
“Brengsek!” umpat Dion.
Rasa senang yang ia dapat dari luar harus pupus saat pria tampan itu pulang ke rumah, dengan susah payah Dion membangun suasana hatinya. Hanya dengan bertemu kawan-kawannya Dion dapat kembali menjadi dirinya sendiri, terlebih setelah melihat gadis pujaannya.
Braakkk!!
Terdengar suara pintu yang dibanting keras, membuat Ujang berjingkat. Sopir pribadi papa Dion yang telah lama mengabdi di keluarga Wijaya merasa kasihan. Sejak Sekolah Dasar, Dion kurang mendapat perhatian dan kasih sayang, menjadikan bocah tampan itu menjadi liar dan tidak terkendali. Ujang lebih tahu bagaimana cara berkomunikasi dengan Dion dari pada kedua orang tuanya.
“Mas Dion,” panggil Ujang dengan suara lirih di depan pintu. Dion yang sedang berbaring pun tampak malas untuk menyahutnya.
“Kenapa Mang?” suara berat Dion mengejutkan Ujang yang tengah menyandar di pintu. Usia Ujang yang masih tiga puluhan membuat keduanya tak ada rasa sungkan. Baginya Dion adalah seorang anak yang baik, hanya saja ia sulit mengontrol emosinya.
Pria berdarah sunda itu mengangkat sachet kopi hitam, dan memberikan jempolnya mengarah ke tepi kolam renang. Dion pun mendorong Ujang perlahan, dan dia mengekor di belakangnya.
“Lo tahu aja Mang, kalau gue lagi butuh teman.”
Di sana Ujang menyeduh dua kopi hitam, meski tak seenak buatan kawannya, Dion tetap berterima kasih. Ujang memberi masukan meski tidak diminta, membuat Dion kesal.
“Gue nggak butuh masukan Mang, gue butuh tempat tinggal sekarang!” Ujang yang sedang menyeruput kopi, menyemburkan cairan hitam itu. Merasa terkejut dengan penuturan Dion yang tidak dipikirkan dulu.
“Mas Dion mau kemana? Rumah sebesar ini kok mau ditinggal? Apa buat nanti setelah menikah, hihi ....”
Membahas soal pernikahan, Dion jadi teringat dengan Dista dan juga Dias, dua wanita yang pernah mengisi hari-harinya. Sayangnya, tak ada satupun dari mereka yang bisa pria itu pertahankan. Ujang mendengarkan curahan hati seorang berandal tampan. Meskipun terkenal nakal, Dion tak pernah berbuat buruk pada seorang gadis.
Saking menghayatinya mereka berdua tak mengetahui keberadaan Kania dan juga Agnes di ambang pintu. Senyum Agnes terukir jelas di wajahnya, jika putranya adalah seorang pria normal yang bisa mencintai seorang gadis.
“Kamu lihat kan, Dion itu normal. Tugasmu hanya perlu membuatnya menurut, Bocah badung seperti Dion hanya butuh perhatian dan pengertian. Tante jadi penasaran dengan yang namanya Dista. Besok kita kunjungi rumahnya, kamu setuju kan?”
Kania terdiam, mulutnya terkunci. Meskipun demi kepuasan diri, nyatanya mengunjungi seorang gadis lain yang pernah singgah di hati “calon suaminya” adalah hal sangat menyakitkan. Malah bis jadi, dalam hati Dion masih tersimpan kenangan diantara mereka.
“Iya Bu,” lirih Kania.
“Jangan panggil Ibu, coba biasakan diri panggil Tante, atau mungkin dengan panggilan Mama mungkin.” Agnes mengusap punggung Kania. Tak berusaha untuk membandingkan keduanya, karena Agnes berpikir di jaman modern ini cinta datang karena terbiasa adalah hal lumrah.
__ADS_1
...
“Lalu, Mas Dion lebih suka sama yang mana?” tanya Ujang. Dion mengeluarkan ponselnya dan menunjukan foto Dista juga Dias. Pentolan geng itu merasa bangga, karena ekspresi Ujang tampak terpesona dengan foto dua gadis yang ia tunjukan.
“Gimana Mang? Seksi kan? apalagi yang ini nih!” tunjuk Dion pada salah satu foto tersebut. Ujang sudah bisa menebak siapa gadis itu, karena sejak pertama bercerita, hanya nama gadis itu yang ia sebut paling banyak diantara yang lainnya.
“Pasti si Neng ini yang Mas Dion panggil si Bohay ya, haha....”
Dion pun ikut tertawa, karena Ujang bisa mengenalnya dengan baik. Berulang kali Dion menepuk punggung Ujang, karena merasa terhibur.
“Jangan lupa Mang, cariin Dion kontrakan atau rumah yang bisa disewa ya! Dion nggak mau menikah sama gadis pilihan Mama!” Dion bergidik membayangkannya saja Ia tak ingin, apalagi nanti.
Kania kembali ke kamar dibantu asisten rumah tangga. Selama menaiki tangga, gadis itu berpikir bagaimana caranya ia tetap bisa bekerja di kantor, meskipun ia akan tetap mendapat uang dari ... suaminya.
“Ah sial! Kenapa gue jadi kepikiran pria brengsek itu sih!” geram Kania, sampai Ia nyaris jatuh akibat tidak fokus dengan langkah kakinya. Di kepalanya mulai terngiang saat Dion tertawa, senyum yang manis, senyum yang sangat lain saat ia selalu mengejeknya. Namun, bukan dia penyebab tawa itu.
“Gue nggak peduli, gue juga nggak mau hal ini terjadi. Dion pikir dirinya adalah manusia paling ganteng se-planet ini! hah, dasar playboy tengik!” Kania mengobrak bantal yang tersusun rapi. Saat duduk di depan meja rias, Kania menatap dirinya dalam pantulan cermin.
‘Apa iya gue seburuk itu di mata Dion?’ batin Kania. Ia mulai mengangkat lengannya dan mencium ketiaknya kiri dan kanan. Ia mengernyitkan hidungnya.
Semalam menginap di rumah Bos nya, bahkan Ibunya tak menanyakan keberadaannya. Selama dapur tetap ngebul dan ada makanan untuk dimasak, Asri akan membebaskan kedua anaknya.
‘Hah, kalau boleh memilih menjadi anak siapa, pasti gue akan memohon kepada Tuhan, diberikan ibu yang perhatian dan penyayang.’ gumam gadis itu.
Di Balkon Dion sedang melakukan panggilan Video dengan ketiga kawannya. Dalam layar ponselnya, semua telah berdua bersama pasangannya. Hanya dirinya sendiri yang masih sendiri. Iwan, teman sebangkunya semasa SMA, menantang pria itu untuk menikah lebih dulu dari pada dirinya. taruhannya cukup besar, sebuah sepeda motor yang di inginkan Dion.
Iwan
[Gimana Bro, berani nggak? Cuma Lo doang yang masih jones, Lo masih normal kan?]
Hahaha... ketiga temannya menertawakan pentolan geng yang terkenal garang. Bahkan ia melihat Vicky sedang bermesraan dengan Dista, ada rasa dongkol melihat pasangan itu. Seandainya saja dia yang berada di posisi Vicky, pasti hanya ada kebahagiaan dan tak perlu merasakan semua kejenuhan dalam rumah besar ini.
Dion
__ADS_1
[Gue pikir-pikir dulu, masalahnya calonnya udah jadi bini orang! Haha... ]
Senyum itu seolah meledek, meskipun hanya sebentar Dion sempat menyicip kedamaian bersama gadis yang ia sukai sejak awal.
Vicky
[Brengsek Lo! Masih aja ngincar bini gue! udah sana balikan sama mantan, siapa tahu langsung mau Lo ajak nikah.]
Bayu
[Iya, mantan Lo masih ... jomblo tuh!]
ucapan Bayu terputus, karena melihat sosok gadis cantik di belakang Dion. mereka semua menatap ke arah Dion, membuat pentolan geng itu tak mengerti.
Dion
[Kenapa muka lo pada?]
Dion menoleh ke belakang, mengikuti kemana tatapan kawan mereka. Gadis bertubuh ramping dengan rambut hitam tergerai. Aroma stroberi miliknya tercium ke dalam hidung mancung milik Dion.
Iwan
[Woy, udah punya calon diam-diam aja Lo, brengsek! Nggak jadi lah, taruhannya, sayang-sayang motor gue!]
Dan semua menertawakan kekonyolan Iwan. Dion meminta Kania untuk pergi. Namun gadis itu malah sengaja bergabung duduk di sebelah bocah badung itu. Di sana Kania menatap sosok yang Dion bicarakan.
‘Dia benar-benar cantik, dan sudah resmi menjadi milik sahabatnya. Tapi kenapa Dion masih tak bisa melupakannya.’
Kania
[Halo, Kalian pasti teman-teman Dion ya! Aku ... ]
Dion menutup bibir gadis itu dan memutuskan sambungan panggilan video bersama ketiga kawannya.
__ADS_1
“Apa-apaan Lo, Jangan ngelunjak ya! Ingat, gue nggak mau di paksa buat nikahin Lo, Paham!” Dion menyeret tangan gadis itu keluar dari area balkon. Meskipun pria itu tahu, jika kaki Kania masih sakit dirinya tak peduli.
“Pergi! Lo bisa memilih tempat dimana Lo mau, tapi jangan harap bisa satu ruangan sama gue!” Dion berlalu, meninggalkan gadis itu seorang diri.