Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 26. Kegerahan


__ADS_3

Malam pertama tinggal bersama, kedua orang asing tersebut nyatanya saling membutuhkan satu sama lain. Entah mengapa cuaca malam ini cukup panas, membuat keduanya kegerahan. Kania yang tersudut di dinding menelan ludahnya kasar mendapati Dion terus menggodanya.


“Ehem... Kalau nggak mau bagi ya udah sana minggir! Nggak perlu kayak begini juga kali!” Kania tak berani menatap wajah Dion yang terus menyunggingkan senyum. Sebuah ide terlintas di pikiran pentolan geng itu, untuk menggagalkan rencana kedua orang tuanya.


“Berkemas, bawa pakaian seperlunya! Ada hal penting yang harus Gue lakukan!” bisik Dion, jarak mereka berdua tak lebih dari lima senti, membuat gadis itu menatap dada bidang kuning langsat milik Dion.


“Sa-sama siapa? Kalau Cuma berdua Gue nggak mau?” Kania mencoba mendorong Dion untuk menjauh, karena rasanya dirinya sudah sesak terhimpit di dinding.


“Lo pikir Gue gila, pergi berdua sama Lo aja! Ada si bohay Gue juga nanti. Lo tinggal ikut aja nggak usah banyak protes!” Dion menyentil kening Kania cukup keras.


“Aw!”


Setelah mengatakan hal itu Dion pun berlalu. Pria itu tak memperhatikan Kania yang sudah berkeringat, Keningnya juga kemerahan. Kalau dia tidak malu, pasti gadis itu sudah memegangi jantungnya agar tidak berdebar cukup kencang.


‘Huh, lagi-lagi si bohay! Padahal sudah tahu milik temannya, masih saja dibahas.’ Dia jadi ingat untuk menanyakan perihal mantan pacar Dion kepada Dista. Setelah Kania masuk ke kamarnya, Ia mencoba mengirim pesan kepada teman barunya itu yang ternyata sedang online.


Kania


[Dis, belum tidur? Aku mau menanyakan sesuatu, bolehkah? Ini soal Dias.]


Dista


[Oh, Dista udah tidur sejak tadi, ini Vicky! pesan Gue, Lo jauh-jauh dari wanita itu, Lo bisa percaya sama Dion, kalau gadis itu nggak baik.]


Kania


[Oh, Oke Vicky thanks buat informasinya. Salam aja buat Dista supaya lekas sembuh, dan soal besok?]


Dista


[Kalian berdua berangkat saja lebih dulu, Gue menyusul. Tenang aja, Dion hebat soal ... Oke!]


Vicky tak lagi melanjutkan pesan teks nya. membuat pikiran Kania kemana-mana. Namun apapun itu beberapa hari ini Dion telah membantunya. Mungkin tanpa pria itu, dirinya masih kesulitan mencari tempat tinggal. Meskipun terkadang menyebalkan, tetap saja dirinya harus berterima kasih.

__ADS_1


Agnes


[Kania, kamu tahu dimana Dion Nak?]


Sebuah pesan masuk dan ternyata dari Istri Bosnya. Kemarin Dion marah, saat Ia memintanya untuk pulang, Sekarang Ia tahu apa yang harus Ia lakukan. Mencoba menyelamatkan pria itu dari tekanan orang tuanya.


Kania pun akan menjawab sesuai dengan kata hatinya. Entah benar atau salah, Ia akan pikirkan hal itu lagi, mungkin ini salah satu caranya berterima kasih kepada pria tampan yang menjadi teman satu atapnya.


Kania


[Maaf Tante, Kania tidak tahu. Memangnya ada apa ya Tante?]


Agnes


[Tante pusing Kania, ternyata Dias mengandung anak Dion dan gadis itu menuntut tanggung jawab]


Glaarrr...


Suara guntur menggelegar mengejutkan Gadis yang terpaku di kamarnya, ponselnya pun lepas dari genggamannya. Sesak, iya sesak hingga Ia kesulitan menarik napasnya. Hatinya sakit, air matanya pun meluncur begitu saja tanpa di komando. Tak lagi Ia lanjutkan berbalas pesan dengan wanita kaya itu. Ia berlari, menuju kamar Dion berada.


Menatap wajah pria itu yang selalu menggodanya, mungkinkah apa yang dikatakan Agnes benar? Atau perkataan gadis itu yang mengada-ada? Kania mendekatinya, menatap lekat ke wajah damai Dion yang terlelap.


‘Gue harus percaya siapa?’ batinnya.


Tangannya terulur mengusap peluh itu, dan Ia pun menyadari jika sudah menanam perasan kepada pria brengsek di hadapannya. Kania terduduk, kakinya tak kuat menopang rasa sakitnya, saking tak percaya membaca pesan dari Mama Dion.


Hiksss...


Isakanya yang nyaring, ternyata membangunkan Dion. Ia melihat sosok gadis bersimpuh sedang menatapnya. Tatapannya sedih, seperti menyimpan luka yang teramat dalam.


“Heh! Gila Lo ya, tengah malam malah nangis di kamar Gue? kenapa? Lo berubah pikiran? Haha...” goda pria itu sambil bangkit dari tidurnya.


Bukannya tertawa, gadis itu menangis lebih nyaring dari sebelumnya. Dion pun membawanya ke dalam pelukannya dan mengusap surai nya yang panjang.

__ADS_1


“Heh Kanebo, Lo kenapa? Mimpi buruk? Udah ada Gue disini?”


“kenapa Lo pergi dari rumah?” akhirnya Kania berani menanyakan hal yang pertama kali muncul di kepalanya. Dion melepas pelukannya dan mengusap air matanya. Tangan Dion memegang pundak Kania dengan cukup kuat, berusaha meyakinkan gadis lemah di hadapannya untuk percaya kepadanya.


“Gue nggak tega Lo tinggal sendirian di sini!”


“Bohong!”


Tangan Dion mendongakkan dagu gadis itu untuk menatap kedua matanya. Pria itu memintanya untuk mencari kebohongan di sana. Gadis itu berpaling, tak kuat menatapnya lama-lama. hatinya sakit, seandainya apa yang dikatakan Agnes adalah benar. Kania tak ingin mengakui kebenaran itu.


“Kenapa? Lo terus terang aja sama Gue, kalau Lo itu ...”


Kania berlari meninggalkan Dion. dan masuk ke dalam kamarnya. Karena pintu kamarnya tak bisa dikunci Dion masuk menyusulnya. Gadis itu membuatnya penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya. Ia harus memastikannya sendiri bagaimana perasaan mereka sesungguhnya.


Hujan turun begitu lebat, membuat suasana dingin begitu menggigit. Kania yang menelusup kan wajahnya di tempat tidur, tak mengetahui jika Dion sudah berada di belakangnya. Dion mendengar gadis itu menangis, tapi untuk siapa? Apakah untuknya?


“Hey...” lirih Dion.


Kania sontak terkejut melihat Dion ada di dalam kamarnya. Saat gadis itu bangkit, Dion mendorongnya. Dion perlahan mengikis jarak dan mencium bibir gadis itu intens dan lembut. Kania merasakan pandangannya berkabut, ingin berontak tapi hati dan tubuhnya bereaksi lain.


Selama beberapa saat Dion menyadari, jika gadis itu memiliki perasaan yang sama dengannya. Begitu juga sebaliknya.


“Lo suka sama Gue?” Dion memagut dagu Kania dan melancarkan aksinya lagi, sebelum gadis itu benar-benar menjawab dari hatinya.


Suasana yang dingin, kini berubah menjadi panas saat Dion bertemu dengan gadis yang selalu mengganggu pikirannya. Meskipun belum mengakuinya, jantung Dion pun berdetak tak normal saat menatap netra gadis itu. Gadis konyol dan juga jorok yang menghantuinya kemana-mana.


“Besok kita tinggalkan Jakarta beberapa hari, Oke! percaya sama Gue, Cuma itu!”


...


Dias pun merasa kesal, meskipun pada kenyataannya kehamilannya ini tak Ia rencanakan, justru menjadi penyelamat dirinya. Dias tahu, Dion akan terus menolaknya karena pria itu mengetahui semua rahasianya.


Ia harus menekan kedua orang tua Dion untuk mempercepat pernikahannya. Supaya terbebas dari segala tuntutan pelanggaran hukum yang Ia lakukan.

__ADS_1


‘Sial, nomor Gue di blokir lagi sama Dion!’


...


__ADS_2