Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 89. Prasangka Buruk


__ADS_3

Sigit memasuki penginapan yang sudah kosong itu. Yoshi juga tidak tahu jika teman-temannya telah kembali. gadis tomboy itu menatap punggung lebar milik Sigit. Benarkah jika Sigit mengidap bipolar? Yang justru Yoshi khawatirkan kini adalah Dewa, suaminya yang usianya dua kali lipat darinya. Menyimpan sesuatu yang besar, yang mungkin Sigit dan Rosi tak mengetahuinya.


“Ayo kita pergi! Sepertinya memang sudah kosong.” Yoshi meninggalkan Sigit dan masuk ke dalam taksi. Sigit masih celingukan, padahal Ia ingin mengunjungi Kania malam itu. tetapi ternyata Papanya memberinya tugas penting yang tak bisa ditunda.


“Yoshi, Lo belum cerita kenapa wajah Lo sampai seperti itu? apa karena Bokap gue?”


Hah...


Yoshi menghela napas panjang. Sakit fisik baginya tak menjadi masalah. Bagi seorang mantan atlet olah raga bela diri itu, memar di tubuhnya hanyalah sebatas luka lecet saja. tetapi luka hati dan rasa traumanya membuatnya membenci pria tua itu. bukan tak mampu membalasnya, hanya saja waktunya belum tepat.


‘Nggak bokap gue, nggak aki-aki itu, semua seperti momok menakutkan. Memang hanya si cungkring pria terbaik yang pernah gue kenal. Bahkan Iwan tak akan pernah tergantikan.’ Batin Yoshi menatap tiap slide gambar mantan kekasihnya.


Sore itu, Dewa mendapat laporan dari seorang petugas hotel jika putranya tengah menggeledah kamar demi mencari seorang gadis bernama Yoshi. Rupanya Dewa tak pernah mempercayai Sigit karena pikiran mereka berdua tak sejalan. Sigit selalu menentang keputusannya. Hanya saja pria matang itu tak langsung menunjukkan kepada putranya.


Dewa berpikir jika Sigit akan berkhianat kepadanya suatu saat nanti. Itulah kenapa dirinya memaksa untuk memiliki putra lagi. Bagas yang sudah mengetahui tabiat asli papanya harus bernasib tragis. Semua rahasia yang Ia tahu harus terkubur bersama jasadnya yang tampan dan murah hati.


“Yoshi, kita kembali ke Jakarta besok, perasaan gue nggak enak sama Kania. Gue takut terjadi apa-apa sama dia.” Sigit berulang kali mengusap dadanya yang merasakan nyeri.


Haha...


“Justru gue malah takut kalau Kania dekat sama Lo!” Sigit refleks menoleh kepada gadis itu. menatapnya heran.


“Kenapa Lo bisa bilang seperti itu?”


Yoshi hanya tersenyum miring menanggapi reaksi Sigit. Baginya Dion jauh lebih baik dari Sigit. Meskipun sikap konyolnya kadang tak bisa ditolerir, tapi jika pria keras kepala itu jatuh cinta, cintanya benar-benar tulus. Bodoh saja Dias yang berselingkuh darinya.


“Gue mau tanya sesuatu dari Lo, kenapa Bokap Lo bersikeras mau menambah anak laki-laki sedangkan dia memiliki Lo pewaris satu-satunya yang Ia punya?” Yoshi bertanya dengan sikap masa bodoh tanpa memikirkan perasaan Sigit yang lembut.


“Karena gue nggak bisa memenuhi ekspekstasinya. Gue menentukan jalan hidup gue sendiri, nggak mau dijadikan boneka sama bokap Gue!” jawab Sigit santai. “Sekarang gue tanya sama Lo, kenapa Lo mau dinikahi pria beristri?”


“Gue dijual bokap Gue buat bayar hutang-hutangnya. Lo tahu Gue punya pacar, bahkan Lo pernah bertemu dengannya.”

__ADS_1


“Cih! Ternyata semua bokap di dunia ini sama saja, egois.” Sigit menatap hamparan laut di sepanjang jalan. Ia bisa melupakan semua masalah hidupnya hanya bersama gadis cantik itu. tapi kini Kania telah pergi dari sisinya.


“Kalau Lo ada masalah sama pria itu, Lo bilang aja. akan gue bantu sebisa mungkin.”


“Pasti Lo mau imbal balik dari gue kan? cih, pikiran picik Lo bisa gue baca.”


...


“Copet!! Tolong ... ! copet...!”


Seorang pria dengan pakaian kumalnya mengejar sosok preman yang diteriaki copet. Barang berharga milik seorang wanita cantik di rebut paksa di depan supermarket. Dengan kemampuan larinya yang gesit, pria kumal itu mampu menghentikan pencopet itu.


Dengan sedikit perlawanan, Si pria kumal berhasil mendapatkan barang itu dan memeriksa kelengkapan isi tasnya. Dalam hati saat melihat ke dalam tas mewah itu terdapat sebuah ponsel mahal, juga dompet wanita dengan banyak kartu debit tersusun rapi di sana. ‘wah orang kaya sepertinya.’ Senyum culasnya terukir di sudut bibirnya.


“Ini tas nya Mbak, tolong diperiksa dulu!”


Seteah memeriksanya dan ternyata tak ada yang hilang satupun. Gadis cantik itu menyodorkan sejumlah uang nominal ratusan ribu. Namun, sayangnya ditolak mentah-mentah oleh si pria kumal.


“Saya mengucapkan terima kasih Mbak, dari pada sejumlah uang, alangkah baiknya jika Anda memberikan sebuah pekerjaan untuk saya.”


“Ini untukmu! Setelah Lo bersih, Lo bisa datangi kantor gue di alamat ini!” gadis itu berlalu saat melihat sebuah mobil mewah berhenti di depannya. Tatapan tajam si pria kumal tak lepas dari kartu nama itu.


“Anggita Dias, hmm... nama yang bagus. Lumayan selama bocah brengsek itu belum ketemu, gue bisa punya duit buat menyambung hidup.” sambil mengipaskan lembaran merah di tangannya pria kumal itu bersiul sambil lalu.


“Beb, Kamu ngobrol sama siapa? Kok Kayak gembel begitu? hati-hati Lo, jangan sembarangan terlalu baik sama orang!”


“Jalan dulu Chris! Tadi pria itu yang bantuin mengembalikan tas gue yang dicopet preman. Terus gue kasih uang dia nggak mau, malah minta kerjaan. Ya sudah gue suruh bersih-bersih dulu, baunya itu loh kayak beberapa bulan nggak mandi.” gadis itu berdecak sebal dengan melipat kedua tangannya di dada.


“Terus Lo tahu Chris, Yoshi sekarang sudah jadi istri konglomerat. Om-Om yang waktu itu mau dinikahkan Papa sama Gue?”


Chris tertawa. “Kenapa kamu menyesal? Pasti gantengan Aku kemana-mana ya kan?” Gadis manis itu mengiyakan dan merayakan kemenangannya. Melihat Dion dan kawan-kawannya kalang kabut menyelamatkan Yoshi waktu itu. mereka berdua hanya menyaksikan dari jauh. Semua peristiwa yang Dion dan kawan-kawanya alami, Dias sudah mengetahuinya.

__ADS_1


“Vicky dan Dista sudah, Yoshi dan Iwan juga sudah berakhir, kali ini Gue mau langsung menghancurkan kehidupan sang mantan kekasih, sama seperti Dion mempermalukan Gue di depan banyak orang di rumah sakit.”


“Hentikan Beb! Aku nggak suka kalau kamu terus terlibat kejahatan seperti itu lagi. ingat kejahatanmu sudah banyak, orang tuamu bahkan nggak sanggup lagi mengurusmu. Kali ini aja, please lupakan niatmu berurusan dengan pria itu!” Christian takut akan terjadi sesuatu nantinya.


“Ingat, polisi waktu itu yang memenjarakanmu masih memasukan namamu dalam daftar pencarian orang. Kita nggak bisa terus-terusan berpindah tempat seperti pencuri.” Christian sudah lelah, mengikuti kemauan gadis yang dicintainya.


Dias hanya tersenyum menatap pria tampan di sampingnya. “Kita lihat saja nanti, semua terjadi kalau ada kesempatan.” Dias memainkan dagu runcing milik Christian. Dias dan Chris pulang ke rumah barunya setelah mereka berdua memutuskan untuk menikah.


‘Pria kumal itu bisa gue manfaatkan untuk membalas semua perbuatan Dion selama ini. Gue hanya butuh timing dan perhitungan yang pas, dan pria bodoh ini tak boleh mengetahui rencana kali ini.’


...


Di rumah Dion, kedua orang tuanya dan Asri sedang membicarakan acara penting untuk putra semata wayangnya. Meskipun Dion tak ingin suasana yang mewah, tetapi mengingat profesinya yang sekarang memegang alih perusahaan Wijaya Group mau tak mau harus mengundang semua jajaran kolega yang sudah dibina cukup lama oleh Papanya.


“Pa, Dion pasti nggak setuju kita mengundang begitu banyak orang.” Agnes gelisah. Takut bocah badung itu membuat huru-hara lagi untuk kedua kalinya. Agnes dan Chandra berpandangan, mengingat rasa traumanya.


“Pak, Bu memangnya ada apa? Kok sampai kayak ngeri begitu sama acara pernikahan?”


Hahaha...


Chandra tak ingin wanita itu mengetahui kelakuan konyol Dion. Biarlah cukup sepasang suami istri itu saja yang terus menahan senyum juga rasa malu kala mengingatnya.


“Ehm begini saja...” ketiganya mengucapkan kalimat yang serupa dan kemudian tertawa.


“Bu Asri maunya seperti apa, kami ikut deh! Ya kan pa?” Agnes mencolek suaminya. Pria itu malah asyik sendiri memilih desain kamar untuk anak-anak. Lengkap dengan pernak-pernik bayi mungil di sana.


“Ma, bagus yang biru atau yang pink?” Chandra menunjukkan gambar itu kepada Agnes yang tentu saja dapat dilihat oleh calon besannya.


“Lho kok Pak Chandra sudah membahas kamar bayi, menikah saja kan belum?” tukas Asri.


“Lho, Kania memangnya belum cerita kalau dia ...” Agnes menutup mulut suaminya yang terlalu banyak bicara.

__ADS_1


“Ssshhtt!!”


...


__ADS_2