Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 139. Nasib Dua Janda


__ADS_3

Awan gelap yang menaungi Rosi dan Sigit perlahan menyingkir. Satu per satu Tuhan selesaikan semua permasalahan hidupnya. Rosi mengambil tangan Sigit dan Yoshi bersamaan. Memintanya untuk duduk dan menjelaskan tentang kebebasannya.


Sigit yang masi tak percaya, mengulang kembali perkataan mamanya. Yoshi pun juga demikian. Selama Rosi di penjara, hidup gadis tomboy itu seakan kehilangan arah. baginya Rosi sangat berharga dalam kehidupannya sekarang ini.


“Serius Ma! Mama akan bebas hari ini?”


“Benar Nak, dan semuanya berkat bantuan dari Papa kamu.”


“Papa?”


Yoshi menyenggol lengan Sigit. Pasti bocah itu menyangka jika Dewa yang melakukannya. Yoshi tahu jika Sigit masih belum bisa menerima kepergian Papanya, juga menerima Chandra sebagai orang tua yang sebenarnya.


“Papa Chandra Sigit, Papa Chandra.” bisik Yoshi.


“Em, Lalu kapan Om Chandra akan memenuhi janjinya untuk menikahi Mama? Sigit sudah memenuhi janji dengan tinggal bersamanya.”


Rosi meminta kepada Yoshi untuk menunggu di ruang tunggu, selama dirinya berkemas. Rosi sudah memiliki rencananya sendiri. Yang pasti Ia tak akan menghancurkan keluarga Wijaya, sesuai janjinya dengan pria yang telah menolongnya.


Setelah sepuluh menit menunggu, mereka bertiga berpamitan kepada Gunawan. Perwira tampan yang sudah sangat banyak membantunya meskipun hal itu sudah menjadi kewajibannya.


“Pak, atas nama keluarga, Kami mengucapkan banyak terima kasih atas bantuannya selama ini.”


“Sudah menjadi tugas kami Bu, Sigit dan Yoshi. Selesai pemakaman kalian akan kembali ke Jakarta?”


“Nggak Bang, kami mau menenangkan diri di Lembang untuk beberapa saat. Kami pergi dulu!”


Gunawan mengantarkan kepergian mereka sampai di depan pintu, dan di saat yang sama Chandra sudah berada di sana.


“Sigit, Papa mencari kamu Nak! Yoshi, kalian mau kemana?”


Rosi mengatakan jika ada yang perlu dibicarakan. Mereka akhirnya pergi ke tempat dimana Dion pernah membuat keributan malam itu. Di Villa milik keluarga Sigit.


“Hehe... Kita sudah seperti keluarga ya!” canda Yoshi, yang tentu saja mendapat cubitan dari madunya.


“Jangan bercanda kamu!”


Perjalanan mereka begitu sangat membosankan, karena Sigit, Rosi dan Chandra hanya diam saja menatap jalanan meliuk di depannya. Sedangkan Yoshi yang cerewet, memainkan ponselnya untuk menghubungi teman-temannya.


Hari yang membahagiakan untuknya telah tiba. Meskipun dalam hati Yoshi Ia masih tak menyangka, teman baiknya dulu, telah pergi dengan cara menghabisi suaminya dan dirinya sendiri.


‘Sekarang gue baru percaya, ucapan adalah doa. Saat gue meminta Iwan untuk menunggu janda gue, secepat itu juga Tuhan menjadikan Gue janda. Haha...’


Yoshi terus tertawa sendiri. Sigit menyadari itu sejak dalam taksi juga dalam kabin pesawat.

__ADS_1


“Sekarang Lo udah bebas dari bokap Gue, senang kan Lo!”


Chandra menoleh ke belakang, mendengar ucapan Sigit mengatai Yoshi, Ia teringat Dion. putra badungnya yang bicara tanpa pernah di saring. Juga dengan kebahagiaan Agnes yang menunggu dua cucu kembarnya di dalam perut Kania. Chandra semakin yakin dengan keputusan yang diambilnya. Semoga saja wanita yang duduk di sampingnya bisa diajak bekerja sama.



“Ck...Ck...Ck..., kita sudah sampai.” Ucap Chandra.


 Yoshi dan Sigit buru-buru untuk turun, namun Rosi dan Chandra tetap tinggal di mobil. Sigit tersenyum, menantikan kebahagiaan Mamanya.


“selesaikan urusan kalian, kami menunggu di Villa Pa, semoga berita bahagia juga sampai ke telinga Sigit ya!” Chandra mengangguk, wajahnya tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya. Saat Sigit mau memanggilnya dengan panggilan Papa.


Sigit merangkul Yoshi untuk masuk ke dalam Villanya. Yoshi yang berdecak kagum, tak pernah menyangka Ia tinggal bersama keluarga kaya yang baik hati, em... kecuali pria yang telah mati itu.


“Kamu dengarkan Rosi, sekarang kita selesaikan urusan kita.”


“heem, mau kemana?” tanya Rosi.


Chandra tersenyum. “Bagaimana kalau ke hotel?”


...


Iwan bersama kedua sahabatnya. Menghabiskan waktu di rumah Dion. mereka mengadakan acara kecil-kecilan karena berita bahagia itu. keduanya pun tak habis-habis menguliti pentolan geng itu karena Kania akhirnya berhasil mengandung anaknya.


Berita kematian Dias pun tak akan mengurangi rasa kebahagiaan mereka. Bagi Dion dan Vicky, itu setimpal untuk semua perbuatannya di masa lalu. Jika hukuman manusia tak bisa menyadarkan kalian, maka hukuman Tuhan yang harus di terima.


“Sadis amat Mas, nggak boleh begitu.”


Iwan dan Vicky tertawa melihat kepolosan Kania. gadis itu belum menyadari jika nasib Yoshi menjadi seperti sekarang karena gadis itu.


“Gue setuju. Bagaimana paniknya saat anak dan istri Gue dalam bahaya karena perbuatannya. Kania, Lo nggak mau kan hal itu terjadi sama Lo juga kan?”


“Betul! Bahkan kalian berdua nyaris mampus juga karena ulah Bokap Sigit sama Dias, sekarang kalian rayakan saja hari ini.”


“Tega Lo Cungkring! By the way apa yang akan Lo lakukan sekarang?”


Mereka semua menatap Iwan yang masih berpikir. Wajah bingungnya membuat yang lain ingin menghajarnya, karena otaknya tak sampai juga.


“Gila ya, jawab pertanyaan mudah aja Lo nggak bisa. Kita aja udah tahu mesti ngapain.”


Sampai sebuah panggilan video masuk dari orang yang tengah mereka bicarakan. Iwan tak beranjak, karena tak ada yang perlu di sembunyikan dari kedua sahabatnya yang ada di Jakarta.


[Cungkring... Gue kangen...]

__ADS_1


Suara sember itu membuat yang lain menahan tawa sembari memanas-manasi Iwan dengan pasangan mereka masing-masing.


Iwan


[Beb, Lo girang amat. pasti karena laki Lo udah mati ya!]


Haha...


“Gila si Iwan terus terang amat, untung anaknya nggak ada di sini,” oceh Dion.


Seketika Iwan paham dengan maksud dari sahabat-sahabatnya. Jika Gadis tomboy kesayangannya kini telah menjadi janda. Iwan tersenyum dan menjauh dari mereka.


“Heh mau kemana Lo? muka Lo ketahuan nyengir kan kayak kuda!” ejek Dion.


Vicky menahan Iwan yang hendak melarikan diri. Pria dingin itu meminta Iwan untuk segera mengatakan kepada Yoshi. jangan sampai ada Dewa Virgiawan kedua dan seterusnya. Cukup sekali mereka berdua melakukan kebodohan.


“Apaan sih Lo Bro!”


“Buruan lamar bego!”


Hehe, Iwan hanya nyengir. Kemudian melanjutkan obrolannya.


Iwan


[Di mana Lo Beb? Sama Gue juga, anak-anak yang lain juga.]


Yoshi


[Masih di Bandung, di Villanya Sigit. Oh iya Wan... ada hal penting yang harus kita bicarakan]


Iwan


[Sama Gue juga, kapan kita ketemu?]


Yoshi


[Nggak ada waktu Wan, ini semua soal bokap Gue! besok temui Gue di bandara sebelum tiga sore!]sambungan telepon pun segera di tutup oleh Yoshi.


“Halo, Yoshi! Beb, halo! Brengsek, di matiin lagi teleponnya.”


Iwan panik, membuat temannya bertanya-tanya.


“Kenapa sama si tomboy?” Dion dan yang lain menunggu jawaban Iwan.

__ADS_1


“Yoshi mau pergi Bro, dia minta Gue ke Bandara sebelum jam tiga sore.”


...


__ADS_2