yang selalu membuatnya jengkel dan cemburu. Namun Ia tak bisa melepaskannya, karena merasa telah menyentuhnya.
Dion menikmati makan malamnya dengan penuh kemarahan. Meski begitu tetap saja Dion merasakan kepuasan. Ia tak peduli lagi dengan yang lainnya. Seharusnya malam ini adalah malam yang indah bagi mereka berdua. Namun tak dapat dipungkiri hatinya sakit melihat Kania dekat dengan pria lain. Baginya Kania telah melanggar banyak kesalahan, yang tak bisa dimaafkan.
Ia teringat masa lalunya, saat Dias berselingkuh dengan Christian di depan matanya. Ia takut pengkhianatan itu terulang kembali, perasaan takut ditinggalkan dan ketidak percayaan dalam membangun hubungan.
Tengah malam, Vicky mencoba mengetuk kamar Dion, namun tak terdengar apapun di sana. Vicky mengira mereka sudah tidur. kemudian Pria itu kembali ke kamar dan meyakinkan Dista jika tak terjadi apa-apa. Tak ada yang tahu jika Kania menangis seorang diri di dalam kamar gelap itu dengan televisi yang masih menyala.
...
Pukul Sembilan pagi, Dion sudah tiba di Jakarta setelah di jemput oleh Ujang di bandara. Pria itu tampak kusut. Tak cukup tidur membuat emosinya meledak-ledak dan tak dapat berpikir jernih. Dion tak sadar telah meninggalkan Kania dalam kondisi yang cukup mengkhawatirkan.
Ujang memapah Dion hingga ke kamar dan merebahkan tubuh besar itu di tempat tidurnya. Suhu tubuh Dion yang tinggi dan wajahnya yang pucat membuat pria tiga puluh tahunan itu khawatir. Agnes yang melihat Ujang terburu-buru, menanyainya.
“Ada apa Jang, Kenapa wajahmu begitu?”
“Anu Bu, itu Mas Dion sudah pulang, tapi badannya panas tinggi.” Ujang cukup kewalahan.
__ADS_1
Agnes terkejut. Kenapa saat sakit baru ingat pulang. Wanita itu menuju ke kamar putranya dan mendapati Dion telah mengurung dirinya dalam balutan selimut. Ingin sekali Agnes memeluk putranya,namun sekarang bukan waktu yang tepat. Ia harus memberikan ruang untuk Dion, tak ingin putranya pergi lagi dari rumah.
Agnes menghubungi dokter keluarganya, memintanya untuk segera datang. dan Juga Agnes menanyakan keberadaan Dias, karena sejak kemarin Agnes tak melihat batang hidungnya.
“Jang, Kamu sudah bertemu Dias?”
Ujang menggeleng. Sudah semalaman gadis itu tak pulang. Ujang menyimpulkan saat ada Dias, Dion pergi dari rumah dan saat gadis itu tak ada, Dion kembali. padahal itu hanyalah kebetulan semata. Mereka tak mengetahui jika Dias sedang dirawat di rumah sakit, dan Christian yang menjaganya.
“Ke mana ya, gadis itu?”
Agnes ke kamar Dion dengan membawa dokter. setelah diperiksa dan diberi obat, Dion tertidur cukup lama. Agnes bisa menatap putra semata wayangnya dengan leluasa. Sesekali geleng-geleng kepala melihat tempramen Dion lebih condong kepada dirinya.
“Maafkan Mama ya Nak, Mama tak pernah mengetahui apa yang menjadi kemauanmu selama ini. sekarang, setelah dewasa, kami berdua menuntut mu untuk melakukan keinginan kami.” Agnes mengusap tangan Dion sebelum keluar dari kamar itu.
...
Di saat yang sama, Pukul Sembilan pagi, antara Kania dan Dion tak ada satupun yang keluar dari kamar itu. Membuat semuanya khawatir. Setelah Yoshi dan Iwan mengetuk pintu cukup lama, namun tetap tak ada respon. Hingga mereka memutuskan meminta bantuan petugas hotel untuk membuka kamarnya.
Dengan perasaan cemas dan khawatir, Yoshi memasuki kamar itu yang tampak sunyi. Setelah menyusuri ruangan yang ternyata sepi. Tak ada Dion juga Kania di sana. Hanya sebuah tempat tidur yang sangat berantakan.
Saat Yoshi hendak keluar, Pandangannya tertuju pada sebuah pintu kamar mandi. Tak dapat di bayangkan, perasaan gadis tomboy yang pemberani merasakan deg-degan seperti ini. Seperti memasuki rumah hantu, kulit tubuhnya meremang. Meskipun tak yakin, akhirnya Ia memutar handle pintu yang tak dikunci itu.
Cklek!
Pintu terbuka perlahan, Mulut gadis itu membulat seperti netranya, yang tak percaya dengan pemandangan yang ada di hadapannya.
“Astaga! Kania! Apa yang terjadi sama Lo?”
“Beb, cepetan kemari! bantuin Gue!” teriak Yoshi.
__ADS_1
...