
Dewa sedang memeriksa kamar Yoshi sekarang. Melihat gadis itu terus-terusan bersedih, Dewa tak bisa mengabaikannya. Bagaimanapun, Dewa memiliki tanggung jawab untuk mengurus gadis itu.
Pria tampan yang sepertinya sedang memasuki puber kedua. Duduk di sisi tempat tidur, tepat di sebelah gadis tomboy berambut coklat berada. Ingin mengusap rambutnya, namun Yoshi terus menghindar. Jika bisa, Ingin sekali Yoshi menghajar pria itu. Tetapi mantan atlit kejuaraan tae kwon do itu takut, jika masalahnya akan bertambah rumit.
Yoshi melakukan negosiasi dengan Dewa, jika dirinya akan berusaha membantunya mencari gadis pengganti yang bisa Ia nikahi. Saat ini kekasihnya dalam keadaan kritis karena mendengar berita buruk ini. Namun bagi Dewa itu bukanlah urusannya.
“Saya tidak peduli dengan masalah percintaanmu, Saya sudah membayar sesuai kesepakatan dari Ayahmu. Kalau kamu minta biaya pengobatan pacarmu akan Saya berikan, dengan syarat kamu sudah tak boleh memiliki ikatan apa pun dengannya.” tegas pengusaha tampan itu.
“Tapi saya mencintai pacar saya Om!”
“Kalau pacarmu benar-benar mencintaimu, Dia nggak akan membiarkanmu menunggu terlalu lama. Sudahlah, lusa kamu akan segera menjadi istri saya, perbaiki semua tingkah lakumu, jaga sikapmu kepada Rosi juga putraku.”
“Tapi Om ...”
“Kamu berubah pikiran? Asal kamu tahu, Saya melakukan hal ini bukan berlandaskan cinta, atau sejenisnya terserah kamu mau menyebutnya apa. Yang jelas Saya mencintai Rosi, juga kedua putraku. Sayangnya yang putra pertamaku harus pergi karena kesalahan saya. Sedangkan adiknya, dia masih terpukul dan memiliki trauma yang dalam. Sudahlah, Saya tidak mau berdebat dengan gadis muda sepertimu, Saya cukup lelah sekarang.”
Dewa mengacak rambut Yoshi dan keluar dari kamar itu. Akibat Yoshi terus berkelit, Dewa malah memajukan hari pernikahannya. Padahal Dion, Vicky dan Bayu sudah berusaha mengumpulkan sejumlah uang sesuai permintaan Yoshi.
Dion bahkan sampai menghubungi Papanya. Demi mencari tahu siapa rekan bisnisnya yang paling berpengaruh. Saat melihat nama Virgiawan berada di urutan pertama, Dion menjadi khawatir jika pria itu adalah orang yang sama yang pernah Ia temui waktu itu.
Namanya begitu familier baginya. Kemudian Dion mulai berselancar di dunia maya mencari tahu pemilik DEV Holding Company. Ternyata tak sulit mengaksesnya. Muncul sosok pria menawan seusia Chandra Wijaya di hadapannya.
“Buset!!” pekik Dion, merasa begitu takjubnya. “Ternyata dia orangnya! Ini kan klien besar Bokap Gue!” tunjuk Dion kepada Vicky.
“Memangnya Lo kenal orangnya?” Sambil memastikan wajahnya, Dista menatap kedua pria yang tengah serius.
“Kenal, kita barusan taken kontrak kemarin buat beberapa tahun ke depan. Kania yang dapat klien ini waktu itu. Sembari meneruskan pencarian informasi yang Ia butuhkan.
“Udah berumur tapi masih ganteng ya! Udah lah, Yoshi bakal jadi Nyonya muda kaya raya. Nggak perlu capek cari duit buat bayar hutang lagi.” tukas wanita hamil itu.
“Yang! Kok kamu ngomong begitu?” protes Vicky.
“Habisnya, Aku kasihan aja sama mereka berdua, lima tahun loh Yang coba kamu pikir. Waktu mereka habis cuma buat bayar hutang. Sampai kapan mereka akan terus begitu?”
“Oh, jadi kamu punya pikiran seperti itu? Andainya kamu yang ada di posisi Yoshi, kamu juga pasrah begitu dinikahi Om-Om seusia Papa kamu, begitu?” Vicky marah, ternyata istrinya berpikiran demikian.
__ADS_1
Hiss!! Dion memisahkan pasangan suami istri itu yang tengah bersitegang
“Heh, kalian berdua malah berantem. Udah Bro, sabar! Si bohay bisa juga ya ngeselin. Ternyata semua wanita emang sama aja mau menang sendiri, nggak Yoshi, Dista, sama Kania juga.” imbuh Dion sembari melirik Dista yang tampak cemberut.
“Awas kamu Yang!” cebik Dista meninggalkan kedua pria itu.
Saat melihat informasi pribadi dari Dewa Virgiawan, disebutkan memiliki satu orang istri dan dua orang putra. Hanya saja, informasi mengenai keluarganya begitu terbatas. Dua nama putra pengusaha kaya raya tujuh turunan itu adalah Bagas dan Sigit. Dimana jantung Dion seketika berhenti membaca nama itu.
‘Tunggu, Gue nggak salah baca kan!’
“Bro, Lo ingat nama bocah tengil yang ketemu kita di paralayang kemarin nggak?” tanya Dion mencoba memastikan.
“Oh, saingan Lo itu? yang kerja di rumah sakit kan?” jawab Vicky santai.
“Kok Lo tahu? Dia kerja di kafe.”
Vicky menarik telinga Dion, “Bukan di kafe, tapi di rumah sakit. Kuping Lo rusak ya?”
“Namanya Sigit,” sahut Dista.
Dion mengambil ponselnya dan menghubungi Kania. Perasaannya semakin tak karuan. Kalau saja tebakannya benar, apa yang akan terjadi nanti. Yoshi akan menjadi ibu tiri bocah tengil itu. Lalu bagaimana dengan nasib Iwan?’
...
Pukul sebelas malam Kania mulai menguap. Gadis cantik itu pamit untuk istirahat. Berjalan terburu-buru memasuki kamarnya meninggalkan kekasihnya dan dua temannya. Kania segera mematikan penerangan di kamar itu dan mulai merebahkan diri di tempat tidur. Sambil membuka aplikasi pesan yang belum terbaca.
“Dion, banyak sekali pesan darinya. Cih, baru ditinggal beberapa jam.” Kania tersenyum membaca pesan itu. saat ia membalasnya, Dion langsung menghubunginya melalu panggilan video.
Dion
[Kania, Lo benar-benar ya! kemana aja seharian ini? bikin Gue pusing tahu nggak sih?]
Kania
[Maaf Pak, kan dua hari ini Kania libur, ada apa?mengirim pesan sebegitu banyaknya!]
Dion
__ADS_1
[Lo di mana sekarang? Gue mau ke sana jemput Lo!]
Kania
[Di Lembang, di Villanya Sigit. Coba kemari, kalau memang serius, Nih Kania kirim alamatnya.]
Dion
[Kalau Gue sampai ke sana, Lo harus mau balik sama Gue ya!]
Kania hanya membalas dengan emotikon senyum lebar. Seakan tak percaya jika bos nya akan benar-benar menjemputnya. Gadis itu tidak tahu Jika lokasi Dion dan Villa Sigit hanya berjarak satu jam saja dengan kecepatan yang Dion tempuh.
Kania mencoba memejamkan matanya. Namun dari arah belakang suara Sigit mengejutkannya membuat Kania berbalik badan. Teringat dengan ucapan Richie siang tadi membuat Kania penasaran, dan mencoba mencari tahunya.
“Kamu belum tidur?” Sigit merapikan anak rmabut Kania. Mata besarnya menatapnya lembut, namun menyimpan sejuta pertanyaan. Sama seperti yang Sigit lakukan.
“Ada yang ingin Aku tanyakan,” ucapan mereka kompak.
“Sekarang giliranmu!” balas Kania
Dengan memainkan jari-jari gadis itu, Sigit menatap Kania. ‘apa yang akan terjadi terjadilah, batin Sigit.’
“Tapi janji ya, jangan pernah pergi tinggalin Aku!” gadis itu mengangguk, melihat sosok lembut dan manis, bahkan untuk menyentuhnya pun Sigit masih malu-malu. Sangat jauh berbeda dengan pria kuning langsat dengan rahang tegas. Dengan mudahnya main cium sana-sini.
“Apa kamu punya alergi dengan orang kaya, Kania?”
Gadis cantik itu mematung, tiba-tiba menangkup wajah Sigit yang begitu menggemaskan. Wajah tampan kekasihnya yang polos itu melontarkan pertanyaan konyol yang membuat Kania tertawa. hahaha...
“Kamu lucu deh, tentu saja ... Nggak!”
“Memangnya kenapa? Sekarang katakan siapa dirimu sebenarnya, Aku yakin kalau kamu bukan seorang barista biasa!”
Sigit tersenyum, melihat kekasihnya yang cantik memiliki rasa ingin tahu tentangnya.
“Jadi kamu penasaran soal itu? Aku yang punya Kafe di rumah sakit sayang. Jo dan Richie, mereka berdua itu adik tingkatku dulu semasa kuliah. Tapi Aku sudah menganggapnya seperti saudara. Karena dua tahun yang lalu Abangku satu-satunya pergi karena sakit.”
Kania menjadi merasa bersalah, Ia malah membuka lama luka kekasihnya. Kania mencoba menguatkan Sigit untuk masuk ke dalam pelukannya. Keduanya terlelap, sampai tepat tengah malam suara keributan terdengar di depan bangunan mewah milik Sigit.
__ADS_1
“Tok!! Tok!! Tok!!”
...