
“Buruan kemari...!” pinta Dion tak sabar. Andainya tak ada selang infus di tangannya, mungkin gadis itu sudah habis diterkamnya.
“Sabar Mas...,” ucap Kania, dengan meletakkan barang bawaannya ke nakas. Gadis itu tak melihat perubahan ekspresi Dion saat Kania memanggilnya dengan nada yang menggoda.
“Itu pekerjaanmu selama nggak masuk hari ini!” Kania duduk di sisi Dion dengan menjaga jarak cukup jauh. Pria itu kesal, bagaimana caranya meminta gadis itu untuk mendekat, Dion punya ide.
“Kania, tolong ambilkan Gue bantal satu lagi, punggung Gue capek!” melihat gadis itu tak nyaman mengenakan sepatunya, Dion memberinya sandal bulu yang sama, seperti yang biasa Ia gunakan sehari-hari.
“Ganti aja sepatu Lo, nanti jatuh lagi!”
Gadis itu menurut, melihat Kania tampak berisi, Dion semakin gemas dan ingin lebih dekat dengan gadis itu.
“Bantuin Gue dong!” senyum Dion memiliki arti lain, Kania merasa merinding membayangkan jemari Dion menyentuh kulitnya. Gadis itu bergidik geli.
Kania hanya menatapnya, takut apa yang Ia bayangkan menjadi kenyataan.
“Heh! kenapa diam aja, bantuin dong sayang, Gue nungguin nih!” goda Dion. Wajah putih Kania merona, jantungnya berdegup. Kedua tangan Kania mengarah kepada pria berlesung pipi itu, semakin dekat jarak mereka, semakin keras debaran jantung Kania.
“Jangan lihat Gue seperti itu!” protes Kania.
“Kenapa lama banget sih! Gue kan udah nungguin Lo lama...” Bisikkan itu telah sampai di telinga Kania. “Gue kangen sama milik Gue yang ini, hmm...”
Kedua Bibir kenyal itu menyatu dalam satu sentakan Dion memeluk erat tubuh gadis cantik di depannya.
“Emh...” lenguhan Kania menyelimuti ruangan besar milik Dion. Membuat jagoan tampan itu semakin agresif dalam melancarkan aksinya.
Rasa hangat, manis, kenyal dan lembut... Aroma strawbery itu membuat hati Dion tenang. Kania mencoba untuk mengobati rasa rindunya dengan memejamkan kedua matanya. Namun, bayangan kekasihnya malah muncul, hadir di tengah aktivitas menyenangkan itu.
“Ehm... Ehm...” Kania mendorong tubuh besar itu untuk menghentikannya. Sayang sekali, usaha Kania kurang keras. Rasa rindu pentolan geng itu jauh lebih besar. Membuat Kania kewalahan karena tak dapat mengimbangi permainan pria berlesung pipi itu.
Dion melepaskan tautan bibirnya, dan melihat warna pink cherry itu memudar dan berantakan, Dion tersenyum penuh kemenangan.
“Gue kangen banget sama Lo, tapi Lo nggak pernah percaya!” tukas Dion, mengusap lembut pipi Kania.
Gadis itu tak menjawab, Ia menelan salivanya perlahan karena Ia pun menikmatinya meskipun napasnya terengah naik turun.
Lucunya Kania tak merasakan mual, begitu juga dengan Dion. Sungguh perasaan yang aneh, saat Dion merapikan rambut yang tergerai indah itu, suara seorang pria dengan stetoskop di tangan memecah keheningan.
“Wah, Saya mengganggu nih!”
Keduanya pun tersentak kaget. Gadis cantik dengan setelan formal berdiri membiarkan sang dokter mendekat dan memeriksa Dion.
“Kamu mau ke mana Nak?” sambung Agnes dan Chandra yang masuk ke kamar.
“Kan Dion... Ehm, Mas Dion mau diperiksa sama dokter.”
Ketiganya tersenyum simpul melihat ekspresi canggung sekretaris cantik itu.
__ADS_1
“Bukan Dion, tapi kamu.” Sontak Kania membulatkan matanya. Agnes mendudukkan Kania di samping Dion, pria itu merasa senang dengan perbuatan mamanya.
“Eh, Tante mau ngapain...?” Kania yang hendak diperiksa menjadi tegang, padahal dokter hanya memeriksa tekanan darah dan menanyakan beberapa keluhan yang dialaminya untuk memberikan vitamin.
Kania trauma dengan yang namanya pemeriksaan. Beberapa kali Ia mengunjungi pusat kesehatan, bahkan sampai dirawat di rumah sakit.
“Tante dengar Kamu nggak sehat beberapa hari ini, diajak ke dokter nggak mau, dibawa kemari nggak mau, makanya kamu harus dipaksa seperti ini.” Agnes menenangkan Kania yang gugup.
Semua pertanyaan dokter dapat di dengar oleh keluarga Wijaya, begitu juga dengan jawaban Kania. Dion yang ada di sampingnya pun merasa geregetan, karena Kania melupakan peristiwa penting yang melibatkan Dion.
“Punya riwayat asam lambung?”
“Nggak ada dok, hanya sering terlambat makan saja.”
“Keluhan apa saja yang terjadi seminggu terakhir?”
Kania mencoba mengingatnya, mulai dari lemas, sering mengantuk, pusing, dan yang paling parah adalah mual dan muntah tak kenal waktu. Tiba-tiba Kania jadi ingin makan rujak yang sangat pedas, tapi dilarang oleh dokter.
Dokter tersenyum, dan menanyakan pertanyaan terakhir.
“Kapan mendapatkan tamu bulanan?” Kania berpikir keras, membuat Dion mencubit pipinya. Mengingat begitu saja dirinya tidak bisa.
“Saya pikir sudah lama belum dapat haid lagi, tapi pastinya kapan saya lupa.”
“Astaga bocah ini!” Agnes menepuk jidatnya. Dion dan Kania ternyata sama. Terlalu cuek dengan apa yang terjadi di sekitarnya.
“Kalau begitu, minggu depan jika gejalanya masih berlanjut, segera ke rumah sakit untuk diperiksa lebih detail lagi.”
“Benarkah dokter?” Agnes terlihat antusias dan tak akan melewatkan hal itu. Tak lekang senyum sumringah itu di wajah wanita satu putra itu.
Sedangkan di kamar Dion, Kania berpikir, benar juga Ia belum mendapat tamu bulanan lagi sejak kejadian malam itu.
“Kenapa wajahmu jadi murung begitu?”
“Dion, ehm...” Kania menoleh ke seluruh ruangan, memastikan tak ada orang tua Dion di sana.
“Gue takut...”
“Takut apa? Takut Lo hamil? Kan ada Gue, sayang!”
Kania menoleh, dan segera turun dari ranjang itu. Namun Dion menahannya.
“Tinggalkan Pria itu, Kania hiduplah bersamaku!”
Kania mengenyahkan tangan Dion, yang semena-mena memintanya untuk menjauh dari Sigit.
“Di dalam sini ada anak Gue! Lo nggak bisa pergi ke mana pun sekarang.” Tutur bos tampan itu sembari mengusap perut Kania. “Pria itu akan meninggalkan Lo saat tahu Lo hamil anak pria lain! Bahkan Lo akan dianggap remeh olehnya.”
Kania menatap Dion tak percaya. Dengan mudahnya berkata hal buruk tentang Kekasihnya.
__ADS_1
“Sigit bukan pria seperti itu.” bantah Kania cepat.
“Cih!! Lo bahkan belum tahu siapa dia sebenarnya, bagaimana Lo bisa sebodoh itu memberikan kepercayaanmu dengan mudah. Sedangkan sama Gue, Lo selalu impulsif dengan berbagai alasan penolakan.”
“Gue emang bodoh, begitu percaya sama Lo dan mau-maunya dibodohi oleh kalian semua!” Kania terisak.
Saat yang menegangkan, ponsel Kania berdering, dan gadis itu sengaja mengangkat panggilannya di depan Dion, membuat Dion mencabut paksa selang infus dari tangannya, hanya untuk merebut ponsel itu darinya .
“Ck! Lo emang benar-benar keras kepala ya!”
“Aaa...” Kania melihat darah segar mengalir dari tangan Dion. Dan segera mengobatinya.
“Pria brengsek!”
...
Dias pergi ke rumah sakit untuk mengambil laporan kesehatannya. Begitu mendapati hasilnya, gadis manis itu tak sadarkan diri.
“Mas lihat!” Ada yang pingsan di depan kafe. Jo menunjuk kepada sosok manis itu.
Jo membantu gadis itu dan membawanya ke dalam kafe milik Sigit. Di samping bangunan rumah sakit besar itu.
“Eh! Apa ini?” tak sengaja Jo yang kepo membaca laporan milik gadis itu yang memang sudah terbuka sebelumnya.
“Ck... Ck... Ck...” Jo berdecak lebay, membuat Sigit yang tengah membuat cake manis untuk Kania menoleh.
“Ada apa Jo, berisik sekali dirimu. Nggak ketemu seharian kemarin rasanya damai.”
Jo menunjukkan hasil laporan itu kepada Sigit. Dan pria manis itu menegur staf sekaligus temannya itu.
“Besok lagi, dilarang melihat laporan pemeriksaan milik pasien ya Jo, juga beri tahu yang lain. Kalau Saya mengetahui hal itu, akan saya pindahkan kalian ke cabang lain, mengerti!”
Nyali Jo menciut, padahal Jo ingin memberitahu Sigit dan menyayangkan bahwa gadis semanis Dias di vonis sudah tidak akan bisa hamil lagi. Karena masalah pada alat reproduksinya.
“Berikan gadis itu minuman hangat Jo, supaya lekas sadar. Saya mau ke kantor dulu. Ada berkas yang harus saya tanda tangani.” Sigit pamit meninggalkan Kafenya.
Jo tak sengaja menyimpan kertas itu di laci meja milik Sigit. Padahal jelas-jelas itu bukan miliknya.
“Sudah sadar? Di minum dulu! Tadi saya melihat Mbak pingsan di depan sana.”
Dias melihat arah telunjuk Jo dan berterima kasih. Gadis itu hendak pamit. Dan berniat pulang ke rumah karena Dias sudah tak ada lagi tempat tujuan saat ini.
Setibanya di rumah besar yang bertahun-tahun ditinggalkannya. Dias mendapati Orang tuanya telah menunggu dengan raut tidak senang.
Sudah berapa kali gadis itu mencoreng nama keluarganya, hingga mereka memutuskan lagi untuk tak menganggap Anggita Dias sebagai putrinya.
“Lihat siapa yang pulang setelah menghancurkan dirinya!” tutur Mama Dias.
Gadis itu hanya diam saja. Tak diperbolehkan masuk ke kamar sebelum melakukan perjanjian, jika Dias tak akan lagi berbuat onar.
__ADS_1
“Ini kesempatan terakhir, terserah pada pilihanmu, Mau menikah dengan pria pilihan Papa atau Kamu tinggalkan Indonesia untuk selamanya!”
...