
Bangun dengan perasaan bahagia membuat wajah Kania berseri-seri. Ternyata Ia tak bermimpi, di sisinya ada “preman stasiun” yang telah menawan hatinya. Bagaimana Ia bisa menyukai pria yang gemar membahayakan dirinya sendiri.
Ducati hitam solid milik Dion merupakan saksi jika Ia selalu bertaruh nyawa di jalanan. Balap liar, berkelahi dan semua kegiatan ekstrem lainnya. Ternyata Ia hanyalah anak laki-laki yang membutuhkan teman berbagi cerita.
Baru pukul Lima pagi, Ia teringat dengan obrolan Mama mertuanya kemarin. Buru-buru Ia turun ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Namun, di sana sudah ada bibi pengurus rumah dan wanita hamil yang tengah menyeduh susu hangat untuknya.
“Pagi semua...” sapa Kania, menghampiri Dista dan memeluk perut buncit itu dari belakang.
“Pagi Mbak, mau buat kopi buat Mas Dion ya?”
“Hehe, iya Bi. Hari ini juga sudah mulai berangkat kerja.”
Bibi pengurus rumah memberikan arahan, apa saja yang disukai dan tidak oleh Dion. membuka lemari pendingin setinggi anak majikanya, supaya Kania bisa memilih menu untuk bekal mereka hari ini.
“Mau masak apa hari ini Mbak?”
“Ehm, biar saya saja Bi yang ambil alih. Biar begini saya bisa memasak beberapa jenis makanan lho.” Candanya dengan menunjukan kebolehannya. Dista hanya tertawa karena memang Ia tak menguasai bidang itu.
Dengan terampil tangannya memotong sayuran dan mencincang daging ayam. Sampai aroma harum pun menyeruak keluar dari dapur. Empat puluh menit pun berlalu dan semua sudah tersaji di atas meja makan.
Kania memasak dengan jumlah cukup banyak, sampai Dista merasa bingung. Apakah mereka akan menyambut kedatangan tamu, karena Kania mengosongkan isi dalam lemari pendingin. Sesekali bertepuk tangan dengan keahlian gadis muda itu.
“Kania, Lo mau pergi piknik atau mau menyambut seseorang? Banyak banget masaknya.” Sambil mengusap bibirnya yang tiba-tiba merasa lapar. “Duh anak gue mau cicip nih, boleh ya!”
Kania yang masih mengenakan baju tidur mengelus perut bulat itu supaya Ia segera merasakan nikmatnya kehamilan itu lagi. sembari bercerita jika Ia akan membawakan makanan untuk kakaknya yang sudah di temukan. Gadis itu tak malu mengatakan jika Faris adalah seorang kriminal.
“Wah syukurlah. Gue harap dia banyak berubah ya dan sayang sama Lo layaknya saudara.”
“Thanks ya Dis, Lo selalu ada di masa-masa terburuk gue selama ini.”
“Nggak perlu sungkan. Gih, siap-siap katanya mau ke kantor!”
__ADS_1
Agnes dan Chandra merasa senang, karena mereka berdua akur seperti keinginannya. Tidak salah jika menggunakan ancaman itu. perjanjian yang mereka tanda tangani beberapa bulan yang lalu kini sudah tidak berlaku. Dion sudah mengambil alih pekerjaannya, dan kini juga sudah menikahi gadis pilihannya.
“Hati-hati di jalan, jangan lupa nanti siang Sigit akan ke kantor!”
Tentu saja Dion tak mau mendengarkannya. Kania yang merasa tak enak segera mengiyakan ucapan Chandra.
“Iya Pa, nanti akan Kania bantu untuk itu, kami berangkat dulu.”
Selama di kantor, mereka berdua tampak serius menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk. Sesekali Dion melirik sekretarisnya. Semuanya dapat Kania selesaikan dengan baik. sedangkan pria kuning langsat itu hanya bermain ponsel dan mengambil beberapa foto istrinya.
‘Dulu dia ngapain aja ya sama Sigit?’ batinnya. Di tengah lamunannya Sampai sebuah panggilan masuk mengejutkannya dan memintanya untuk datang ke kantor polisi.
“Kania, kita pergi sekarang!”
“Tapi sebentar lagi Sigit kemari Pak!”
Dion menghampiri meja Kania dan mengatakan ini tentang kondisi kakaknya. Mau tak mau, mereka pun segera pergi meninggalkan kantor. Wajah Kania panik, kerabat satu-satunya tengah mengalami masalah. Sebisa mungkin Ia membantunya. Dan saat pintu lift terbuka ... Seorang pria dengan setelan rapi telah berdiri di hadapannya.
“Bukan urusanmu!”
Kania mencubit pinggang bosnya yang sangat menyebalkan. Sifat kekanakannya masih belum hilang. Ajakan Kania kepada Sigit justru menambah emosinya yang Ia tahan sejak tadi.
Obrolan mereka berlanjut sampai di tempat parkir, sebelum mereka berpisah menggunakan mobil masing-masing. Kania memintanya untuk mengikutinya. Setibanya di kantor polisi, Kania tak sabar untuk bertemu dengan saudaranya. Dengan membawa bekal masakannya dari rumah.
Namun, alangkah terkejutnya saat mendapati seorang pria yang Ia yakini adalah Faris tampak pucat dan kaku saat dibawa keluar dari ruang pemeriksaan tahanan.
“Faris?!” lirih Kania.
Tanpa sepatah kata meninggalkan dua orang pria yang bersamanya. Kania berlari untuk memastikan jika Ia tak salah lihat. Sedangkan Dion yang sedang menerima informasi dari Gunawan mengatakan jika pria itu keracunan makanan. namun, anehnya hanya Faris saja yang mengalami hal itu.
Terdengar suara gaduh dari kejauhan. Rupanya Kania menjatuhkan bekal bawaannya di depan petugas lapas. Saat melihat wajah pria itu, refleks berteriak dan menghalangi langkah mereka. Seorang petugas berusaha menenangkan wanita cantik dengan pakaian formal itu. Seketika tangannya di tepis oleh Dion.
__ADS_1
Dion memeluk Kania. Kenapa cobaannya tak segera berakhir. Lantas bagaimana mengatakannya nanti. Melihat Kania terpuruk seperti ini. Faris pun akhirnya di rawat di rumah sakit yang sama tempat Dias berada. Tempat untuk merawat para tahanan yang terluka. Seketika Dion ingat dengan kondisi sang mantan yang mengalami hal yang serupa.
“Keracunan? atau diracun?”
Sigit melihat sample botol yang ada di tangan Gunawan. Lantas meminta izin untuk memeriksanya. Dan memotretnya.
“Kenapa kamu tertarik dengan hal ini? apa ini semua ada hubungannya denganmu?” tanya Gunawan mencoba bercanda. Perwira gagah itu telah mengantongi sejumlah kejanggalan dari rumah sakit besar milik Dewa Virgiawan.
“Saya hanya mencoba membantu.”
“Membantu? Dengan melenyapkan barang bukti?”
Sigit berlalu tak menghiraukan ucapan Gunawan dan menghubungi dokternya di rumah sakit. Menanyakan keberadaan Papanya dan juga mengirimkan foto yang Ia peroleh.
Dokter
[Kebetulan Mas Sigit menghubungi saya, saya ingin mengundurkan diri dari Permata Medika.]
Sigit
[Jangan bercanda! Sekarang bukan waktunya, berikan penawar dari foto yang saya kirimkan tadi. Kita harus bertemu secepatnya!]
Dokter
[Tapi Mas...]
Suara dokter di seberang seketika berubah lirih dan memasukan ponselnya ke dalam saku. Saat mendengar suara pintu ruangannya terbuka. Sigit yang hendak mematikan sambungannya mendengar suara yang tak asing selain milik dokter kepercayaannya.
“Bagaimana? Kamu bersedia saya pindahkan ke rumah sakit baru kan? Kamu bisa sejajar dengan putraku nanti.” Suara itu tidak asing lagi.
‘Papa, apa yang sebenarnya kamu rencanakan?’
__ADS_1
...