
Suara seorang pria yang ternyata tamu di seberang kamarnya. Melihat dua orang pria bersama seorang gadis yang tengah terburu-buru membuka pintu kamar.
“Oh, bukan apa-apa?” tutur Bayu, yang akhirnya keluar kamar setelah mengantar kedua temannya.
Bayu merasa aneh, sejak tadi Ia menghubungi Dion, namun pria itu tak juga kembali. Saat ditelusuri, rupanya Dion baru saja meninggalkan hotel itu dan kembali ke penginapan. Dista menghubunginya, karena Kania tak ada di kamar. Bahkan setelah di cari di sekitar penginapan itu juga tak menemukan Kania.
“Sial! Ada-ada aja sih. Ke mana lagi bocah itu. Semalam juga baik-baik saja. Pak tolong lebih cepat sedikit!”
Saat taksi itu melaju, Dion melihat sosok gadis dengan dress yang sama dengan yang Kania kenakan semalam.
“Pak berhenti di sini saja Pak! Dion tak ingin kehilangan jejak gadis itu. Dan segera berlari tanpa mengambil kembaliannya.
“Simpan saja Pak!”
Dari arah berlawanan, Dion melihat Sigit. Jaraknya tak terlalu jauh. Sepertinya pria itu tak melihat Kania. Pria kuning langsat itu berlari, tak melihat kanan kiri lagi, sampai Ia terserempet sebuah sepeda motor yang melaju cepat.
Lengan dan kaki pria itu terluka, karena membentur trotoar. Sedikit menahan perih, Dion terus berlari supaya mereka berdua tak bertemu.
Haah... Napas Dion terengah. Untuk memanggil nama gadis itu, Ia membutuhkan pasokan oksigen lebih banyak.
“Ka-nia...”
Dion terduduk di jalanan berpasir. Kemejanya menjadi kemerahan, akibat darah yang merembes di lengannya.
Dion bangkit dan meraih bahu kecil gadis itu dan memeluknya. Saat Sigit sudah berada dalam jarak lima puluh meter.
“Kamu mau ke mana? Aku mencari mu! Anak-anak yang lain juga bingung mencari mu, ayo pulang!”
Tangan Kania tak sengaja menyenggol kemeja Dion yang basah akibat darah yang mengalir.
“Auh...” pekik Dion. Kania melepas pelukannya, dan terkejut melihat pria itu terluka. Juga bagian lutut jins pria itu pun robek.
“Kamu terluka!” Matanya menatap manik Dion.
Pria itu tersenyum miring. “tumben kamu perhatian, obati dong kalau gitu! Demi siapa Gue lari-lari sampai tertabrak motor!”
“Kamu serius?”
Dion mengajak Kania untuk berbalik arah. Gadis itu menghentikan taksi, namun Dion menolaknya.
“Jangan bandel! Kakimu luka, nggak mungkin bisa jalan begitu jauh sampai penginapan!” Kania menatap Dion yang merangkul pinggangnya.
Sigit melihatnya. Pria itu melihat gadisnya bersama pria lain dengan jelas. Sepertinya gadis semalam yang Ia lihat memang kekasihnya. Gadis dengan surai hitam indah itu adalah Kania.
__ADS_1
Sigit berusaha mengejarnya, namun Taksi yang dihentikan Kania telah melaju. Meninggalkan Sigit seorang diri dengan segala penyesalan. Tak tinggal diam, cukup sekali Ia menyesal karena meninggalkan Kania di rumah sakit bersama Dion. Ia mengejar taksi Kania, dan berhenti di sebuah penginapan besar.
Sigit memeriksa apa benar bangunan ini tempatnya dimana Kania tinggal. Saat melihat gadis asing berkulit putih, Sigit menjadi ragu. Sigit melihat Isya. Istri Bayu yang memasuki penginapan. Mereka belum pernah bertemu sama sekali. Wajar Sigit tak mengenalinya.
‘Sepertinya bukan yang ini.’ Sigit berbalik. Namun Ia akan kembali lagi nanti malam. Jika ada Dion, bisa saja ada teman-temannya yang lain.
“Yoshi!”
Sigit jadi teringat dengan gadis itu dan segera kembali ke hotelnya. Melihat Iwan yang masuk rumah sakit, karena Papanya menikahi pacar Iwan, nggak ada salahnya jika waspada bukan.
...
Di dalam kamar yang cukup besar, Iwan dan Yoshi tampak canggung. Meskipun pernah bersama bertahun-tahun, status mereka yang telah berbeda membuat interaksi mereka pun berubah.
Iwan mendekat, menangkup wajah gadis itu yang telah menemaninya saat susah dan senang.
“Beb, Gue kangen sama Lo!” Iwan tak dapat menyembunyikan lagi rasa bahagianya. Jika bukan karena teman-temannya, mustahil hal ini akan terjadi.
“Hm, Gue juga Wan! Banyak yang ingin Gue ceritakan. Sayangnya, Hape Gue mati waktu itu. Jujur Gue nggak tahu kalau Bokap Gue punya kenalan orang se-tajir Pak Dewa. Setahu Gue, cuma keluarga Dias yang punya pengaruh besar.” Yoshi menceritakan posisinya waktu itu. Iwan mendengarkan tanpa menghakimi.
Yoshi pun mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya. Sebuah amplop coklat yang sempat Ia titipkan kepada Vicky. Mungkin inilah yang Vicky maksud untuk bertanggung jawab.
“Wan, ini tabungan kita berdua. Gue serahkan sama Lo! Gue menyesal banget untuk peristiwa ini. Gue udah menolak beberapa kali dan-...”
Iwan menyela ucapan Yoshi yang terus menyesali kesalahannya. Intinya bukan permasalahan materi. Iwan tahu itu.
“Lo yakin? Lo nggak sedang bohongin Gue kan?” desak Iwan.
Yoshi tersenyum kecil dan mengangguk. “Lo mau Gue buktiin sama Lo sekarang?” Yoshi menggodanya, dengan membuka beberapa anak kancing kemejanya ke hadapan Iwan.
“Siapa takut! Gue yang nungguin, masa aki-aki itu yang dapat!”
Iwan dan Yoshi menemukan hatinya kembali, meskipun akhirnya mereka terpisah, tapi Yoshi tak akan membiarkan dirinya disentuh pertama kali oleh pria yang tak dicintainya.
“Kalau nanti Lo di usir gimana Beb?”
“Lo mau terima janda Gue kan?” Yoshi memasang wajah memelas.
Hahaha..
“Pasti... Gue akan menunggu Lo!”
Iwan melucuti gadis tomboy kesayangannya. Rasa rindunya yang membuncah telah meluap. Suhu tubuh keduanya meningkat. Saat kulit mereka mulai bersentuhan. Gadis itu memberi pengakuan yang mengejutkan. Jika Yoshi belum pernah di jamah oleh Dewa.
__ADS_1
“Beb, Gue takut sama si Joni,” papar Yoshi.
“Si Joni itu punya Dion, punya Gue namanya Gani. Gagah dan berani.” Mereka berdua saling melontarkan candaan. berusaha mencairkan ketegangan, sampai hal yang paling mereka inginkan terjadi. Penyatuan mereka berdua.
“Apapun yang terjadi, biar saja terjadi... Gue serahkan semua sama Lo, Beb!” Yoshi meringis merasakan keenakan. Gadis tomboy itu mendapatkan kelegaan luar biasa saat wajah Iwan yang berada dalam pandangannya.
“Hmm,”
“Kalau sakit bilang ya! Kata orang, pertama kali sakit banget. Gue nggak tega menyakiti Lo!”
“Lakukan Wan, bukankah kita sudah menunggunya sangat lama?”
“Jangan nangis ya!”
...
Vicky kembali ke penginapan. Ternyata meeting mereka selesai satu jam lebih cepat. Melihat hanya ada Dista di sana, Vicky bertanya.
“Sayang, ke mana yang lain? Kok sepi?”
Dista menunjuk arah pintu kamar Kania berada.
“Oh, lagi privat rupanya! Bayu sama Iwan juga belum pulang?” Dista menggeleng.
Saat Vicky menghubungi Bayu yang sedang menunggu di lobby, Obrolan mereka tak sengaja di dengar oleh Sigit yang baru tiba di hotelnya.
Bayu
[Wah Gila, udah balik bocah tengil itu? Ya udah Gue balik sekarang.]
Vicky
[Balik aja, ngapain Lo masih di sana? Hahaha... Kepo sih, udah punya Bini juga! Balik sekarang! ]
Bayu
[Iya, haha... Penasaran sama Iwan, bisa nggak tuh! ]
Bayu berlalu, Sigit segera mencari keberadaan Yoshi sekarang.
“Jangan sampai Lo merusak kepercayaan Bokap Gue, Yoshi.”
Sampai di depan pintu kamar, gedoran pintu menyadarkan sepasang kekasih yang sedang terlelap.
__ADS_1
“Buka Pintunya! Saya tahu kalian di dalam!”
...