Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 31. Coba Lagi?


__ADS_3

Suasana menjadi canggung saat Dion berusaha menghentikan isakan gadis bertubuh ramping di sampingnya. Yoshi membawa Dista pergi dari tempat itu, memberikan ruang bagi dua sahabatnya untuk menyelesaikan masalah.


Iwan ingin memukul meja saking tak siapnya melihat drama konyol Dion. Wajahnya merah karena menahan tawa sejak tadi. Yoshi melihat kelakuan pacarnya yang tak bisa melihat situasi sampai menjewer kupingnya.



“Aduh, aduh, aduh...!” pekik Iwan memegang kupingnya yang ditarik Yoshi.


“Beb, itu kawan baik Lo lagi ada masalah, malah Lo tertawain!” padahal Yoshi sendiri juga sedang menahan tawa.


“Heh, biarkan mereka berdua menyelesaikan masalahnya, jangan malah kalian kompori! Dion tahu apa yang harus dia lakukan selanjutnya.” Vicky menasihati istrinya, juga Yoshi.


Kedua wanita itu hanya tersenyum menampilkan deretan giginya saat diceramahi pria dingin itu.


“Kamu dulu juga gitu Yang, Kalau lagi nangis, susah diberhentikan. Harus dirayu berapa lama dulu.” Vicky seperti sedang berpikir.


Hahaha... Vicky dan Iwan tertawa.


“Iya, Gue ingat yang waktu kalian di kamar mandi kan? Sampai Bayu kepo, menunggu di depan pintu.


Kini wajah Dista memerah, mengingat masa kuliah mereka dulu. Sampai lupa jika Dion dan Kania masih berada di sana.


“Sshhtt... Enak aja Gue nggak kehilangan apa-apa! Gue juga udah nggak ting-ting lagi gara-gara Lo!” canda Dion. Sembari mengusap air mata gadis itu. “Gue udah titipin bibit-bibit jagoan Gue sama Lo! Kalau berhasil tumbuh, Gue akan nikahin Lo.”


Kania tak habis pikir, benar kata teman-temannya, memang Dion pria konyol yang kadang tak bisa membaca situasi, atau cara Dion menyelesaikan masalah memang lain dari yang lain.


“Kalau Gue nggak hamil?” sambung Kania.


“Ya, Kita coba lagi! Gue akan bikin Lo hamil dalam waktu beberapa hari ini, jadi siap-siap aja!”


Setelah mengatakan hal itu, Dion meninggalkan Kania di meja itu sendirian. Membuat Kedua pasangan kekasih di seberang meja melongo tak percaya.


“Brengsek banget itu si Kampret, main pergi aja ninggalin anak orang yang habis di acak-acak.” tutur Iwan, “kalau anak gadis Gue yang di begituin laki-laki, Gue bakal minta Yoshi buat smackdown bocah itu.”

__ADS_1


“Nah Lo sebagai Bapaknya ngapain? Kok Yoshi?” tanya Dista.


“Emang dasar nggak berguna Lo Beb!” canda Yoshi.


Semua tertawa sampai Dion datang, membawa makanan untuk gadis itu. Dan mereka yang di sana pun terkejut, termasuk Kania.


“Sekarang Lo makan dulu yang banyak! Gue mau itu kecebong yang ada di perut Lo cepat besar dan jadi jagoan kayak Gue! Nanti mau Gue jodohin sama Anaknya Vicky.” Dion menatap Kania, kemudian tersenyum menampakkan Lesung pipinya yang membuat Kania berdebar.


Antara gemas dan Kesal, Kania ingin memaki pria itu sekarang. Pikiran Dion sudah tidak waras.


“Lalu Dias?”


Dion menyendokkan nasi ke mulut gadis itu, supaya tak banyak bicara. terlebih Dion tak ingin mendengar nama makhluk itu disebut, bisa-bisa membuat mood nya seharian nanti memburuk.


“Sudah makan aja, jangan banyak bicara!”


...


Chandra tak mempermasalahkan, akan tetapi Agnes menjadi uring-uringan, saat Dion pergi dari rumah begitu juga dengan Kania, yang tiba-tiba ijin tidak masuk kantor.


“Pa, kalau Dion pergi sama Kania, bagaimana Pa?”


Agnes mengikuti ke mana langkah suaminya pergi, membuat pria dengan setelan formal itu kesal.


“Memangnya kenapa kalau mereka pergi berdua? Bukannya Mama yang meminta Dion menikah dengan gadis itu sebelumnya? Lalu masalahnya dimana?”


“Tapi kan...,” Agnes tak berani melanjutkan kalimatnya. Memang benar ucapan Suaminya, jika dirinya lah yang paling antusias menjodohkan keduanya, sampai Chandra rela menampar putranya karena menolak dinikahkan dengan Kania.


“Coba kamu pikir Ma, Sebelum gadis itu datang, Dion baik-baik saja di rumah, meskipun kita memberinya banyak tekanan untuknya, Dion masih mau melakukannya meskipun terpaksa.”


Chandra menatap bingkai foto di meja kerjanya, foto mereka bertiga, Chandra, Agnes dan Dion kecil. Meletakkannya di hadapan istrinya.


“Coba lihat, sudah sejauh mana Kamu memperhatikan putramu, Dion berubah, jangan kamu ikuti kata orang, tapi dengarkan putramu Nes!”

__ADS_1


Agnes menitikkan air mata, Ia lupa kapan terakhir kali Ia memanjakan putranya, memberikan penuh waktunya hanya untuk kesenangan Dion. Agnes hanya sibuk dengan urusannya sendiri dan teman-teman arisannya. Bahkan Dion lebih terlihat seperti anak sopir, yang selalu dibawa ke mana-mana karena merasa tak betah di rumah.


Setiap pulang sekolah, wajahnya penuh luka dan akibat perkelahian dengan sesama siswa. Beruntungnya teman-teman SMA nya mau menerima pertemanan dengan Dion. Meskipun terkenal badung di luaran sana, nyatanya Dion tumbuh menjadi pria yang baik.


“Papa tidak yakin dengan gadis itu. Besok Mama minta, gadis itu untuk pulang ke rumahnya, Kalau benar Dion yang melakukannya, Papa sendiri yang akan menyeret Dion untuk pulang dan bertanggung jawab.”


Agnes masih sesenggukan, Waktu Agnes begitu banyak terbuang. Dion sudah menjadi pria dewasa, namun masih diperlakukan anak-anak oleh mereka berdua.


“Satu lagi Ma, Papa masih berharap Dion memilih Kania untuk masa depannya.”


Agnes menjadi merasa bersalah kepada gadis itu. Ia membawa Kania masuk ke dalam rumahnya dan menawarkan banyak hal untuk Kania, memintanya untuk menjadikan Dion pria yang lebih baik lagi, dan dirinya juga yang berusaha menyingkirkan Kania hanya karena pemeriksaan itu.


“Oh iya, Hasil pemeriksaan Kania Aku letakkan dimana ya?” lirih Agnes.


“Pa, Mama pulang dulu. Sampai bertemu di rumah.” Agnes berpamitan kepada suaminya dan meninggalkan ruangan besar milik Dion kelak.


“Hati-hati, Ingat seorang gadis baik-baik tak akan tinggal di rumah seorang pria tanpa status yang jelas, jangan mudah percaya orang asing Ma!” pesan Chandra.


Setibanya di rumah, Agnes mendapati rumahnya sepi. Ia tak melihat keberadaan Dias. Di dapur, Agnes melihat Ujang yang sedang mengelap mobil.


“Ujang...,” Agnes menghampiri pria berdarah Sunda itu. “kamu melihat Dias? Ke mana dia?”


“Oh Teh Dias, tadi keluar naik taksi, Ujang berniat mengantarnya tapi Teh Diasnya memaksa pergi sendiri, ada apa ya Bu?”


Ujang menghentikan pekerjaannya, melihat Agnes diam saja, mungkin telah terjadi sesuatu.


“Jang, kalau gadis itu pergi keluar rumah ini sendirian, Kamu langsung beritahu Saya ya, atau Kamu bisa mengikutinya, baru kabari Saya seperti biasanya!”


Ujang mengerti dengan perintah istri Bosnya. Sepertinya dugaan Ujang benar, jika ada yang tidak beres dengan gadis manis itu.


“Wah Mas Dion harus tahu ini, tapi pergi ke mana ya bocah badung itu? Pagi tadi juga masih kosong rumahnya....”


...

__ADS_1


__ADS_2