Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 24. Tinggal Bersama


__ADS_3

Setelah membaca pesan dari mamanya, Dion hendak ke kamar mandi. Namun Ia melihat sepasang suami istri itu tidur dengan berpegangan tangan, membuat senyum Dion tersungging di bibirnya.


‘Dasar Bucin!’


Tanpa melihat ke depan, ia menabrak Kania yang sudah tampak segar. Terakhir kali Ia melihat kania belum mandi dan mengenakan pakaian yang sama. Tumben sekali gadis itu berinisiatif untuk bersih-bersih. Ia tak tahan untuk tidak menggodanya.


“Tumben Lo udah wangi! Apa karena ada Gue di sini?” Dion menahan langkah gadis itu. Untungnya saja ruangan dimana Dista di rawat cukup luas, dan nyaman membuat kedua pemuda-pemudi itu sampai tak kenal tempat.


“Jam berapa Vicky tiba? Kok Gue nggak dengar?”


“Ya jelas lah Lo nggak dengar, Orang Lo udah ileran di atas sofa. Nanti Kalau Lo udah nggak jorok lagi, Lo boleh tidur sama Gue! ledeknya.


“Idih! Mimpi aja sana!”


Dion penasaran, pagi-pagi Mamanya sudah menghubunginya. Tak ingin banyak drama, Ia berniat segera pulang ke rumah untuk mengambil banyak barang. Ia akan meninggalkan rumah selama beberapa hari. Namun sebelum itu Ia harus mencari tempat tinggal terlebih dulu.


Pukul sepuluh Imas, Ibu dari Vicky sudah tiba di rumah sakit, untuk bergantian menjaga Dista. Imas khawatir melihat Dista terbaring lemah karena peristiwa itu, memutuskan untuk merawat anak gadisnya sampai benar-benar pulih.


“Lho! Ini siapa Nak Dion? Calonnya ya?” goda Imas.


“Iya Bu, nggak perlu ditanya lagi. Baru kali ini kan kita melihat Dion membawa gadis,” sambung Vicky


Kania mengulurkan tangan kepada wanita empat puluhan yang masih sangat cantik itu. penampilan sederhana Imas membuat Kania merasa nyaman, sangat berbanding terbalik dengan Mamanya Dion. seakan memberi jarak bagai langit dan bumi jika mereka berdampingan. Meskipun sebenarnya Agnes adalah orang yang baik.


Lagi, Kania merasa jika Dista sangat beruntung memiliki orang-orang yang sangat menyayanginya di sisinya. Dion tahu arti tatapan gadis itu dan segera berpamitan kepada mereka semua. Entah kenapa Dion merasa bertanggung jawab terhadap sekretaris dekil papanya ini.


“Dis, cepat sembuh ya! Katanya mau healing lagi kayak dulu!” Dion sengaja membalas perbuatan Vicky semalam yang membuatnya cemburu. Hingga kedua pria itu saling dorong.


“Udah sana buruan, urusin aja milik Lo itu? jangan sampai ada Dias kedua ya!” ucapan Vicky membuat Dion meninju lengan sahabatnya.


“Tenang Bro! nggak akan terjadi lagi. Kasihan Gue lihat si bohay harus jadi korban Dias terus menerus.”


“Itu Lo sadar! Good luck Man!”


Dion dan Kania meninggalkan ruangan VVIP dan menuju ke tempat parkir. Dion menerima chat dari Ujang jika Nyonya pergi dengan Dias ke rumah sakit. Dan soal tempat tinggal Ujang baru akan mencarinya sore hari. Tak cukup waktu, Dion dan Kania mencari tempat tinggal di sekitar kantor papanya. Supaya gadis itu tak perlu menghabiskan ongkos.



Dua jam berkutat, Dion mendapatkan tempat tinggal yang pas. Pas untuk standar dirinya bukan gadis itu. membuat Kania terus menolak, karena menghabiskan banyak biaya nantinya.


“Heh! Lo itu nggak tahu diri banget sih! begini aja, biaya sewanya kita bagi dua, gimana?”


Kania menatapnya, masih belum paham dengan ucapan Dion. mereka berdiri di depan bangunan yang cukup besar untuk sebuah rumah sewa yang hanya digunakan untuk numpang tidur. lokasinya pun cukup memudahkan Kania untuk pergi kemana-mana.


“Kan kamarnya ada dua, Lo satu gue satu. Biayanya kita bagi dua. Ampun! Lo itu sekretaris Kania, masa Gue harus ngomong sedetail itu sih, kacau ini cewek?”

__ADS_1


“Gue kamar paling depan!” sela Dion sebelum gadis itu menjawab. Jika di pikir-pikir lumayan juga bisa menghemat pengeluaran. Sebentar lagi mereka berdua juga akan menjadi rekan kerja di kantor. Dan yang lebih penting tak ada yang boleh tahu mengenai hal ini.


Kania dan Dion memasukan semua barang milik gadis itu. Tak banyak, hanya pakaian saja dan belanjaan kemarin di supermarket. Dion cukup senang, seperti memiliki hiburan baru. Bukan rumah besar dengan penuh fasilitas yang Ia akan tinggali, tetapi Ia merasa mulai menikmati hidupnya.


“Lo bisa masak kan? Gue lapar nih!”


“Eh, Gue juga lapar ya! tapi kan belum beres-beres. Lo ngapain sih, ikutan tinggal disini? Jangan lupa di sini nggak ada pembantu, semua kerjakan sendiri!” protes Kania.


“Ck!” Dion merasa lucu. Baru kali ini ada yang berani marah-marah dengannya. Biasanya Dion makan tinggal makan, semua sudah tersedia, Kini Dion memilih untuk bersakit-sakit tinggal di gubug dengan orang asing yang membuatnya illfeel sejak awal.


“Lo tunggu di sini! Tapi Lo beresin kamar Gue!”


“Heh! Mau kemana?” teriak Kania.


Setelah main perintah, pria itu pergi tanpa memberitahukan tujuannya. Pria itu bingung karena tak terbiasa hidup seorang diri. Di Bandung pun, pentolan geng itu terbiasa makan masakan Vicky. tak pernah terbesit untuk menghabiskan uang sekedar makan di luar. Kecuali jika memang ada acara tertentu.


Setelah memutuskan, Dion pulang ke rumahnya dan berniat untuk mengambil makanan di rumahnya seperti semalam. Tak mendapati siapapun di sana, Dion menuju ke kamarnya dan mengambil beberapa pakaian dan barang penting lainnya.


“Mas Dion, dari mana?” sapa Ujang yang mengejutkan dirinya.


“Oh, Mang Ujang. Oh iya soal chat semalam Gue nggak perlu lagi ya Mang! Gue udah dapat.”


Ujang membantu Dion membawakan barang bawaannya ke mobil. Sedangkan pria itu sibuk meminta asisten rumah tangganya untuk memasukan semua makanan yang ada Ia masak.


“Memangnya mau kemana Mas?” tanya wanita paruh baya itu.


“Hehe, Mau piknik! Masukin semua Bi, Dion buru-buru soalnya.”


Seperti pencuri, Dion hendak melarikan diri lewat pintu belakang. Namun di sana ia malah bertemu dengan Agnes dan membawanya masuk ke dalam rumah.


“Nah, ketahuan! Mau kemana lagi kamu?”


Dion mengikuti langkah Agnes masuk ke rumah, Ia tak curiga sedikitpun. Hingga dalam sebuah ruangan itu sudah ada Chandra dan juga ... Anggita Dias.


“Wah ramai nih! Ada apa?”


Dion duduk menjauh dari mereka. Seperti seorang pesakitan yang akan di sidang. Dias menangis tersedu-sedu. Padahal sejak awal Dion masuk ke ruangan itu, Dias sedang bermain ponsel.


Ctak!


Sebuah kotak kecil dan sepucuk surat Agnes letakan di meja, tepat di hadapan Dion. Pria itu tak pernah memiliki rasa penasaran, terlebih yang bukan urusannya. Membuat Agnes naik darah. Untuk sekedar membuka amplop itu saja Dion enggan.


“Bukalah! Memangnya itu punya siapa? Kok malah saling tunggu!” celetuk Dion sambil meregangkan tangannya.


...

__ADS_1


“Papa kecewa sama kamu Dion! kalau ada apa-apa biasakan berterus terang! Bukan seperti ini, main sembunyi-sembunyi seperti pencuri.”


“Maksudnya apa nih? Ternyata papa sakit hati Dion nyolong ayam goreng semalam? Hah?”


Haha...


Agnes tak kuat menahan tawa. Entah Dion pura-pura tidak tahu atau memang anaknya tidak mengetahui sama sekali. Mereka berdua sudah tak memiliki rasa percaya kepada putranya sendiri. melihat suasana dingin dan tegang, Dion membuka amplop itu dan benda pipih yang ada di sana. Dion sudah bisa merasakan apa yang akan terjadi jika ada sosok iblis dalam gadis itu.


“Test pack? Lo hamil? Haha... Gue sih nggak kaget! Kalau itu Lo!”


Dion senyum mengejeknya, melempar benda itu ke arah Dias, tepat mengenai dirinya. membuat Chandra marah dan berniat menamparnya. Dion mengepalkan tangannya, Ia tak ingin lagi berurusan dengan gadis itu. seperti tak ada kapoknya, Ingin rasanya menghabisi gadis itu saat itu juga.


“Minggu depan, Kamu harus menikahi Dias! Mau tidak mau, suka tidak suka Gadis ini mengandung anakmu!”


“Cih! Dan Mama percaya? Kalian berdua percaya?” dion berdiri menantang kedua orang tuanya di hadapan Dias. Gadis itu pun menyimpulkan senyum yang mampu dilihat oleh Dion.


“Asal kalian berdua tahu, Kalau Dion mau menghamili gadis di luaran sana, yang pasti itu bukan wanita murahan ini!”


“Tutup mulutmu dasar anak liar!” Chandra mengumpat, “Ingat perjanjian kita masih belum selesai.”


“Selama bukan Gadis itu, Dion akan menikahinya.” Dion menghampiri Dias, dan mengancamnya.


“Ternyata Lo wanita yang lebih hina dari yang Gue duga! Harusnya Lo udah di penjara tiga tahun lalu! Tapi Gue nggak akan tinggal diam, Gue akan buka lagi kasus Lo itu! Menikah dengan Gue, sama aja Lo menyerahkan diri Lo pergi ke neraka, Ingat itu!”


Dion pergi meninggalkan mereka. Membanting pintu dengan kasarnya. Ujang yang melihat anak majikannya yang seperti adiknya merasa tak tega, jika dirinya selalu di tekan. Ujang diam-diam membantu Dion untuk membawa barang keperluannya supaya mereka tidak mencari dimana keberadaan pentolan geng itu.


“Mas Dion, Nanti Ujang bawakan sisanya pakai mobil! Lebih baik Mas Dion bawa motornya saja! biar tidak ketahuan Bos dan Nyonya.”


Dion menepuk pundak pria tiga puluh tahunan itu. Hanya Ujang yang mampu mengerti perasaan dirinya. Dion mengambil kunci motornya dan membawa sebagian barang saja.


“Thanks ya Mang, nanti chat Dion aja, kita ketemuan di sebuah tempat.”


“Baik Mas Dion, hati-hati ya Mas!”


Dion dengan hati yang mendidih, mengendari motor besarnya dan meninggalkan rumah besar itu. setelah merasa aman Ia memasuki tempat tinggalnya yang baru.


“Untung pagarnya lumayan tinggi, jadi nggak akan ada yang tahu, Gue di sini!” gumamnya.


Dion memasuki rumah, dan pintunya tak di kunci. Melihat keadaan sunyi Dion menuju ke dapur untuk memindahkan semua makanan yang Ia bawa dari rumah.


“Yah mana nggak ada tempatnya lagi” saat berbalik Ia terkejut dengan kehadiran seseorang, begitu juga sebaliknya.


“Aaaaa....!!!”


...

__ADS_1


__ADS_2