
Di mobil Sigit, Richie merasa senang sekaligus kesal menjadi satu. Pasalnya teman mengemudinya asyik mendengarkan musik melalui headphone nya dari pada mendengarkan curhatan Richie.
Sedangkan pasangan kekasih di jok tengah tengah asyik melepas rindu. Berulang kali pemuda manis dan konyol itu memberi kode, untuk tidak membuatnya iri dengan memutarkan lagu yang menyindir Sigit juga Kania.
“Yang, coba buka! Aku sengaja membuatnya kemarin untukmu, Aku pikir kamu menyukai cake strawberry buatanku.”
Sebuah kotak dengan kemasan yang manis dihias pita merah di atasnya, membuat Kania merasa tersanjung karena perlakuan Sigit yang sangat romantis menurutnya. Jo yang fokus menatap jalanan pun turut menoleh ke belakang dan mengharap mendapat bagian potongan kecil dari cake buatan bos nya yang sangat enak.
“Bos, mau juga dong! Jangan lupa kita berdua di bawa ke Bandung juga harus di perhatikan, pacar Bos pasti nggak akan keberatan, ya kan Mbak?”
“Bos?” Kania menatap pria di sampingnya. Beberapa kali Kania memperhatikan ketiga pria manis dalam mobil itu bergantian.
“Haha... Haha... Jangan dibawa serius Mbak, kita semua memang suka bercanda.” Jo mendapat tatapan menghunus dari Sigit.
“Ya nggak apa-apa bagus dong, kalau masih muda udah jadi Bos, mana ganteng lagi, pacar siapa nih?” goda Kania. Setiap dekat dengan Sigit perasaan Kania merasa teduh dan damai. “Oh iya Yang, kenapa tiba-tiba ajak Aku ke Bandung? Memangnya kamu punya saudara atau sedang ada acara di sana? Soalnya tiga minggu lagi Aku juga ada proyek di Bandung sama bosku.”
Kania membagi kue itu menjadi beberapa potong kecil. Untuk Jo juga Richie, sedangkan Kania berdua dengan Sigit. Mendapat suapan dari gadis cantik itu, Sigit tak peduli lagi dengan ketakutannya. Bahkan saat akan mendapat ibu tiri yang seusia Kania, dirinya juga tak menjadikannya beban.
“Wah, kalau kamu hanya berdua dengan bosmu, sepertinya Aku harus ikut denganmu!”
“Aku juga setuju, kalau kamu memang tidak keberatan untuk ijin masuk kerja.”
“Aman mbak! Itu kan perusahaannya Mas Sigit!”
Ckiittt...
Richie membanting kemudi, saat tubuh Sigit tiba-tiba berpindah ke depan mengejutkan sang pengemudi. Sejak tadi bocah ember itu tak bisa memegang rahasia. Membuat Sigit harap-harap cemas melihat respon Kania.
Tiga jam perjalanan Jakarta-Bandung dilalui dengan aman dan terkendali. Kania yang begitu perhatian mengingatkan Sigit untuk minum obat tepat waktu. Begitu juga Kania yang harus diam-diam menenggak air mineral untuk melarutkan vitaminnya. Mengobati mualnya di sepanjang perjalanan. Sepasang kekasih yang di mabuk cinta itu sedang menikmati waktunya berdua tanpa menghiraukan keberadaan Jo dan Richie yang terus tertawa kecil. Hingga Keduanya terlelap di belakang.
Melihat hal itu, Jo berkirim pesan kepada Rosi, jika pacar Sigit sangat telaten menjaga putranya. Rupanya momen Jo menghubungi Rosi bukanlah waktu yang tepat. Pemuda manis itu harus melihat wanita yang berjasa padanya tengah bersitegang dengan pria menawan pemilik rumah sakit terbesar itu.
Sepasang suami istri yang tengah berdebat tentang pernikahan kedua untuk suaminya yang akan dilangsungkan seminggu lagi. Tanpa pemberitahuan, Dewa membawa seorang daun muda ke rumah. Sangat belia, bahkan cocok jika gadis itu menjadi saudara bagi Sigit.
Di tengah kegalauannya, ponsel Rosi berdering. Ternyata dari Jo yang mengirimkan foto manis putranya tengah tidur dengan seorang gadis di dalam mobil. Melihat hal itu pun Rosi merasa bersyukur, untung saja Sigit segera pergi. Jika tidak, pasti Sigit melihat hal ini dan akan membuatnya kecewa.
__ADS_1
Rosi
[Tolong jangan beritahu Sigit! kondisinya sudah mulai membaik. Biarkan dirinya bahagia Jo. Simpan rahasia ini baik-baik ya, Tante percaya padamu.]
Jo melihat sekelebat bayangan sosok gadis dengan tinggi 167 senti, berkulit kuning langsat dan berambut coklat. Dibilang cantik, tidak terlalu karena gadis itu tak seperti layaknya seorang gadis. Jo yang memiliki rasa kepo tingkat kabupaten , mencoba menerka-nerka siapa sosok itu.
Jo
[Siapa itu Tante? Bukan calon buat Mas Sigit kan?]
Rosi
[Bukan! Jangan beritahu siapa pun Jo! Tante tutup dulu, kalian bersenang-senanglah! Titip Sigit ya Jo!]
Jo menjadi khawatir, melihat Rosi yang sudah Ia anggap seperti ibunya. Lalu Richie, menanyainya dengan kode mengangkat alisnya. Jo menggeleng karena sudah dipesan untuk bungkam.
...
“Ma, tolong siapkan kamar tamu untuk gadis ini!” tutur Dewa. Baginya fisik gadis itu tak terlalu buruk. Namun perangainya yang sedikit liar, membuat Dewa harus sedikit bersabar.
Gadis itu mengangguk. Ia tak sanggup lagi menahan sakit hatinya atas perbuatan orang tuanya yang dengan tega memaksa dirinya menjadi wanita kedua dalam rumah tangga seseorang. Terlebih anak tirinya setahun lebih muda dari usianya.
“Astaga nasib Gue! Lebih baik Gue mati, daripada hidup penuh dosa seperti ini!”
Gadis itu semakin terisak saat menatap galeri fotonya. Sosok pria yang Ia cintai bertahun-tahun. Mungkin ini yang dirasakan kawannya, saat berusaha di jodohkan waktu itu.
“Hah...”
Rosi mencoba bersabar, menghela napas panjang dan mencoba untuk menanyai gadis itu.
“Ayo, ikut ke atas!” suara dingin Rosi yang tak sanggup berpura-pura. Melihat gadis itu, Rosi menilai jika sepertinya bocah kemarin sore itu juga tak berkenan menjadi pasangan suaminya.
“Ini kamarmu, tapi sebelumnya Saya mau menanyakan sesuatu. Apakah semua ini adalah keputusanmu?”
Hikss... Bukannya menjawab, gadis muda itu bersimpuh minta pertolongan.
__ADS_1
“Kalau saya menolak, bisakah Tante membantu Saya? Rosi pun menatap sepasang mata coklat yang berkaca-kaca.
“Apa maksudmu?”
...
Dion yang sudah tiba di rumah Vicky segera masuk. Meski sudah mengetuk pintu berulang kali, ternyata tak ada respon dari tuan rumah.
Melihat ada yang memperhatikannya, Wanita dengan body berisi itu segera menoleh.
“Eh ada Dion, kapan datang?”
“Ck, pantas aja kalian nggak tahu Gue masuk. Lagi asyik berdua rupanya.”
“Yoi, Gue mau siapin bekal pesanan adek Gue! Ada apa Lo, tumben pagi-pagi udah ngelayap?” Vicky menyuguhkan beberapa masakannya untuk Dion.
Melihat pria dingin itu memasak, sedangkan istrinya hanya menunggunya sembari mengelap keringatnya membuat pentolan geng itu kembali mengingat Kania. ‘Sedang apa gadis itu, Kania nggak akan melakukan hal-hal aneh seperti itu sama si tukang kopi itu kan?’ Dion lupa, jika Sigit juga seorang pria dewasa seperti dirinya.
“Lo nggak ada acara kan Bro?”
“Nyokap minta Gue jengukin adek Gue di asrama. Kenapa? Lo mau ikut?”
“Geri? Bocah itu di Bandung kan?”
Dista mengangguk, begitu bersemangat. Duduk di sebelah Dion, sembari menatapnya saat menikmati kopi buatan Vicky.
“Woilah, yang kangen mantan pacar! Biasa aja dong Dis!” seloroh Dion, membuat Vicky menoleh ke arahnya.
Hahaha... Mendapat tatapan cemburu dari Vicky, Dista dan Dion hanya tertawa kecil.
“Gih, siap-siap kita berangkat setengah jam lagi!” pinta Vicky.
“Paling senang Gue sama Lo Bro, nggak pakai basa-basi, hehe...”
...
__ADS_1